Menghidupkan Kembali Kehadiran Nabi: Sejarah, Cinta, dan Kesalehan dalam And Muhammad Is His Messenger
Pengantar: Momentum yang Mengingatkan pada Buku tentang Nabi Muhammad Saw.
Setiap tanggal 12 Rabiʿ al-Awwal diperingati sebagai hari kelahiran Manusia Agung dari Arabia, Utusan Allah untuk seluruh umat manusia. Untuk turut memperingatinya, biasanya saya menulis tentang Nabi akhir zaman ini. Kali ini saya teringat sebuah buku yang ketika dulu membacanya, teringat pula penulisnya, seorang ahli Islam dari Jerman. Saya juga terkenang sebuah ruangan yang penuh dan seorang perempuan Eropa yang telah lanjut usia berdiri di hadapan khalayak Muslim. Nama Muhammad saw. disebut bukan dengan nada dingin sebuah kuliah akademik, melainkan dengan penghormatan yang membuat jarak antara Timur dan Barat terasa sejenak runtuh.
Saya masih mengingat ketika Annemarie Schimmel datang ke Indonesia dan menjadi narasumber di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Saya hadir pada acara itu. Waktu persisnya semula tidak saya ingat. Setelah saya menelusuri beberapa catatan, kunjungan itu dapat ditarik pada 25 Februari 2000, ketika kuliah umum Schimmel di Perpustakaan Nasional Jakarta dikabarkan dihadiri ratusan orang hingga ruangan penuh sesak (Burhani 2000). Ada sumber akademik lain yang menyebut 25 Februari 2002, tetapi catatan publik yang lebih konsisten menunjuk tahun 2000.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, saya justru melihat peristiwa itu dengan cara yang berbeda. Dulu mungkin saya melihatnya sebagai kedatangan seorang sarjana besar dari Barat. Sekarang saya merasa bahwa yang hadir pada hari itu bukan sekadar seorang profesor, bukan semata-mata seorang orientalis, bahkan bukan hanya seorang ahli Islam dari Jerman. Yang datang adalah seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha memahami Islam dari dalam pengalaman kebudayaan Muslim—melalui bahasa, puisi, tasawuf, simbol, seni, sejarah, dan terutama melalui rasa hormat kaum Muslim kepada Nabi Muhammad saw.
Annemarie Brigitte Schimmel lahir di Erfurt, Jerman, bukan sarjana yang kebetulan menulis tentang Islam. Islam menjadi salah satu dunia intelektual yang paling lama ia tekuni. Namun, ia juga memiliki sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam tradisi orientalisme klasik: kesediaan untuk mendengarkan suara umat Islam sendiri, terutama suara yang lahir dari pengalaman batin, puisi, zikir, doa, maulid, cinta, kerinduan, dan penghormatan kepada Nabi.
Di sinilah buku And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety menjadi penting. Buku yang saya simpan itu adalah edisi bahasa Inggris yang diterbitkan University of North Carolina Press pada 1985. Judul Jermannya, Und Muhammad ist sein Prophet: Die Verehrung des Propheten in der islamischen Frömmigkeit, pertama kali terbit pada 1981; edisi Inggrisnya merupakan pengembangan dari karya Jerman tersebut. Buku itu secara khusus membahas penghormatan terhadap Nabi Muhammad dalam kesalehan Islam.
Buku And Muhammad Is His Messenger bukan sekadar biografi Nabi Muhammad saw. Dalam arti tertentu justru di situlah keistimewaannya. Schimmel tidak hanya bertanya: siapakah Muhammad menurut kronologi sejarah? Ia bertanya lebih dalam: siapakah Muhammad bagi orang-orang yang mencintainya? Bagaimana Nabi hadir dalam kesadaran, doa, puisi, imajinasi, ritual, nama-nama, seni, dan kehidupan sehari-hari kaum Muslim?
Ketika saya membaca kembali karya Schimmel, saya merasa bahwa ia sedang membuka jendela lain dalam memahami Nabi Muhammad saw. Jika sebagian karya Barat melihat Muhammad terutama sebagai objek sejarah—pendiri agama, pemimpin politik, legislator, atau tokoh yang harus direkonstruksi melalui kritik sumber—Schimmel membawa pembaca kepada Muhammad yang hidup dalam hati umat Islam: Muhammad yang disebut dengan shalawat, dipuji dalam puisi, dirayakan kelahirannya, dikenang dalam maulid, dan dicintai sebagai Rasul Allah.
Mungkin karena itu pula kenangan hadir dalam pertemuan ilmiah dengan narasumber Annemarie Schimmel di Perpustakaan Nasional Jakarta kembali terasa penting bagi saya. Seorang perempuan Jerman, yang lahir jauh dari Makkah dan Madinah, yang tumbuh dalam tradisi akademik Eropa, datang ke Jakarta dan berbicara kepada kaum Muslim tentang Nabi mereka. Bukan untuk mengajari mereka bagaimana mencintai Muhammad, tetapi untuk menjelaskan kepada dunia akademik Barat bagaimana dan mengapa kaum Muslim mencintai Muhammad.
Dan dari sinilah saya ingin membaca kembali Annemarie Schimmel dan bukunya tentang Nabi Muhammad saw.—bukan semata-mata sebagai karya seorang sarjana Barat tentang Islam, tetapi sebagai sebuah usaha intelektual untuk memahami sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan seorang Muslim: cinta kepada Rasulullah. Sebab Muhammad saw. tidak hanya dikenang oleh sejarah. Beliau dihidupkan oleh shalawat, puisi, maulid, doa, teladan, kerinduan, dan cinta umatnya. Di antara ilmu dan cinta itulah saya menemukan kembali makna perjumpaan dengan Schimmel, bertahun-tahun lalu, di sebuah ruangan yang penuh sesak di Perpustakaan Nasional Jakarta.
Seorang Wanita Jerman Ahli Islam: Biografi, Karya dan Pemikiran Annemarie Schimmel tentang Islam
Annemarie Brigitte Schimmel lahir di Erfurt, Jerman, pada 7 April 1922 dan meninggal di Bonn pada 26 Januari 2003. Ia dikenal sebagai salah seorang sarjana Barat paling penting dalam studi Islam, khususnya dalam bidang tasawuf, sastra Islam, budaya Islam, dan tradisi intelektual Indo-Muslim. Ia bukan sarjana yang kebetulan menulis tentang Islam. Islam menjadi salah satu dunia intelektual yang paling lama ia tekuni. Sepanjang hidupnya ia mempelajari bahasa dan kebudayaan Islam melalui bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, dan tradisi sastra yang lahir dari berbagai masyarakat Muslim (Schimmel, 1993).
Ketertarikannya terhadap dunia Timur telah muncul sejak usia muda. Ia mulai mempelajari bahasa Arab ketika masih sangat muda dan kemudian melanjutkan studi di Universitas Berlin. Di sana ia berkenalan secara lebih mendalam dengan tradisi sastra dan mistik Islam, terutama melalui karya Jalāl al-Dīn Rūmī. Perjumpaan dengan Dīvān-i Shams-i Tabrīzī menjadi salah satu pintu penting yang membawanya kepada kajian tasawuf dan sastra Islam. Dari Rumi ia menemukan bahwa Islam tidak hanya dapat dibaca melalui hukum, teologi, dan sejarah, tetapi juga melalui bahasa cinta, kerinduan, simbol, dan pengalaman mistik (Schimmel, 1993). Data biografis akademik juga menunjukkan bahwa ia memperoleh doktor pertama di Universitas Berlin pada 1941, ketika usianya baru sembilan belas tahun, kemudian memperoleh doktor kedua dalam sejarah agama pada awal 1950-an (Gifford Lectures, 2014).
Setelah menyelesaikan pendidikan akademiknya, Schimmel menjadi profesor bahasa Arab dan studi Islam di Universitas Marburg pada 1946. Pada 1954 ia pindah ke Ankara dan mengajar sejarah agama di Universitas Ankara. Pengalaman di Turki menjadi salah satu fase terpenting dalam perkembangan intelektualnya. Ia tidak lagi berhadapan dengan Islam hanya melalui manuskrip dan buku, tetapi melalui manusia Muslim yang hidup, berdoa, berzikir, membaca puisi, merayakan maulid, dan menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. Ia mengajar dalam bahasa Turki dan menjadi perempuan pertama sekaligus non-Muslim pertama yang mengajar teologi di lingkungan Universitas Ankara (Gifford Lectures, 2014).
Pengalaman Turki kemudian mempunyai pengaruh besar terhadap cara Schimmel memahami Islam. Dalam teks yang Anda kirim, pengalaman tersebut dikaitkan dengan pengamatannya terhadap kecintaan kaum Muslim Turki kepada Nabi Muhammad saw. Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu sumber penting bagi lahirnya And Muhammad Is His Messenger. Schimmel sendiri menjelaskan bahwa perjumpaan dengan kehidupan religius Muslim membuatnya memahami bahwa penghormatan kepada Nabi merupakan bagian yang sangat penting dari kesalehan Islam.
Pada 1967 Schimmel pindah ke Harvard University dan menjadi dosen pertama untuk bidang Indo-Muslim Culture. Kemudian ia menjadi profesor Indo-Muslim Culture dan akhirnya profesor emerita. Harvard mencatat bahwa ia menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan kajian Indo-Muslim di universitas tersebut. Ia juga mengajarkan berbagai tema yang menunjukkan keluasan minatnya, mulai dari kaligrafi Islam, puisi Ghalib, hingga Rumi dan pengaruhnya terhadap Timur dan Barat (Harvard University, 2020).
Schimmel merupakan sarjana yang sangat produktif. Sumber akademik mencatat bahwa ia menghasilkan lebih dari lima puluh buku, sementara sumber lain menyebut lebih dari delapan puluh buku dan berbagai esai. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra Islam dari bahasa Arab, Persia, Turki, Sindhi, dan bahasa-bahasa lainnya ke dalam bahasa Jerman dan Inggris (Waghmar, 2018).
Ia memperoleh berbagai penghargaan internasional, termasuk penghargaan tinggi dari Pakistan dan Peace Prize of the German Book Trade pada 1995. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa Schimmel bukan hanya dihormati dalam dunia akademik Barat, tetapi juga memiliki posisi khusus di sejumlah lingkungan intelektual Muslim. Ia meninggal di Bonn pada 26 Januari 2003, tetapi karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting dalam studi Islam, khususnya mengenai tasawuf, puisi, budaya Islam, dan kehidupan spiritual umat Muslim (Gifford Lectures, 2014).
Karya Schimmel sangat luas. Ia menulis tentang Rumi, tasawuf, puisi Persia dan Urdu, Islam di anak benua India, Iqbal, kaligrafi, simbolisme Islam, serta kehidupan spiritual umat Islam. Salah satu karya pentingnya adalah Mystical Dimensions of Islam, yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh University of North Carolina Press pada 1975. Buku ini menjadi salah satu karya pengantar penting mengenai sejarah dan dimensi mistik Islam serta perkembangan tasawuf. Schimmel tidak melihat tasawuf hanya sebagai fenomena elite, tetapi menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan sufistik meresap ke dalam kehidupan Muslim melalui puisi, praktik keagamaan, dan kebudayaan (Schimmel, 1975).
Perhatian Schimmel terhadap Muhammad Iqbal juga sangat besar. Gabriel's Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal terbit pada 1963. Ia juga menerjemahkan karya-karya Iqbal ke dalam bahasa Jerman, termasuk Jāvid-nāma yang diterbitkan sebagai Dschavidnama: Das Buch der Ewigkeit pada 1957. Minat terhadap Iqbal memperlihatkan perhatian Schimmel terhadap cara pemikir Muslim modern membaca kembali Islam, manusia, kenabian, dan hubungan antara tradisi dengan modernitas (Schimmel, 1957; Schimmel, 1963).
Karya lainnya adalah The Triumphal Sun: A Study of the Works of Jalaloddin Rumi yang terbit pada 1980. Karya ini merupakan bagian dari perhatian panjang Schimmel terhadap Rumi dan tradisi mistik Islam. Ia tidak hanya membaca Rumi sebagai penyair besar, tetapi sebagai salah satu tokoh utama yang memungkinkan pembaca memahami bahasa cinta, simbol, kerinduan, dan pengalaman spiritual dalam Islam (Schimmel, 1980).
Ia juga menulis Islam in the Indian Subcontinent pada 1980, sebuah karya yang memperlihatkan luasnya perhatian Schimmel terhadap perkembangan Islam di Asia Selatan. Perhatiannya terhadap tradisi Indo-Muslim kemudian diperkuat oleh penelitian mengenai sastra Urdu, Sindhi, Punjabi, Pashto, dan Persia. Kajian Encyclopaedia Iranica menunjukkan bahwa Schimmel mempunyai kontribusi besar dalam kajian sastra Indo-Islam dan menerjemahkan maupun mengkaji karya berbagai penyair Muslim dari kawasan tersebut (Waghmar, 2018).
Karya yang paling relevan dengan pembahasan ini adalah Und Muhammad ist sein Prophet: Die Verehrung des Propheten in der islamischen Frömmigkeit, yang terbit dalam bahasa Jerman pada 1981. Buku tersebut kemudian dikembangkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety oleh University of North Carolina Press pada 1985. Edisi Inggris tersebut berjumlah sekitar 377 halaman menurut katalog bibliografis, sedangkan halaman penerbit saat ini mencatat edisi tersebut dalam format 389 halaman berdasarkan konfigurasi penerbitannya (Schimmel, 1985).
And Muhammad Is His Messenger merupakan karya yang sangat penting karena Schimmel tidak menulis Nabi Muhammad saw. hanya sebagai tokoh sejarah. Ia berusaha memahami kedudukan Nabi dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslim, pemikiran mistik, puisi, seni, ritual, dan tradisi kesalehan. Penerbitnya sendiri menjelaskan bahwa Schimmel menggunakan sumber-sumber asli dalam berbagai bahasa Islam untuk menerangkan posisi sentral Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi (Schimmel, 1985).
Selain itu, Schimmel menulis As Through a Veil: Mystical Poetry in Islam pada 1982 dan Calligraphy and Islamic Culture pada 1984. Kedua karya tersebut memperlihatkan karakter pendekatannya yang khas: Islam tidak hanya dipelajari melalui doktrin dan sejarah, tetapi juga melalui sastra, seni, simbol, bahasa, dan pengalaman spiritual. Dengan demikian, karya-karya Schimmel membentuk semacam jembatan antara studi Islam, sejarah agama, sastra, tasawuf, dan kebudayaan (Schimmel, 1982; Schimmel, 1984).
Pemikiran Schimmel tentang Islam berangkat dari keyakinan metodologis bahwa agama tidak cukup dipahami hanya melalui doktrin formalnya. Islam harus dilihat sebagaimana ia dihayati oleh manusia Muslim. Karena itu, ia memberi perhatian besar kepada puisi, tasawuf, ritual, simbol, seni, doa, zikir, shalawat, maulid, dan berbagai bentuk ekspresi kesalehan. Kajian Schimmel mempunyai karakter fenomenologis: ia berusaha memahami tanda-tanda keagamaan sebagaimana dialami oleh pemeluknya, bukan sekadar menilainya dari luar (Schimmel, 1992).
Dalam perspektif ini, Schimmel melihat Islam sebagai tradisi yang memiliki dimensi lahir dan batin. Hukum, teologi, dan institusi keagamaan merupakan bagian penting dari Islam, tetapi tidak seluruh pengalaman Islam dapat dijelaskan melalui ketiganya. Ada dunia spiritual yang muncul dalam tasawuf, puisi, doa, simbol, dan pengalaman cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mystical Dimensions of Islam memperlihatkan dengan jelas pendekatan tersebut. Schimmel menunjukkan bagaimana tasawuf tidak hanya menjadi pengalaman kelompok sufi, tetapi ikut membentuk kehidupan Muslim secara luas melalui sastra dan praktik keagamaan (Schimmel, 1975).
Dalam memahami Islam, bahasa menjadi sangat penting bagi Schimmel. Penguasaannya terhadap bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, dan tradisi sastra berbagai masyarakat Muslim membuatnya dapat membaca Islam melalui sumber-sumber yang tidak selalu tersedia dalam terjemahan Barat. Karena itu, ia dapat melihat bahwa pengalaman keagamaan umat Islam terekam bukan hanya dalam karya teologi dan hukum, tetapi juga dalam puisi dan sastra. Encyclopaedia Iranica menilai bahwa keluasan karya Schimmel dalam studi Islam bertumpu pada kemampuan linguistiknya dan mencakup karya-karya dalam bahasa Inggris, Jerman, Turki, dan Persia (Waghmar, 2018).
Pemikirannya mengenai Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu contoh paling jelas dari pendekatan tersebut. Dalam And Muhammad Is His Messenger, Schimmel bertolak dari kenyataan bahwa kedudukan penting Nabi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam sering kurang diperhatikan oleh sarjana Barat. Karena itu, ia tidak hanya bertanya tentang Muhammad sebagai tokoh sejarah, tetapi tentang Muhammad sebagaimana hadir dalam kesalehan umat Islam (Schimmel, 1985).
Di sinilah Schimmel memberikan perhatian kepada penghormatan terhadap Nabi, shalawat, nama-nama dan gelar Nabi, mukjizat, syafaat, maulid, Isra dan Mi'raj, Nūr Muḥammad, tradisi tasawuf, puisi pujian kepada Nabi, serta bagaimana Nabi Muhammad ditafsirkan kembali oleh pemikir Muslim modern seperti Muhammad Iqbal. Dengan demikian, Muhammad dalam karya Schimmel bukan hanya Muhammad dalam kronologi sejarah abad ketujuh, tetapi juga Muhammad yang terus hidup dalam kesadaran keagamaan umat Islam selama berabad-abad.
Konsep penting yang dapat ditarik dari karya tersebut adalah bahwa terdapat “kehidupan kedua” Nabi Muhammad dalam sejarah umat Islam. Muhammad wafat pada 632 M, tetapi kehidupan spiritual beliau tidak berhenti pada wafatnya. Beliau terus hadir dalam hadis yang dipelajari, sunnah yang diikuti, shalawat yang dilantunkan, maulid yang dirayakan, puisi yang ditulis, kaligrafi yang dibuat, nama yang diberikan kepada anak, doa yang dipanjatkan, serta kerinduan orang-orang Muslim kepada Rasulullah. Schimmel menjadikan kehidupan kedua tersebut sebagai bagian penting dari objek studi Islam.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa Schimmel berbeda dari sebagian tradisi orientalisme klasik. Ia tidak menempatkan kecintaan umat Islam kepada Nabi sebagai gangguan terhadap objektivitas ilmiah. Sebaliknya, cinta itu sendiri diperlakukan sebagai fakta keagamaan yang harus dipahami. Jika seorang sarjana ingin memahami Islam, maka ia harus memahami mengapa umat Islam mencintai Muhammad. Ia harus memahami mengapa nama Muhammad selalu diikuti shalawat, mengapa puisi-puisi pujian kepada Nabi berkembang sangat luas, mengapa maulid menjadi bagian penting dari kehidupan komunitas Muslim tertentu, dan mengapa Nabi tetap hadir dalam kesadaran umat lebih dari seribu tahun setelah wafatnya.
Hal tersebut tidak berarti Schimmel mencampuradukkan sejarah dengan legenda atau menjadikan seluruh tradisi keagamaan sebagai fakta sejarah. Justru sebagai seorang sarjana filologi dan sejarah agama, ia membedakan antara apa yang diyakini umat Islam dengan apa yang dapat dibuktikan secara historis. Yang hendak dipahaminya terutama adalah bagaimana suatu tradisi terbentuk, bagaimana teks dan simbol berkembang, serta bagaimana tradisi tersebut kemudian dihayati oleh umat Islam. Dalam pengertian ini, pendekatannya bukan sekadar pembelaan terhadap Islam, melainkan usaha memahami Islam dari perspektif pengalaman keagamaan Muslim.
Karena itu, pemikiran Schimmel tentang Islam dapat dirangkum dalam satu gagasan penting: Islam tidak cukup dipahami hanya dari luar; ia harus dipahami melalui cara umat Islam mengalami dan menghayatinya. Islam hidup dalam kitab dan hukum, tetapi juga dalam puisi, zikir, doa, seni, simbol, maulid, shalawat, dan cinta. Muhammad saw. tidak hanya merupakan objek sejarah, tetapi juga pusat afeksi keagamaan umat Islam. Pemahaman terhadap Islam akan selalu kurang lengkap apabila dimensi tersebut diabaikan.
Pada titik inilah karya Schimmel menjadi penting bagi dialog antara Islam dan Barat. Ia tetap seorang sarjana Barat, tetapi ia berusaha membuka ruang bagi suara pengalaman umat Islam sendiri. Ia tidak harus menjadi Muslim untuk memahami bahwa Muhammad saw. memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam daripada sekadar tokoh sejarah. Ia mencoba menjelaskan kepada pembaca Barat bahwa bagi seorang Muslim, Muhammad adalah Rasul Allah, teladan utama, dan manusia yang dicintai. Dengan demikian, kontribusi Schimmel bukan hanya terletak pada banyaknya karya yang ia hasilkan, tetapi juga pada perubahan cara memandang Islam: dari agama yang hanya dipelajari sebagai sistem doktrin dan sejarah menuju agama yang juga harus dipahami sebagai pengalaman manusia yang hidup.
Dalam konteks itulah And Muhammad Is His Messenger menjadi karya yang sangat penting. Buku tersebut menunjukkan bahwa untuk memahami Nabi Muhammad saw. secara lebih utuh, kita tidak cukup hanya membaca sejarah peperangan, politik, hijrah, atau struktur masyarakat Arab. Kita juga harus membaca puisi, mendengar shalawat, memahami maulid, melihat kaligrafi, menelusuri tradisi tasawuf, dan mendengarkan suara hati umat Islam ketika nama Muhammad disebut. Schimmel membawa pembaca ke wilayah tersebut. Di sana sejarah bertemu dengan memori, ilmu bertemu dengan pengalaman, dan kajian akademik bertemu dengan cinta kepada Nabi Muhammad saw.
Arsitektur Buku And Muhammad Is His Messenger: Penghormatan, Kecintaan, dan Pemuliaan terhadap Nabi Muhammad saw. dalam Kehidupan Keagamaan Umat Islam
And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety merupakan salah satu karya terpenting Annemarie Schimmel dalam kajian tentang Islam, khususnya mengenai kedudukan Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan spiritual, kesalehan, sastra, dan kebudayaan umat Islam. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman dengan judul Und Muhammad ist sein Prophet: Die Verehrung des Propheten in der islamischen Frömmigkeit pada 1981, kemudian dikembangkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh University of North Carolina Press pada 1985. Schimmel tidak menulis buku ini sebagai biografi Nabi Muhammad dalam pengertian kronologis-konvensional. Fokus utamanya adalah veneration, yakni penghormatan, pemuliaan, dan kecintaan umat Islam kepada Nabi. Karena itu, Muhammad yang ditampilkan dalam buku ini bukan hanya Muhammad sebagai tokoh sejarah abad ketujuh, melainkan Muhammad sebagaimana hidup dalam kesadaran, doa, puisi, ritual, seni, tasawuf, dan kehidupan sehari-hari umat Islam (Schimmel 1985). Penerbit menjelaskan bahwa Schimmel menggunakan sumber-sumber asli dalam berbagai bahasa Islam untuk menunjukkan posisi sentral Nabi Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi.
And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety karya Annemarie Schimmel merupakan kajian yang secara khusus menelusuri penghormatan, kecintaan, dan pemuliaan terhadap Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Schimmel membangun pembahasannya bukan sebagai biografi kronologis, melainkan sebagai penelusuran terhadap berbagai cara Nabi Muhammad dipahami dan dihadirkan dalam tradisi Muslim. Buku ini menggunakan sumber-sumber dalam berbagai bahasa Islam, termasuk teks biografis, hadis, karya mistik, sastra, puisi, tradisi keagamaan, dan ekspresi kesalehan sehari-hari. Karena itu, isi buku bergerak dari sejarah kehidupan Nabi menuju sejarah penerimaan dan penghayatan umat terhadap beliau. Schimmel secara eksplisit memperhatikan kehidupan Nabi, kelahiran, perkawinan, mukjizat, perjalanan surgawi, serta bagaimana semua unsur tersebut kemudian menjadi objek devosi keagamaan (Schimmel 1985). Deskripsi bibliografis edisi University of North Carolina Press juga menegaskan bahwa perhatian Schimmel diarahkan kepada kedudukan sentral Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi.
Sejak bagian awal buku, Schimmel menempatkan persoalan penghormatan kepada Nabi Muhammad sebagai masalah penting dalam memahami kesalehan Islam. Ia berangkat dari kenyataan bahwa perhatian terhadap Muhammad dalam kehidupan sehari-hari umat Islam sering kali tidak memperoleh perhatian yang memadai dalam kajian Barat. Karena itu, buku ini berusaha memperlihatkan posisi Muhammad sebagaimana benar-benar dialami dalam kehidupan Muslim, bukan hanya sebagaimana beliau dibicarakan dalam sejarah atau teologi. Schimmel menggunakan sumber-sumber asli dari berbagai bahasa Islam untuk menelusuri posisi sentral Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi. Dengan pendekatan tersebut, Muhammad ditempatkan sebagai figur yang kehadirannya terus dirasakan melalui berbagai bentuk ekspresi keagamaan dan kebudayaan (Schimmel 1985).
Dalam pengantarnya, Schimmel pada dasarnya mengajak pembaca untuk melihat veneration, atau penghormatan terhadap Nabi, sebagai unsur penting dalam sejarah kesalehan Islam. Penghormatan tersebut tidak hanya berupa pengakuan teologis terhadap Muhammad sebagai Rasul Allah, tetapi juga tampak dalam cara umat mengenang kehidupannya, menyebut namanya, mengucapkan shalawat, memuji sifat-sifatnya, merayakan kelahirannya, mengisahkan mukjizatnya, mengenang perjalanan malamnya, dan menulis puisi tentang dirinya. Karena itu, memahami kesalehan Muslim menurut Schimmel menuntut perhatian terhadap sejarah panjang bagaimana Nabi Muhammad dihormati dan dicintai oleh umatnya (Schimmel 1985).
Schimmel juga memperluas objek kajiannya dengan memasukkan berbagai aspek kehidupan Nabi yang kemudian berkembang menjadi objek devosi keagamaan. Kehidupan, kelahiran, perkawinan, mukjizat, dan perjalanan surgawi Muhammad tidak berhenti sebagai peristiwa-peristiwa biografis, tetapi memperoleh kehidupan baru dalam tradisi keagamaan. Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian dikenang melalui cerita, ritual, sastra, doa, dan berbagai ekspresi kebudayaan. Dengan demikian, terdapat proses transformasi dari peristiwa sejarah menjadi memori religius, kemudian dari memori religius menjadi praktik kesalehan. Proses inilah yang menjadi salah satu dasar penting pendekatan Schimmel terhadap Nabi Muhammad (Schimmel 1985).
Salah satu ciri penting pendekatan Schimmel adalah penggunaan teks puitis, ekspresi artistik, dan praktik keagamaan sehari-hari sebagai sumber untuk memahami penghormatan kepada Nabi. Bagi Schimmel, kehidupan keagamaan tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya melalui doktrin formal atau teks-teks teologis. Apa yang dirasakan, dinyanyikan, dibacakan, dirayakan, dan dipraktikkan oleh umat juga merupakan bagian penting dari sejarah agama. Karena itu, puisi dan ekspresi artistik menjadi sumber yang sangat berharga untuk melihat dimensi emosional dalam hubungan umat dengan Muhammad. Melalui bahan-bahan tersebut, Schimmel berusaha memperlihatkan sisi yang lebih lembut dari kebudayaan keagamaan Islam dan memahami Islam sebagaimana ia dialami dan dipraktikkan dalam dunia Muslim (Schimmel 1985).
Pendekatan tersebut menjelaskan mengapa buku ini tidak disusun sebagai biografi Nabi Muhammad yang mengikuti urutan kronologis kehidupan beliau. Daftar isi menunjukkan bahwa setelah “Introduction” pada halaman 3, pembahasan langsung diarahkan kepada “Biographical and Hagiographical Notes,” “Muhammad the Beautiful Model,” “Muhammad’s Unique Position,” “Legends and Miracles,” dan tema-tema lain yang berkaitan dengan pemuliaan Nabi. Dengan demikian, pendahuluan berfungsi sebagai pintu masuk menuju sebuah kajian tentang bagaimana Muhammad dipahami dalam kesalehan umat, bukan semata-mata rekonstruksi perjalanan hidup Nabi.
Judul And Muhammad Is His Messenger sendiri menegaskan orientasi tersebut. Pernyataan “Muhammad adalah utusan-Nya” bukan hanya formula yang mengandung pengakuan terhadap status kenabian Muhammad, tetapi juga merupakan titik awal untuk memahami hubungan antara keyakinan teologis dan pengalaman keagamaan umat. Dari pengakuan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah kemudian berkembang berbagai bentuk penghormatan terhadap beliau. Nama Muhammad hadir dalam shalawat; kehidupan beliau menjadi teladan; kelahirannya diperingati; mukjizatnya dikisahkan; perjalanan Miʿrāj-nya direnungkan; dan kecintaan kepada beliau dituangkan dalam karya sastra. Buku Schimmel kemudian mengikuti berbagai perkembangan tersebut untuk menunjukkan bagaimana pengakuan terhadap kerasulan Muhammad membentuk kebudayaan kesalehan yang luas (Schimmel 1985).
Pendahuluan buku ini memberikan dasar bagi keseluruhan kajian Schimmel: untuk memahami kehidupan religius umat Islam, Muhammad tidak dapat dipisahkan dari sejarah kecintaan dan penghormatan umat kepadanya. Muhammad hadir bukan hanya sebagai figur yang berada di masa lampau, tetapi sebagai pusat ingatan dan pengalaman keagamaan yang terus berlangsung. Karena itu, Schimmel memandang sejarah penghormatan kepada Nabi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kesalehan Islam. Buku ini kemudian berusaha menelusuri sejarah tersebut melalui biografi, hagiografi, hadis, tradisi mistik, puisi, seni, perayaan keagamaan, dan praktik kehidupan sehari-hari Muslim (Schimmel 1985).
Secara metodologis, pendahuluan tersebut juga memperlihatkan bahwa Schimmel ingin memahami Islam dari dalam pengalaman religius umatnya, bukan hanya dari kategori-kategori pengamatan eksternal. Perhatiannya terhadap puisi, ritual, doa, seni, dan praktik devosional menunjukkan usaha untuk menangkap dimensi pengalaman yang sering tidak terlihat apabila Islam hanya dibaca melalui sejarah politik atau perdebatan teologis. Karena itu, And Muhammad Is His Messenger dapat ditempatkan sebagai studi mengenai sejarah kesalehan dan resepsi Nabi Muhammad dalam kebudayaan Islam. Katalog bibliografis bahkan mengklasifikasikan karya ini antara lain di bawah subjek Muhammad dalam kesusastraan, penghormatan terhadap Muhammad, serta sejarah dan kritik puisi Islam (Schimmel 1985).
Pendahuluan tersebut pada akhirnya mengarahkan pembaca kepada satu persoalan pokok: bagaimana seorang Nabi yang hidup pada abad ketujuh terus hadir dalam kehidupan spiritual umat Islam selama berabad-abad sesudah wafatnya? Jawaban Schimmel tidak dicari hanya dalam sejarah kehidupan Muhammad, tetapi dalam berbagai bentuk penerimaan terhadap beliau. Kehadiran tersebut tampak dalam cara umat mengingat kepribadiannya, memuji keindahannya, menyebut nama dan gelarnya, mengharapkan syafaatnya, merayakan kelahirannya, mengenang Miʿrāj, mengembangkan konsep Nūr Muḥammad, menulis puisi tentangnya, serta menjadikan kehidupan beliau sebagai model perjalanan spiritual. Dengan perspektif demikian, pendahuluan And Muhammad Is His Messenger membuka jalan bagi pembacaan Muhammad bukan hanya sebagai Nabi dalam sejarah, tetapi sebagai Nabi dalam kesadaran, kesalehan, sastra, dan spiritualitas umat Islam (Schimmel 1985).
Bagian “Biographical and Hagiographical Notes” menempati halaman 9–23 dan menjadi pembahasan pertama setelah pendahuluan. Schimmel memulai dengan mempertemukan dua jenis tradisi yang membentuk gambaran umat mengenai Nabi: biografi dan hagiografi. Biografi memberikan bahan mengenai kehidupan Muhammad, sedangkan hagiografi memperlihatkan bagaimana kehidupan tersebut kemudian dibaca dalam kerangka kesucian, keutamaan, dan kemuliaan. Dalam tradisi semacam ini, perhatian terhadap Nabi tidak hanya diarahkan kepada peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan hidup beliau, tetapi juga kepada detail kehidupan yang memungkinkan umat mengenal Nabi secara lebih dekat. Kehidupan Muhammad dengan demikian berkembang menjadi sumber pengetahuan sekaligus sumber kecintaan. Posisi bagian ini sebagai pembuka sangat penting karena seluruh pembahasan berikutnya pada dasarnya memperlihatkan bagaimana gambaran historis tentang Muhammad berkembang menjadi gambaran devosional dan spiritual (Schimmel 1985, 9–23).
Pembahasan berikutnya adalah “Muhammad the Beautiful Model”, halaman 24–55. Schimmel menjadikan Nabi sebagai beautiful model, yaitu figur yang bukan hanya harus dikenal, tetapi juga dikagumi dan diteladani. Bab ini secara khusus dibagi ke dalam tiga pembahasan: “The Shamāʾil and Dalāʾil Literature,” “The Prophet’s Physical Beauty,” dan “The Prophet’s Spiritual Beauty.” Pembagian tersebut menunjukkan bahwa Schimmel melihat gambaran tentang Nabi dalam tradisi Islam melalui dua dimensi yang saling berkaitan: keindahan lahiriah dan keindahan batiniah. Literatur shamāʾil memberikan perhatian terhadap karakteristik Nabi, kebiasaan, penampilan, dan perilaku beliau, sedangkan tradisi dalāʾil berhubungan dengan tanda-tanda kenabian dan bukti-bukti keutamaan beliau. Dengan memasukkan kedua tradisi tersebut, Schimmel memperlihatkan bahwa umat Islam tidak hanya mengingat apa yang diajarkan Muhammad, tetapi juga memperhatikan bagaimana beliau hidup, bagaimana beliau berperilaku, dan bagaimana pribadi beliau menjadi contoh yang dapat diikuti (Schimmel 1985, 24–55).
Subbagian “The Shamāʾil and Dalāʾil Literature” berada pada halaman 32–33. Di sini perhatian Schimmel beralih kepada literatur yang secara khusus menggambarkan pribadi dan tanda-tanda kenabian Muhammad. Tradisi shamāʾil memungkinkan umat memperoleh gambaran yang sangat dekat mengenai Nabi, sementara dalāʾil menghubungkan pribadi beliau dengan tanda-tanda kenabian. Setelah itu, melalui “The Prophet’s Physical Beauty” pada halaman 34–44, Schimmel membahas cara tradisi Islam menggambarkan penampilan fisik Nabi. Hal tersebut penting karena dalam Islam, terutama dalam tradisi yang menghindari penggambaran figur manusia secara visual dalam konteks tertentu, kata-kata dan deskripsi verbal memainkan peranan penting dalam membentuk gambaran mengenai Nabi. Schimmel memperlihatkan bahwa rincian mengenai wajah, tubuh, rambut, cara berpakaian, gerak, dan berbagai karakteristik lahiriah Nabi menjadi bagian dari tradisi penghormatan. Keindahan fisik tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan gambaran tentang kesempurnaan Muhammad (Schimmel 1985, 32–45).
Subbagian “The Prophet’s Spiritual Beauty”, halaman 45–55, kemudian mengalihkan perhatian dari tubuh kepada karakter dan kualitas batin Nabi. Jika bagian sebelumnya memberikan gambaran tentang bagaimana Nabi dilihat secara lahiriah, bagian ini menunjukkan bagaimana beliau dipahami secara moral dan spiritual. Muhammad dipandang sebagai teladan dalam perilaku, kesabaran, kemurahan hati, kelembutan, keberanian, kesalehan, dan hubungan dengan Allah. Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi tidak hanya lahir dari penghormatan terhadap kedudukan kenabian, tetapi juga dari kekaguman terhadap kualitas pribadi beliau. Di sinilah konsep uswah memperoleh makna yang konkret: Nabi menjadi model yang dapat diikuti dalam kehidupan sehari-hari. Schimmel menekankan pentingnya kenyataan bahwa tradisi Muslim memperhatikan hampir setiap aspek kehidupan Nabi, sehingga Muhammad bukan hanya teladan spiritual, tetapi juga model praktis bagi kehidupan umat (Schimmel 1985, 45–55).
Bab ketiga, “Muhammad’s Unique Position,” berada pada halaman 56–66. Setelah menjelaskan keindahan dan keteladanan Nabi, Schimmel kemudian membahas kedudukan unik Muhammad dalam Islam. Muhammad memiliki posisi yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar pemimpin politik, tokoh sejarah, atau guru moral. Beliau adalah Rasul Allah dan menjadi pusat hubungan antara wahyu dan kehidupan umat. Karena itu, penghormatan kepada Muhammad mempunyai dimensi yang sangat luas. Hubungan umat dengan Nabi mencakup ketaatan, kecintaan, penghormatan, peneladanan, doa, dan harapan akan syafaat. Posisi unik tersebut juga menjelaskan mengapa kehidupan Nabi menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah berhenti dalam sastra dan spiritualitas Islam. Dalam daftar isi edisi 1985, bab ini ditempatkan tepat setelah pembahasan tentang keindahan Nabi, sehingga alurnya bergerak dari pribadi Nabi menuju kedudukan khusus beliau (Schimmel 1985, 56–66).
Bab keempat, “Legends and Miracles,” halaman 67–80, membahas kisah-kisah mukjizat dan legenda yang berkembang di sekitar Nabi Muhammad. Schimmel memberikan perhatian kepada bagaimana berbagai kisah luar biasa tersebut menjadi bagian dari tradisi penghormatan kepada Nabi. Mukjizat tidak hanya muncul sebagai bahan pembuktian kenabian, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan imajinatif umat. Kisah-kisah tentang Nabi yang berkembang dalam berbagai lingkungan Muslim memperlihatkan bagaimana pengalaman keagamaan diterjemahkan ke dalam cerita, simbol, dan narasi. Dengan demikian, tradisi mukjizat merupakan salah satu cara umat mengekspresikan keyakinan mengenai kemuliaan Nabi. Schimmel tidak membatasi kajiannya pada persoalan apakah suatu cerita dapat ditempatkan dalam kategori sejarah kritis modern, tetapi memperhatikan fungsi religius dan kultural cerita tersebut dalam kehidupan umat (Schimmel 1985, 67–80).
Bab kelima, “Muhammad the Intercessor, and the Blessings upon Him,” menempati halaman 81–104 dan merupakan salah satu bagian yang cukup panjang. Pembahasan mengenai Muhammad sebagai intercessor atau pemberi syafaat berhubungan erat dengan tradisi penghormatan terhadap beliau. Di dalam tradisi kesalehan Islam, hubungan dengan Nabi tidak hanya diwujudkan melalui peneladanan, tetapi juga melalui doa, shalawat, dan harapan memperoleh syafaat. Schimmel menempatkan praktik blessings upon him, yakni doa dan shalawat kepada Nabi, sebagai bagian integral dari penghormatan terhadap beliau. Penyebutan nama Muhammad disertai formula penghormatan menunjukkan bahwa nama Nabi memiliki fungsi religius yang lebih luas daripada sekadar identifikasi tokoh sejarah. Ia menjadi sarana untuk menghidupkan hubungan spiritual antara umat dan Rasulullah (Schimmel 1985, 81–104).
Bab keenam, “The Names of the Prophet,” halaman 105–122, membahas tradisi mengenai nama-nama dan gelar Muhammad. Schimmel menunjukkan bahwa Nabi dikenal melalui berbagai nama dan sebutan yang masing-masing mengandung penekanan makna tertentu. Banyaknya nama Nabi menggambarkan kekayaan cara umat Islam memahami kepribadian dan kedudukan beliau. Nama-nama tersebut berkaitan dengan sifat, kemuliaan, fungsi kenabian, hubungan Muhammad dengan umat, dan kedudukannya di hadapan Allah. Tradisi mengenai nama Nabi sekaligus memperlihatkan kecenderungan khas kesalehan Islam untuk menemukan makna spiritual dalam penyebutan nama. Nama Muhammad menjadi objek penghormatan, dan berbagai gelarnya menjadi cara untuk mengungkapkan kecintaan serta pengakuan terhadap keutamaan beliau (Schimmel 1985, 105–122). Bab ini kemudian dilengkapi dengan “Appendix: The Noble Names of the Prophet” pada halaman 257–260, yang menunjukkan betapa pentingnya tema nama Nabi dalam keseluruhan buku.
Bab ketujuh, “The Light of Muhammad and the Mystical Tradition,” halaman 123–143, memasuki wilayah tasawuf dan mistisisme Islam. Tema utamanya adalah Nūr Muḥammad, cahaya Muhammad, dan perkembangan gagasan tersebut dalam tradisi mistik. Schimmel menunjukkan bagaimana Muhammad memperoleh posisi yang sangat penting dalam kosmologi dan spiritualitas sufistik. Dalam berbagai tradisi, gagasan mengenai cahaya Muhammad menjadi cara untuk memahami hakikat spiritual Nabi dan kedudukannya dalam hubungan antara Tuhan, penciptaan, dan manusia. Pembahasan ini juga memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap Nabi dalam Islam tidak berhenti pada kehidupan sosial dan praktik ibadah, tetapi berkembang menjadi refleksi metafisik dan mistik. Tokoh-tokoh sufi dan karya-karya mistik memberikan lapisan baru terhadap pemahaman tentang Muhammad sebagai pusat kehidupan spiritual (Schimmel 1985, 123–143).
Bab kedelapan, “The Celebration of the Prophet’s Birthday,” halaman 144–158, membahas tradisi maulid Nabi. Schimmel menelusuri bagaimana kelahiran Muhammad menjadi objek perayaan keagamaan. Kelahiran Nabi yang pada awalnya merupakan bagian dari sejarah kehidupan beliau kemudian berkembang menjadi momentum untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah. Tradisi maulid melibatkan pembacaan kisah kehidupan dan kelahiran Nabi, pujian, shalawat, doa, dan sastra keagamaan. Dengan demikian, sejarah kelahiran Nabi mengalami transformasi menjadi ingatan ritual. Umat tidak sekadar mengetahui bahwa Muhammad pernah lahir pada suatu masa tertentu, tetapi menghidupkan kembali peristiwa tersebut melalui perayaan keagamaan. Schimmel menggunakan fenomena ini untuk memperlihatkan bagaimana ingatan terhadap Nabi memperoleh bentuk sosial dan ritual yang beragam di dunia Islam (Schimmel 1985, 144–158).
Bab kesembilan, “The Prophet’s Night Journey and Ascension,” halaman 159–175, membahas Isrāʾ dan Miʿrāj. Schimmel menempatkan perjalanan malam dan kenaikan Nabi sebagai salah satu peristiwa yang memiliki daya tarik besar dalam tradisi Muslim. Peristiwa tersebut kemudian melahirkan berbagai penafsiran teologis, mistik, sastra, dan artistik. Buraq, perjalanan Nabi, pertemuan dengan para nabi, serta kenaikan menuju alam surgawi menjadi bagian dari narasi yang sangat kaya. Dalam tradisi sufistik, perjalanan Nabi juga memperoleh makna simbolis sebagai model perjalanan spiritual menuju Allah. Dengan demikian, Miʿrāj dalam pembahasan Schimmel tidak hanya ditempatkan sebagai satu episode kehidupan Muhammad, tetapi sebagai sumber yang melahirkan berbagai bentuk pemaknaan spiritual dan kultural (Schimmel 1985, 159–175).
Bab kesepuluh, “Poetry in Honor of the Prophet,” merupakan salah satu bagian terpanjang buku, yakni halaman 176–215. Schimmel membaginya menjadi tiga bagian: “The Arabic Tradition” pada halaman 178–188, “The Poets’ Longing for Medina” pada halaman 189–194, dan “Naʿtiyya Poetry in the Persianate and Popular Tradition” pada halaman 195–215. Penempatan puisi dalam bagian yang demikian luas menunjukkan pentingnya sastra dalam memahami penghormatan umat Islam kepada Nabi. Schimmel tidak melihat puisi sekadar sebagai karya estetis, melainkan sebagai sumber untuk memahami pengalaman religius. Melalui puisi, kecintaan kepada Muhammad dapat dinyatakan dengan bahasa kerinduan, pujian, permohonan, pengagungan, dan pengharapan (Schimmel 1985, 176–215).
Dalam “The Arabic Tradition,” Schimmel menelusuri akar pujian terhadap Nabi dalam lingkungan Arab. Tradisi pujian kepada Muhammad memiliki hubungan dengan perkembangan sastra Arab dan dengan tradisi pujian terhadap Rasul sejak masa awal Islam. Puisi menjadi salah satu medium yang memungkinkan pengalaman keagamaan diterjemahkan ke dalam bahasa yang indah dan emosional. Muhammad dipuji bukan hanya karena kedudukannya sebagai Rasul, tetapi karena sifat, akhlak, keindahan, dan hubungan beliau dengan umat. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dari kebudayaan Islam.
Bagian “The Poets’ Longing for Medina” membawa pembaca kepada tema kerinduan terhadap Madinah. Dalam tradisi puisi Islam, Madinah bukan sekadar sebuah kota geografis. Ia merupakan ruang yang menyimpan memori Nabi, tempat beliau hidup, membangun masyarakat, beribadah, dan akhirnya dimakamkan. Karena itu, kerinduan kepada Madinah menjadi salah satu bentuk kerinduan kepada Muhammad. Perjalanan menuju Madinah memperoleh makna spiritual karena seseorang tidak hanya melakukan perjalanan ke sebuah tempat, tetapi menuju ruang yang berkaitan langsung dengan kehidupan Rasulullah. Tema ini menunjukkan bagaimana geografi dapat berubah menjadi geografi spiritual melalui ingatan terhadap Nabi (Schimmel 1985, 189–194).
Bagian “Naʿtiyya Poetry in the Persianate and Popular Tradition” memperluas pembahasan ke wilayah Persia dan tradisi populer. Tradisi naʿt memberikan ruang yang sangat besar bagi ekspresi pujian terhadap Nabi. Bahasa puisi digunakan untuk menggambarkan keindahan Muhammad, keutamaannya, kerinduan kepada beliau, serta hubungan spiritual antara Nabi dan umat. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa penghormatan kepada Muhammad berkembang melampaui batas bahasa Arab dan memasuki berbagai kebudayaan Muslim. Bahasa Persia dan tradisi lokal kemudian menghasilkan bentuk-bentuk puitis yang khas, tetapi tetap berpusat pada tema kecintaan kepada Rasulullah. Dengan demikian, Schimmel memperlihatkan universalitas penghormatan kepada Nabi sekaligus keragaman bentuk kultural yang digunakannya (Schimmel 1985, 195–215).
Bab kesebelas, “The ‘Muhammadan Path’ and the New Interpretation of the Prophet’s Life,” halaman 216–238, membawa pembahasan dari pujian terhadap Nabi menuju persoalan bagaimana kehidupan beliau ditafsirkan sebagai jalan spiritual. Muhammad tidak hanya menjadi objek pujian, tetapi juga menjadi model perjalanan manusia menuju Allah. Dalam tradisi sufistik, mengikuti Muhammad berarti membentuk kehidupan berdasarkan sunnah dan akhlak beliau, sekaligus menjadikan Nabi sebagai model perjalanan batin. Dengan konsep Muhammadan Path, kehidupan Nabi memperoleh fungsi normatif dan spiritual. Muhammad menjadi jalan yang menghubungkan kehidupan manusia dengan orientasi kepada Tuhan. Schimmel kemudian memperhatikan bagaimana kehidupan Nabi ditafsirkan kembali melalui berbagai perkembangan intelektual dalam tradisi Islam (Schimmel 1985, 216–238).
Bab kedua belas, “The Prophet Muhammad in Muhammad Iqbal’s Work,” halaman 239–256, menjadi pembahasan penutup sebelum lampiran. Schimmel memilih Muhammad Iqbal sebagai contoh penting mengenai bagaimana Nabi Muhammad dipahami dalam pemikiran Muslim modern. Iqbal memberikan pembacaan yang dinamis terhadap Nabi. Muhammad tidak ditempatkan sebagai tokoh yang hanya relevan bagi masyarakat masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi bagi pembentukan manusia dan pembaruan kehidupan Muslim. Dengan memasukkan Iqbal, Schimmel memperlihatkan bahwa sejarah penghormatan kepada Nabi terus berlanjut dalam modernitas. Nabi tetap menjadi sumber orientasi intelektual dan spiritual ketika umat Islam menghadapi persoalan dunia modern (Schimmel 1985, 239–256).
Bagian “Appendix: The Noble Names of the Prophet” pada halaman 257–260 melengkapi pembahasan utama dengan daftar nama-nama mulia Nabi. Kehadiran lampiran ini memperlihatkan bahwa tradisi penamaan Muhammad bukan sekadar tema sampingan, tetapi salah satu unsur penting dalam sejarah penghormatan terhadap beliau. Setelah lampiran, buku dilengkapi dengan Abbreviations, Notes, Bibliography, Index of Koranic Quotations, Index of Prophetic Traditions, Index of Proper Names, serta Index of Technical Terms and Concepts. Catatan menempati halaman 263–314 dan bibliografi halaman 315–342, sementara indeks-indeks berikutnya menempati halaman 343 dan seterusnya. Struktur referensial tersebut memperlihatkan luasnya sumber yang digunakan Schimmel untuk menyusun kajiannya (Schimmel 1985, 257–369).
Jika seluruh isi buku dibaca berdasarkan urutan pembahasannya, terlihat perkembangan yang sangat jelas. Schimmel memulai dari kehidupan dan tradisi biografis Nabi, kemudian bergerak kepada keindahan fisik dan spiritual, kedudukan unik Muhammad, mukjizat, syafaat, nama-nama Nabi, cahaya Muhammad dan mistisisme, maulid, Miʿrāj, puisi, jalan Muhammadiyah, dan akhirnya pemikiran Iqbal. Jadi, isi buku secara bertahap memperluas pengertian mengenai Muhammad: dari pribadi yang hidup dalam sejarah menjadi figur yang hidup dalam tradisi keagamaan; dari teladan historis menjadi objek kecintaan; dari objek kecintaan menjadi pusat sastra dan mistisisme; dan dari tradisi klasik menjadi sumber inspirasi bagi pemikiran Muslim modern (Schimmel 1985, 9–256).
Yang sangat menonjol dari isi buku adalah penggunaan puisi dan teks devosional sebagai sumber untuk memahami pengalaman umat terhadap Nabi. Schimmel tidak membatasi sumber pada karya-karya teologis atau sejarah, tetapi memasukkan karya sastra dan ekspresi kesalehan sebagai data penting. Hal ini sesuai dengan karakter buku yang oleh penerbit dijelaskan sebagai kajian yang menggunakan sumber-sumber asli dari berbagai bahasa Islam untuk menjelaskan posisi Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi. Dengan menggunakan teks puitis, ekspresi artistik, dan praktik keagamaan sehari-hari, Schimmel berusaha memahami Islam bukan hanya sebagai sistem doktrin, tetapi sebagai agama yang dialami dan dipraktikkan oleh manusia (Schimmel 1985).
Buku ini juga menunjukkan bahwa penghormatan kepada Nabi merupakan fenomena lintas ruang dan zaman. Dari tradisi Arab, pembahasan bergerak ke Persia, India, tradisi populer, tasawuf, dan kemudian pemikiran modern Iqbal. Tokoh-tokoh dan istilah yang muncul dalam indeks dan teks memperlihatkan luasnya cakupan bahan yang digunakan Schimmel, termasuk ʿAbd al-Karīm al-Jīlī, Ibn ʿArabī, Rūmī, Jāmī, ʿAṭṭār, Ḥassān ibn Thābit, Qāḍī ʿIyāḍ, dan Muhammad Iqbal. Tradisi tersebut tidak semuanya berbicara dengan bahasa yang sama, tetapi memiliki satu titik temu: Muhammad menjadi figur sentral yang terus ditafsirkan melalui bahasa teologi, hadis, tasawuf, puisi, ritual, dan kebudayaan (Schimmel 1985). Daftar istilah dalam buku juga menunjukkan luasnya jaringan konsep dan tokoh yang digunakan dalam karya tersebut.
Dengan demikian, isi And Muhammad Is His Messenger pada dasarnya merupakan penelusuran panjang mengenai bagaimana Muhammad terus hadir dalam kehidupan umat Islam melalui ingatan, pujian, doa, sastra, ritual, mistisisme, dan pemikiran. Schimmel memperlihatkan bahwa kehidupan Nabi tidak berhenti ketika kehidupan historis beliau berakhir. Kehidupan itu terus memperoleh bentuk baru dalam shamāʾil, dalāʾil, kisah mukjizat, shalawat, tradisi syafaat, nama-nama Nabi, konsep Nūr Muḥammad, maulid, kisah Miʿrāj, puisi Arab dan Persia, kerinduan kepada Madinah, jalan Muhammadiyah, serta pemikiran Iqbal. Seluruhnya membentuk satu sejarah panjang mengenai kecintaan dan penghormatan umat Islam kepada Rasulullah (Schimmel 1985, 9–256).
Karena itu, isi buku Schimmel dapat dibaca sebagai kajian tentang transformasi Nabi Muhammad dari figur historis menjadi figur yang terus hidup dalam kesalehan Islam. Ia menelusuri bagaimana peristiwa kehidupan Nabi memperoleh makna baru dalam tradisi keagamaan, bagaimana sifat-sifat beliau menjadi teladan, bagaimana nama beliau menjadi objek shalawat dan penghormatan, bagaimana perjalanan dan mukjizat beliau berkembang menjadi narasi religius, bagaimana kelahiran beliau menjadi maulid, bagaimana Miʿrāj menjadi sumber simbolisme spiritual, bagaimana kecintaan kepada beliau diekspresikan melalui puisi, dan bagaimana kehidupan beliau ditafsirkan kembali oleh pemikir modern seperti Muhammad Iqbal. Dalam keseluruhan pembahasan tersebut, Muhammad tampil sebagai pusat kehidupan spiritual dan kebudayaan Muslim, sementara berbagai teks dan praktik yang dikaji Schimmel menjadi bukti mengenai kedalaman dan keluasan penghormatan umat kepada beliau (Schimmel 1985).
Nabi Muhammad dalam Perspektif Sejarawan Dunia: Pengakuan Sarjana dan Penulis Barat terhadap Nabi Muhammad Saw.
Dalam sejarah intelektual Barat, gambaran tentang Nabi Muhammad saw. mengalami perubahan yang sangat panjang. Pada periode polemik Kristen abad pertengahan hingga sebagian karya abad kesembilan belas, Muhammad sering digambarkan secara negatif, bahkan sebagai impostor atau penipu agama. Akan tetapi, memasuki abad kesembilan belas dan terutama abad kedua puluh, muncul sejumlah sarjana dan penulis Barat yang memberikan penilaian jauh lebih positif terhadap kepribadian, ketulusan, kemampuan intelektual, kepemimpinan, dan pengaruh historis Muhammad. Karena itu, tidak tepat jika seluruh tradisi Barat terhadap Nabi Muhammad disamaratakan sebagai tradisi yang menolak atau merendahkan beliau. Ada perkembangan yang jelas dari polemik menuju kajian historis, dari tuduhan menuju usaha memahami, dan dari melihat Muhammad sebagai lawan agama menuju melihat beliau sebagai salah satu tokoh paling menentukan dalam sejarah manusia.
Salah satu contoh paling terkenal adalah Thomas Carlyle (1795–1881), seorang sejarawan, esais, dan pemikir Inggris. Dalam kuliah yang disampaikannya di London pada 8 Mei 1840 dan kemudian diterbitkan sebagai bagian dari On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History (1841), Carlyle menempatkan Muhammad secara khusus dalam kategori “The Hero as Prophet: Mahomet—Islam.” Ini merupakan fakta yang sangat penting karena Muhammad tidak ditempatkan sebagai sekadar tokoh politik atau pendiri agama, melainkan sebagai salah satu bentuk “pahlawan” dalam teori Carlyle tentang tokoh-tokoh besar sejarah. Carlyle bahkan memulai pembahasannya dengan menyatakan bahwa Muhammad harus dilihat dalam konteks perubahan besar dalam sejarah agama manusia: dari manusia yang dipuja sebagai dewa menuju manusia yang dipandang sebagai nabi yang mendapat ilham Tuhan.
Yang lebih penting adalah penilaian Carlyle terhadap ketulusan Muhammad. Dalam On Heroes, Carlyle menjadikan sincerity—ketulusan atau kesungguhan batin—sebagai salah satu ciri utama manusia heroik. Ia kemudian menggunakan kerangka tersebut untuk membaca Muhammad. Bagi Carlyle, sulit menjelaskan pengaruh Muhammad selama berabad-abad hanya dengan mengatakan bahwa beliau seorang penipu. Muhammad, dalam pandangan Carlyle, memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh terhadap apa yang disampaikannya. Karena itu, posisi Carlyle merupakan koreksi penting terhadap gambaran lama tentang Muhammad sebagai impostor.
Bahkan struktur bukunya sendiri menunjukkan penghormatan Carlyle terhadap posisi historis Muhammad. On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History merupakan kumpulan enam kuliah tentang tokoh-tokoh besar: Odin sebagai Hero as Divinity, Muhammad sebagai Hero as Prophet, Dante dan Shakespeare sebagai Hero as Poet, Luther dan Knox sebagai Hero as Priest, Johnson, Rousseau dan Burns sebagai Hero as Man of Letters, serta Cromwell dan Napoleon sebagai Hero as King. Dengan demikian, Muhammad bukan sekadar salah satu nama yang disebut Carlyle; beliau memperoleh satu kuliah khusus yang membahas Islam dan kenabian. Edisi akademik University of California Press juga menegaskan bahwa potret Carlyle tentang Muhammad merupakan salah satu bagian penting dari karya tersebut.
Tokoh berikutnya adalah Edward Gibbon (1737–1794), salah seorang sejarawan besar Inggris. Dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, khususnya bab 50, Gibbon membahas Arabia, kelahiran, karakter, doktrin, dakwah, hijrah, dan wafat Muhammad. Penilaiannya memang tidak dapat disebut sebagai pengakuan terhadap kenabian dalam pengertian teologis Islam. Gibbon tetap menulis sebagai sejarawan Pencerahan dan membawa sejumlah asumsi kritis terhadap Islam. Namun, ia mengakui secara eksplisit talenta dan keberhasilan luar biasa Muhammad. Ia menulis bahwa “The talents of Mahomet are entitled to our applause,” meskipun kemudian memberikan interpretasi kritis terhadap cara keberhasilan tersebut dicapai.
Lebih jauh, Gibbon melihat kemunculan Muhammad dalam konteks perubahan besar yang mengguncang Timur Dekat. Ia menyebut “the genius of the Arabian prophet” dalam menjelaskan salah satu revolusi paling besar yang memberi karakter baru dan tahan lama kepada bangsa-bangsa dunia. Artinya, bahkan ketika Gibbon tidak menerima klaim teologis Muhammad sebagai nabi, ia mengakui genius historis beliau dan besarnya perubahan yang ditimbulkan oleh gerakan Muhammad.
Menariknya, Gibbon juga memberikan gambaran yang cukup positif mengenai karakter fisik dan kemampuan komunikasi Muhammad berdasarkan sumber-sumber tradisional. Ia mencatat gambaran tentang kehadiran Muhammad yang mengesankan, wajah yang berwibawa, senyum, pandangan mata, dan kemampuan oratoris yang membuat pendengar terpengaruh. Gibbon bahkan mempertanyakan argumen yang digunakan sebagian penulis untuk menjelaskan Muhammad sebagai seorang penipu yang sadar dan terencana. Dengan demikian, meskipun Gibbon bukan seorang pembela Islam, gambaran yang muncul dalam karyanya jauh lebih kompleks daripada stereotip “penipu agama”.
Tokoh lain yang sangat penting adalah Tor Andræ (1885–1947), sarjana agama Swedia. Bukunya Mohammed: The Man and His Faith pertama kali diterbitkan pada 1936. Berbeda dari karya polemis lama, Andræ mencoba memahami Muhammad terutama sebagai pribadi religius. Struktur bukunya sendiri menunjukkan pendekatan tersebut: ia membahas Arabia pada masa Muhammad, masa kanak-kanak dan panggilan kenabian, pesan keagamaan Muhammad, doktrin wahyu, konflik dengan Quraisy, Muhammad sebagai penguasa di Madinah, dan akhirnya “Mohammed's Personality.”
Pendekatan Andræ penting karena Muhammad tidak lagi diperlakukan semata-mata sebagai problem politik atau sebagai lawan teologi Kristen. Ia menjadi kepribadian religius yang harus dipahami dalam pengalaman keagamaannya sendiri. Dalam arti ini, Andræ merupakan bagian dari perubahan besar dalam studi Barat tentang Muhammad: dari pertanyaan “bagaimana membantah Muhammad?” menuju pertanyaan “bagaimana memahami Muhammad sebagai pribadi religius?” Meskipun interpretasinya tetap merupakan interpretasi seorang sarjana non-Muslim dan tidak identik dengan akidah Islam, pergeseran metodologis tersebut sangat signifikan.
Perubahan berikutnya terlihat pada W. Montgomery Watt (1909–2006), seorang sarjana Skotlandia dan profesor Arabic and Islamic Studies di University of Edinburgh. Watt menulis Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956), kemudian merangkumnya dalam Muhammad: Prophet and Statesman (1961). Watt secara sadar berusaha menjelaskan Muhammad melalui konteks sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan Arabia. Namun, yang paling menarik adalah penilaiannya mengenai integritas Muhammad. Dalam Muhammad at Mecca, Watt berargumentasi bahwa kesediaan Muhammad menanggung penganiayaan demi keyakinannya, karakter moral para pengikut awalnya, dan besarnya pencapaian akhirnya semuanya menjadi alasan untuk menerima adanya integritas fundamental dalam diri Muhammad.
Karena itu, Watt mengajukan pertanyaan yang sangat penting: jika Muhammad memang seorang impostor, mengapa harus menjelaskan seluruh pengorbanan awalnya dan kualitas orang-orang yang percaya kepadanya? Dalam kutipan yang sering dirujuk dari Muhammad at Mecca, Watt menyatakan bahwa menganggap Muhammad sebagai impostor justru menimbulkan lebih banyak persoalan daripada menyelesaikannya. Ia juga menilai bahwa tidak banyak tokoh besar sejarah yang mendapat penghargaan yang layak di Barat seperti Muhammad.
Posisi Watt menarik karena ia tidak menjadi Muslim dan tidak menerima kenabian Muhammad sebagai doktrin iman, tetapi ia menolak penjelasan sederhana bahwa Muhammad adalah seorang penipu. Dengan demikian, pengakuan Watt terutama berada pada tingkat integritas historis dan moral, bukan pengakuan teologis terhadap wahyu.
Tokoh berikutnya adalah Maxime Rodinson (1915–2004), orientalis dan sejarawan Prancis. Ia menerbitkan Mahomet pada 1961. Rodinson adalah seorang Marxis dan ateis, sehingga perspektifnya tentu sangat berbeda dari perspektif Muslim. Namun, justru karena itu, penilaiannya terhadap Muhammad menarik untuk diperhatikan. Ia tidak dapat dikategorikan sebagai pembela Islam, tetapi ia mengakui kemampuan Muhammad sebagai figur yang sangat kuat secara politik dan intelektual. Kajian terhadap buku Rodinson menunjukkan bahwa ia mencoba menjelaskan mengapa Muhammad, bukan orang lain di Mekah, yang mampu menggerakkan roda sejarah.
Rodinson bahkan mencatat bahwa ia menggambarkan Muhammad dalam beberapa dimensi sekaligus: sebagai pemikir politik dan negarawan dengan kemampuan persuasi yang sangat kuat, sebagai seorang yang meyakini dirinya menerima wahyu, dan sebagai seorang mistikus yang mencintai Tuhan. Yang penting, Rodinson tidak menjelaskan keberhasilan Muhammad hanya dengan penipuan. Ia berpendapat bahwa keberhasilan tersebut berkaitan dengan keyakinan Muhammad terhadap perjuangannya sendiri. Jadi, meskipun secara filosofis Rodinson sangat jauh dari Islam, ia tetap melihat Muhammad sebagai tokoh historis dengan kekuatan intelektual, spiritual, dan politik yang luar biasa.
Kemudian ada Karen Armstrong, penulis Inggris yang menerbitkan Muhammad: A Prophet for Our Time pada 2006. Armstrong bukan Muslim, tetapi ia berusaha mengoreksi gambaran negatif tentang Muhammad yang masih hidup dalam sebagian wacana Barat. Dalam buku tersebut, Muhammad dipresentasikan sebagai mistikus sekaligus pembaru sosial dan politik yang bijaksana. Fokus Armstrong bukan membuktikan kenabian Muhammad secara teologis, melainkan menunjukkan bagaimana Muhammad dipahami oleh umat Islam dan mengapa kehidupan beliau harus dibaca dalam konteks sejarah Arabia abad ketujuh.
Di sini kita sampai kepada Annemarie Schimmel (1922–2003), yang menurut saya menempati posisi yang paling unik. Schimmel tidak terutama berbicara mengenai Muhammad sebagai negarawan, penakluk, atau pembaru sosial. Dalam And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (1985), ia memilih kata “veneration”—penghormatan atau pemuliaan. Fokusnya adalah bagaimana Nabi Muhammad hidup dalam kesalehan umat Islam: dalam shalawat, syafaat, nama-nama Nabi, maulid, Isra-Mi'raj, puisi, tasawuf, Nūr Muḥammad, dan tradisi naʿt. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Schimmel tidak hanya ingin mengetahui “apa yang dilakukan Muhammad”, tetapi juga mengapa Muhammad begitu dicintai oleh umat Islam.
Karena itu, jika Carlyle melihat Muhammad sebagai hero-prophet, Gibbon melihatnya sebagai genius historis, Andræ sebagai personalitas religius, Watt sebagai tokoh yang memiliki integritas fundamental, Rodinson sebagai figur politik dan intelektual yang sangat kuat, Armstrong sebagai mistikus dan pembaru sosial-politik, maka Schimmel melihat Muhammad terutama sebagai pusat cinta dan kesalehan umat Islam. Perbedaan tersebut justru menunjukkan perkembangan cara Barat memahami Nabi.
Ada pula John William Draper (1811–1882), ilmuwan, filsuf, dan sejarawan Amerika, yang memberikan penilaian positif terhadap keberhasilan awal Muhammad. Salah satu kutipan yang sering dikaitkan dengannya menyatakan bahwa keberhasilan terbesar Muhammad dicapai melalui “sheer moral force” tanpa mengandalkan pedang. Namun, kutipan ini perlu digunakan secara hati-hati dalam tulisan akademik karena atribusi dan edisi sumbernya perlu diverifikasi langsung dari edisi primer History of the Conflict Between Religion and Science atau karya yang dimaksud sebelum dijadikan kutipan langsung. Karena itu, untuk naskah akademik sebaiknya jangan menjadikannya sebagai kutipan utama sebelum sumber primernya diperiksa.
Penulis lainnya yang memberikan pengakuan kuat terhadap pengaruh Nabi Muhammad dalam sejarah dunia adalah Michael H. Hart, seorang penulis dan ilmuwan Amerika yang melalui bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) menempatkan Nabi Muhammad pada peringkat pertama dari seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Pilihan ini menarik karena Hart menyusun peringkat tersebut bukan berdasarkan keyakinan agama, melainkan berdasarkan ukuran pengaruh historis. Menurut Hart, Muhammad memiliki keistimewaan karena berhasil dalam dua ranah sekaligus, yakni keagamaan dan kehidupan duniawi. Muhammad bukan hanya menjadi pembawa risalah Islam, tetapi juga pemimpin masyarakat dan politik yang berhasil membentuk komunitas baru di Arabia dan meletakkan dasar bagi perkembangan peradaban Islam. Karena itu, Hart melihat pengaruh Muhammad sebagai sesuatu yang melampaui batas seorang tokoh agama biasa; pengaruhnya mencakup pembentukan keyakinan, masyarakat, tatanan sosial, dan kehidupan politik dalam skala yang sangat luas (Hart 1978, 3).
Penilaian Hart semakin penting karena ia menempatkan Muhammad di atas tokoh-tokoh seperti Yesus dan Musa dalam daftar tersebut. Ia berpendapat bahwa keberhasilan Muhammad dalam membentuk Islam memiliki karakter yang sangat langsung dan menyeluruh, sebab Muhammad memainkan peranan sekaligus sebagai pemimpin agama dan pemimpin masyarakat. Dalam perspektif Hart, perpaduan kedua fungsi tersebut menjadikan pengaruh Muhammad sangat besar dan bertahan dalam sejarah selama berabad-abad. Dengan demikian, meskipun Hart tidak sedang memberikan pengakuan teologis terhadap kenabian Muhammad sebagaimana seorang Muslim, penempatannya pada posisi pertama merupakan pengakuan historis yang sangat kuat terhadap kebesaran, efektivitas kepemimpinan, dan daya transformasi Nabi Muhammad. Bagi Hart, Muhammad merupakan contoh luar biasa tentang seorang manusia yang mampu mengubah agama sekaligus kehidupan sosial dan politik manusia dalam skala dunia (Hart 1978, 3).
Dengan demikian, pengakuan Barat terhadap Nabi Muhammad tidak harus dipahami sebagai pengakuan terhadap kenabian beliau secara teologis. Justru secara akademik lebih kuat jika dibedakan menjadi beberapa tingkat: pengakuan terhadap kejujuran dan ketulusan seperti pada Carlyle dan Watt; pengakuan terhadap genius dan kapasitas historis seperti Gibbon; pengakuan terhadap kepribadian religius seperti Andræ; pengakuan terhadap kemampuan politik dan intelektual seperti Rodinson; pengakuan terhadap peran sosial dan spiritual seperti Armstrong; dan pengakuan terhadap kedalaman penghormatan umat Islam kepada Nabi seperti Schimmel.
Yang menarik adalah bahwa semakin jauh kita bergerak dari orientalisme polemis menuju studi Islam modern, semakin sulit mempertahankan gambaran sederhana bahwa Muhammad adalah seorang “impostor”. Seorang penulis mungkin tidak menerima klaim kenabian beliau, tetapi tetap dapat sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad adalah pribadi yang sungguh-sungguh meyakini misinya, memiliki kapasitas kepemimpinan yang luar biasa, mampu mengubah struktur sosial dan keagamaan Arabia, dan menghasilkan salah satu transformasi paling besar dalam sejarah dunia. Bahkan Gibbon, yang tetap kritis, mengakui talenta Muhammad; Carlyle menjadikannya Hero as Prophet; Watt berbicara tentang integritas fundamental; dan Schimmel menunjukkan bahwa pengaruh tersebut tidak berhenti pada politik dan sejarah, tetapi menjelma menjadi cinta dan kesalehan yang bertahan selama lebih dari empat belas abad.
Karena itu, jika hendak ditulis menjadi artikel tentang “Pengakuan Sarjana Barat terhadap Nabi Muhammad saw.”, saya menyarankan agar jangan menggunakan narasi bahwa “semua sarjana Barat akhirnya mengakui Muhammad sebagai nabi”. Itu secara historis tidak tepat. Narasi yang jauh lebih kuat adalah: “Sejumlah sarjana dan intelektual Barat, meskipun tidak menerima kenabian Muhammad dalam pengertian teologis Islam, mengakui ketulusan, integritas, genius, kapasitas kepemimpinan, kedalaman religius, dan pengaruh historis Muhammad yang luar biasa.” Pernyataan seperti ini jauh lebih sulit dibantah karena masing-masing dapat ditunjukkan melalui karya mereka sendiri.
Penutup: Nabi Muhammad sebagai Bagian dari Iman dan Kehidupan
Membaca kembali sejarah penulisan tentang Nabi Muhammad saw. memperlihatkan bahwa cara manusia memandang beliau tidak pernah berada dalam satu garis yang sederhana. Dalam tradisi Muslim klasik, kehidupan Rasulullah dipelihara melalui sīrah, maghāzī, hadis, ṭabaqāt, dan historiografi, sejak Ibn Isḥāq, Ibn Hishām, al-Wāqidī, Ibn Saʿd, hingga al-Ṭabarī. Tradisi ini tidak hanya berusaha merekam peristiwa, tetapi juga menjaga ingatan umat terhadap Rasulullah sebagai nabi, teladan, pemimpin, dan sumber kehidupan keagamaan. Karena itu, Muhammad dalam tradisi Muslim tidak pernah hanya menjadi objek sejarah. Beliau adalah bagian dari iman dan kehidupan umat.
Historiografi Barat kemudian datang dengan pertanyaan dan perangkat yang berbeda. Pada sebagian karya awal, Muhammad masih dibaca melalui kacamata polemik Kristen dan prasangka keagamaan. Namun, perjalanan panjang studi Barat memperlihatkan perubahan yang cukup berarti. Edward Gibbon mengakui talenta Muhammad dan besarnya keberhasilan historis beliau; Thomas Carlyle bahkan menempatkannya dalam kategori “The Hero as Prophet” dalam On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History (1841). Tor Andræ berusaha memahami Muhammad sebagai manusia dan pribadi religius, sedangkan W. Montgomery Watt menempatkan kehidupan beliau dalam konteks sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan Arabia. Dengan demikian, Muhammad semakin jauh dari gambaran sederhana sebagai seorang “impostor” dan semakin tampil sebagai tokoh sejarah yang memiliki integritas, kekuatan kepribadian, kemampuan kepemimpinan, dan pengaruh yang luar biasa.
Perubahan tersebut menjadi semakin menarik ketika pendekatan sejarah bertemu dengan pendekatan pengalaman keagamaan. Annemarie Schimmel menempati posisi yang sangat khas di sini. And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety tidak terutama berusaha merekonstruksi kronologi kehidupan Muhammad, tetapi menjelaskan bagaimana Nabi hidup dalam kesadaran umat Islam melalui penghormatan, shalawat, syafaat, nama-nama Nabi, maulid, Israʾ-Miʿrāj, puisi, tasawuf, dan berbagai ekspresi kebudayaan Muslim. Edisi Inggrisnya diterbitkan University of North Carolina Press pada 1985 sebagai pengembangan dari karya Jerman Und Muhammad ist sein Prophet yang terbit pada 1981.
Di sinilah karya Schimmel memberikan sumbangan yang penting. Ia mengingatkan bahwa memahami Muhammad tidak cukup hanya dengan mencari apa yang “terjadi” dalam sejarah. Kita juga perlu memahami bagaimana Muhammad diingat, dicintai, dihormati, dan dihidupkan kembali dalam pengalaman umat Islam. UNC Press sendiri menggambarkan tujuan bukunya sebagai upaya menjelaskan posisi sentral Muhammad dalam kehidupan Muslim, pemikiran mistik, dan puisi, sekaligus menunjukkan bahwa dimensi penting tersebut sering terabaikan dalam studi Barat.
Karena itu, perbedaan antara sarjana Muslim dan sarjana Barat seharusnya tidak dibaca secara hitam-putih. Yang lebih penting adalah melihat dari mana masing-masing melihat Muhammad. Sejarawan kritis bertanya tentang sumber dan kemungkinan historis sebuah peristiwa; ahli hadis bertanya tentang transmisi dan kredibilitas riwayat; penulis sīrah memelihara memori kehidupan Rasulullah; sarjana agama meneliti pengalaman keagamaan umat; sedangkan Schimmel menelusuri bagaimana cinta kepada Nabi membentuk sastra, ritual, seni, dan spiritualitas Islam. Semua pendekatan itu dapat berdialog tanpa harus kehilangan identitas metodologisnya.
Pada titik inilah pengakuan sejumlah intelektual Barat menjadi menarik. Kita tidak perlu mengatakan bahwa Carlyle, Gibbon, Andræ, Watt, Rodinson, Armstrong, M. Hart atau Schimmel telah menerima kenabian Muhammad dalam pengertian akidah Islam. Klaim semacam itu justru akan melemahkan argumentasi. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa sejumlah sarjana dan intelektual Barat, meskipun berasal dari latar belakang keagamaan dan metodologis yang berbeda, mengakui kebesaran historis, ketulusan, integritas, genius, kapasitas kepemimpinan, kedalaman religius, atau pengaruh peradaban Muhammad saw. Carlyle menyebutnya dalam kerangka Hero as Prophet; Gibbon mengakui talents dan keberhasilan luar biasanya; Watt mempertanyakan kesanggupan menjelaskan Muhammad sebagai sekadar penipu; sementara Schimmel membawa pembacaan itu ke wilayah yang lebih dalam, yaitu cinta dan penghormatan umat terhadap Nabi.
Dengan demikian, perjalanan historiografi Muhammad sebenarnya juga merupakan perjalanan perubahan cara Barat memandang Islam: dari polemik menuju penelitian, dari penolakan menuju pemahaman, dan dari melihat Muhammad hanya sebagai objek sejarah menuju usaha memahami Muhammad sebagai pusat pengalaman keagamaan umat Islam. Tentu, kritik sejarah tetap diperlukan. Riwayat harus diteliti, sumber harus dibandingkan, dan legenda harus dibedakan dari rekonstruksi sejarah. Tetapi kritik tidak seharusnya berubah menjadi reduksi. Sebab ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kronologi, politik, ekonomi, atau kritik sumber: mengapa selama lebih dari empat belas abad nama Muhammad terus disebut dalam azan, shalat, doa dan shalawat; mengapa kelahirannya dirayakan; mengapa para penyair menghabiskan hidupnya menulis pujian kepadanya; dan mengapa penyebutan namanya masih menggerakkan hati jutaan manusia.
Mungkin di situlah makna terdalam membaca Schimmel. Seorang sarjana dari Jerman membantu pembaca Barat memahami sesuatu yang bagi seorang Muslim sebenarnya sangat dekat: Muhammad saw. bukan hanya seseorang yang pernah hidup dalam sejarah; beliau adalah manusia yang terus hidup dalam ingatan, teladan, doa, cinta, dan kerinduan umatnya. Sejarah dapat meneliti kehidupan Muhammad sampai batas tertentu, tetapi sejarah tidak dapat menghapus makna yang kemudian lahir dari kehidupan itu. Dan ilmu yang sungguh-sungguh dewasa bukanlah ilmu yang merasa telah menjelaskan semuanya, melainkan ilmu yang tahu kapan harus mengakui batas-batas penjelasannya.
Maka, ketika membaca kembali karya-karya tentang Nabi Muhammad—dari Ibn Isḥāq dan Ibn Hishām, al-Wāqidī, Ibn Saʿd dan al-Ṭabarī, hingga Gibbon, Carlyle, Andræ, Watt, Rodinson, Lings, Schimmel, Armstrong, Brown, M. Hart dan Hoyland—kita sesungguhnya sedang membaca lebih dari sekadar biografi seorang tokoh. Kita sedang membaca sejarah tentang bagaimana manusia memahami Muhammad. Ada yang melihat beliau melalui sejarah, ada yang melalui wahyu, ada yang melalui hadis, ada yang melalui politik, ada yang melalui sastra, dan ada yang melalui cinta. Bagi seorang Muslim, seluruh pembacaan itu akhirnya kembali kepada satu keyakinan sederhana tetapi mendasar: Muhammad saw. adalah Rasul Allah dan uswah ḥasanah. Karena itu, penelitian tentang beliau boleh berkembang, metode boleh berubah, dan perspektif boleh beragam; tetapi kecintaan umat kepada beliau tetap menjadi salah satu fakta paling panjang, paling hidup, dan paling mengagumkan dalam sejarah manusia.
Bibliografi
Andræ, Tor. Mohammed: The Man and His Faith. London: George Allen & Unwin, 1936.
Armstrong, Karen. Muhammad: A Prophet for Our Time. New York: HarperCollins, 2006.
Brown, Jonathan A. C. Muhammad: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press, 2011.
Carlyle, Thomas. On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History. London: James Fraser, 1841.
Gibbon, Edward. The History of the Decline and Fall of the Roman Empire. Vol. 5. London: W. Strahan and T. Cadell, 1788.
Hart, Michael H. The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Hart Publishing, 1978.
Hoyland, Robert G. “Writing the Biography of the Prophet Muhammad: Problems and Solutions.” History Compass 5, no. 2 (2007): 581–602.
Ibn Hishām, ʿAbd al-Malik. Al-Sīrah al-Nabawiyyah. Ed. Muṣṭafā al-Saqqā, Ibrāhīm al-Abyārī, and ʿAbd al-Ḥafīẓ Shalabī. Cairo: Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī, 1955.
Ibn Saʿd, Muḥammad. Kitāb al-Ṭabaqāt al-Kabīr. Ed. Eduard Sachau et al. Leiden: Brill, 1904–1940.
Lings, Martin. Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. London: Islamic Texts Society, 1983.
Rodinson, Maxime. Muhammad. Translated by Anne Carter. London: Allen Lane, 1971.
Schimmel, Annemarie. And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1985.
Watt, W. Montgomery. Muhammad at Mecca. Oxford: Clarendon Press, 1953.
Watt, W. Montgomery. Muhammad at Medina. Oxford: Clarendon Press, 1956.
Watt, W. Montgomery. Muhammad: Prophet and Statesman. London: Oxford University Press, 1961.
al-Wāqidī, Muḥammad ibn ʿUmar. Kitāb al-Maghāzī. Ed. Marsden Jones. London: Oxford University Press, 1966.
al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. The History of al-Ṭabarī: An Annotated Translation. Albany: State University of New York Press, 1985–1999.
*Pageland, 12 Rabi' al-Awwal 1448 H.

Komentar
Posting Komentar