Postingan

Membaca Kisah Peradaban: Ulasan terhadap The Story of Civilization Will Durant

Gambar
  Oleh: Cak Yo Saya suka membaca kisah. Tetapi bukan sembarang kisah. Sejak kecil, saya sudah tertarik pada cerita yang membawa saya keluar dari dunia sehari-hari menuju dunia para tokoh, tempat-tempat jauh, kejadian yang ganjil, dan masa lampau yang tidak pernah saya alami sendiri. Salah satu yang masih saya ingat adalah legenda Tangkuban Perahu dari Jawa Barat—kisah tentang Sangkuriang, Dayang Sumbi, cinta, kesalahpahaman, dan sebuah gunung yang kemudian menjadi bagian dari lanskap tanah Sunda. Pada masa kanak-kanak, kisah semacam itu tidak saya baca sebagai persoalan historiografi. Ia adalah cerita: menarik karena alurnya, tokohnya, keajaibannya, dan karena selalu meninggalkan pertanyaan, benarkah dahulu pernah terjadi demikian? Barangkali ketertarikan semacam itu merupakan pengalaman yang cukup universal. Hampir setiap kebudayaan mempunyai kisah asal-usul, kepahlawanan, makhluk gaib, dewa, manusia pertama, atau bencana besar yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi be...

Menyingkap Wajah Kebenaran di Balik Teks: Membaca Naqd al-Ḥaqīqah Karya ʿAlī Ḥarb sebagai Kritik atas Kepastian Modern

Gambar
Cak Yo I. Pengantar: Dari Riuh Dekonstruksi ke Kritik Kebenaran Ada suatu masa, kira-kira sepanjang dasawarsa 1990-an hingga awal 2000-an, ketika dunia pemikiran Islam di kalangan anak muda Muslim Indonesia terasa seperti sebuah kota yang baru saja dibuka pintu-pintunya setelah lama berada dalam kesunyian. Kampus-kampus tidak sekadar menjadi tempat kuliah, ujian, dan mengejar ijazah; ia menjadi ruang perjumpaan gagasan. Masjid tidak hanya menjadi tempat salat; ia berubah menjadi ruang pembacaan, perdebatan, bahkan pergulatan batin. Buku-buku yang dahulu terasa jauh, yang nama pengarangnya terdengar seperti datang dari kota-kota asing di Eropa, Kairo, Beirut, Paris, atau Rabat, tiba-tiba berpindah tangan di antara mahasiswa. Di lorong kampus, di kantin, di sekretariat organisasi, di ruang diskusi yang lampunya kadang redup, orang memperdebatkan modernitas, tradisi, teks, otoritas, wacana, dekonstruksi, hermeneutika, epistemologi, dan pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi ternyata t...