Postingan

Reinterpretasi Simbolik Pengorbanan Ibrahim: Ulasan atas Artikel Prof. Kautsar Azhari Noer

Cak Yo Prolog: Pesan Iduladha, Mimpi Ibrahim, dan Jejak Tafsir Esoterik Pagi tadi saya menerima pesan singkat dari Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer. Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu pernah menjadi promotor disertasi saya ketika menempuh studi doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Sudah enam tahun berlalu sejak saya menyelesaikan pendidikan doktoral, tetapi pagi tadi saya kembali merasa seperti mahasiswa yang sedang menunggu catatan koreksi dari seorang guru yang dikenal sangat teliti, tenang, dan tidak mudah memberi persetujuan akademik begitu saja. Pesan beliau sederhana: ucapan Iduladha, doa kesehatan dan keberkahan keluarga, lalu kiriman sebuah tulisan panjang tentang kisah Ibrāhīm yang bermimpi menyembelih putranya dalam perspektif tafsir esoterik Ibn ‘Arabī dan tradisi lainnya. Namun seperti banyak hal penting dalam kehidupan intelektual, kesederhanaan kadang justru menyimpan gema yang panjang. Sebagai murid, saya hanya bisa menyampaikan rasa hormat, teri...

Al-Risālah dan Arsitektur Nalar Hukum Islam: Dari Tradisi Klasik hingga Studi Kritis Modern

Gambar
Cak Yo Prolog: Pergulatan yang Tak Direncanakan dengan Tradisi Intelektual Islam Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup saya bahwa setelah dewasa saya akan bergumul dengan disiplin-disiplin ilmu Islam seperti ushul fikih, ilmu hadis, tafsir, sejarah intelektual Islam, filsafat hukum Islam, hingga hermeneutika teks keagamaan. Meskipun waktu kecil saya belajar Islam mulai dari mengaji Al-Qur’an, belajar beberapa kitab dasar pesantren, dan tradisi itu berlanjut sampai SMA, arah hidup saya waktu itu tidak pernah benar-benar tertuju pada dunia akademik keislaman. Saya menjalani semua itu sebagai bagian dari tradisi keluarga dan lingkungan sosial yang memang kental dengan tradisi pesantren. Kitab-kitab kecil seperti Safīnat al-Najāḥ, Taʿlīm al-Mutaʿallim, Jurūmiyyah, atau beberapa risalah dasar fikih dan akhlak saya pelajari sebagaimana lazimnya anak-anak pesantren kampung mempelajari Islam: sederhana, praktis, dan tanpa ambisi intelektual yang besar. Cita-cita saya waktu itu justru ...