Postingan

Melampaui Sekat Disiplin Ilmu: Membaca Tradisi, Modernitas, dan Masa Depan Hukum Islam melalui The Oxford Handbook of Islamic Law

Gambar
Cak Yo Sebagai doktor di bidang hukum Islam (syariah), sesungguhnya saya “seharusnya” menulis secara linear sesuai bidang akademik yang saya tekuni. Namun dalam kenyataannya, minat intelektual sering kali bergerak lebih luas daripada pagar administratif keilmuan. Selama ini tulisan-tulisan saya justru beragam, melintasi berbagai disiplin dalam studi Islam: mulai dari hukum Islam, pemikiran Islam, politik, filsafat, hingga sastra. Politik yang saya minati tentu bukan politik praktis, melainkan politik sebagai disiplin ilmu yang membahas kekuasaan, negara, legitimasi, dan tata sosial. Demikian pula sastra, khususnya sastra Rusia, yang bagi saya menghadirkan kedalaman refleksi kemanusiaan yang luar biasa melalui tokoh-tokoh besar seperti Fyodor Dostoevsky (w. 1881), Leo Tolstoy (w. 1910), Anton Chekhov (w. 1904), Nikolai Gogol (w. 1852), hingga Alexander Pushkin (w. 1837). Mereka bukan sekadar penulis sastra, tetapi juga pembaca tajam atas jiwa manusia, moralitas, penderitaan, krisis spir...

Kitab yang Membakar Pelan-Pelan: Catatan atas Kibrīt al-Aḥmar

Gambar
  Cak Yo Ada kitab-kitab yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula kitab yang justru mulai bekerja setelah pembacanya berhenti membaca. Kitab ini termasuk golongan kedua: ia tidak tinggal di rak, melainkan tinggal di kepala, di sela napas, di daerah sunyi yang biasanya hanya didatangi mimpi atau penyesalan. Kitab yang sedang dibahas ini berjudul Kibrīt al-Aḥmar, sebuah karya yang dinisbatkan kepada tokoh besar sufi dan filsuf mistik Islam, Muḥyī al-Dīn Ibn ‘Arabī atau lengkapnya Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn ‘Alī ibn Muḥammad ibn al-‘Arabī al-Ḥātimī al-Ṭā’ī. Ia lahir di Murcia, Andalusia—wilayah Spanyol Islam—pada tahun 560 H/1165 M dan wafat di Damaskus pada 638 H/1240 M. Dalam sejarah pemikiran Islam, ia sering dijuluki al-Shaykh al-Akbar atau “Guru Agung” karena pengaruh intelektual dan spiritualnya yang sangat luas dalam dunia tasawuf, filsafat Islam, metafisika, dan pemikiran esoterik. Kibrīt al-Aḥmar sendiri secara harfiah berarti “Belerang Merah”, sebuah si...

Di Ambang Keajaiban: Menyusuri Dunia Ajaib dan Keanehan yang Tak Pernah Usai

Gambar
Cak Yo Malam Jumat ini, bada acara pengajian rutin keluarga besar, saya duduk di teras rumah, sebuah kitab tua yang saya baca membawa ingatan saya ke lorong waktu yang lebih sunyi—ke masa kecil ketika dunia belum dibatasi oleh rasionalitas yang kaku, dan kisah-kisah menjadi jendela pertama untuk mengenal semesta. Di beranda rumah yang temaram, di bawah cahaya lampu minyak  redup, kakek saya sering bertutur dengan suara pelan namun penuh wibawa. Salah satu kisah yang paling membekas adalah tentang bumi yang tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada tanduk seekor sapi raksasa, dan sapi itu berdiri di atas seekor ikan besar yang mengapung di lautan tanpa tepi.  Pada usia itu, kisah tersebut tidak pernah terasa janggal; justru ia menghadirkan rasa takjub yang sulit dijelaskan, seakan-akan dunia memang disangga oleh rahasia yang tersembunyi di balik kenyataan yang tampak. Waktu berlalu, dan kisah itu perlahan tersisih oleh penjelasan-penjelasan ilmiah yang lebih rasional. Namu...