Postingan

Dari Percakapan Ringan Sambil Ngopi ke Dunia Tasawuf: Membaca Kitab al-Risālah al-Qushayriyyah sebagai Orang Biasa

Gambar
Cak Yo Beberapa waktu lalu,  sambil ngopi, saya berbincang santai dengan beberapa dosen. Percakapan kami bergerak dari satu tema ke tema lain secara spontan: politik Islam, hukum Islam, dinamika pesantren, perkembangan studi Timur Tengah, filsafat Islam, aliran dalam Islam, hingga tasawuf dan tarekat. Dalam percakapan itu salah seorang dosen senior sempat menyampaikan bahwa ia cukup sering membaca dan cukup menikmati tulisan-tulisan saya yang membahas beragam tema. Namun sambil tersenyum beliau berkata, “Sampeyan ini jarang sekali menulis tentang tasawuf ” (redaksi dengan parafrase agar lebih egaliter). Saya tertawa kecil mendengarnya. Dan memang benar demikian adanya. Saya relatif jarang membagikan tulisan mengenai tasawuf atau sufisme, meskipun sesungguhnya sebagian kajian akademik saya cukup dekat dengan dunia tersebut. Bahkan disertasi saya yang kemudian diterbitkan menjadi buku banyak bergumul dengan pemikiran Ibn ‘Arabī, seorang ulama yg dikenal sebagai tokoh Sufisme, walaupu...

Pasar yang Tak Pernah Tidur: Catatan tentang manusia, laba, dan ilusi kesejahteraan

Gambar
Cak Yo Pagi itu pasar belum benar-benar buka. Bau sayur yang masih basah bercampur dengan asap kopi dari warung kecil di ujung gang. Seorang sopir angkot duduk sambil menghitung receh, sementara di layar telepon genggam seorang anak muda memeriksa harga saham dan kurs dolar. Dua dunia bertemu dalam satu pagi: dunia tangan yang bekerja dan dunia angka yang bergerak sendiri. Di antara keduanya, manusia modern hidup dengan keyakinan yang nyaris religius bahwa pasar akan selalu menemukan jalannya sendiri. Kita membeli, menjual, menawar, meminjam, dan berharap. Barangkali sejak lama kita sudah percaya bahwa kesejahteraan lahir dari pertukaran. Dan keyakinan itu, jauh sebelum menjadi slogan ekonomi modern, pernah ditulis dengan tenang namun revolusioner oleh The Wealth of Nations karya Adam Smith (w. 1790). Buku itu lahir pada 1776, tahun yang juga melahirkan Revolusi Amerika. Seakan sejarah sedang memberi tanda bahwa dunia lama mulai retak. Smith tidak menulis pamflet politik yang berteriak...

Dari Etika Protestan ke Langgar Kotagede: Membaca Weber dan Mitsuo Nakamura di Simpang Modernitas

Gambar
  Cak Yo Die Erfüllung der innerweltlichen Pflichten galt vielmehr unter allen Umständen als der einzige Weg, Gott wohlgefällig zu leben. Sie und nur sie war Gottes Wille, und deshalb war jeder erlaubte Beruf vor Gott absolut gleichwertig.“ (“Pemenuhan kewajiban duniawi dipandang dalam segala keadaan sebagai satu-satunya cara hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dan hanya itulah panggilan Tuhan; karena itu setiap profesi yang sah bernilai sama di hadapan Tuhan.”) „Nicht Arbeit an sich, sondern rationale Berufsarbeit ist eben von Gott gefordert.“ (“Bukan kerja semata yang dituntut Tuhan, melainkan kerja profesional yang rasional.”) „Nicht Muße und Genuß, sondern nur Handeln dient nach dem unzweideutig geoffenbarten Willen Gottes zur Mehrung seines Ruhmes.“ (“Bukan santai dan kenikmatan, melainkan tindakan/kerja yang melayani kemuliaan Tuhan sesuai kehendak-Nya yang dinyatakan dengan jelas.”) — Max Weber, Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus (1904/1905). “The Muhamma...

Melampaui Sekat Disiplin Ilmu: Membaca Tradisi, Modernitas, dan Masa Depan Hukum Islam melalui The Oxford Handbook of Islamic Law

Gambar
Cak Yo Sebagai doktor di bidang hukum Islam (syariah), sesungguhnya saya “seharusnya” menulis secara linear sesuai bidang akademik yang saya tekuni. Namun dalam kenyataannya, minat intelektual sering kali bergerak lebih luas daripada pagar administratif keilmuan. Selama ini tulisan-tulisan saya justru beragam, melintasi berbagai disiplin dalam studi Islam: mulai dari hukum Islam, pemikiran Islam, politik, filsafat, hingga sastra. Politik yang saya minati tentu bukan politik praktis, melainkan politik sebagai disiplin ilmu yang membahas kekuasaan, negara, legitimasi, dan tata sosial. Demikian pula sastra, khususnya sastra Rusia, yang bagi saya menghadirkan kedalaman refleksi kemanusiaan yang luar biasa melalui tokoh-tokoh besar seperti Fyodor Dostoevsky (w. 1881), Leo Tolstoy (w. 1910), Anton Chekhov (w. 1904), Nikolai Gogol (w. 1852), hingga Alexander Pushkin (w. 1837). Mereka bukan sekadar penulis sastra, tetapi juga pembaca tajam atas jiwa manusia, moralitas, penderitaan, krisis spir...