Postingan

Mercusuar Pembaruan Islam: Membaca Tafsīr al-Manār melalui Disertasi Marco Brandl

Gambar
Cak Yo Prolog: Catatan tentang Tafsir yang Sempat Tertunda Perjalanan memenuhi undangan sebagai penguji/penyanggah dalam ujian promosi doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga sangat mengasyikan sekaligus membanggakan, terutama bisa mengenalkan kampus tempat saya berkiprah, meskipun cukup menyita waktu terutama perjalanan menggunakan kereta yang memakan waktu kurang lebih dua puluh empat jam, pergi-pulang. Praktis selama dua hari penuh saya tidak memiliki kesempatan untuk menulis. Baru pagi ini saya dapat kembali membuka catatan-catatan yang sempat tertunda setelah seluruh rangkaian tugas akademik tersebut selesai. Beberapa hari sebelum berangkat ke Surabaya, saya sedang membaca secara intensif disertasi Marco Brandl berjudul Reading the Qur'an in Light of the Manār: Muḥammad ʿAbduh (d. 1905) and Muḥammad Rashīd Riḍā (d. 1935) Exegesis of Sūrah 5. Di sela-sela persiapan menuju Universitas Airlangga, saya juga membaca ringkasan disertasi doktor yang akan dipromosikan dal...

Bisnis Jiwa-jiwa Mati: Membaca Dead Souls di Tengah Dunia yang Terobsesi pada Benda

Gambar
Cak Yo “Do you like the novel Dead Souls? I like Tolstoy too but Gogol is necessary along with the light.” (“Apakah Anda menyukai novel Dead Souls? Saya juga menyukai Tolstoy, tetapi Gogol diperlukan bersama cahaya itu.”) — Flannery O'Connor, surat kepada Betty Boyd Love, 20 September 1952; dikutip dalam Richard Pevear & Larissa Volokhonsky, Introduction to Dead Souls by Nikolai Gogol (Everyman's Library / Knopf Doubleday, 1996). “But the wise reader will not avoid looking into his own soul and asking: ‘Is there not some part of Chichikov in me too?’”  (“Tetapi pembaca yang bijaksana tidak akan menghindar untuk menengok ke dalam jiwanya sendiri dan bertanya: ‘Tidakkah ada juga sedikit Chichikov di dalam diriku?’”)  — Nikolai Gogol, Dead Souls, terj. Bernard Guilbert Guerney, rev. ed. Susanne Fusso (Yale University Press, 1996), Part I, Chapter XI. *** Ada kalanya sebuah bangsa tampak hidup, tetapi sesungguhnya yang bergerak di dalamnya hanyalah kebiasaan. Orang-orang berja...

Membaca Doctor Zhivago: Jalan Sunyi Penyair

Gambar
Oleh Cak Yo Ada masa ketika sebuah novel dianggap lebih berbahaya daripada senapan. Bukan karena ia dapat menembak, melainkan karena ia membuat manusia berpikir. Senapan hanya melukai tubuh; buku dapat mengguncang keyakinan yang selama ini dianggap final. Begitulah nasib Doctor Zhivago. Sebuah novel yang lahir bukan sekadar dari imajinasi, melainkan dari pergulatan panjang antara manusia dan sejarah. Boris Leonidovich Pasternak mulai menulis novel ini pada 1946 dan menyelesaikannya pada 1955–1956, setelah melalui masa perang, kekecewaan terhadap arah Revolusi Rusia, serta pengalaman pribadi yang penuh tekanan. Novel itu awalnya dirancang sebagai kesaksian panjang tentang Rusia sejak awal abad ke-20 hingga sesudah Perang Dunia II.  Tetapi ketika naskah itu selesai, para editor Soviet tidak melihatnya sebagai karya sastra semata. Mereka melihatnya sebagai ancaman. Dalam surat penolakan yang kemudian terkenal, dewan redaksi Novyi Mir menuduh novel itu mengandung semangat penolakan ter...