Di Ambang Keajaiban: Menyusuri Dunia Ajaib dan Keanehan yang Tak Pernah Usai
Cak Yo Malam Jumat ini, bada acara pengajian rutin keluarga besar, saya duduk di teras rumah, sebuah kitab tua yang saya baca membawa ingatan saya ke lorong waktu yang lebih sunyi—ke masa kecil ketika dunia belum dibatasi oleh rasionalitas yang kaku, dan kisah-kisah menjadi jendela pertama untuk mengenal semesta. Di beranda rumah yang temaram, di bawah cahaya lampu minyak redup, kakek saya sering bertutur dengan suara pelan namun penuh wibawa. Salah satu kisah yang paling membekas adalah tentang bumi yang tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada tanduk seekor sapi raksasa, dan sapi itu berdiri di atas seekor ikan besar yang mengapung di lautan tanpa tepi. Pada usia itu, kisah tersebut tidak pernah terasa janggal; justru ia menghadirkan rasa takjub yang sulit dijelaskan, seakan-akan dunia memang disangga oleh rahasia yang tersembunyi di balik kenyataan yang tampak. Waktu berlalu, dan kisah itu perlahan tersisih oleh penjelasan-penjelasan ilmiah yang lebih rasional. Namu...