Menyapa Kembali Heidegger: Memahami Ada dan Waktu
Cak Yo Pagi itu saya tidak langsung membuka buku di perpustakaan. Setelah mengambil buku karya Martin Heidegger dari rak yang berdebu, saya justru membawanya keluar. Saya ingin membaca di tempat yang lebih bersahabat dengan paru-paru saya. Debu perpustakaan memang memiliki romantismenya sendiri, tetapi alergi membuat saya tidak bisa terlalu lama berada di sana. Karena itu saya memilih sebuah sudut yang teduh di sekitar Cikarang, tempat pepohonan tua masih berdiri dengan rindang, jauh dari kebisingan jalan utama. Di atas sebuah meja kayu yang mulai mengilap dimakan usia, saya meletakkan buku tebal itu: Sein und Zeit dalam bahasa Jerman; dan edisi terjemahannya, Being and Time dalam bahasa Inggris yang saya genggam di tangan. Udara pagi terasa segar. Sesekali angin menggoyangkan dedaunan dan menjatuhkan beberapa helai daun kering ke atas meja. Saya menyeruput kopi perlahan sambil memandangi buku tua dengan kertas menguning dan aroma khas buku klasik. Rasanya ada semacam...