Postingan

Kitab yang Membakar Pelan-Pelan: Catatan atas Kibrīt al-Aḥmar

Gambar
  Cak Yo Ada kitab-kitab yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula kitab yang justru mulai bekerja setelah pembacanya berhenti membaca. Kitab ini termasuk golongan kedua: ia tidak tinggal di rak, melainkan tinggal di kepala, di sela napas, di daerah sunyi yang biasanya hanya didatangi mimpi atau penyesalan. Kitab yang sedang dibahas ini berjudul Kibrīt al-Aḥmar, sebuah karya yang dinisbatkan kepada tokoh besar sufi dan filsuf mistik Islam, Muḥyī al-Dīn Ibn ‘Arabī atau lengkapnya Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn ‘Alī ibn Muḥammad ibn al-‘Arabī al-Ḥātimī al-Ṭā’ī. Ia lahir di Murcia, Andalusia—wilayah Spanyol Islam—pada tahun 560 H/1165 M dan wafat di Damaskus pada 638 H/1240 M. Dalam sejarah pemikiran Islam, ia sering dijuluki al-Shaykh al-Akbar atau “Guru Agung” karena pengaruh intelektual dan spiritualnya yang sangat luas dalam dunia tasawuf, filsafat Islam, metafisika, dan pemikiran esoterik. Kibrīt al-Aḥmar sendiri secara harfiah berarti “Belerang Merah”, sebuah si...

Di Ambang Keajaiban: Menyusuri Dunia Ajaib dan Keanehan yang Tak Pernah Usai

Gambar
Cak Yo Malam Jumat ini, bada acara pengajian rutin keluarga besar, saya duduk di teras rumah, sebuah kitab tua yang saya baca membawa ingatan saya ke lorong waktu yang lebih sunyi—ke masa kecil ketika dunia belum dibatasi oleh rasionalitas yang kaku, dan kisah-kisah menjadi jendela pertama untuk mengenal semesta. Di beranda rumah yang temaram, di bawah cahaya lampu minyak  redup, kakek saya sering bertutur dengan suara pelan namun penuh wibawa. Salah satu kisah yang paling membekas adalah tentang bumi yang tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada tanduk seekor sapi raksasa, dan sapi itu berdiri di atas seekor ikan besar yang mengapung di lautan tanpa tepi.  Pada usia itu, kisah tersebut tidak pernah terasa janggal; justru ia menghadirkan rasa takjub yang sulit dijelaskan, seakan-akan dunia memang disangga oleh rahasia yang tersembunyi di balik kenyataan yang tampak. Waktu berlalu, dan kisah itu perlahan tersisih oleh penjelasan-penjelasan ilmiah yang lebih rasional. Namu...

MEMBEDAH KHASANAH FIKIH PESANTREN: Review Kitab Kifâyah al-Akhyâr fî Halli Ghâyah al-Ikhtishâr

Gambar
Cak Yo Pengantar Setiap orang memiliki kegemaran masing-masing—mungkin itu cara sederhana untuk melepas penat, menyeimbangkan hidup, dan memberi warna di sela rutinitas. Tidak ada yang salah dengan itu, selama kegemaran tersebut tidak mengganggu atau melalaikan pekerjaan pokok serta hal-hal yang lebih penting. Dan yang lebih penting tidak melanggar hukum agama dan hukum negara. Bahkan, akan lebih baik jika hobi itu ditempatkan di luar waktu-waktu utama, sehingga tetap menjadi pelengkap, bukan pengganggu. Kita pun tidak bisa, dan memang tidak perlu, mencegah orang lain menikmati kesenangannya sendiri. Bahkan bagi seorang suami, "kapolda" (istrinya) saja, jangan coba-coba usil terhadap kegemaran suami karena terkadang bisa menimbulkan instabilitas rumah tangga.  Di sekitar kita, ragam kegemaran itu tampak begitu hidup: seperti di kampung sini, ada yang setiap Ahad atau sepulang kerja dari PT menyusuri rawa untuk nombak ikan. Sebagian lagi memilih berkeringat di lapangan futsal ...