Dari Etika Protestan ke Langgar Kotagede: Membaca Weber dan Mitsuo Nakamura di Simpang Modernitas
Cak Yo Die Erfüllung der innerweltlichen Pflichten galt vielmehr unter allen Umständen als der einzige Weg, Gott wohlgefällig zu leben. Sie und nur sie war Gottes Wille, und deshalb war jeder erlaubte Beruf vor Gott absolut gleichwertig.“ (“Pemenuhan kewajiban duniawi dipandang dalam segala keadaan sebagai satu-satunya cara hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dan hanya itulah panggilan Tuhan; karena itu setiap profesi yang sah bernilai sama di hadapan Tuhan.”) „Nicht Arbeit an sich, sondern rationale Berufsarbeit ist eben von Gott gefordert.“ (“Bukan kerja semata yang dituntut Tuhan, melainkan kerja profesional yang rasional.”) „Nicht Muße und Genuß, sondern nur Handeln dient nach dem unzweideutig geoffenbarten Willen Gottes zur Mehrung seines Ruhmes.“ (“Bukan santai dan kenikmatan, melainkan tindakan/kerja yang melayani kemuliaan Tuhan sesuai kehendak-Nya yang dinyatakan dengan jelas.”) — Max Weber, Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus (1904/1905). “The Muhamma...