Dari Ibn Sīnā ke al-Ghazālī: Memulai Jalan Hidayah melalui Bidāyat al-Hidāyah
Cak Yo Beberapa waktu lalu saya memposting tulisan tentang Ibn Sīnā dan salah satu karya pentingnya, al-Najāt. Tulisan itu pada dasarnya merupakan bagian kecil dari ketertarikan saya yang sudah cukup lama terhadap filsafat Ibn Sīnā, terutama bagaimana seorang filsuf Muslim menyusun persoalan-persoalan besar tentang wujud, jiwa, pengetahuan, dan keselamatan manusia melalui argumentasi rasional yang sistematis. Setelah tulisan itu saya posting, seorang mahasiswa kemudian bertanya kepada saya, kira-kira begini: “Pak, kalau sudah membahas Ibn Sīnā, kapan menulis tentang al-Ghazālī? Bukankah al-Ghazālī yang mengkritik Ibn Sīnā?” Pertanyaan sederhana itu menarik. Memang, ketika membaca sejarah intelektual Islam abad pertengahan, nama Ibn Sīnā dan al-Ghazālī hampir selalu dipertemukan, terutama melalui Tahāfut al-Falāsifah karya al-Ghazālī. Di dalam karya tersebut, al-Ghazālī secara khusus menguji sejumlah tesis para falāsifah, terutama tradisi filosofis yang diwakili oleh al-Fārābī da...