Postingan

MEMBEDAH KHASANAH FIKIH PESANTREN: Review Kitab Kifâyah al-Akhyâr fî Halli Ghâyah al-Ikhtishâr

Gambar
Cak Yo Pengantar Setiap orang memiliki kegemaran masing-masing—mungkin itu cara sederhana untuk melepas penat, menyeimbangkan hidup, dan memberi warna di sela rutinitas. Tidak ada yang salah dengan itu, selama kegemaran tersebut tidak mengganggu atau melalaikan pekerjaan pokok serta hal-hal yang lebih penting. Dan yang lebih penting tidak melanggar hukum agama dan hukum negara. Bahkan, akan lebih baik jika hobi itu ditempatkan di luar waktu-waktu utama, sehingga tetap menjadi pelengkap, bukan pengganggu. Kita pun tidak bisa, dan memang tidak perlu, mencegah orang lain menikmati kesenangannya sendiri. Bahkan bagi seorang suami, "kapolda" (istrinya) saja, jangan coba-coba usil terhadap kegemaran suami karena terkadang bisa menimbulkan instabilitas rumah tangga.  Di sekitar kita, ragam kegemaran itu tampak begitu hidup: seperti di kampung sini, ada yang setiap Ahad atau sepulang kerja dari PT menyusuri rawa untuk nombak ikan. Sebagian lagi memilih berkeringat di lapangan futsal ...

Di Balik Revolusi: Membaca Kehidupan Personal Imam Khomeini sebagai Fondasi Kepemimpinan

Gambar
Cak Yo Sebagai seorang akademisi, saya memiliki minat dan menaruh perhatian pada tradisi intelektual, mazhab, aliran pemikiran, serta tokoh-tokoh yang membentuk sejarah pemikiran Islam maupun pemikiran global, meskipun saya tidak mengklaim secara eksklusif menganut satu mazhab tertentu. Akar Nahdlatul Ulama, pengalaman pernah aktif di Muhammadiyah, serta simpati terhadap kedua gerakkan ini—yang berada dalam lingkup Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah—menempatkan identitas intelektual saya dalam ranah ahlus sunnah, dengan “aliran darah” Muhammadiyah–Nahdlatul Ulama, atau Muhammadi–NU. Saya menyerap pengetahuan dari tradisi ahlu sunnah dan di luar mazhab ahlus sunnah secara selektif dan kritis, mengkaji berbagai mazhab dalam ranah kalām, fiqh, dan disiplin lainnya, serta menghargai kontribusi khasanah intelektual masing-masing. Kitab klasik maupun karya yang membahas mazhab menjadi mata air intelektual yang plural dan mendalam, setidaknya pernah saya baca, antara lain al-Milal wa al-Nihal (al-Sh...

SUWUNG

Akan kembali suwung— seperti tak pernah dilahirkan, tak pernah hidup, tak pernah menjejak tanah atau menghirup udara. Tak bertubuh, tak berdarah, tak berdaging, tak bertulang; tak manis, tak pahit, tak asin, tak rasa, tak rupa, tak warna. tak ada berat, tak ada ringan. tak ada tinggi, tak ada rendah. Tiada sedih, tiada gembira, tiada tawa, tiada tangis. Gelap pun lenyap, terang pun tiada. Pengetahuan sirna, kebodohan pun tinggal nama. Tiada gelar, tiada jabatan, tiada yang dimiliki, tiada keluarga, sahabat, teman, musuh. Tiada pencinta, tiada pembenci, tiada pendengki, tiada pengkhianat. Tiada yang dipikirkan, Tiada yang memikirkan. Tiada arah bagi langkah, tiada makna bagi kata, tiada cahaya bagi mata yang terbuka, tiada penuntun bagi hati yang berjalan dalam kabut. Segala janji kehilangan arti, segala doa menggema tanpa tujuan, segala harapan menua dalam kesia-siaan. Hidup berjalan seperti bayangan di dinding retak— meniru bentuk, tapi tak punya wujud. Segala nama sirna. Tiada pelabu...

Dari Nyala Api Akademik ke Ibadah Ilmiah: Spirit, Nilai, dan Peta Jalan Penulisan Tesis Mahasiswa Pascasarjana

Gambar
Yoyo Hambali* Pengantar: Dari Percakapan Medsos ke Kesadaran Akademik Saya selalu berusaha mengikuti perkembangan mahasiswa sarjana dan pascasarjana STEBI Global Mulia, termasuk di grup WhatsApp mereka. Grup itu kadang seperti ruang kecil yang riuh oleh notifikasi, tetapi di sanalah denyut kehidupan akademik kampus terasa paling nyata. Kemarin, dalam perjalanan takziah ke Ciamis—ketika jalan menurun, mendaki, berkelok, dan udara dingin menembus kaca mobil—saya membuka grup mahasiswa pascasarana sekadar ingin tahu. Namun yang saya temukan bukan obrolan ringan, melainkan percakapan serius tentang judul tesis . Ya, mahasiswa semester pertama pascasararjana sudah ramai membicarakan tema penelitian, bahkan sudah menulis banyak judul tesis mereka. Saya tertegun dan terharu. Biasanya, semangat semacam ini baru muncul setelah semester kedua atau bahkan ketiga. Tapi mereka berbeda—antusias, ingin cepat melangkah, dan sudah menatap kemungkinan publikasi di jurnal nasional maupun internasiona...