Postingan

Membeli Arwah, Menjual Kehidupan: Membaca Dead Souls di Tengah Dunia yang Terobsesi pada Angka

Gambar
Cak Yo “Do you like the novel Dead Souls? I like Tolstoy too but Gogol is necessary along with the light.” (“Apakah Anda menyukai novel Dead Souls? Saya juga menyukai Tolstoy, tetapi Gogol diperlukan bersama cahaya itu.”) — Flannery O'Connor, surat kepada Betty Boyd Love, 20 September 1952; dikutip dalam Richard Pevear & Larissa Volokhonsky, Introduction to Dead Souls by Nikolai Gogol (Everyman's Library / Knopf Doubleday, 1996). “But the wise reader will not avoid looking into his own soul and asking: ‘Is there not some part of Chichikov in me too?’”  (“Tetapi pembaca yang bijaksana tidak akan menghindar untuk menengok ke dalam jiwanya sendiri dan bertanya: ‘Tidakkah ada juga sedikit Chichikov di dalam diriku?’”)  — Nikolai Gogol, Dead Souls, terj. Bernard Guilbert Guerney, rev. ed. Susanne Fusso (Yale University Press, 1996), Part I, Chapter XI. *** Ada kalanya sebuah bangsa tampak hidup, tetapi sesungguhnya yang bergerak di dalamnya hanyalah kebiasaan. Orang-orang berja...

Membaca Doctor Zhivago: Jalan Sunyi Penyair

Gambar
Oleh Cak Yo Ada masa ketika sebuah novel dianggap lebih berbahaya daripada senapan. Bukan karena ia dapat menembak, melainkan karena ia membuat manusia berpikir. Senapan hanya melukai tubuh; buku dapat mengguncang keyakinan yang selama ini dianggap final. Begitulah nasib Doctor Zhivago. Sebuah novel yang lahir bukan sekadar dari imajinasi, melainkan dari pergulatan panjang antara manusia dan sejarah. Boris Leonidovich Pasternak mulai menulis novel ini pada 1946 dan menyelesaikannya pada 1955–1956, setelah melalui masa perang, kekecewaan terhadap arah Revolusi Rusia, serta pengalaman pribadi yang penuh tekanan. Novel itu awalnya dirancang sebagai kesaksian panjang tentang Rusia sejak awal abad ke-20 hingga sesudah Perang Dunia II.  Tetapi ketika naskah itu selesai, para editor Soviet tidak melihatnya sebagai karya sastra semata. Mereka melihatnya sebagai ancaman. Dalam surat penolakan yang kemudian terkenal, dewan redaksi Novyi Mir menuduh novel itu mengandung semangat penolakan ter...

Perjalanan ke Negeri Akhirat: Catatan Kecil atas Kitab Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ

Gambar
Cak Yo Manusia itu biasa. Pada suatu hari pikirannya terasa mentok seperti jalan yang berakhir di tebing. Pada hari lain dadanya terasa sempit, bukan karena dunia semakin kecil, melainkan karena harapan dan kenyataan sedang berjarak. Kadang salah meski tidak selamanya salah. Mungkin  sering tapi ada pula benarnya. Kadang ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun terasa tidak cukup untuk menjawab satu persoalan sederhana. Kadang pengalaman panjang tidak mampu mengusir satu keraguan kecil. Bila merasakan demikian, segera ingat: begitulah manusia hidup di dunia. Itu bukan tanda kegagalan. Itu bagian dari kodrat.  Semua orang pernah melaluinya dengan bentuk yang berbeda. Kata orang, selalu ada solusi. Mungkin benar. Namun sebelum solusi ditemukan, ada pelajaran yang harus dijalani. Ingat pula bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Karena itulah belajar tidak pernah selesai. Dan ketika kepala terasa puyeng tujuh keliling, jalan tampak buntu, dan segala ikhtiar seakan tidak mengha...

Labirin Kebenaran: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Kerendahan Hati Intelektual dalam The Name of the Rose Karya Umberto Eco

Gambar
Cak Yo Pengantar: Membaca Ulang Novel dan Refleksi Diri Jam makan siang di Bandung selalu punya cara tersendiri untuk menghadirkan ketenangan. Di sela kegiatan dan hiruk-pikuk kota, saya kembali membuka catatan tentang The Name of the Rose karya Umberto Eco. Setelah beberapa hari menulis secara bertahap—di jalan, di rumah, dan di berbagai kesempatan luang termasuk dalam perjalanan menuju Bandung—akhirnya tulisan ini hampir mencapai garis akhir. Kini yang tersisa hanyalah bagian penutup dan bibliografi. Perjalanan menyusun tulisan ini ternyata lebih panjang dari yang semula saya bayangkan. Setiap halaman novel membuka ruang untuk refleksi baru tentang pengetahuan, kekuasaan, iman, dan pencarian kebenaran. Sedikit demi sedikit, paragraf demi paragraf disusun hingga membentuk sebuah ulasan yang cukup panjang dan mendalam. Pada siang yang hangat ini, sambil menikmati suasana Bandung, saya menuntaskan bagian-bagian terakhir dengan rasa syukur. Apa yang bermula sebagai catatan sederhana kini...