Membaca Kisah Peradaban: Ulasan terhadap The Story of Civilization Will Durant

 


Oleh: Cak Yo

Saya suka membaca kisah. Tetapi bukan sembarang kisah. Sejak kecil, saya sudah tertarik pada cerita yang membawa saya keluar dari dunia sehari-hari menuju dunia para tokoh, tempat-tempat jauh, kejadian yang ganjil, dan masa lampau yang tidak pernah saya alami sendiri. Salah satu yang masih saya ingat adalah legenda Tangkuban Perahu dari Jawa Barat—kisah tentang Sangkuriang, Dayang Sumbi, cinta, kesalahpahaman, dan sebuah gunung yang kemudian menjadi bagian dari lanskap tanah Sunda. Pada masa kanak-kanak, kisah semacam itu tidak saya baca sebagai persoalan historiografi. Ia adalah cerita: menarik karena alurnya, tokohnya, keajaibannya, dan karena selalu meninggalkan pertanyaan, benarkah dahulu pernah terjadi demikian?

Barangkali ketertarikan semacam itu merupakan pengalaman yang cukup universal. Hampir setiap kebudayaan mempunyai kisah asal-usul, kepahlawanan, makhluk gaib, dewa, manusia pertama, atau bencana besar yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di Nusantara kita mengenal berbagai legenda seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, Nyi Roro Kidul dalam tradisi Jawa dan Sunda, Roro Jonggrang dan asal-usul Candi Prambanan, Lutung Kasarung dari tatar Sunda, serta berbagai cerita rakyat dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan kepulauan lainnya. Di luar Nusantara, kita menemukan kisah-kisah yang mempunyai fungsi serupa: mitologi Yunani dengan Zeus, Prometheus, Heracles, Theseus, dan Odysseus; kisah Norse tentang Odin, Thor, dan Ragnarok; epos India seperti Mahābhārata dan Rāmāyaṇa; serta berbagai tradisi mitologis dari Mesir, Mesopotamia, Tiongkok, dan kebudayaan lainnya.

Ketika kecil, saya juga menemukan bentuk kisah yang lain: fabel, yaitu cerita yang menggunakan binatang sebagai tokoh untuk menyampaikan pengalaman, sindiran, kecerdikan, atau pelajaran moral manusia. Di Nusantara, kisah Kancil dan Buaya mungkin merupakan salah satu contoh yang paling melekat dalam ingatan banyak pembaca. Kancil yang kecil tetapi cerdik menghadapi buaya, harimau, atau hewan lain dalam berbagai cerita yang beredar dalam banyak versi. Ada pula kisah Kancil dan Harimau, Kancil mencuri timun, serta berbagai cerita tentang burung, kura-kura, monyet, dan hewan lainnya. Di dunia Arab-Islam, tradisi fabel memiliki karya yang sangat penting, yaitu Kalīlah wa-Dimnah, yang diolah ke dalam bahasa Arab oleh ʿAbd Allāh ibn al-Muqaffaʿ (w. sekitar 139 AH/756 CE). Karya tersebut berakar pada tradisi India, terutama Pañcatantra, tetapi dalam bentuk Arabnya berkembang menjadi kumpulan fabel tentang binatang yang sekaligus berbicara mengenai kebijaksanaan, politik, pengkhianatan, persahabatan, dan perilaku manusia.

Karena itu, Kalīlah wa-Dimnah bagi saya merupakan contoh menarik tentang bagaimana sebuah “kisah binatang” ternyata dapat memiliki kehidupan intelektual yang jauh lebih panjang daripada sekadar cerita anak-anak. Tokoh-tokohnya memang binatang—serigala, gagak, singa, burung, dan sebagainya—tetapi persoalan yang mereka bicarakan sesungguhnya adalah persoalan manusia. Edisi Inggris modern yang penting adalah Kalīlah and Dimnah: Fables of Virtue and Vice, diterjemahkan oleh Michael Fishbein dan James E. Montgomery, diterbitkan oleh NYU Press pada 2023 dalam seri Library of Arabic Literature. (WorldCat)

Dari sini saya kemudian menyadari bahwa kata “kisah” sendiri mempunyai wilayah makna yang luas. Dalam bahasa Inggris terdapat dua kata yang sangat penting: story dan history. Keduanya memiliki sejarah etimologis yang berdekatan, tetapi dalam penggunaan modern memperoleh fungsi yang berbeda. Story pada dasarnya menunjuk kepada suatu narasi atau rangkaian peristiwa yang diceritakan. Ia tidak dengan sendirinya menjamin bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Sebuah novel mempunyai story; legenda mempunyai story; mitos mempunyai story; fabel mempunyai story; bahkan pengalaman hidup seseorang dapat menjadi story. History, sebaliknya, dalam pengertian akademik modern menunjuk kepada penyelidikan dan penulisan mengenai masa lampau manusia berdasarkan bukti, sumber, kritik, dan interpretasi.

Perbedaan itu menarik karena history tetap membutuhkan story. Seorang sejarawan tidak mungkin menghadirkan masa lalu secara langsung kepada pembaca. Ia harus menyusun sumber menjadi narasi. Karena itu, sejarah juga merupakan sebuah bentuk penceritaan, tetapi penceritaan yang dibatasi oleh tuntutan evidensi. Seorang penulis sejarah boleh menyusun peristiwa agar dapat dipahami pembaca, tetapi ia tidak bebas menciptakan peristiwa sebagaimana seorang novelis. Di sinilah story dan history bertemu sekaligus berpisah: keduanya sama-sama membutuhkan narasi, tetapi history mempunyai kewajiban epistemologis terhadap bukti.

Namun, semakin lama saya membaca, saya menemukan bahwa hubungan antara story dan history ternyata tidak berhenti pada legenda, fabel, atau sejarah. Bahkan filsafat pun mempunyai “story”-nya sendiri, sekaligus mempunyai “history”-nya. Ada filsafat sebagai kumpulan gagasan yang harus dipahami secara sistematis, tetapi ada pula filsafat sebagai perjalanan manusia dan gagasan: siapa yang berbicara lebih dahulu, siapa yang dipengaruhi siapa, gagasan apa yang lahir sebagai jawaban terhadap zaman tertentu, dan bagaimana sebuah pemikiran berubah ketika berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu contoh yang paling dekat dengan tema ini justru datang dari Will Durant sendiri. Jauh sebelum The Story of Civilization, Durant menerbitkan The Story of Philosophy: The Lives and Opinions of the Greater Philosophers pada 1926. Buku itu bukan history of philosophy dalam pengertian teknis yang ketat, tetapi sebuah narasi populer mengenai kehidupan dan pemikiran para filsuf—dari Socrates dan Plato sampai Spinoza, Voltaire, Kant, Schopenhauer, Spencer, Nietzsche, dan sejumlah pemikir modern. Edisi awalnya diterbitkan oleh Simon and Schuster pada 1926. (Google Buku)

Di sisi lain ada karya yang secara eksplisit memakai kata history, seperti Bertrand Russell, A History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day, yang terbit di Amerika Serikat pada 1945. Russell tidak hanya menceritakan gagasan para filsuf, tetapi menghubungkannya dengan keadaan politik dan sosial tempat gagasan tersebut muncul. Dengan demikian, filsafat dibaca sebagai bagian dari sejarah kebudayaan, bukan sebagai kumpulan abstraksi yang hidup tanpa zaman. (Google Buku)

Contoh lain adalah A History of Philosophy karya Frederick Copleston, yang mulai terbit pada 1946 dan kemudian berkembang menjadi rangkaian volume yang sangat luas. Copleston menyusun sejarah filsafat secara lebih sistematis, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan pemikiran dari filsafat Yunani dan Romawi hingga filsafat modern. (Google Buku) Bahkan G. W. F. Hegel sendiri memiliki karya yang kemudian dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Lectures on the Philosophy of History. Kuliah-kuliah tersebut disampaikan Hegel pada periode 1820-an hingga 1830-an dan kemudian disunting dari catatan kuliah serta bahan yang tersedia setelah wafatnya; salah satu edisi Inggris awal yang terkenal diterjemahkan oleh John Sibree dan diterbitkan di London pada 1857. (Cambridge University Press)

Jadi, ada story of philosophy dan ada history of philosophy; ada filsafat sebagai gagasan, tetapi juga ada kisah perjalanan gagasan itu. Bahkan istilah “kisah manusia” dan “sejarah manusia” memperlihatkan pola yang sama. Cyril Aydon, misalnya, menulis The Story of Man pada 2007, sebuah sejarah manusia yang mengikuti perjalanan umat manusia dari Afrika hingga dunia modern, termasuk pertanian, tulisan, agama, kerajaan, revolusi industri, sampai teknologi modern. (Google Buku) Judul seperti ini menunjukkan bahwa kata story tidak selalu berarti fiksi. Ia dapat menjadi cara untuk membuat sejarah manusia hadir sebagai sebuah perjalanan yang dapat diikuti pembaca.

Dalam membaca sastra, saya juga menemukan bahwa kisah percintaan merupakan salah satu bentuk story yang paling kuat dalam berbagai kebudayaan. Dunia Arab memiliki kisah Laylā wa-Majnūn, yang berpusat pada Qays ibn al-Mulawwaḥ dan Laylā al-ʿĀmiriyyah; kisah ʿAntarah wa-ʿAblah, yang menghubungkan cinta dengan kepahlawanan dan kehidupan kesukuan; serta kisah Jamīl dan Buthaynah, yang menjadi bagian dari tradisi al-ḥubb al-ʿudhrī, cinta yang idealistis dan sering kali tidak berakhir dalam perkawinan. Sebagian kisah tersebut memiliki tokoh yang secara historis dikenal, tetapi bentuk ceritanya kemudian berkembang melalui puisi, anekdot, transmisi lisan, dan sastra. Karena itu, lagi-lagi batas antara pengalaman sejarah dan kisah sastra menjadi menarik.

Tradisi Barat memiliki pola yang serupa. Saya dapat berpindah dari Tristan and Iseult kepada Romeo and Juliet, dari Jane Eyre kepada Anna Karenina, atau dari The Great Gatsby kepada berbagai novel percintaan modern. Di sana cinta tidak hanya menjadi tema emosional, tetapi juga cara untuk berbicara tentang kelas sosial, keluarga, agama, kehormatan, gender, kekuasaan, dan perubahan masyarakat. Story dalam pengertian ini menjadi sebuah kendaraan untuk memahami manusia.

Bahasa Arab menawarkan pasangan istilah yang bahkan lebih menarik bagi pembaca seperti saya: qiṣṣah, sīrah, dan tārīkh. Qiṣṣah berarti kisah, cerita, atau narasi. Sīrah secara umum berarti perjalanan hidup atau biografi seseorang, dan dalam tradisi Islam istilah tersebut memperoleh makna khusus sebagai biografi Nabi Muḥammad, sedangkan tārīkh menunjuk kepada sejarah, kronologi, atau catatan mengenai masa lampau. Ketiganya saling berdekatan tetapi tidak identik. Qiṣṣah terutama menekankan kisah atau narasi; sīrah menekankan perjalanan hidup seorang tokoh; sedangkan tārīkh memiliki cakupan lebih luas sebagai penulisan mengenai masa lampau.

Istilah sīrah menjadi sangat penting ketika saya mulai membaca tentang Nabi Muḥammad. Karya paling awal yang selalu muncul dalam pembahasan ini adalah Sīrat Rasūl Allāh karya Muḥammad ibn Isḥāq (w. sekitar 150 AH/767 CE). Karya Ibn Isḥāq tidak bertahan sebagai manuskrip lengkap dalam bentuk asli. Teks yang menjadi dasar utama bagi pembaca kemudian sampai melalui versi yang disunting dan ditransmisikan oleh ʿAbd al-Malik ibn Hishām (w. sekitar 218 AH/833 CE). Karena itu, secara lebih tepat saya menyebutnya tradisi Sīrat Ibn Isḥāq dalam transmisi Ibn Hishām, bukan Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ.

Untuk pembaca berbahasa Inggris, salah satu pintu terpenting ke dalam tradisi tersebut adalah terjemahan Alfred Guillaume, The Life of Muhammad: A Translation of Isḥāq's Sīrat Rasūl Allāh, yang terbit di London oleh Oxford University Press pada 1955. Terjemahan tersebut menjadi salah satu jalan penting bagi pembaca Barat untuk memasuki tradisi sīrah awal Islam.

Selain sīrah, saya membaca Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ, “Kisah Para Nabi”, dalam berbagai bentuk. Di antara karya terkenal ialah Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ karya al-Thaʿlabī, Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ibrāhīm al-Thaʿlabī (w. 427 AH/1035 CE), yang menghimpun kisah para nabi berdasarkan Al-Qur'an, hadis, tafsir, riwayat terdahulu, dan bahan naratif yang berkembang dalam tradisi Islam. Saya juga membaca Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ yang dinisbahkan kepada Ibn Kathīr, Ismāʿīl ibn ʿUmar ibn Kathīr (w. 774 AH/1373 CE), yang berhubungan erat dengan karya besarnya al-Bidāyah wa-l-Nihāyah. Karya Ibn Kathīr tersebut juga hadir dalam bahasa Inggris dengan judul Stories of the Prophets.

Jika Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ mengajak saya membaca kehidupan para nabi dalam kerangka narasi keagamaan, sīrah mengajak saya mengikuti perjalanan hidup seorang tokoh dalam sejarah Islam, maka tārīkh membawa saya menuju cakrawala yang jauh lebih luas: dinasti, peperangan, kota, masyarakat, ilmu pengetahuan, ulama, kebudayaan, dan perubahan zaman.

Di antara karya Barat modern tentang kehidupan Nabi, saya kemudian membaca William Montgomery Watt (1909–2006). Ia menulis Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956), yang diterbitkan oleh Clarendon Press/Oxford University Press. Kedua karya tersebut kemudian diringkas dalam Muhammad: Prophet and Statesman (1961). Watt mencoba membaca kehidupan Muḥammad dengan menggunakan sumber-sumber Islam awal sekaligus pendekatan sejarah modern. Dengan demikian, karya Watt memberikan pengalaman membaca yang berbeda dari sīrah klasik: bukan sekadar menceritakan kehidupan Nabi, tetapi menempatkannya dalam struktur sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan Arabia abad ketujuh.


Dari sīrah klasik dan biografi Barat modern itu saya kemudian bergerak kepada tradisi qiṣṣah yang lebih luas. Salah satu buku yang sangat saya sukai adalah Alf Laylah wa-Laylah, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Thousand and One Nights atau The Arabian Nights. Di sini saya menemukan dunia yang sama sekali berbeda: Shahrazād, Shāhriyār, pedagang, pelaut, raja, jin, penyihir, pencuri, perempuan cerdas, kota-kota yang jauh, dan kisah yang terus melahirkan kisah baru.

Alf Laylah wa-Laylah tidak memiliki seorang pengarang tunggal yang dapat dipastikan. Ia merupakan kumpulan cerita yang terbentuk melalui proses panjang, dengan unsur dari tradisi Persia, India, dan Arab. Salah satu tahap penting dalam sejarah penerimaannya di Eropa adalah terjemahan Prancis Antoine Galland, yang terbit bertahap pada 1704–1717. Galland juga memainkan peran penting dalam masuknya kisah-kisah seperti Aladdin ke dalam tradisi Eropa; penelitian modern menunjukkan bahwa cerita tersebut tidak dapat begitu saja dianggap berasal dari manuskrip Arab klasik yang menjadi dasar utama Galland.

Dalam bahasa Inggris kemudian muncul terjemahan-terjemahan terkenal, antara lain terjemahan Edward William Lane, The Thousand and One Nights, yang terbit dalam tiga volume pada 1838–1840, dan terjemahan Richard Francis Burton, The Book of the Thousand Nights and a Night, yang terbit dalam sepuluh volume pada 1885–1888. Pada zaman yang lebih baru, hadir terjemahan Husain Haddawy, The Arabian Nights, yang berusaha lebih dekat kepada tradisi manuskrip Arab yang tersedia bagi penerjemah modern. Semua ini memperlihatkan bahwa sebuah qiṣṣah dapat mempunyai kehidupan yang sangat panjang: dari tradisi lisan dan manuskrip Arab, masuk ke Prancis, kemudian ke Inggris, lalu kembali dibaca oleh dunia modern dalam berbagai edisi.

Di sinilah saya semakin memahami bahwa qiṣṣah tidak selalu berlawanan dengan tārīkh. Sebuah kisah dapat menyimpan ingatan tentang masyarakat; sebuah legenda dapat menyimpan jejak geografis dan kebudayaan; sebuah sīrah dapat memuat tradisi sejarah sekaligus narasi religius; dan sebuah karya tārīkh sendiri membutuhkan kemampuan bercerita agar masa lampau dapat dipahami oleh pembaca. Bahkan filsafat pun memperlihatkan hal yang sama: kita dapat membaca The Story of Philosophy, A History of Western Philosophy, atau Lectures on the Philosophy of History, dan setiap judul itu menunjukkan bahwa gagasan manusia mempunyai perjalanan, konteks, tokoh, konflik, dan perkembangan yang dapat diceritakan.

Ketika beranjak dari kisah Nabi kepada sejarah Islam secara lebih luas, saya menemukan bahwa kata tārīkh muncul dalam begitu banyak judul. Salah satu yang paling monumental adalah karya Abū Jaʿfar Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 AH/923 CE), Tārīkh al-Rusul wa-l-Mulūk, yang lebih dikenal sebagai Tārīkh al-Ṭabarī. Karya tersebut merupakan salah satu kronik terbesar dalam tradisi historiografi Islam awal dan mencakup rentang sejarah yang sangat luas.

Ada pula Tārīkh Madīnat Dimashq karya Ibn ʿAsākir, ʿAlī ibn al-Ḥasan ibn Hibat Allāh (w. 571 AH/1176 CE), yang menunjukkan bagaimana sejarah sebuah kota dapat sekaligus menjadi sejarah orang-orang yang tinggal, belajar, mengajar, bepergian, dan wafat di dalamnya. Ada Tārīkh al-Khulafāʾ karya Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (w. 911 AH/1505 CE), yang memusatkan perhatian pada para khalifah dan sejarah pemerintahan Islam.

Ibn Khaldūn (w. 808 AH/1406 CE) kemudian membawa persoalan tersebut ke tingkat yang berbeda. Karya besarnya Kitāb al-ʿIbar wa-Dīwān al-Mubtadaʾ wa-l-Khabar fī Ayyām al-ʿArab wa-l-ʿAjam wa-l-Barbar merupakan sejarah luas, sementara al-Muqaddimah, yang pada awalnya merupakan pendahuluan bagi karya tersebut, kemudian berdiri sebagai karya intelektual yang sangat berpengaruh. Di sini saya menemukan pertanyaan yang lebih dekat dengan pengertian modern tentang sejarah: bukan hanya “apa yang terjadi?”, melainkan “mengapa masyarakat berubah?”, “mengapa dinasti tumbuh?”, dan “mengapa kekuasaan akhirnya melemah?”

Namun semakin lama saya membaca, semakin saya menyadari bahwa sejarah Islam tidak selalu harus mempunyai kata tārīkh dalam judulnya. Aḥmad Amīn (1886–1954), misalnya, menulis trilogi yang sangat terkenal: Fajr al-Islām (1928), Ḍuḥā al-Islām (1933–1936), dan Ẓuhr al-Islām (1945–1953). Ketiganya bukan kronik politik dalam pengertian sempit. Amīn menggunakan sejarah intelektual, teologi, sastra, filsafat, dan perkembangan sosial untuk menjelaskan perubahan masyarakat Muslim. Di sini saya semakin memahami bahwa sebuah buku sejarah tidak selalu harus memasang kata tārīkh pada sampulnya.

Dengan demikian, saya melihat setidaknya empat lapisan yang saling berdekatan dalam perjalanan membaca saya. Ada qiṣṣah, kisah yang dapat berupa legenda, mitos, fabel, cerita percintaan, atau kisah keagamaan. Ada sīrah, perjalanan hidup seorang tokoh, terutama dalam tradisi Islam ketika berbicara tentang Nabi Muḥammad. Ada tārīkh, sejarah yang berusaha merekam perjalanan masyarakat dan masa lampau. Dan ada story serta history dalam bahasa Inggris, yang memperlihatkan hubungan serupa antara penceritaan dan penyelidikan sejarah. Bahkan filsafat memiliki jalur yang sama: ada story tentang para filsuf dan perjalanan gagasan mereka, tetapi ada pula history yang mencoba merekonstruksi perkembangan pemikiran berdasarkan teks, konteks, dan sejarah intelektual.

Karena itu, ketika saya membaca Kalīlah wa-Dimnah, saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai kumpulan cerita binatang; ketika membaca Alf Laylah wa-Laylah, saya tidak hanya mencari hiburan; ketika membaca Qiṣaṣ al-Anbiyāʾ dan Sīrat Rasūl Allāh, saya mulai memperhatikan bagaimana tradisi keagamaan membangun ingatan; ketika membaca Tārīkh al-Ṭabarī, Ibn Khaldūn, atau Aḥmad Amīn, saya semakin memperhatikan bagaimana seorang penulis memilih sumber, menyusun narasi, dan menjelaskan perubahan sejarah; dan ketika membaca karya-karya sejarah filsafat, saya melihat bahwa pemikiran pun mempunyai biografi dan sejarahnya sendiri.

Dan akhirnya, malam ini saya membuka-buka kembali sebelas jilid The Story of Civilization karya Will Durant (1885–1981) dan Ariel Durant (1898–1981), sekaligus melihat edisi Arabnya, Qiṣṣat al-Ḥaḍārah. Di situlah seluruh perjalanan membaca itu seperti bertemu pada satu titik. Saya yang dahulu menikmati legenda Tangkuban Perahu, kisah Malin Kundang, Roro Jonggrang, Kancil dan Buaya, mitologi Yunani, fabel Kalīlah wa-Dimnah, kisah Alf Laylah wa-Laylah, kisah cinta Laylā dan Majnūn, hingga Romeo and Juliet, kini duduk di hadapan sebelas jilid sejarah peradaban.

Dan ada sesuatu yang terasa semakin menarik karena Will Durant yang sama juga pernah menulis The Story of Philosophy. Jadi, kata story bukan kebetulan dalam judul The Story of Civilization. Durant memang memiliki kecenderungan untuk menghadirkan gagasan dan sejarah sebagai perjalanan manusia yang dapat diikuti pembaca. The Story of Philosophy terbit pada 1926, hampir satu dekade sebelum jilid pertama The Story of Civilization pada 1935. (Google Buku)

Judul The Story of Civilization sendiri terasa seperti sebuah pertanyaan kecil yang ternyata sangat dalam: bukan The History of Civilization, melainkan The Story. Dalam bahasa Arab ia menjadi Qiṣṣat al-Ḥaḍārah—“Kisah Peradaban.” Dari story menuju history, dari qiṣṣah menuju sīrah, lalu menuju tārīkh, perjalanan membaca saya ternyata tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia kisah. Yang berubah hanyalah cara saya membacanya.

Dulu saya bertanya, “Apa kisahnya?”

Sekarang saya bertanya lebih jauh: “Apa yang sungguh-sungguh terjadi? Dari mana kita mengetahuinya? Siapa yang meriwayatkannya? Mengapa kisah itu diwariskan? Mana yang merupakan mitos, mana yang merupakan tradisi, mana yang merupakan karya sastra, dan mana yang dapat ditopang oleh sumber sejarah? Bagaimana sebuah gagasan lahir, bagaimana seorang tokoh membentuk zamannya, dan bagaimana manusia dari zaman yang berbeda menuliskan kembali masa lalunya?”

Mungkin di situlah perbedaan antara membaca kisah ketika kanak-kanak dan membaca sejarah ketika dewasa. Dahulu saya membaca kisah untuk menikmati cerita; sekarang saya membaca sejarah untuk memahami manusia yang berada di balik cerita. Tetapi saya tidak pernah benar-benar meninggalkan story, karena bahkan sejarah, filsafat, biografi, dan peradaban pada akhirnya selalu mempunyai perjalanan yang harus diceritakan. Dan mungkin justru karena itu saya tetap menyukai kata story: sebab sejarah yang baik pun pada akhirnya harus mampu membuat masa lampau kembali berbicara—bukan sebagai dongeng yang bebas dari bukti, tetapi sebagai kisah manusia yang terus kita coba pahami.

 The Story of Civilization, karya Will Durant (1885–1981) bersama istrinya, Ariel Durant (1898–1981). Keduanya menyusun karya besar ini selama beberapa dasawarsa, dengan Will Durant sebagai penulis utama dan Ariel Durant sebagai mitra intelektual yang semakin penting terutama pada jilid-jilid akhir. Proyek tersebut akhirnya menjadi sebelas jilid yang membentang dari dunia Timur kuno hingga zaman Napoleon dan awal abad kesembilan belas. Saya membukanya bukan lagi sekadar sebagai kumpulan buku sejarah Barat, melainkan sebagai sebuah usaha luar biasa untuk menceritakan perjalanan manusia dalam rentang peradaban yang sangat panjang: politik dan peperangan berdampingan dengan agama, filsafat, ilmu pengetahuan, seni, sastra, keluarga, ekonomi, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari. Justru di situlah kekuatan kata story terasa—Durant tidak hanya ingin memberi tahu pembaca tentang apa yang terjadi, tetapi mengajak pembaca mengikuti perjalanan manusia dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Yang lebih menarik bagi saya malam ini adalah kenyataan bahwa karya yang selama ini saya kenal melalui judul Inggris The Story of Civilization ternyata telah tersedia dalam terjemahan Arab lengkap sebagai Qiṣṣat al-Ḥaḍārah. Dengan demikian, perjalanan membaca saya seperti kembali ke titik yang sejak awal menjadi perhatian saya: hubungan antara story dan history, antara qiṣṣah dan tārīkh. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh pasangan Durant itu telah berpindah ke dunia bahasa Arab dan memperoleh kehidupan baru bagi pembaca Arab. Judulnya pun terasa sangat alami: Qiṣṣat al-Ḥaḍārah—“Kisah Peradaban.” Saya dapat memandang jilid-jilid Inggrisnya sekaligus edisi Arabnya dan merasakan bahwa yang berpindah bukan hanya bahasa, tetapi juga sebuah cara memandang sejarah manusia sebagai narasi peradaban.


Membaca The Story of Civilization: Dari Kisah Sejarah Menuju Kisah Peradaban Dunia


Saya menulis ulasan buku ini dengan mengacu kepada edisi Inggris The Story of Civilization karya Will Durant (1885–1981), yang pada enam jilid pertama dicantumkan sebagai penulis tunggal, sebelum Ariel Durant (1898–1981) tampil sebagai rekan penulis mulai jilid ketujuh. Proyek ini merupakan pekerjaan intelektual yang sangat panjang: jilid pertama terbit pada 1935 dan jilid kesebelas sekaligus terakhir pada 1975. Dalam kata pengantar Rousseau and Revolution, Will dan Ariel Durant mengenang proyek tersebut sebagai pekerjaan yang mereka mulai pada 1929 dan yang kemudian menjadi “daily chore and solace” kehidupan mereka selama puluhan tahun; pada The Age of Napoleon mereka kembali menegaskan bahwa setelah 1968 mereka masih meneruskan proyek tersebut sampai akhirnya selesai (Durant and Durant 1967, vii; Durant and Durant 1975, vii).

Judul The Story of Civilization sendiri sudah memperlihatkan cara Durant memandang sejarah. Ia tidak memilih judul The History of Civilization, tetapi The Story of Civilization. Bagi saya, pilihan kata story penting karena buku ini memang tidak disusun sebagai kronologi kering mengenai raja, perang, dinasti, dan tanggal. Durant ingin menjadikan peradaban sebagai sebuah kisah manusia yang utuh. Politik memang ada, tetapi politik berjalan bersama agama, filsafat, sastra, seni, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, moralitas, keluarga, pendidikan, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, membaca sebelas jilid ini berarti mengikuti perjalanan manusia dalam berbagai bentuk kehidupannya. Sejak awal, proyek Durant memang dipuji karena mengambil seluruh peradaban sebagai wilayah kajiannya; Henry James Forman, dalam ulasannya atas Our Oriental Heritage pada 1935, bahkan menggambarkan Durant sebagai sejarawan yang menjadikan seluruh peradaban sebagai provinsinya (Forman 1935).

Ambisi itu tampak jelas pada Volume I, Our Oriental Heritage (1935). Durant memulai kisahnya bukan dari Yunani, Roma, atau Eropa modern, melainkan dari peradaban-peradaban Timur. Isi jilid ini bergerak melalui Mesir dan Timur Dekat, kemudian India, Cina, Jepang, Persia, dan kebudayaan-kebudayaan lain yang menjadi bagian dari apa yang pada masa itu disebut “Oriental heritage.” Ia membahas bukan hanya kerajaan dan peperangan, tetapi juga munculnya tulisan, agama, hukum, kota, perdagangan, keluarga, moralitas, ilmu pengetahuan, seni, dan berbagai bentuk organisasi sosial. Dengan demikian, sejak jilid pertama pembaca sudah diberi pesan bahwa peradaban tidak mempunyai satu titik asal yang sederhana. Dunia manusia terbentuk melalui banyak pusat kebudayaan yang berkembang, saling memengaruhi, dan meninggalkan warisan bagi zaman berikutnya. Daftar bibliografis dalam dokumen menunjukkan bahwa volume pertama diterbitkan Simon and Schuster pada 1935 dan memperoleh perhatian dari sejumlah publikasi sezamannya, termasuk The Saturday Review of Literature, The Nation, The New York Times, dan The American Historical Review (Durant 1935).

Volume II, The Life of Greece (1939), membawa pembaca dari dunia Timur menuju Yunani kuno. Tetapi “kehidupan Yunani” yang dimaksud Durant jauh lebih luas daripada sejarah politik Athena dan Sparta. Ia memasukkan pemerintahan, industri, kehidupan sosial, adat, moralitas, agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Karena itu, tokoh seperti Homer, Pericles, Socrates, Plato, dan Aristotle tidak muncul sebagai nama-nama yang terpisah dari zamannya. Mereka menjadi bagian dari lingkungan kebudayaan yang memungkinkan pemikiran, karya sastra, dan seni Yunani berkembang. Ulasan Edmund C. Richards di The New York Times pada 1939 menyebut pembahasan Durant mengenai Yunani sebagai sebuah pencapaian dalam “popular scholarship,” sedangkan The American Historical Review juga memberikan perhatian kepada karya tersebut (Richards 1939).

Yang menarik dari jilid Yunani ini adalah cara Durant memperlihatkan hubungan antara polis, filsafat, agama, seni, dan kehidupan manusia. Filsafat tidak hadir sebagai sekumpulan teori yang melayang di luar sejarah. Socrates, Plato, dan Aristotle hidup dalam masyarakat tertentu, menghadapi problem politik dan moral tertentu, dan berbicara kepada manusia yang hidup dalam struktur sosial tertentu. Dengan pendekatan seperti itu, sejarah filsafat menjadi bagian dari sejarah peradaban. Inilah salah satu alasan mengapa The Story of Civilization terasa berbeda dari buku sejarah politik konvensional: pemikiran manusia tidak dipisahkan dari dunia yang melahirkannya.

Volume III, Caesar and Christ (1944), kemudian membawa narasi kepada dunia Romawi dan perkembangan Kekristenan dari permulaannya hingga sekitar 325 M. Judulnya mempertemukan dua figur simbolik: Caesar sebagai representasi kekuasaan politik dan negara, dan Christ sebagai representasi perubahan religius yang kemudian membentuk dunia baru. Durant membahas sejarah politik dan militer Romawi, tetapi juga ekonomi, masyarakat, sastra, seni, agama, moralitas, dan perkembangan gereja Kristen. John Day dalam The New York Times pada 1944 menyebutnya sebagai sejarah peradaban Romawi dan Kekristenan dari permulaan hingga masa Constantine (Day 1944). J. W. Swain juga mengulas volume ini dalam The American Historical Review pada 1945 (Swain 1945).

Di sini tampak pola yang kemudian terus muncul dalam jilid-jilid berikutnya: Durant selalu berusaha mencari hubungan antara kekuatan material dan kekuatan spiritual. Negara, tentara, ekonomi, dan kekuasaan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa agama dan gagasan; sebaliknya, agama dan filsafat juga berkembang dalam kondisi politik dan sosial tertentu. Karena itu, sejarah peradaban menurut Durant pada dasarnya merupakan sejarah interaksi berbagai kekuatan manusia.

Volume IV, The Age of Faith (1950), merupakan salah satu jilid paling besar dan paling menarik karena membawa pembaca memasuki dunia abad pertengahan yang tidak hanya Eropa Kristen, tetapi juga dunia Islam dan Yahudi. Rentang pembahasannya kira-kira dari Constantine hingga Dante. Dalam cakrawala Durant, abad pertengahan merupakan masa ketika agama menjadi salah satu kekuatan utama dalam kehidupan masyarakat, tetapi agama tersebut tidak berdiri sendirian. Politik, filsafat, ilmu pengetahuan, seni, pendidikan, perdagangan, perang, dan kehidupan sosial semuanya masuk ke dalam narasi. Besarnya volume ini juga tercermin dalam data bibliografis yang mencatat edisi 1950 mencapai 1.198 halaman (Hope 1951).

Bagi saya, bagian ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa ketika Durant mengatakan “civilization”, yang ia maksud bukan sekadar Eropa. Dunia Islam memperoleh tempat dalam perjalanan sejarah tersebut sebagai salah satu pusat penting perkembangan intelektual dan kebudayaan abad pertengahan. Dengan demikian, pembaca dapat mengikuti hubungan antara peradaban Islam, Bizantium, Eropa Latin, dan tradisi Yahudi dalam sebuah panorama yang lebih luas. Di sinilah proyek Durant mulai benar-benar terasa sebagai story of civilization, bukan sekadar history of Europe.

Volume V, The Renaissance (1953), membawa pembaca kepada Italia dari sekitar 1304 hingga 1576. Durant membahas Florence, Venice, Milan, Rome, dan pusat-pusat kebudayaan lainnya, tetapi Renaissance baginya bukan sekadar kisah tentang lukisan dan patung. Ia memasukkan perkembangan sastra, filsafat, politik, agama, perdagangan, patronase, pendidikan, dan kehidupan sosial. Leonardo da Vinci, Michelangelo, Raphael, Petrarch, Machiavelli, dan banyak tokoh lainnya hadir dalam sebuah dunia yang sedang mengalami perubahan cara memandang manusia, alam, pengetahuan, dan kehidupan duniawi. The American Historical Review memuat ulasan khusus atas volume tersebut pada 1954, sementara L. H. Carlson juga menulis ulasan pada 1953 (Carlson 1953; American Historical Review 1954).

Volume VI, The Reformation (1957), melanjutkan kisah tersebut dengan membahas perubahan agama dan politik Eropa. Durant bergerak dari Wyclif menuju Luther dan Calvin, tetapi Reformasi tidak dijelaskan hanya sebagai perdebatan teologis. Ia berkaitan dengan negara, pendidikan, percetakan, ekonomi, politik, dan perubahan struktur sosial Eropa. Justru karena itu, reformasi agama menjadi bagian dari sejarah peradaban secara keseluruhan. Geoffrey Bruun menulis mengenai volume ini di The New York Times pada September 1957, sedangkan Garrett Mattingly memberikan ulasan yang sangat menarik dengan judul “Storytelling Historian” dalam Saturday Review pada November tahun yang sama (Bruun 1957; Mattingly 1957).

Judul ulasan Mattingly tersebut menurut saya menangkap salah satu kualitas terpenting Durant. Ia adalah seorang sejarawan yang bercerita. Ia tidak menghilangkan fakta sejarah, tetapi berusaha membuat fakta-fakta itu mempunyai alur dan makna. Pembaca tidak sekadar diberitahu bahwa Reformasi terjadi; pembaca diajak masuk ke dalam dunia yang memungkinkan Reformasi muncul.

Memasuki Volume VII, The Age of Reason Begins (1961), Ariel Durant mulai dicantumkan sebagai rekan penulis bersama Will Durant. Volume ini mencakup Eropa pada 1558–1648 dan menghubungkan perubahan zaman dengan tokoh-tokoh seperti Shakespeare, Bacon, Montaigne, Rembrandt, Galileo, dan Descartes. Judul lengkapnya sendiri menyebut periode tersebut sebagai sejarah peradaban Eropa pada zaman tokoh-tokoh itu (Durant and Durant 1961). Bagi Durant, perubahan terbesar bukan hanya pergantian pemerintahan, melainkan munculnya cara berpikir modern. D. W. Brogan dalam The New York Times bahkan memberikan ulasannya judul “One Result Was the Modern Mind” (Brogan 1961).

Dengan volume ini, proyek Durant semakin jelas bergerak dari sejarah kebudayaan klasik menuju sejarah lahirnya dunia modern. Sains tidak lagi sekadar salah satu cabang pengetahuan; ia mulai mengubah hubungan manusia dengan alam. Filsafat tidak hanya berbicara mengenai metafisika; ia mulai berkaitan dengan metode pengetahuan dan rasionalitas. Sastra dan seni juga berubah bersama perubahan pandangan manusia terhadap dirinya sendiri.

Volume VIII, The Age of Louis XIV (1963), kemudian menghadirkan Eropa pada 1648–1715. Louis XIV menjadi figur utama, tetapi Durant memasukkan Pascal, Molière, Cromwell, Milton, Peter the Great, Newton, dan Spinoza ke dalam gambaran zaman tersebut. Dengan cara ini, “age” tidak diartikan sebagai masa seorang raja semata. Ia adalah lingkungan intelektual dan kebudayaan yang lebih luas. Politik absolutisme, sastra, filsafat, agama, seni, dan perkembangan sains berjalan secara bersamaan.

Volume IX, The Age of Voltaire (1965), bergerak ke Eropa Barat pada 1715–1756 dan memperdalam dunia Pencerahan. Voltaire menjadi figur simbolik, tetapi sekali lagi Durant menggunakan seorang tokoh sebagai pintu masuk menuju dunia yang lebih besar: filsafat, kritik terhadap institusi keagamaan, rasionalisme, ilmu pengetahuan, politik, dan perubahan masyarakat. Volume ini kemudian mendapat ulasan Alfred J. Bingham dalam The Modern Language Journal pada 1966 (Bingham 1966).

Volume X, Rousseau and Revolution (1967), menjadi salah satu puncak proyek Durant. Di sini filsafat politik dan sejarah revolusi bertemu. Rousseau tidak dibaca hanya sebagai seorang pemikir, tetapi sebagai bagian dari krisis intelektual dan sosial Eropa yang kemudian berhubungan dengan Revolusi Prancis. Durant menempatkan gagasan, masyarakat, ekonomi, politik, dan perubahan kebudayaan dalam satu rangkaian. Volume ini memenangkan Pulitzer Prize for General Nonfiction pada 1968, sehingga menjadi satu-satunya jilid dalam keseluruhan seri yang memperoleh penghargaan tersebut. Dokumen yang saya baca juga mencatat sejumlah ulasan akademik atas volume ini, termasuk oleh Alfred J. Bingham dan Beatrice C. Fink (Bingham 1969; Fink 1968).

Akhirnya, Volume XI, The Age of Napoleon (1975), membawa narasi dari Revolusi Prancis menuju Napoleon dan Eropa 1789–1815. Ini adalah penutup perjalanan yang dimulai empat puluh tahun sebelumnya. Napoleon tidak hanya diperlakukan sebagai seorang jenderal atau kaisar, tetapi sebagai figur yang muncul dari transformasi politik dan sosial Prancis serta kemudian mengubah peta Eropa. Dalam kata pengantar volume tersebut, Will dan Ariel Durant menjelaskan bahwa setelah 1968 mereka masih meneruskan pekerjaan itu meskipun usia mereka telah lanjut (Durant and Durant 1975, vii). Volume ini diterbitkan pada 3 November 1975 dan mendapat ulasan yang beragam. Joseph I. Shulim membahasnya dalam History: Reviews of New Books pada 1976, Alfred J. Bingham mengulasnya dalam The Modern Language Journal pada 1977, sementara J. H. Plumb memberikan kritik yang jauh lebih keras di The New York Times (Shulim 1976; Bingham 1977; Plumb 1975).

Jika sebelas jilid itu dibaca sebagai satu rangkaian, kita dapat melihat arsitektur narasinya dengan sangat jelas: Timur kuno → Yunani → Roma dan Kekristenan → abad pertengahan dan zaman iman → Renaissance → Reformasi → lahirnya rasionalitas modern → Louis XIV → Voltaire dan Pencerahan → Rousseau dan Revolusi → Napoleon. Dengan demikian, Durant membangun sebuah perjalanan dari dunia peradaban awal menuju dunia Eropa modern. Tetapi ia tidak melakukannya melalui politik semata. Setiap periode dibuka dari banyak sisi sehingga pembaca dapat melihat bagaimana manusia hidup, berpikir, percaya, mencipta, bekerja, berkuasa, dan berkonflik.

Inilah yang membuat The Story of Civilization berbeda dari kronik sejarah biasa. Durant tampaknya ingin menjawab bukan hanya pertanyaan “apa yang terjadi?”, tetapi juga “bagaimana manusia hidup pada saat itu?” Ketika membaca tentang Yunani, kita tidak hanya membaca perang dan negara-kota, tetapi juga filsafat, drama, seni, agama, dan kehidupan sosial. Ketika membaca Roma, kita tidak hanya membaca Caesar, tetapi juga masyarakat dan Kekristenan. Ketika memasuki abad pertengahan, kita tidak hanya membaca kerajaan Eropa, tetapi juga dunia Islam, Yahudi, ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Ketika memasuki Renaissance, kita tidak hanya bertemu Leonardo dan Michelangelo, tetapi juga dunia perdagangan, politik kota, patronase, dan perubahan intelektual. Demikian pula ketika sampai kepada Pencerahan dan Revolusi, gagasan para filsuf tidak dipisahkan dari struktur sosial dan politik yang memungkinkan gagasan itu menjadi kekuatan sejarah.

Karena itu, buku ini juga dapat dibaca sebagai sejarah kehidupan intelektual manusia. Durant tidak pernah benar-benar memisahkan filsafat dari sejarah. Plato, Aristotle, Augustine, Thomas Aquinas, Bacon, Galileo, Descartes, Spinoza, Voltaire, Rousseau, dan tokoh-tokoh lainnya muncul dalam konteks zamannya. Gagasan mereka bukan sekadar objek kajian abstrak, melainkan bagian dari perubahan peradaban. Dalam hal ini, The Story of Civilization mempunyai hubungan intelektual yang menarik dengan buku Durant sebelumnya, The Story of Philosophy. Jika buku pertama tersebut menceritakan perjalanan para filsuf dan gagasan mereka, sebelas jilid The Story of Civilization memperluas prinsip yang sama kepada kehidupan manusia secara keseluruhan.


[11/8 06:02] Cak Yo: Catatan Kritis: Posisi The Story of Civilization dalam Historiografi Barat dan Islam


Membaca The Story of Civilization sebagai sebuah karya sejarah menuntut kita menempatkannya dalam tradisi historiografi yang lebih panjang. Will Durant bukanlah orang pertama yang mencoba melihat perjalanan manusia dalam cakupan yang sangat luas. Jauh sebelumnya, Edward Gibbon (1737–1794) menulis The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, yang terbit dalam enam jilid antara 1776 dan 1789. Gibbon memusatkan perhatian pada sejarah Kekaisaran Romawi sejak abad kedua hingga jatuhnya Konstantinopel pada 1453, sekaligus memasukkan sejarah Eropa, Gereja, Islam, dan penaklukan Mongol ke dalam kerangka tersebut. Jilid pertama terbit pada 1776, jilid kedua dan ketiga pada 1781, sedangkan tiga jilid terakhir pada 1788–1789. (Simon & Schuster) Jika Gibbon berusaha menjelaskan mengapa sebuah imperium besar mengalami kemunduran dan keruntuhan, Durant bergerak jauh lebih luas: ia ingin menjelaskan bagaimana berbagai masyarakat manusia muncul, berkembang, menghasilkan kebudayaan, mengalami krisis, dan mewariskan sesuatu kepada zaman berikutnya.

Perbedaan tersebut penting karena The Story of Civilization tidak dapat dibaca sebagai versi yang diperbesar dari Gibbon. Gibbon memiliki problem historis yang relatif terpusat—Roma dan transformasinya—sedangkan Durant mempunyai problem yang hampir tidak terbatas: apa yang dimaksud dengan peradaban dan bagaimana peradaban manusia terbentuk? Gibbon terkenal karena penggunaan sumber-sumber primer dan catatan kaki yang ekstensif, serta karena mencoba memberikan penjelasan kausal terhadap keruntuhan Roma; bahkan penerbit modern edisinya menekankan pentingnya metode berbasis sumber tersebut bagi perkembangan historiografi berikutnya. (Simon & Schuster) Durant berbeda wataknya. Ia lebih sintetis, lebih literer, dan lebih tertarik pada keseluruhan kehidupan manusia. Karena itu, kekuatan Durant bukan terutama pada kedalaman investigasi terhadap satu masalah sejarah tertentu, melainkan pada kemampuannya menghubungkan ribuan masalah sejarah ke dalam sebuah panorama yang dapat diikuti pembaca.

Perbandingan lain yang menarik dapat dibuat dengan Arnold J. Toynbee (1889–1975), terutama A Study of History, yang diterbitkan secara bertahap dalam dua belas jilid antara 1934 dan 1961. Toynbee juga tertarik pada naik-turunnya peradaban dan berusaha menemukan pola umum di balik sejarah berbagai masyarakat. Namun cara keduanya berbeda. Toynbee lebih eksplisit membangun kerangka teoritis mengenai challenge and response, pertumbuhan, keruntuhan, dan transformasi peradaban. Durant cenderung membiarkan pembaca mengikuti cerita melalui tokoh, peristiwa, kebudayaan, agama, seni, filsafat, dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, Toynbee lebih kuat sebagai konstruksi filsafat sejarah, sedangkan Durant lebih kuat sebagai narasi sintesis sejarah-kebudayaan. Perbandingan ini juga membantu menjelaskan mengapa judul The Story of Civilization begitu tepat: Durant tidak terutama menawarkan “teori peradaban”, tetapi sebuah cerita besar tentang peradaban.

Jika diperluas kepada historiografi Barat, The Story of Civilization juga dapat ditempatkan berdekatan—meskipun tidak identik—dengan usaha H. G. Wells, The Outline of History (1920–1921), dan kemudian William H. McNeill, The Rise of the West: A History of the Human Community (1963). Wells berusaha memberikan sejarah dunia yang sangat luas untuk pembaca umum, sedangkan McNeill memberikan perhatian lebih besar kepada interaksi antarmasyarakat dan transmisi kebudayaan. Posisi Durant menarik karena ia berada di antara sejarah populer, filsafat sejarah, sejarah kebudayaan, dan sejarah dunia. Ia ingin menulis karya yang dapat dibaca masyarakat luas tanpa melepaskan ambisi intelektualnya.

[11/8 06:02] Cak Yo: Catatan Kritis: Posisi The Story of Civilization dalam Historiografi Barat dan Islam


Membaca The Story of Civilization sebagai sebuah karya sejarah menuntut kita menempatkannya dalam tradisi historiografi yang lebih panjang. Will Durant bukanlah orang pertama yang mencoba melihat perjalanan manusia dalam cakupan yang sangat luas. Jauh sebelumnya, Edward Gibbon (1737–1794) menulis The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, yang terbit dalam enam jilid antara 1776 dan 1789. Gibbon memusatkan perhatian pada sejarah Kekaisaran Romawi sejak abad kedua hingga jatuhnya Konstantinopel pada 1453, sekaligus memasukkan sejarah Eropa, Gereja, Islam, dan penaklukan Mongol ke dalam kerangka tersebut. Jilid pertama terbit pada 1776, jilid kedua dan ketiga pada 1781, sedangkan tiga jilid terakhir pada 1788–1789. (Simon & Schuster) Jika Gibbon berusaha menjelaskan mengapa sebuah imperium besar mengalami kemunduran dan keruntuhan, Durant bergerak jauh lebih luas: ia ingin menjelaskan bagaimana berbagai masyarakat manusia muncul, berkembang, menghasilkan kebudayaan, mengalami krisis, dan mewariskan sesuatu kepada zaman berikutnya.

Perbedaan tersebut penting karena The Story of Civilization tidak dapat dibaca sebagai versi yang diperbesar dari Gibbon. Gibbon memiliki problem historis yang relatif terpusat—Roma dan transformasinya—sedangkan Durant mempunyai problem yang hampir tidak terbatas: apa yang dimaksud dengan peradaban dan bagaimana peradaban manusia terbentuk? Gibbon terkenal karena penggunaan sumber-sumber primer dan catatan kaki yang ekstensif, serta karena mencoba memberikan penjelasan kausal terhadap keruntuhan Roma; bahkan penerbit modern edisinya menekankan pentingnya metode berbasis sumber tersebut bagi perkembangan historiografi berikutnya. (Simon & Schuster) Durant berbeda wataknya. Ia lebih sintetis, lebih literer, dan lebih tertarik pada keseluruhan kehidupan manusia. Karena itu, kekuatan Durant bukan terutama pada kedalaman investigasi terhadap satu masalah sejarah tertentu, melainkan pada kemampuannya menghubungkan ribuan masalah sejarah ke dalam sebuah panorama yang dapat diikuti pembaca.

Perbandingan lain yang menarik dapat dibuat dengan Arnold J. Toynbee (1889–1975), terutama A Study of History, yang diterbitkan secara bertahap dalam dua belas jilid antara 1934 dan 1961. Toynbee juga tertarik pada naik-turunnya peradaban dan berusaha menemukan pola umum di balik sejarah berbagai masyarakat. Namun cara keduanya berbeda. Toynbee lebih eksplisit membangun kerangka teoritis mengenai challenge and response, pertumbuhan, keruntuhan, dan transformasi peradaban. Durant cenderung membiarkan pembaca mengikuti cerita melalui tokoh, peristiwa, kebudayaan, agama, seni, filsafat, dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, Toynbee lebih kuat sebagai konstruksi filsafat sejarah, sedangkan Durant lebih kuat sebagai narasi sintesis sejarah-kebudayaan. Perbandingan ini juga membantu menjelaskan mengapa judul The Story of Civilization begitu tepat: Durant tidak terutama menawarkan “teori peradaban”, tetapi sebuah cerita besar tentang peradaban.

Jika diperluas kepada historiografi Barat, The Story of Civilization juga dapat ditempatkan berdekatan—meskipun tidak identik—dengan usaha H. G. Wells, The Outline of History (1920–1921), dan kemudian William H. McNeill, The Rise of the West: A History of the Human Community (1963). Wells berusaha memberikan sejarah dunia yang sangat luas untuk pembaca umum, sedangkan McNeill memberikan perhatian lebih besar kepada interaksi antarmasyarakat dan transmisi kebudayaan. Posisi Durant menarik karena ia berada di antara sejarah populer, filsafat sejarah, sejarah kebudayaan, dan sejarah dunia. Ia ingin menulis karya yang dapat dibaca masyarakat luas tanpa melepaskan ambisi intelektualnya.


Durant dan Tradisi Historiografi Islam: Dari Tārīkh ke Teori Peradaban


Perbandingan dengan sejarawan Muslim klasik bahkan lebih menarik karena tradisi sejarah Islam telah mengenal karya-karya yang sangat luas jauh sebelum Durant. Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (838–923), misalnya, menyelesaikan Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk sekitar 915 M. Karya yang lazim disebut Tārīkh al-Ṭabarī itu menyajikan sejarah dari penciptaan hingga zaman Abbasiyah dan merupakan salah satu sumber fundamental bagi sejarah Islam awal. (Wikipedia) Jika Durant menyusun sebelas jilid untuk membangun sebuah panorama peradaban, al-Ṭabarī telah melakukan sesuatu yang memiliki kemiripan dalam ambisi kronologis: menghimpun sejarah manusia dan umat dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Namun metode keduanya berbeda secara mendasar. Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk merupakan kronik yang sangat erat dengan tradisi transmisi riwayat. Al-Ṭabarī sering menghadirkan berbagai laporan mengenai suatu peristiwa dan menyampaikan rantai periwayatan, sehingga pembaca dapat melihat tradisi sumber yang mendasari sebuah berita. Durant tidak bekerja dengan model kronik-riwayat seperti itu. Ia memilih, menyusun, menafsirkan, dan mensintesiskan bahan dari berbagai sumber untuk menghasilkan sebuah narasi kebudayaan. Dengan demikian, al-Ṭabarī lebih dekat dengan tradisi historiografi riwāyah, sedangkan Durant lebih dekat dengan sintesis interpretatif modern.

Tradisi Muslim klasik bahkan mempunyai contoh yang lebih dekat lagi dengan pertanyaan Durant, yaitu Ibn Khaldūn (1332–1406). Dalam Al-Muqaddimah, yang menjadi pendahuluan bagi Kitāb al-ʿIbar, Ibn Khaldūn tidak puas hanya mencatat apa yang terjadi. Ia bertanya mengenai mengapa masyarakat dan kekuasaan muncul, berkembang, kemudian mengalami kemunduran. Konsep seperti ʿaṣabiyyah, solidaritas kelompok, kehidupan nomadik dan menetap, perpajakan, kekuasaan, ekonomi, dan perubahan sosial membuat pemikirannya sangat berbeda dari kronik yang hanya menyusun peristiwa secara berurutan. Dalam pengertian ini, Ibn Khaldūn justru mempunyai kedekatan metodologis tertentu dengan proyek Durant: keduanya ingin bergerak dari peristiwa menuju pemahaman mengenai masyarakat dan peradaban.

Tetapi perbedaan tetap fundamental. Ibn Khaldūn membangun kerangka analitis yang jauh lebih eksplisit mengenai mekanisme sosial yang menyebabkan muncul dan runtuhnya dinasti. Durant lebih eklektik. Ia tidak menawarkan satu teori universal yang mengatur seluruh sebelas jilid. Ia membiarkan penjelasan muncul dari kombinasi politik, ekonomi, agama, geografi, psikologi, teknologi, seni, filsafat, dan kehidupan sosial. Karena itu, jika Ibn Khaldūn dapat dibaca sebagai seorang teoretikus masyarakat dan peradaban, Durant lebih tepat dibaca sebagai seorang sintetis sejarah dan pencerita peradaban.

Di sinilah The Story of Civilization menjadi menarik jika dibaca bersama tradisi Islam. Durant sebenarnya tidak sedang memulai dari ruang kosong ketika membicarakan peradaban. Dunia Islam telah mempunyai tradisi panjang mengenai tārīkh, sīrah, ṭabaqāt, biografi, kronik dinasti, dan refleksi atas perubahan masyarakat. Karya seperti Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk al-Ṭabarī dan Al-Muqaddimah Ibn Khaldūn memperlihatkan dua model yang berbeda: yang pertama sangat kuat dalam penghimpunan dan transmisi sejarah, yang kedua sangat kuat dalam mencari hukum-hukum sosial di balik sejarah. Durant berada pada posisi yang berbeda lagi: menggabungkan kronologi, biografi, sejarah politik, sejarah agama, sejarah intelektual, sejarah seni, dan kehidupan sosial ke dalam satu narasi peradaban yang sangat luas.


Catatan Kritis terhadap Gagasan “Peradaban”


Justru pada istilah civilization inilah pembacaan kritis terhadap Durant menjadi penting. Kata tersebut membawa sejarah intelektual Barat yang panjang dan pada masa Durant masih sering digunakan untuk membedakan masyarakat berdasarkan tingkat “kemajuan” tertentu. Pembaca abad ke-21 perlu berhati-hati agar tidak menerima begitu saja asumsi bahwa sejarah manusia bergerak dalam satu garis lurus dari “primitif” menuju “beradab”, kemudian menuju modernitas Barat. Penelitian sejarah dan antropologi mutakhir telah menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat jauh lebih kompleks. Bahkan pendekatan kontemporer terhadap sejarah awal negara mempertanyakan anggapan sederhana bahwa pertanian, negara, kota, dan hierarki selalu merupakan bentuk “kemajuan” yang linear. (The New Yorker)

Karena itu, The Story of Civilization sebaiknya tidak diperlakukan sebagai kata terakhir tentang sejarah dunia. Banyak bagian jilid awalnya kini telah berusia hampir satu abad. Penemuan arkeologis baru, pembacaan ulang sumber, perkembangan studi gender, sejarah lingkungan, sejarah ekonomi, sejarah masyarakat non-Eropa, dan kajian pascakolonial telah mengubah banyak pertanyaan yang dahulu diajukan sejarawan. Diskusi pembaca sejarah kontemporer juga secara konsisten mengingatkan bahwa karya Durant tetap menarik sebagai sintesis dan karya sastra sejarah, tetapi tidak seharusnya digunakan sendirian sebagai otoritas untuk seluruh detail sejarah. (Reddit)

Kritik tersebut justru tidak mengurangi nilai Durant. Sebaliknya, ia membantu kita menentukan cara membaca yang tepat. The Story of Civilization sebaiknya dibaca seperti sebuah peta besar. Peta tidak menggantikan penelitian lapangan; tetapi tanpa peta, seseorang mungkin mengetahui banyak detail tanpa memahami posisi keseluruhannya. Durant memberikan peta tersebut. Setelah membaca bagaimana ia menempatkan Mesir, Mesopotamia, India, Cina, Yunani, Roma, dunia Islam, Eropa abad pertengahan, Renaissance, Reformasi, Pencerahan, Revolusi Prancis, dan Napoleon dalam satu rangkaian, pembaca kemudian dapat bergerak menuju penelitian yang lebih khusus.


Urgensi dan Relevansi The Story of Civilization Hari Ini


Justru pada zaman sekarang karya Durant mempunyai relevansi baru. Dunia kontemporer semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama masyarakat semakin mudah melihat sejarah melalui potongan-potongan pendek: satu unggahan, satu video, satu kutipan, satu tokoh, atau satu konflik. The Story of Civilization menawarkan kebiasaan membaca yang berlawanan. Ia memaksa pembaca memperlambat diri dan melihat hubungan jangka panjang. Sebuah perang tidak muncul tanpa latar; sebuah revolusi tidak lahir dari satu hari; sebuah gagasan tidak muncul tanpa tradisi intelektual; dan sebuah peradaban tidak terbentuk hanya karena satu tokoh.

Dalam konteks ini, relevansi Durant bukan karena semua kesimpulannya masih harus diterima, tetapi karena cara berpikir sintesisnya masih dibutuhkan. Pembaca masa kini memerlukan kemampuan menghubungkan sejarah politik dengan ekonomi, agama dengan budaya, ilmu pengetahuan dengan perubahan sosial, serta perkembangan teknologi dengan perubahan kehidupan manusia. Dunia digital justru membuat kemampuan tersebut semakin penting karena informasi tersedia dalam jumlah luar biasa besar tetapi sering terpisah-pisah.

Relevansi lainnya adalah persoalan dialog antarperadaban. Membaca keseluruhan seri Durant membuat pembaca sulit mempertahankan pandangan bahwa sejarah dunia hanya terdiri atas satu pusat kebudayaan. Bahkan sejak Our Oriental Heritage, Durant membuka narasi dengan berbagai peradaban Timur. Dalam The Age of Faith, dunia Islam ditempatkan dalam lanskap sejarah abad pertengahan bersama Kristen dan Yahudi. Dengan segala keterbatasan perspektif zamannya, struktur proyek tersebut tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk melihat bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berbagai masyarakat.

Namun pembaca Muslim khususnya sebaiknya membaca bagian mengenai dunia Islam secara berlapis: Durant sebagai seorang sejarawan Barat abad ke-20 perlu dibaca bersama sumber primer dan historiografi Islam sendiri. Al-Ṭabarī, Ibn Khaldūn, al-Masʿūdī, Ibn al-Athīr, al-Dhahabī, Ibn Kathīr, serta karya-karya sīrah dan ṭabaqāt menyediakan perspektif yang tidak dapat digantikan oleh Durant. Dengan demikian, The Story of Civilization bukan pengganti tārīkh Islam, melainkan dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan tradisi historiografi yang berbeda.

Pada akhirnya, nilai terbesar buku ini hari ini mungkin bukan terletak pada klaim bahwa Durant mengetahui seluruh sejarah manusia lebih baik daripada para spesialis. Klaim seperti itu tidak dapat dipertahankan. Nilainya terletak pada keberaniannya mengajukan pertanyaan yang terlalu besar untuk sebagian besar spesialisasi akademik: bagaimana seluruh pengalaman manusia dapat dipahami sebagai sebuah kisah peradaban? Gibbon memberikan kepada kita studi monumental mengenai Roma dan problem keruntuhan imperium; Ibn Khaldūn memberikan teori sosial mengenai dinamika masyarakat dan dinasti; al-Ṭabarī memberikan kronik besar yang menghimpun sejarah dunia dan Islam; Toynbee menawarkan teori mengenai siklus dan tantangan peradaban; sementara Durant menawarkan sesuatu yang berbeda—sebuah narasi sintesis yang mencoba mempertemukan semuanya dalam sejarah kebudayaan manusia.

Maka, catatan kritis terhadap The Story of Civilization tidak seharusnya berakhir dengan pertanyaan apakah buku ini “masih benar” atau “sudah usang”. Pertanyaan yang lebih produktif adalah: untuk apa buku ini dibaca sekarang? Jawabannya: untuk memperoleh panorama, untuk belajar menghubungkan fakta, untuk menikmati sejarah sebagai narasi intelektual, untuk mengenali keterbatasan sebuah historiografi, dan untuk kemudian membaca lebih jauh dari sudut pandang sumber serta sejarawan yang berbeda. Dalam arti itu, usia buku justru dapat menjadi bagian dari nilai bacanya. Kita tidak hanya membaca sejarah yang ditulis Durant; kita juga membaca bagaimana seorang intelektual Amerika abad ke-20 membayangkan sejarah seluruh peradaban manusia.

Dan mungkin di sinilah The Story of Civilization paling relevan bagi saya malam ini. Dari kisah Tangkuban Parahu yang saya kenal sejak kecil, dari legenda, mitos, fabel, qiṣṣah, sīrah, dan tārīkh, perjalanan membaca akhirnya membawa saya kepada sebelas jilid yang mencoba menjadikan seluruh peradaban manusia sebagai sebuah cerita. Tetapi setelah membaca Durant, saya justru semakin menyadari bahwa tidak ada satu cerita yang dapat berdiri sendirian sebagai sejarah manusia. Ada cerita Gibbon, ada analisis Ibn Khaldūn, ada kronik al-Ṭabarī, ada Toynbee, ada Durant, dan ada ribuan penelitian sejarawan sesudah mereka. Tugas pembaca bukan memilih satu cerita lalu menutup buku yang lain, melainkan membaca berbagai cerita itu secara berdampingan, menguji sumbernya, memahami konteksnya, dan melihat dari mana masing-masing penulis berbicara. Dengan cara itulah The Story of Civilization tetap hidup: bukan sebagai kitab sejarah yang tidak boleh diperdebatkan, tetapi sebagai undangan untuk kembali membaca sejarah manusia dalam skala yang luas, kritis, dan lintas peradaban.

[11/8 06:03] Cak Yo: Penutup


Pada akhirnya, The Story of Civilization karya Will Durant dan Ariel Durant dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan panjang dari kisah menuju sejarah, dan dari sejarah menuju pemahaman tentang peradaban. Dari ketertarikan pada legenda dan qiṣṣah, kemudian sīrah dan tārīkh dalam tradisi Islam, hingga karya-karya historiografi Barat, perjalanan membaca menunjukkan bahwa manusia selalu berusaha memahami masa lalunya melalui cerita. Sebelas jilid Durant menjadi salah satu usaha terbesar untuk menyatukan beragam pengalaman itu dalam satu panorama: dari peradaban Timur, Yunani dan Roma, dunia Islam dan abad pertengahan, Renaissance dan Reformasi, hingga Pencerahan, Revolusi Prancis, dan Napoleon. Ia tentu bukan kata terakhir dalam sejarah, dan harus dibaca bersama sumber primer serta karya sejarawan lain seperti al-Ṭabarī, Ibn Khaldūn, Gibbon, dan Toynbee. Namun justru karena keluasan dan keberanian sintesisnya, karya ini tetap relevan: ia mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa, melainkan kisah panjang tentang manusia yang berpikir, percaya, mencipta, berkonflik, membangun peradaban, dan mewariskan dunia kepada generasi sesudahnya.

[11/8 06:03] Cak Yo: Bibliografi


Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk. Karya sejarah universal yang dikenal sebagai Tārīkh al-Ṭabarī.

Bingham, Alfred J. 1966. “Review of The Age of Voltaire.” The Modern Language Journal 50, no. 7: 498–500.

Bingham, Alfred J. 1969. “Review of Rousseau and Revolution.” The Modern Language Journal 53, no. 4: 273–275.

Brogan, D. W. 1961. “One Result Was the Modern Mind.” The New York Times, September 10, 1961.

Bruun, Geoffrey. 1957. “Bright Pageant of a Golden Age.” The New York Times, September 15, 1957.

Day, John. 1944. “History—and Dr. Durant—March On.” The New York Times, December 10, 1944.

Durant, Will. 1935. Our Oriental Heritage. Vol. 1 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will. 1939. The Life of Greece. Vol. 2 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will. 1944. Caesar and Christ: A History of Roman Civilization and of Christianity from Their Beginnings to A.D. 325. Vol. 3 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will. 1950. The Age of Faith. Vol. 4 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will. 1953. The Renaissance. Vol. 5 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will. 1957. The Reformation. Vol. 6 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will, and Ariel Durant. 1961. The Age of Reason Begins. Vol. 7 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will, and Ariel Durant. 1963. The Age of Louis XIV. Vol. 8 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will, and Ariel Durant. 1965. The Age of Voltaire. Vol. 9 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will, and Ariel Durant. 1967. Rousseau and Revolution. Vol. 10 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Durant, Will, and Ariel Durant. 1975. The Age of Napoleon: A History of European Civilization from 1789 to 1815. Vol. 11 of The Story of Civilization. New York: Simon & Schuster.

Gibbon, Edward. 1776–1789. The History of the Decline and Fall of the Roman Empire. 6 vols. London.

Ibn Khaldūn, ʿAbd al-Raḥmān ibn Muḥammad. Al-Muqaddimah. Bagian pendahuluan dari Kitāb al-ʿIbar.

Mattingly, Garrett. 1957. “Storytelling Historian.” Saturday Review 40: 20.

McNeill, William H. 1963. The Rise of the West: A History of the Human Community. Chicago: University of Chicago Press.

Shulim, Joseph I. 1976. “The Age of Napoleon: A History of European Civilization from 1789 to 1815.” History: Reviews of New Books 4, no. 5: 108–109.

Swain, J. W. 1945. “Review of Caesar and Christ: A History of Roman Civilization and of Christianity from Their Beginnings to A.D. 325.” The American Historical Review 50, no. 3: 516–517.

Toynbee, Arnold J. 1934–1961. A Study of History. 12 vols. London: Oxford University Press.

Wells, H. G. 1920–1921. The Outline of History: Being a Plain History of Life and Mankind. 2 vols. London: George Newnes.


Edisi Arab yang dibaca


Durant, Will, and Ariel Durant. Qiṣṣat al-Ḥaḍārah [The Story of Civilization]. Terjemahan bahasa Arab. Edisi Arab lengkap, 11 jilid/seri. Data penerjemah, penerbit, dan tahun terbit edisi Arab yang terdapat dalam bahan yang Anda unggah belum cukup jelas untuk saya tuliskan secara bibliografis tanpa berisiko mengarang data. Karena Anda meminta bibliografi hanya yang benar-benar dirujuk, bagian ini sebaiknya diisi berdasarkan halaman title page atau copyright page edisi Arab yang Anda gunakan.

Catatan: Saya sengaja tidak memasukkan Wikipedia sebagai entri bibliografi, sesuai arahan Anda. Untuk ulasan Durant, sumber-sumber yang tercantum di atas adalah karya Durant sendiri dan artikel/ulasan akademik atau jurnal yang dirujuk dalam bahan Anda.

[11/8 06:04] Cak Yo: Ya. Jika yang dimaksud adalah edisi Arab yang Anda gunakan sebagai objek ulasan, jumlahnya perlu dicantumkan secara eksplisit sebagai 42 volume/bagian. Data bibliografis edisi Beirut 1988 mencatat karya tersebut sebagai 42 volume. (Wikidata)

Maka entri bibliografinya dapat ditulis:


Durant, Will, and Ariel Durant. Qiṣṣat al-Ḥaḍārah. Translated by Zakī Najīb Maḥmūd et al. 42 vols. Beirut: Dār al-Jīl lil-Ṭabʿ wa-al-Nashr wa-al-Tawzīʿ; Tunis: al-Munaẓẓamah al-ʿArabiyyah li-al-Tarbiyah wa-al-Thaqāfah wa-al-ʿUlūm, 1988.


Untuk penulisan artikel, saya sarankan “42 vols.”, bukan “11 volumes”, karena 11 adalah jumlah karya asli Durant, sedangkan edisi Arab yang Anda tampilkan memang dipecah menjadi 42 volume/bagian. (Wikidata)

Ada pula sumber akademik yang secara spesifik mencatat edisi 1988 sebagai Qiṣṣat al-Ḥaḍārah, diterjemahkan oleh Zakī Najīb Maḥmūd et al., diterbitkan oleh Dār al-Jīl, sehingga format et al. yang Anda minta tetap tepat digunakan. (journal.tu.edu.ye)

[11/8 06:05] Cak Yo: Bibliografi


Durant, Will. The Story of Civilization: Our Oriental Heritage. Vol. 1. New York: Simon and Schuster, 1935.

Durant, Will. The Story of Civilization: The Life of Greece. Vol. 2. New York: Simon and Schuster, 1939.

Durant, Will. The Story of Civilization: Caesar and Christ. Vol. 3. New York: Simon and Schuster, 1944.

Durant, Will. The Story of Civilization: The Age of Faith. Vol. 4. New York: Simon and Schuster, 1950.

Durant, Will. The Story of Civilization: The Renaissance. Vol. 5. New York: Simon and Schuster, 1953.

Durant, Will. The Story of Civilization: The Reformation. Vol. 6. New York: Simon and Schuster, 1957.

Durant, Will, and Ariel Durant. The Story of Civilization: The Age of Reason Begins. Vol. 7. New York: Simon and Schuster, 1961.

Durant, Will, and Ariel Durant. The Story of Civilization: The Age of Louis XIV. Vol. 8. New York: Simon and Schuster, 1963.

Durant, Will, and Ariel Durant. The Story of Civilization: The Age of Voltaire. Vol. 9. New York: Simon and Schuster, 1965.

Durant, Will, and Ariel Durant. The Story of Civilization: Rousseau and Revolution. Vol. 10. New York: Simon and Schuster, 1967.

Durant, Will, and Ariel Durant. The Story of Civilization: The Age of Napoleon. Vol. 11. New York: Simon and Schuster, 1975.

Durant, Will, and Ariel Durant. Qiṣṣat al-Ḥaḍārah. Translated by Zakī Najīb Maḥmūd et al. 42 vols. Beirut: Dār al-Jīl; Tunis: al-Munaẓẓamah al-ʿArabiyyah lil-Tarbiyah wa-al-Thaqāfah wa-al-ʿUlūm, 1988.

Gibbon, Edward. The History of the Decline and Fall of the Roman Empire. 6 vols. London: W. Strahan and T. Cadell, 1776–1789.

Ibn Khaldūn, ʿAbd al-Raḥmān ibn Muḥammad. The Muqaddimah: An Introduction to History. Translated by Franz Rosenthal. 3 vols. Princeton, NJ: Princeton University Press, 1958.

al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Tārīkh al-Rusul wa-al-Mulūk. Edited by Muḥammad Abū al-Faḍl Ibrāhīm. 11 vols. Cairo: Dār al-Maʿārif, 1960–1969.

Toynbee, Arnold J. A Study of History. 12 vols. London: Oxford University Press, 1934–1961.

Wells, H. G. The Outline of History: Being a Plain History of Life and Mankind. 2 vols. London: George Newnes, 1920–1921.

McNeill, William H. The Rise of the West: A History of the Human Community. Chicago: University of Chicago Press, 1963.

Mattingly, Garrett. “Storytelling Historian.” Saturday Review 40 (1957): 20.

Brogan, D. W. “One Result Was the Modern Mind.” The New York Times, September 10, 1961.

Bingham, Alfred J. “Review of The Age of Voltaire.” The Modern Language Journal 50, no. 7 (1966): 498–500.

Bingham, Alfred J. “Review of Rousseau and Revolution.” The Modern Language Journal 53, no. 4 (1969): 273–275.

Bruun, Geoffrey. “Bright Pageant of a Golden Age.” The New York Times, September 15, 1957.

Day, John. “History—and Dr. Durant—March On.” The New York Times, December 10, 1944.

Shulim, Joseph I. “The Age of Napoleon: A History of European Civilization from 1789 to 1815.” History: Reviews of New Books 4, no. 5 (1976): 108–109.

Swain, J. W. “Review of Caesar and Christ.” The American Historical Review 50, no. 3 (1945): 516–517.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zakat dalam Kitab-kitab Fikih dan Tasawuf: Studi Komparatif-Interdisipliner

STEBI Global Mulia Bahas Masa Depan Filantropi Islam dan Sociopreneurship

Pendekatan Fenomenologis dalam Studi Agama[1]