Perjalanan ke Negeri Akhirat: Catatan Kecil atas Kitab Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ

Cak Yo

Manusia itu biasa. Pada suatu hari pikirannya terasa mentok seperti jalan yang berakhir di tebing. Pada hari lain dadanya terasa sempit, bukan karena dunia semakin kecil, melainkan karena harapan dan kenyataan sedang berjarak. Kadang salah meski tidak selamanya salah. Mungkin  sering tapi ada pula benarnya. Kadang ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun terasa tidak cukup untuk menjawab satu persoalan sederhana. Kadang pengalaman panjang tidak mampu mengusir satu keraguan kecil. Bila merasakan demikian, segera ingat: begitulah manusia hidup di dunia. Itu bukan tanda kegagalan. Itu bagian dari kodrat. 

Semua orang pernah melaluinya dengan bentuk yang berbeda. Kata orang, selalu ada solusi. Mungkin benar. Namun sebelum solusi ditemukan, ada pelajaran yang harus dijalani. Ingat pula bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Karena itulah belajar tidak pernah selesai. Dan ketika kepala terasa puyeng tujuh keliling, jalan tampak buntu, dan segala ikhtiar seakan tidak menghasilkan apa-apa, ingatlah bahwa itulah salah satu bumbu kehidupan dunia. Jiwa sedang dididik. Roh sedang ditempa. 

Manusia sedang digembleng untuk perjalanan yang lebih jauh daripada seluruh jarak yang pernah diukur oleh kaki dan akalnya. Sebab sesungguhnya dunia bukan tujuan, melainkan ruang persiapan menuju perjalanan berikutnya; kehidupan setelah dunia yang tidak seorang pun tahu apakah akan dilalui dengan mudah atau sulit, dengan kebahagiaan atau penderitaan, mungkin justru melalui jalan duka yang panjang (via dolorosa), hingga akhirnya bermuara pada dua kemungkinan terakhir: surga atau neraka.

Di titik itulah kitab Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ  muncul seperti lentera di tengah senja. Judulnya dapat diterjemahkan sebagai “Penuntun Ruh-Ruh Menuju Negeri-Negeri Kegembiraan”. Dalam edisi bahasa Inggris, kitab ini diterjemahkan dengan judul Driving the Souls to the Abodes of Happiness, diterjemahkan oleh Abdul Ali Hamid. Sang penerjemah menjelaskan bahwa karya ini ditulis untuk membangkitkan kerinduan kaum Muslim kepada surga dan mendorong mereka beramal demi mencapainya. 

Kitab ini ditulis oleh Muḥammad ibn Abī Bakr ibn Ayyūb al-Zurʿī al-Dimashqī, yang lebih dikenal sebagai Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (691–751 H/1292–1350 M), salah seorang ulama besar dalam tradisi Islam klasik. Murid utama Taqī al-Dīn Ibn Taymiyyah ini dikenal bukan hanya sebagai ahli fikih dan teologi, melainkan juga seorang pengamat jiwa manusia. Pada banyak karyanya, pembahasan hukum dan akidah selalu bertemu dengan refleksi tentang hati. Karena itu karya-karyanya sering terasa hidup berabad-abad setelah ditulis.

Edisi Arab  kitab tersebut berjudul Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ aw Ṣifat al-Jannah. Tercantum bahwa kitab ini merupakan karya Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, disunting oleh ʿAlī ibn Muḥammad al-ʿImrān dan Nāṣir ibn Sulaymān al-ʿUmar, diterbitkan oleh al-Risālah al-ʿĀlamiyyah. Pada sampul juga dicantumkan tahun kehidupan pengarang 691–751 H.

Menariknya, Ibn al-Qayyim membuka kitab ini bukan dengan uraian tentang kenikmatan surga, melainkan dengan penegasan tentang tujuan penciptaan manusia. Dunia, menurutnya, bukan tempat tinggal permanen. Ia hanya persinggahan. Manusia sedang menyeberang menuju rumah yang sesungguhnya. Ia menulis bahwa Allah menciptakan surga bahkan sebelum manusia diciptakan, lalu menjadikan kehidupan dunia sebagai arena ujian untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya.  Dalam pengantar kitab, ia berulang kali mengingatkan bahwa umur terus berkurang, setiap napas yang keluar tidak akan kembali, dan manusia sering lupa ke mana sebenarnya perjalanan itu menuju. 

Di sinilah kekuatan kitab ini. Ia bukan sekadar katalog kenikmatan akhirat atau daftar penderitaan kehidupan setelah mati. Ia adalah kritik halus terhadap kelalaian manusia. Ibn al-Qayyim seakan bertanya: mengapa manusia begitu sibuk memperindah ruang tunggu sementara rumah tujuan justru diabaikan? Mengapa manusia rela menukar sesuatu yang abadi dengan sesuatu yang sementara? Dalam bahasa yang puitis, ia menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang membuat tertawa sesaat namun sering membuat menangis lebih lama. 

Isi kitab ini sangat luas. Dari daftar isi edisi Inggris yang saya  baca  terlihat bahwa kitab tersebut terdiri dari tujuh puluh bab. Pembahasannya dimulai dari persoalan teologis mengenai keberadaan surga saat ini, perdebatan tentang taman yang ditempati Nabi Ādam, jumlah pintu surga, tingkatan-tingkatannya, nama-namanya, para penghuni pertama yang memasukinya, hingga deskripsi rinci mengenai istana, sungai, pohon, buah-buahan, pakaian, pasangan, pasar, bahkan perjumpaan penghuni surga dengan Tuhan mereka.  

Dalam banyak bagian, Ibn al-Qayyim berusaha membuktikan bahwa surga dan neraka telah diciptakan sekarang dan bukan baru akan ada pada hari kiamat. Ia mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, dan pendapat para ulama untuk mendukung pandangan tersebut.  Yang menarik, pembahasannya tidak berhenti pada polemik teologis. Setiap argumen selalu diarahkan kepada tujuan moral: membangunkan hati yang tertidur.

Penerjemah edisi Inggris mengakui adanya beberapa riwayat yang kualitasnya diperdebatkan dalam kitab ini, meskipun mayoritas pembahasan bertumpu pada Al-Qur'an dan hadis. Ia juga menyebut bahwa beberapa bagian diskusi gramatikal dan pengulangan tidak diterjemahkan demi memudahkan pembaca modern. 

Membaca Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ hari ini terasa seperti melihat cermin yang dipasang di ujung jalan. Bukan cermin yang menunjukkan wajah, melainkan arah. Di zaman yang dipenuhi gemuruh kehidupan duniawi, algoritma dan perlombaan tanpa garis akhir, kitab ini mengingatkan bahwa manusia sesungguhnya sedang menuju suatu tempat. Ada tujuan yang lebih besar daripada karier, jabatan, kekayaan, bahkan reputasi. Semua itu dapat menjadi kendaraan, tetapi tidak boleh berubah menjadi tujuan.

Di sinilah refleksi paling penting dari kitab ini. Surga dalam karya Ibn al-Qayyim bukan sekadar lokasi geografis metafisis. Surga adalah simbol dari kerinduan terdalam manusia terhadap kesempurnaan yang tidak pernah ditemukan sepenuhnya di dunia. Mengapa manusia terus mencari kebahagiaan? Karena ia pernah mendengar gema tentang rumah asalnya. Mengapa manusia selalu merasa ada yang kurang? Karena dunia memang tidak dirancang untuk memuaskan seluruh dahaga jiwa. Dunia adalah ruang latihan, bukan ruang pelunasan.

Gagasan tentang kerinduan kepada rumah asal (negeri akhirat) ini mengingatkan pada bait-bait pembuka Masnavi-yi Ma'navî karya Jalāl al-Dīn Muḥammad Rūmī (1207–1273 M), penyair dan sufi besar Persia yang wafat di Konya. Dalam Prolog Kitab I yang dikenal sebagai Nay-Nāmeh (Kitab Seruling), bait 1–18, Rūmī menghadirkan seruling bambu (ney) yang merintih karena dipisahkan dari rumpun tempat ia tumbuh. Ratapan seruling itu menjadi alegori jiwa manusia yang tercerabut dari asalnya dan terus merindukan kepulangan. Dalam terjemahan E. H. Whinfield (The Masnavî, Book I, London, 1898), terdapat ungkapan yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dari bagian tersebut: “He who abides far away from his home is ever longing for the day he shall return.” Siapa yang tinggal jauh dari rumah asalnya akan selalu merindukan hari ketika ia dapat kembali. Karena itu, suara seruling dalam syair Rūmī bukan sekadar bunyi musik, melainkan gema kerinduan eksistensial yang hidup dalam diri setiap manusia. Dalam bahasa Rūmī, kerinduan itu adalah hasrat jiwa untuk kembali kepada sumbernya; dalam bahasa Ibn al-Qayyim, kerinduan itu menemukan orientasinya pada Allah dan kampung akhirat, pada Bilād al-Afrāḥ, negeri kegembiraan yang menjadi tujuan akhir perjalanan ruhani manusia.

Jika refleksi ini diperluas melampaui khazanah Islam, sebuah gema yang menarik dapat ditemukan dalam karya besar Dante Alighieri, Divina Commedia, yang ditulis antara 1308–1321 dan terbit secara anumerta pada 1321. Terutama dalam bagian "Purgatorio", Dante menggambarkan kehidupan manusia sebagai pendakian panjang menuju cahaya. Kebahagiaan sejati tidak diperoleh melalui lompatan instan, melainkan melalui proses pemurnian yang melelahkan. Para pengkaji spiritualitas kemudian merumuskan perjalanan itu dalam tiga tahap: "via purgativa, via illuminativa, dan via unitiva"—"jalan penyucian, jalan pencerahan, dan jalan persatuan." Meskipun istilah-istilah tersebut bukan rumusan langsung Dante, keseluruhan narasi Purgatorio memvisualisasikan gagasan itu secara sangat kuat. Dalam pandangan ini, kebuntuan, kegagalan, dan kegelisahan bukan sekadar gangguan dalam hidup, melainkan bagian dari proses pembersihan jiwa dari kesombongan, ilusi, dan kemelekatan yang menghalangi manusia melihat dirinya sendiri secara jernih.

Di sinilah Dante dan Ibn al-Qayyim, meskipun berdiri di dua tradisi keagamaan yang berbeda, tampak saling menyapa dari kejauhan. Dante melihat manusia sebagai peziarah yang mendaki gunung penyucian sebelum memasuki Firdaus. Ibn al-Qayyim melihat manusia sebagai musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju Bilād al-Afrāḥ, negeri kegembiraan yang abadi. Pada keduanya, kehidupan bukanlah tempat menetap, melainkan jalan. Kesulitan bukan tujuan akhir, melainkan tanjakan yang harus dilalui. Dalam bahasa Dante, jiwa bergerak karena cinta yang menariknya menuju cahaya. Dalam bahasa Ibn al-Qayyim, hati bergerak karena kerinduan kepada Allah dan kampung akhirat. Keduanya sepakat bahwa manusia kehilangan arah bukan ketika ia menderita, melainkan ketika ia lupa ke mana penderitaan itu seharusnya membawanya.

Menariknya, tradisi Islam tidak hanya berbicara tentang perjalanan manusia menuju surga, tetapi juga tentang momen ketika surga dan neraka diperlihatkan kepada manusia melalui pengalaman kenabian. Dalam berbagai riwayat yang dikumpulkan Ibn al-Qayyim dalam Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ, Rasulullah saw. diperlihatkan surga dan neraka ketika mengalami al-Isrāʾ wa al-Miʿrāj. Beliau menyaksikan taman-taman surga, sungai-sungainya, kenikmatannya, dan juga pemandangan neraka beserta berbagai bentuk azab yang menjadi peringatan bagi umat manusia. Bagi Ibn al-Qayyim, pengalaman tersebut menjadi salah satu dalil bahwa surga dan neraka bukan sekadar janji masa depan, melainkan realitas yang telah ada dan menunggu manusia.

Pemahaman ini juga ditegaskan oleh Aḥmad ibn Muḥammad al-Dardīr (1715–1786 M) dalam Sharḥ al-Kharīdah al-Bahiyyah, syarah atas nazam akidahnya al-Kharīdah al-Bahiyyah, yang dalam tradisi pesantren lebih dikenal dengan Kitab al-Dardîr. Dalam pembahasan mengenai perkara-perkara samʿiyyāt, al-Dardīr menempatkan al-Isrāʾ wa al-Miʿrāj sebagai salah satu kebenaran yang diterima berdasarkan wahyu dan khabar kenabian. Nabi diperjalankan oleh Jibrīl melampaui batas-batas pengalaman manusia biasa untuk menyaksikan sebagian dari kenyataan akhirat. Jika Dante membangun sebuah perjalanan imajinatif menuju surga melalui bahasa sastra, maka dalam tradisi Islam, Miʿrāj dipahami sebagai perjalanan nyata yang diperlihatkan Allah kepada Nabi-Nya sebagai penyingkapan tabir tentang tujuan akhir kehidupan.

Karena itu, pengalaman Miʿrāj dapat dibaca sebagai titik temu yang unik antara harapan dan kesadaran. Nabi kembali ke bumi setelah menyaksikan langit, kembali kepada masyarakat yang sama, persoalan yang sama, bahkan penolakan yang sama. Namun beliau kembali dengan cakrawala yang berbeda. Di sinilah pelajaran yang sering terlupakan. Pencerahan tidak menghapus kesulitan hidup. Ia hanya mengubah cara memandangnya. Setelah melihat tujuan akhir perjalanan, jalan yang berat tidak lagi tampak sia-sia. Setelah mengetahui ke mana semua langkah bermuara, tanjakan tidak lagi dianggap sebagai kesalahan arah.

Maka ketika Ibn al-Qayyim berbicara tentang surga, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang orientasi hidup. Surga hadir bukan hanya sebagai hadiah yang menunggu di ujung perjalanan, tetapi sebagai kompas yang memberi makna pada setiap langkah. Dunia menjadi penting justru karena ia sementara. Kesulitan menjadi bermakna justru karena ia tidak kekal. Dalam pengertian ini, Hādī al-Arwāḥ ilā Bilād al-Afrāḥ bukan semata kitab tentang kehidupan sesudah mati, melainkan kitab tentang cara hidup sebelum mati. Ia mengajarkan bahwa manusia dapat bertahan menghadapi jalan yang panjang selama ia masih dapat melihat horizon yang ditujunya. Sebab yang paling melelahkan bukanlah perjalanan itu sendiri, melainkan kehilangan keyakinan bahwa perjalanan tersebut memiliki tujuan. Dan selama cahaya tujuan itu masih tampak di kejauhan, seorang musafir akan selalu menemukan alasan untuk terus melangkah.

Karena itu ketika hidup terasa berat, ketika pikiran mentok dan jalan tampak gelap, mungkin yang perlu diingat bukan sekadar bahwa masalah akan selesai. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa kesulitan itu sendiri sedang membentuk seseorang. Dalam pandangan Ibn al-Qayyim, perjalanan hidup adalah proses pendidikan ruhani yang panjang. Kesulitan bukan selalu hukuman. Kadang ia adalah kurikulum.

Maka kitab ini pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang surga. Ia berbicara tentang manusia yang sedang berjalan menuju alam akhirat. Ia berbicara tentang jiwa yang tidak boleh kehilangan arah. Ia berbicara tentang harapan yang harus tetap menyala meskipun dunia berkali-kali mengajarkan kekecewaan. Dan di tengah segala keterbatasan manusia, Ibn al-Qayyim seakan berbisik dari abad kedelapan Hijriah: jangan terlalu terpukau oleh penginapan sementara. Perjalanan masih panjang. Rumah yang sesungguhnya masih di depan. Surga bukan sekadar hadiah di akhir jalan; ia adalah alasan mengapa jalan itu terus ditempuh.

*Pageland, 5-7-2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zakat dalam Kitab-kitab Fikih dan Tasawuf: Studi Komparatif-Interdisipliner

STEBI Global Mulia Bahas Masa Depan Filantropi Islam dan Sociopreneurship

Pendekatan Fenomenologis dalam Studi Agama[1]