Bisnis Jiwa-jiwa Mati: Membaca Dead Souls di Tengah Dunia yang Terobsesi pada Angka
Cak Yo
“Do you like the novel Dead Souls? I like Tolstoy too but Gogol is necessary along with the light.” (“Apakah Anda menyukai novel Dead Souls? Saya juga menyukai Tolstoy, tetapi Gogol diperlukan bersama cahaya itu.”) — Flannery O'Connor, surat kepada Betty Boyd Love, 20 September 1952; dikutip dalam Richard Pevear & Larissa Volokhonsky, Introduction to Dead Souls by Nikolai Gogol (Everyman's Library / Knopf Doubleday, 1996).
“But the wise reader will not avoid looking into his own soul and asking: ‘Is there not some part of Chichikov in me too?’” (“Tetapi pembaca yang bijaksana tidak akan menghindar untuk menengok ke dalam jiwanya sendiri dan bertanya: ‘Tidakkah ada juga sedikit Chichikov di dalam diriku?’”) — Nikolai Gogol, Dead Souls, terj. Bernard Guilbert Guerney, rev. ed. Susanne Fusso (Yale University Press, 1996), Part I, Chapter XI.
***
Ada kalanya sebuah bangsa tampak hidup, tetapi sesungguhnya yang bergerak di dalamnya hanyalah kebiasaan. Orang-orang berjalan ke kantor, menghadiri jamuan makan, mengurus administrasi, mencatat pajak, membangun reputasi, dan memperbincangkan tetangganya. Segalanya tampak normal. Namun di balik kesibukan itu, sesuatu yang lebih penting telah lama menghilang: jiwa.
Barangkali itulah yang hendak dikatakan Nikolai Vasilyevich Gogol ketika menulis Dead Souls (Mertvye Dushi) pada 1842. Dalam sejarah sastra Rusia, karya ini bukan sekadar novel. Gogol menyebutnya sebagai poema, sebuah bentuk epik dalam prosa yang dibayangkannya sebagai bagian pertama dari proyek besar yang terinspirasi oleh perjalanan spiritual dalam Divine Comedy karya Dante Alighieri. Ia membayangkan sebuah trilogi yang akan membawa pembaca dari dunia moral yang rusak menuju kemungkinan penebusan. Namun proyek itu tidak pernah selesai. Menjelang akhir hidupnya, Gogol membakar sebagian besar manuskrip lanjutan karya tersebut, meninggalkan Dead Souls sebagai monumen sastra yang sekaligus utuh dan tak selesai (Maguire, 1994; Fanger, 1979).
Karya ini pertama kali diterbitkan di Moskwa pada tahun 1842 dengan judul The Adventures of Chichikov, or Dead Souls. Judul tersebut lahir setelah proses sensor yang panjang, sebab istilah "jiwa-jiwa mati" dianggap problematis oleh otoritas Kekaisaran Rusia. Meski demikian, buku itu segera memperoleh tempat penting dalam khazanah sastra Rusia dan kemudian dianggap sebagai salah satu fondasi novel Rusia modern bersama karya-karya Pushkin, Turgenev, Tolstoy, dan Dostoevsky (Lounsbery, 2007).
Sejak terbit pertama kali, Dead Souls telah hadir dalam berbagai edisi dan terjemahan. Terjemahan-terjemahan penting dilakukan oleh D. J. Hogarth, Constance Garnett, Bernard Guilbert Guerney, David Magarshack, Donald Rayfield, serta Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. Di kalangan akademik, edisi Yale University Press yang disunting Susanne Fusso dengan terjemahan Bernard G. Guerney menjadi salah satu rujukan paling berpengaruh karena dilengkapi pengantar dan catatan kritis yang memperkaya pembacaan teks (Fusso & Meyer, 1992; Maguire, 1994).
Pengaruh novel ini juga melampaui dunia buku. Mikhail Bulgakov mengadaptasinya untuk panggung Moscow Art Theatre pada 1932 dalam tradisi teater Stanislavski. Komponis Rodion Shchedrin mengubahnya menjadi opera pada 1976. Pada 1984, sutradara Mikhail Shveytser menghadirkannya dalam bentuk serial televisi yang hingga kini dianggap sebagai salah satu adaptasi layar paling penting atas karya Gogol (Maguire, 1994).
Namun yang membuat Dead Souls tetap hidup bukanlah sejarah penerbitannya, melainkan pertanyaan yang diajukannya kepada setiap zaman: bagaimana jika manusia tidak lagi dinilai sebagai manusia, melainkan sebagai angka?
Novel ini lahir dari Rusia yang masih diperintah oleh sistem serfdom, sebuah dunia tempat manusia dapat dihitung sebagai aset ekonomi, diperjualbelikan, diwariskan, bahkan dijadikan jaminan pinjaman. Tetapi Gogol tidak sekadar menulis tentang budak tani yang telah meninggal. Ia menulis tentang manusia yang masih bernapas namun telah kehilangan daya hidup moralnya (Gogol, 1842).
Tokoh utama novel itu, Pavel Ivanovich Chichikov, melakukan sesuatu yang terdengar mustahil: ia berkeliling desa membeli nama-nama budak tani yang telah mati. Dalam sistem administrasi Rusia kala itu, sensus dilakukan secara berkala sehingga seorang budak yang meninggal tetap tercatat hidup sampai sensus berikutnya. Pemilik tanah masih harus membayar pajak atas "jiwa-jiwa" tersebut. Chichikov menawarkan jalan keluar: ia membeli nama-nama itu. Para tuan tanah terbebas dari pajak, sementara Chichikov memperoleh sesuatu yang secara administratif masih dianggap sebagai kekayaan (Gogol, 1842; Freeborn, 1971).
Di tangan novelis lain, kisah ini mungkin berubah menjadi cerita kriminal atau petualangan ekonomi. Namun Gogol menjadikannya sebuah cermin. Dan seperti semua cermin yang baik, ia tidak memantulkan wajah orang lain, melainkan wajah kita sendiri.
Chichikov bukan penjahat besar. Ia tidak membunuh siapa pun. Ia tidak memimpin pemberontakan. Ia tidak merampok bank. Justru karena itulah ia menakutkan. Ia adalah manusia biasa yang menemukan celah dalam sistem dan memanfaatkannya dengan ketekunan seorang pegawai teladan. Ia adalah birokrat yang memahami bahwa angka sering kali lebih berharga daripada kenyataan. Bahwa dokumen lebih dipercaya daripada kehidupan yang sesungguhnya.
Donald Fanger menyebut perjalanan Chichikov sebagai perjalanan melalui "cermin sosial Rusia", sebuah ruang tempat setiap perjumpaan mengungkap lapisan demi lapisan kepalsuan yang telah diterima sebagai kewajaran sehari-hari (Fanger, 1978).
Dalam dunia Chichikov, manusia telah berubah menjadi statistik. Nama lebih penting daripada keberadaan. Administrasi lebih berkuasa daripada kebenaran. Maka membeli orang mati menjadi transaksi yang masuk akal. Bukankah dalam banyak masyarakat modern kita masih menemukan hal serupa? Perusahaan yang bangkrut tetapi sahamnya diperdagangkan. Politisi yang kehilangan kepercayaan publik namun tetap memerintah karena legalitas prosedural. Institusi yang kosong makna tetapi tetap dipertahankan karena tercatat sah. Kita hidup di antara berbagai bentuk "jiwa mati" yang terus beredar dalam sistem.
Gogol memahami bahwa korupsi tidak selalu muncul sebagai kejahatan besar. Sering kali ia bersembunyi dalam rutinitas yang diterima semua orang.
Karena itu, sepanjang perjalanan Chichikov, pembaca diperkenalkan kepada serangkaian pemilik tanah yang tampak lucu sekaligus menyedihkan: Manilov yang sentimental dan kosong, Korobochka yang picik, Nozdryov yang pembohong, Sobakevich yang rakus, hingga Plyushkin yang tenggelam dalam kekikiran patologis (Gogol, 1842).
Mereka bukan individu semata. Mereka adalah tipe-tipe sosial. Dalam pembacaan Nina Brodiansky dan Vladimir Golstein, tokoh-tokoh tersebut merupakan representasi berbagai deformasi moral yang berkembang dalam masyarakat Rusia zamannya. Gogol mengubah manusia menjadi karikatur agar keburukan mereka terlihat lebih jelas. Namun karikatur itu tidak pernah sepenuhnya fiktif. Kita mengenali mereka karena mereka masih ada di sekitar kita. Bahkan mungkin di dalam diri kita sendiri (Brodiansky, 1952; Golstein, 1997).
Yang menarik, hampir semua tokoh dalam Dead Souls memiliki obsesi yang sama: kepemilikan. Mereka mengukur kehormatan berdasarkan tanah, rumah, jumlah budak, atau barang-barang yang dimiliki. Dunia mereka dipenuhi inventaris. Daftar demi daftar. Perabot demi perabot. Gudang demi gudang. Seakan-akan keberadaan manusia dapat diringkas menjadi catatan aset (Weathers, 1955).
Karena itu, tidak mengherankan bila banyak pembaca modern merasa bahwa Gogol lebih banyak mendeskripsikan benda daripada menggerakkan alur cerita. Tetapi justru di situlah sindirannya bekerja. Deskripsi yang panjang bukan kelemahan artistik. Ia merupakan cara Gogol memperlihatkan masyarakat yang lebih mencintai benda daripada manusia. Dunia tempat kepemilikan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan (Fanger, 1978; Weathers, 1955).
Mungkin sebab itulah novel ini terasa sangat modern. Kita hidup pada zaman ketika angka pengikut media sosial menjadi ukuran pengaruh, nilai aset menjadi ukuran keberhasilan, dan pencitraan sering lebih penting daripada karakter. Kita masih mengumpulkan berbagai bentuk "jiwa mati", hanya saja namanya berbeda.
Yang lebih tajam lagi adalah kritik Gogol terhadap birokrasi.
Seluruh rencana Chichikov hanya mungkin terjadi karena administrasi negara tidak mampu membedakan antara fakta dan catatan. Kematian biologis tidak serta-merta berarti kematian administratif. Akibatnya, sistem menciptakan ruang bagi manipulasi yang sah secara prosedural namun cacat secara moral.
Di sini Gogol tampak mendahului banyak kritik modern tentang negara dan birokrasi. Bahwa ketika aturan menjadi tujuan itu sendiri, manusia akan hilang dari pusat perhatian. Yang tersisa hanyalah formulir, stempel, laporan, dan arsip. Negara tidak lagi melihat manusia, melainkan kategori (Maguire, 1994).
Bahkan transaksi yang menjadi inti cerita memperlihatkan betapa manusia telah direduksi menjadi angka fiskal. Serf yang mati tetap dihitung sebagai unit pajak, sementara nama mereka dapat dipindahtangankan seperti barang dagangan. Gogol tidak perlu berpidato tentang dehumanisasi; ia cukup menunjukkan bagaimana sebuah sistem bekerja.
Namun Dead Souls bukan sekadar kritik terhadap negara. Ia juga kritik terhadap masyarakat.
Di titik inilah Gogol memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kriminalitas biasa. Ia menunjukkan keberadaan segelintir manusia yang tidak melanggar hukum secara terang-terangan, tetapi menjadikan legalitas sebagai instrumen untuk keuntungan pribadi. Mereka tidak merusak sistem dari luar; mereka hidup nyaman di dalamnya. Mereka memahami setiap celah administrasi, setiap kelemahan regulasi, setiap ruang abu-abu yang memungkinkan kepentingan pribadi disamarkan sebagai tindakan yang sah. Mereka piawai membaca pasal demi pasal, memanfaatkan celah-celah dalam ayat hukum dan peraturan, bahkan tidak jarang mencomot ayat-ayat Tuhan untuk memberi selubung moral pada kepentingan yang sesungguhnya sangat duniawi. Chichikov bukan perampok yang mendobrak pintu. Ia adalah pelaku oportunisme yang bekerja dengan dokumen, stempel, dan prosedur.
Dalam banyak kasus korupsi modern, pola semacam ini tidak asing: proyek publik diarahkan kepada perusahaan yang secara formal memenuhi syarat tetapi sesungguhnya terafiliasi dengan pengambil keputusan; anggaran dibelanjakan melalui mekanisme yang tampak sah namun telah dirancang agar keuntungan mengalir kepada kelompok tertentu; atau kebijakan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak melanggar bunyi aturan, tetapi menyimpang dari tujuan keadilan yang seharusnya dijaga oleh aturan itu sendiri. Karena itu, Chichikov menjadi simbol dari sebuah kenyataan yang terus berulang dalam sejarah: ketika hukum kehilangan orientasi moralnya, legalitas dapat berubah menjadi tempat persembunyian yang paling aman bagi keserakahan. Apa yang dilakukannya mungkin dapat dibenarkan secara administratif, tetapi Gogol mengajak pembacanya mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: apakah segala yang legal dengan sendirinya juga benar dan adil? (Gogol, 1842; Fanger, 1978; Maguire, 1994).
Pada bagian akhir novel, Chichikov tidak dihancurkan oleh hukum. Ia dihancurkan oleh gosip. Rumor berkembang lebih cepat daripada kebenaran. Warga kota menciptakan berbagai teori absurd tentang dirinya. Ada yang mengira ia mata-mata, ada yang menganggapnya penjahat besar, bahkan ada yang menghubungkannya dengan figur-figur legendaris. Imajinasi kolektif bekerja lebih aktif daripada akal sehat (Gogol, 1842).
Gogol seolah ingin menunjukkan bahwa masyarakat yang kehilangan kemampuan berpikir akan menggantinya dengan spekulasi. Ketika fakta tidak cukup menarik, orang menciptakan cerita. Dan cerita itu sering kali lebih dipercaya daripada kenyataan.
Anne Lounsbery melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari kritik Gogol terhadap kultur provinsial yang memproduksi "kebenaran sosial" melalui rumor dan fantasi kolektif. Dalam ruang semacam itu, reputasi lebih menentukan daripada fakta, dan persepsi lebih berkuasa daripada realitas (Lounsbery, 2007).
Jika bagian ini terasa akrab, mungkin karena kita hidup di zaman yang tidak jauh berbeda. Teknologi berubah, tetapi mekanisme gosip tetap sama. Kini rumor bergerak melalui layar dan algoritma, bukan lagi dari ruang tamu ke ruang tamu. Namun kecenderungan manusia untuk mempercayai cerita yang sesuai dengan prasangkanya tetap bertahan.
Di balik semua humor, terdapat kesedihan yang mendalam.
Gogol menertawakan Rusia, tetapi ia melakukannya seperti seseorang yang menertawakan anggota keluarganya sendiri. Tawa itu lahir dari cinta sekaligus kekecewaan. Sebagaimana dicatat Anne Lounsbery, Gogol menempatkan Rusia provinsial bukan sebagai ruang heroik, melainkan ruang yang dipenuhi banalitas, kepalsuan, dan kemerosotan moral yang tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari (Lounsbery, 2007).
Robert A. Maguire bahkan melihat Dead Souls sebagai proyek moral dan spiritual yang jauh lebih besar daripada sekadar satir sosial. Di balik kelucuan para tuan tanah, di balik absurditas transaksi arwah, Gogol sebenarnya sedang mencari kemungkinan kebangkitan moral bagi Rusia. Karena itu ia membayangkan trilogi yang bergerak dari keterpurukan menuju pembaruan, sebagaimana Dante bergerak dari neraka menuju surga (Maguire, 1994).
Proyek itu memang tidak pernah selesai. Namun justru ketidakselesaian itulah yang membuat Dead Souls terus terbuka bagi pembacaan baru.
Pada akhirnya, judul Dead Souls bekerja dalam dua lapis makna.
Secara literal, ia merujuk pada para budak yang telah mati tetapi masih tercatat hidup dalam administrasi negara.
Secara metaforis, ia menunjuk pada masyarakat yang kehilangan vitalitas moralnya. Orang-orang yang masih hidup secara biologis tetapi mati secara etis.
Dan mungkin inilah alasan mengapa novel tersebut tetap bertahan hampir dua abad setelah diterbitkan. Sistem perhambaan Rusia telah lama runtuh. Para tuan tanah itu telah menjadi bagian sejarah. Pajak atas budak telah menghilang. Namun manusia yang menjadikan hidup sebagai transaksi masih ada. Birokrasi yang mengutamakan angka daripada kenyataan masih ada. Ambisi yang mengubah manusia menjadi komoditas masih ada.
Chichikov terus berjalan di antara kita.
Mungkin ia mengenakan jas berbeda. Mungkin ia bekerja di kantor yang lebih modern. Mungkin ia tidak lagi membeli budak yang mati. Tetapi ia masih mengumpulkan sesuatu yang tidak sungguh-sungguh hidup demi mendapatkan kedudukan yang tampak nyata.
Dan setiap kali kita mengira bahwa novel Gogol hanya berbicara tentang Rusia abad ke-19, kita sedang melakukan kesalahan yang sama seperti para warga kota N.N. Kita mengira cerita itu tentang orang lain.
Padahal, sebagaimana sindiran Gogol yang paling tajam, pertanyaan sesungguhnya bukanlah apakah Chichikov pernah hidup. Mungkin kita cenderung melihat Chichikov pada diri orang lain.
Pertanyaannya adalah: "berapa banyak Chichikov yang masih hidup di dalam diri kita?"
Referensi
Bely, Andrei. 2009. Gogol's Artistry. Evanston: Northwestern University Press.
Brodiansky, Nina. 1952. “Gogol and His Characters.” The Slavonic and East European Review, 31(76), 36–57.
Fanger, Donald. 1978. “Dead Souls: The Mirror and the Road.” Nineteenth-Century Fiction, 33(1), 24–47.
Fanger, Donald. 1979. The Creation of Nikolai Gogol. Cambridge: Harvard University Press.
Freeborn, Richard. 1971. “Dead Souls: A Study.” The Slavonic and East European Review, 49(114), 18–44.
Fusso, Susanne & Meyer, Priscilla (eds.). 1992. Essays on Gogol: Logos and the Russian Word. Evanston: Northwestern University Press.
Gogol, Nikolai. 1842/1996. Dead Souls. Edited by Susanne Fusso. Translated by Bernard G. Guerney. New Haven: Yale University Press.
Golstein, Vladimir. 1997. “Landowners in Dead Souls: Or the Tale of How Gogol Blessed What He Wanted to Curse.” The Slavic and East European Journal, 41(2), 243–257.
Lounsbery, Anne. 2007. Thin Culture, High Art: Gogol, Hawthorne, and Authorship in Nineteenth-Century Russia and America. Cambridge: Harvard University Press.
Maguire, Robert A. 1994. Exploring Gogol. Stanford: Stanford University Press.
Weathers, Winston. 1955. “Gogol's Dead Souls: The Degrees of Reality.” College English, 17(3), 159–164.
*Pageland, 6-7-2026

Komentar
Posting Komentar