Membaca Doctor Zhivago: Jalan Sunyi Penyair
Oleh Cak Yo
Ada masa ketika sebuah novel dianggap lebih berbahaya daripada senapan. Bukan karena ia dapat menembak, melainkan karena ia membuat manusia berpikir. Senapan hanya melukai tubuh; buku dapat mengguncang keyakinan yang selama ini dianggap final.
Begitulah nasib Doctor Zhivago. Sebuah novel yang lahir bukan sekadar dari imajinasi, melainkan dari pergulatan panjang antara manusia dan sejarah. Boris Leonidovich Pasternak mulai menulis novel ini pada 1946 dan menyelesaikannya pada 1955–1956, setelah melalui masa perang, kekecewaan terhadap arah Revolusi Rusia, serta pengalaman pribadi yang penuh tekanan. Novel itu awalnya dirancang sebagai kesaksian panjang tentang Rusia sejak awal abad ke-20 hingga sesudah Perang Dunia II.
Tetapi ketika naskah itu selesai, para editor Soviet tidak melihatnya sebagai karya sastra semata. Mereka melihatnya sebagai ancaman. Dalam surat penolakan yang kemudian terkenal, dewan redaksi Novyi Mir menuduh novel itu mengandung semangat penolakan terhadap revolusi sosialis dan memandang Revolusi Oktober sebagai sebuah kesalahan sejarah. Mereka bukan sedang mengkritik gaya bahasa Pasternak. Mereka sedang mengadili cara pandangnya terhadap manusia.
Sebab Pasternak melakukan sesuatu yang dianggap berbahaya oleh rezim mana pun: ia mengembalikan manusia ke pusat cerita.
Sejarah biasanya ditulis oleh pemenang. Di dalam buku sejarah, revolusi tampil sebagai gerak besar bangsa, statistik kemenangan, atau grafik perubahan sosial. Namun dalam Doctor Zhivago, sejarah hadir melalui seorang dokter yang kehilangan rumah, seorang perempuan yang kehilangan cinta, seorang anak yang kehilangan ibunya, dan seorang penyair yang kehilangan dunia yang ia kenal. Revolusi tidak datang sebagai slogan. Ia datang sebagai musim dingin.
Novel itu dibuka dengan adegan kematian ibu Yuri Zhivago. Seorang anak kecil berdiri di atas makam, menangis di bawah angin yang membawa hujan dingin. Dunia belum berubah oleh revolusi, tetapi kehilangan telah lebih dahulu datang (Pasternak, 1958). Ia melihat badai salju menelan jalan, kebun, dan makam ibunya, seolah alam sedang memperlihatkan kepada seorang anak bahwa hidup akan selalu lebih besar daripada kemauan manusia.
Barangkali di situlah seluruh novel ini dimulai: bukan dari politik, melainkan dari kesedihan.
Kita sering mengira manusia digerakkan oleh ideologi. Pasternak tampaknya tidak terlalu percaya pada hal itu. Baginya, manusia lebih sering digerakkan oleh cinta, kerinduan, ketakutan, dan kenangan. Ideologi datang kemudian, sering kali sebagai tamu yang memaksa masuk ke dalam rumah.
Karena itu Yuri Zhivago bukan tokoh revolusioner. Ia juga bukan kontra-revolusioner. Ia seorang dokter yang ingin menyembuhkan orang sakit dan seorang penyair yang ingin memahami kehidupan. Dalam dunia yang menuntut setiap orang memilih kubu, posisi seperti itu justru menjadi dosa. Sejarah menyukai tentara; sejarah sering mencurigai penyair.
Yuri tumbuh dalam keluarga yang pernah kaya raya. Ia mengingat masa ketika nama Zhivago melekat pada bank, pabrik, bangunan, bahkan kue yang terkenal di Moskow. Namun semua itu perlahan lenyap. Kekayaan menguap, keluarga pecah, dan masa kecil yang nyaman berubah menjadi kenangan yang jauh (Pasternak, 1958).
Di salah satu bagian awal novel, Nikolai Vedeniapin—paman Yuri—mengucapkan gagasan yang terasa seperti inti pemikiran Pasternak sendiri. Ia mengatakan bahwa manusia hidup dalam sejarah, dan sejarah memperoleh maknanya ketika manusia mencari cara mengatasi kematian melalui cinta, pengorbanan, pengetahuan, dan kebebasan pribadi (Pasternak, 1958).
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya radikal. Sebab yang ditempatkan sebagai pusat sejarah bukan negara, bukan partai, bukan revolusi, melainkan manusia.
Pandangan semacam inilah yang membuat para editor Soviet gusar. Dalam surat penolakannya, mereka menilai Pasternak terlalu bersimpati kepada individu dan terlalu sedikit memberi tempat kepada massa revolusioner. Mereka menganggap tokoh-tokohnya lebih sibuk memikirkan kehidupan batin daripada perjuangan kolektif. Sikap tersebut bertentangan dengan doktrin realisme sosialis yang saat itu diwajibkan kepada para pengarang Soviet.
Kritik itu menarik. Sebab tanpa disadari, mereka sedang mengakui kekuatan novel tersebut.
Sastra memang tidak selalu berbicara tentang kemenangan rakyat. Kadang-kadang sastra berbicara tentang satu orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemenangan itu.
***
Boris Pasternak dan Jalan Sunyi Seorang Penyair
Sebelum dikenal sebagai novelis, Boris Pasternak sebenarnya telah lebih dahulu dihormati sebagai penyair besar Rusia. Ia lahir di Moskow pada 1890 dalam keluarga seni. Ayahnya, Leonid Pasternak, adalah pelukis terkenal yang berteman dengan Leo Tolstoy, sedangkan ibunya seorang pianis konser profesional. Lingkungan intelektual dan artistik membentuk cara pandangnya terhadap dunia sejak kecil.
Pasternak tidak pernah merasa nyaman menjadi alat ideologi. Bahkan ketika banyak intelektual Soviet menyambut revolusi dengan semangat, ia lebih tertarik pada kehidupan manusia yang terseret arus perubahan tersebut. Karena itulah ketika menulis Doctor Zhivago, ia tidak menghadirkan revolusi sebagai kemenangan mutlak ataupun tragedi mutlak. Ia menghadirkannya sebagai pengalaman manusia. Pilihan itu mahal.
Naskah novel ditolak di Uni Soviet. Namun pada 1957 penerbit Italia Giangiacomo Feltrinelli berhasil menerbitkannya di Milan setelah naskah diselundupkan keluar negeri. Setahun kemudian terbit edisi Rusia di luar Uni Soviet dan terjemahan Inggris oleh Max Hayward dan Manya Harari dengan pengantar oleh John Bayley. Buku ini diterbitkan di New York oleh Pantheon Books/Signet Book pada tahun 1958 dengan ketebalan mencapai 909 halaman. Sebelum diizinkan beredar di tanah kelahirannya sendiri, novel ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan menjadi peristiwa sastra internasional.
Tahun 1958 Pasternak memperoleh Hadiah Nobel Sastra. Akan tetapi penghargaan itu justru menjadi awal penderitaan baru. Tekanan politik yang luar biasa memaksanya menolak Nobel yang sebenarnya telah ia terima. Ia tetap tinggal di Rusia, tetapi dalam pengawasan dan kecaman yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ironisnya, yang membuat Doctor Zhivago abadi bukan kontroversinya. Kontroversi selalu memiliki tanggal kedaluwarsa. Yang membuat sebuah karya bertahan adalah kemampuannya menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada politik.
***
Suara yang Melampaui Bahasa
Keistimewaan Doctor Zhivago tidak hanya terletak pada kisahnya, melainkan juga pada nasib teks itu sendiri. Tidak banyak novel abad ke-20 yang terus hidup melalui perdebatan tentang bagaimana ia seharusnya dibaca. Setelah lolos dari sensor Soviet dan diterbitkan pertama kali di Italia pada 1957, novel ini segera memasuki perjalanan baru: perjalanan melalui bahasa-bahasa lain. Setiap penerjemah yang menyentuh karya ini bukan sekadar memindahkan kata-kata Rusia ke dalam bahasa baru, tetapi juga berusaha menangkap denyut batin Pasternak yang sangat khas—puitis, reflektif, dan sering kali bergerak di antara filsafat, kenangan, serta pengamatan yang sangat konkret terhadap kehidupan sehari-hari.
Terjemahan bahasa Inggris pertama yang paling berpengaruh adalah karya Max Hayward dan Manya Harari pada 1958. Versi inilah yang memperkenalkan Yuri Zhivago kepada dunia Barat. Dikerjakan dalam suasana tergesa-gesa karena perhatian internasional yang begitu besar terhadap novel tersebut, hasilnya justru memperoleh reputasi luar biasa. Banyak kritikus menilai Hayward dan Harari berhasil menghasilkan bahasa Inggris yang alami, mengalir, dan tetap menyimpan daya puitik Pasternak. Bahkan Anna Pasternak Slater kemudian berpendapat bahwa kecepatan kerja mereka justru membantu menjaga spontanitas dan keluwesan prosa Pasternak ketika hadir dalam bahasa Inggris.
Namun sebuah karya besar tidak pernah berhenti pada satu pembacaan. Setengah abad kemudian muncul terjemahan Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. Pasangan penerjemah ini dikenal karena upaya mereka membawa pembaca sedekat mungkin kepada struktur dan nuansa bahasa Rusia asli. Mereka berusaha memulihkan bagian-bagian yang sebelumnya terlewat serta mempertahankan ritme kalimat Pasternak secara lebih harfiah. Hasilnya memunculkan perdebatan yang menarik. Sebagian pembaca memuji ketelitian mereka. Sebagian lain merasa bahwa kesetiaan yang terlalu ketat kepada teks Rusia membuat bahasa Inggrisnya kehilangan keluwesan yang dimiliki versi Hayward-Harari. Perdebatan itu sesungguhnya memperlihatkan satu kenyataan sederhana: tidak ada terjemahan yang benar-benar final. Setiap generasi menemukan Pasternaknya sendiri.
Perjalanan itu berlanjut ketika Nicolas Pasternak Slater—keponakan Boris Pasternak—menghasilkan terjemahan baru yang diterbitkan oleh Folio Society pada 2019. Terjemahan ini memperoleh perhatian khusus bukan hanya karena kualitas sastranya, tetapi juga karena kedekatan personal penerjemah dengan dunia keluarga Pasternak. Nicolas tumbuh dalam bayang-bayang sejarah yang membentuk kehidupan pamannya. Ia tidak pernah benar-benar bertemu Boris Pasternak karena situasi politik Soviet, tetapi warisan keluarga itu tetap menjadi bagian penting hidupnya. Terjemahan tersebut dipandang sebagai usaha mengembalikan suara Pasternak dengan kepekaan yang lahir bukan semata dari pengetahuan bahasa, melainkan juga dari hubungan emosional terhadap tradisi keluarga dan budaya Rusia yang melahirkan novel itu.
Akan tetapi, kekuatan Doctor Zhivago tidak bergantung pada satu terjemahan tertentu. Yang bertahan adalah dunia yang dibangun Pasternak di dalamnya. Dunia itu dipenuhi hamparan salju, kereta api yang melintasi Rusia yang tak berujung, desa-desa yang berubah oleh revolusi, dan manusia-manusia yang berusaha mempertahankan martabatnya di tengah perubahan zaman. Dalam novel ini, alam bukan sekadar latar. Salju, badai, hutan, sungai, dan musim menjadi bagian dari kesadaran tokoh-tokohnya. Pasternak menulis lanskap Rusia sebagaimana seorang penyair menulis puisi. Karena itu banyak bagian novel terasa seperti lukisan yang bergerak perlahan di depan mata pembaca.
Di balik lanskap tersebut, terdapat pertanyaan yang terus berulang sepanjang cerita. Mengapa manusia harus kehilangan begitu banyak hal untuk memahami hidup? Mengapa cinta sering hadir bersamaan dengan perpisahan? Mengapa sejarah yang dibangun atas nama manusia justru sering menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul sejak halaman-halaman awal novel. Yuri kecil kehilangan ibunya. Ayahnya tenggelam dalam kehancuran moral dan akhirnya mati tragis. Di sekelilingnya Rusia sedang bergerak menuju perubahan besar yang belum sepenuhnya dipahami siapa pun. Namun Pasternak tidak pernah memperlakukan penderitaan sebagai alat untuk menyampaikan pesan politik. Ia memperlakukannya sebagai pengalaman eksistensial. Kehilangan bukan sekadar akibat revolusi. Kehilangan adalah bagian dari kondisi manusia itu sendiri.
Karena itu, ketika pembaca mengikuti perjalanan Yuri hingga dewasa, yang mereka temukan bukan kisah seorang tokoh yang berusaha menaklukkan sejarah. Mereka justru menemukan seseorang yang berusaha mempertahankan keutuhan dirinya di tengah sejarah. Yuri bukan pemimpin revolusi. Ia bukan pula lawan revolusi. Ia seorang dokter yang merawat orang sakit dan seorang penyair yang mencoba memahami dunia. Dalam dirinya, Pasternak seperti menempatkan keyakinan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh kesetiaannya kepada ideologi, melainkan oleh kemampuannya menjaga nurani.
Di sinilah letak inti Doctor Zhivago. Novel ini tidak menawarkan jawaban-jawaban besar. Ia tidak mengajarkan program politik tertentu. Ia tidak memberikan resep perubahan sosial. Yang ditawarkannya adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kesediaan untuk melihat manusia sebagai manusia.
Mungkin karena itulah novel ini tetap hidup setelah berbagai rezim, ideologi, dan pertarungan politik yang melatarbelakanginya telah berlalu. Banyak karya yang dahulu dipuja karena kedekatannya dengan kekuasaan kini hanya menjadi arsip sejarah. Sebaliknya, Doctor Zhivago masih dibaca karena ia berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah menjadi usang: cinta, kehilangan, harapan, kematian, dan pencarian makna hidup.
Dan di tengah seluruh pergulatan itu berdirilah Yuri Zhivago—bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai martir, melainkan sebagai manusia biasa yang menolak kehilangan jiwanya. Barangkali justru karena itulah ia terus dikenang. Sebab sejarah selalu menghasilkan banyak pemenang dan pecundang, tetapi hanya sedikit tokoh yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap zaman yang bergemuruh, ada satu tugas yang tetap sama: tetap menjadi manusia.
***
Mengapa Doctor Zhivago Masih Penting bagi Pembaca Indonesia?
Barangkali pertanyaan yang paling wajar diajukan setelah menutup halaman terakhir Doctor Zhivago adalah: apa hubungan novel Rusia ini dengan kehidupan pembaca Indonesia hari ini?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Kita hidup jauh dari Rusia. Kita tidak mengalami Revolusi Bolshevik. Kita tidak pernah berjalan di tengah musim dingin Siberia atau menyaksikan kereta-kereta pengungsi bergerak melintasi hamparan salju. Namun anehnya, ketika membaca Pasternak, kita sering merasa sedang membaca sesuatu yang dekat.
Mungkin karena sejarah Indonesia juga dipenuhi perubahan besar yang kerap meninggalkan luka-luka kecil yang tidak tercatat dalam buku sejarah.
Kita mengenal revolusi, pergantian rezim, pergolakan politik, konflik ideologi, dan masa-masa ketika manusia dipaksa memilih kubu. Kita juga mengenal pengalaman hidup di tengah perubahan yang begitu cepat sehingga sering kali kehidupan pribadi terasa tidak lagi penting dibandingkan slogan-slogan besar yang memenuhi ruang publik. Di titik inilah Doctor Zhivago berbicara kepada pembaca Indonesia.
Novel ini mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa besar selalu ada kehidupan biasa yang sering terlupakan. Sejarah mencatat tanggal revolusi.Sastra mencatat air mata manusia yang hidup di dalam revolusi itu. Sejarah mencatat kemenangan. Sastra mencatat harga yang harus dibayar untuk kemenangan tersebut.
Karena itu, ketika Yuri Zhivago berusaha mempertahankan dirinya sebagai dokter, penyair, dan manusia biasa di tengah perubahan sosial yang dahsyat, pembaca Indonesia dapat menemukan gema pengalaman yang tidak sepenuhnya asing. Kita hidup di negeri yang berkali-kali mengalami perubahan arah politik, tetapi selalu menyisakan pertanyaan yang sama: bagaimana manusia mempertahankan nuraninya ketika zaman sedang berubah Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan di era sekarang.
Hari ini dunia tidak lagi dibelah oleh Perang Dingin sebagaimana ketika Pasternak hidup. Namun manusia tetap menghadapi tekanan baru: polarisasi politik, arus informasi yang tak pernah berhenti, fanatisme identitas, dan kecenderungan untuk melihat orang lain bukan sebagai manusia, melainkan sebagai bagian dari kelompok tertentu.
Dalam situasi seperti itu, Doctor Zhivago mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting. Bahwa manusia lebih besar daripada identitas politiknya. Bahwa seseorang tidak harus kehilangan kemanusiaannya demi membuktikan kesetiaannya kepada suatu ide. Bahwa cinta, belas kasih, kesedihan, dan pencarian makna tetap merupakan pengalaman universal yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh teori apa pun.
Mungkin karena alasan itu pula novel ini memperoleh tempat yang cukup istimewa di Indonesia. Salah satu edisi yang dikenal luas adalah terjemahan Dokter Zhivago oleh Trisno Sumardjo yang diterbitkan Djambatan. Kehadiran terjemahan tersebut memperlihatkan bahwa pergulatan Yuri Zhivago ternyata mampu berbicara kepada pembaca Indonesia lintas generasi.
Dalam tulisannya yang berjudul Boris Pasternak: Suatu Pandangan dari Indonesia, Soedjatmoko berpendapat bahwa karya sastra yang besar selalu memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk mendekati kebenaran melalui pengalaman batin yang dihadirkan oleh pengarang. Menurutnya, sebuah karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai cerita atau hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk memahami kesadaran manusia dan realitas kehidupan dari berbagai sudut pandang. Oleh karena itu, setiap pembaca dapat menemukan makna yang berbeda sesuai dengan pengalaman dan perspektifnya masing-masing (Soedjatmoko, 1967).
Berangkat dari pandangan tersebut, Soedjatmoko menilai Doctor Zhivago karya Boris Pasternak sebagai novel yang berhasil menggambarkan revolusi bukan sekadar sebagai peristiwa politik, melainkan sebagai proses sejarah yang memengaruhi kehidupan manusia secara mendalam. Pasternak tidak menempatkan pembaca di pusat kekuasaan atau di tengah pengambil keputusan politik, tetapi mengajak melihat revolusi dari sudut pandang individu yang berada jauh dari pusat peristiwa. Dengan cara itu, revolusi tampak sebagai kekuatan besar yang mengubah kehidupan manusia, sering kali tanpa dapat dipahami sepenuhnya oleh mereka yang mengalaminya secara langsung (Soedjatmoko, 1967).
Melalui tokoh Yury Zhivago, Pasternak menunjukkan bagaimana seorang individu harus berhadapan dengan perubahan sosial dan politik yang berlangsung secara drastis. Zhivago pada awalnya memiliki simpati terhadap revolusi karena melihatnya sebagai harapan akan pembaruan dan pembebasan masyarakat Rusia. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyaksikan munculnya pemaksaan, kekerasan, dan berbagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pengalaman tersebut membuatnya semakin sulit mempertahankan keyakinan idealistis terhadap revolusi yang sedang berlangsung (Soedjatmoko, 1967).
Bagi Soedjatmoko, kekuatan utama Doctor Zhivago terletak pada kemampuannya menempatkan manusia sebagai pusat perhatian di tengah arus sejarah yang begitu besar. Novel ini tidak berusaha mengagungkan suatu ideologi ataupun memberikan penilaian politik secara sederhana, melainkan memperlihatkan bagaimana manusia berusaha mempertahankan martabat, cinta, dan makna hidup ketika berhadapan dengan perubahan zaman yang penuh gejolak. Melalui kisah Zhivago, Pasternak menegaskan bahwa kehidupan tidak dapat direduksi menjadi teori politik atau doktrin tertentu karena hakikat kehidupan selalu lebih luas, lebih kompleks, dan lebih kaya daripada konsep-konsep yang diciptakan manusia (Soedjatmoko, 1967).
Dengan demikian, Soedjatmoko memandang Doctor Zhivago sebagai karya sastra yang tidak hanya berbicara tentang Revolusi Rusia, tetapi juga tentang persoalan universal yang dihadapi manusia, seperti kebebasan, cinta, penderitaan, dan pencarian makna hidup. Nilai-nilai kemanusiaan yang diangkat Pasternak menjadikan novel tersebut relevan melampaui konteks sejarah Rusia dan mampu berbicara kepada pembaca dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia (Soedjatmoko, 1967).
Yang menarik, pembaca Indonesia sering datang kepada novel ini bukan karena ingin memahami Revolusi Rusia. Mereka datang karena mencari cerita tentang manusia. Dan Pasternak memang menulis tentang manusia. Bahkan ketika berbicara tentang sejarah. Bahkan ketika berbicara tentang revolusi. Bahkan ketika berbicara tentang kematian.
Di tengah seluruh gejolak yang mengisi novel tersebut, Pasternak tidak pernah kehilangan keyakinannya bahwa kehidupan sehari-hari memiliki martabatnya sendiri. Ia percaya bahwa percakapan sederhana, kenangan masa kecil, suara burung di ladang, salju yang turun di malam hari, atau seseorang yang diam-diam mencintai orang lain merupakan bagian penting dari sejarah manusia.
Pandangan seperti ini terasa sangat dekat dengan tradisi sastra Indonesia yang terbaik. Dari Pramoedya Ananta Toer hingga Ahmad Tohari, dari Mochtar Lubis hingga Umar Kayam, kita menemukan perhatian yang sama terhadap manusia biasa yang berusaha bertahan di tengah arus sejarah yang lebih besar daripada dirinya. Karena itu membaca Doctor Zhivago sebenarnya bukan hanya membaca Rusia. Membaca Doctor Zhivago adalah membaca kemungkinan-kemungkinan manusia.
***
Penutup
Pada akhirnya, Doctor Zhivago tidak bertahan karena kontroversi Nobel, sensor Soviet, atau kisah penyelundupan naskahnya yang dramatis. Semua itu penting bagi sejarah sastra, tetapi bukan alasan utama mengapa novel ini terus dibaca.
Yang membuatnya hidup adalah kemampuannya menjaga sesuatu yang sering hilang dalam zaman yang gaduh: perhatian kepada manusia.
Boris Pasternak menulis tentang revolusi, tetapi ia tidak menjadikan revolusi sebagai tokoh utama. Ia menulis tentang perang, tetapi perang bukan pusat ceritanya. Ia menulis tentang ideologi, tetapi ideologi bukan tujuan akhirnya.
Yang selalu kembali ia bicarakan adalah manusia—manusia yang mencintai, kehilangan, berharap, gagal, mengingat, dan terus mencari makna hidup di tengah dunia yang berubah.
Di situlah letak kebesaran Doctor Zhivago. Ia tidak mengajak pembacanya memilih kubu. Ia mengajak pembacanya memahami kehidupan.
Dan ketika halaman terakhir ditutup, pembaca tidak membawa pulang kesimpulan politik tertentu. Yang dibawa pulang adalah kesadaran yang lebih sunyi: bahwa sejarah boleh saja bergerak dengan segala kebesarannya, tetapi nilai kehidupan pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan manusia menjaga nurani, cinta, dan kemanusiaannya.
Barangkali karena itulah Yuri Zhivago masih berjalan bersama kita hingga hari ini. Bukan sebagai tokoh Rusia. Bukan sebagai saksi revolusi.
Melainkan sebagai manusia yang mengingatkan manusia lain bahwa di tengah segala perubahan zaman, tugas yang paling sulit sekaligus paling mulia tetap sama: tetap menjadi manusia.
***
Referensi
Barnes, Christopher. 1989. Boris Pasternak: A Literary Biography. 2 vols. Cambridge: Cambridge University Press.
Davidson, Pamela. 2009. “Pasternak’s Letters to C.M. Bowra (1945–1956).” Dalam The Life of Boris Pasternak’s Doctor Zhivago, diedit oleh Lazar Fleishman. Oakland: Berkeley Slavic Specialties.
Editors of Novyi Mir. 1960. “Doctor Zhivago: Letter to Boris Pasternak from the Editors of Novyi Mir.” Daedalus 89 (3): 648–668.
Fleishman, Lazar, ed. 2009. The Life of Boris Pasternak’s Doctor Zhivago. Oakland: Berkeley Slavic Specialties.
Kozlov, Denis. 2013. The Readers of Novyi Mir: Coming to Terms with the Stalinist Past. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Pasternak, Boris. 1958. Doctor Zhivago. Translated by Max Hayward and Manya Harari. New York: Pantheon Books.
Pasternak, Boris. 1990. Dokter Zhivago. Terjemahan Trisno Sumardjo. Jakarta: Djambatan.
Soedjatmoko. 1967. “Boris Pasternak: Suatu Pandangan dari Indonesia.” Dalam Dokter Zhivago, terjemahan Trisno Sumardjo. Jakarta: Djambatan.
*Pageland, 4-7-2026

Komentar
Posting Komentar