Labirin Kebenaran: Pengetahuan, Kesalehan, dan Kekuasaan dalam The Name of the Rose karya Umberto Eco



Prolog: Membaca Labirin, Membaca Diri

Jam makan siang di Bandung selalu punya cara tersendiri untuk menghadirkan ketenangan. Di sela kesibukan dan hiruk-pikuk kota, sambil minum kopi saya kembali membuka catatan tentang The Name of the Rose karya Umberto Eco. Setelah beberapa hari menulis secara bertahap—di rumah dan di berbagai kesempatan luang termasuk dalam perjalanan menuju Bandung—akhirnya tulisan ini hampir mencapai garis akhir. Kini yang tersisa hanyalah bagian penutup dan bibliografi.

Perjalanan menyusun tulisan ini ternyata lebih panjang dari yang semula saya bayangkan. Setiap halaman novel membuka ruang untuk refleksi baru tentang pengetahuan, kekuasaan, iman, dan pencarian kebenaran. Sedikit demi sedikit, paragraf demi paragraf disusun hingga membentuk sebuah ulasan yang cukup panjang.

Pada siang yang hangat ini, sambil menikmati suasana hotel di kota Bandung, saya menuntaskan bagian-bagian terakhir dengan rasa syukur. Apa yang bermula sebagai catatan sederhana kini telah berkembang menjadi sebuah tulisan yang utuh.

Dengan selesainya penutup dan bibliografi, tulisan ini akhirnya siap disajikan kepada para pembaca yang budiman. Semoga uraian yang sederhana ini dapat menjadi teman berdiskusi, menambah wawasan, serta mengundang minat untuk mengenal lebih dekat mahakarya Umberto Eco yang kaya makna dan penuh misteri. 

The Name of the Rose karya Umberto Eco  tidak sekadar menceritakan serangkaian pembunuhan misterius di sebuah biara Benediktin abad ke-14. Ia adalah sebuah mesin pemikiran yang mengubah perpustakaan menjadi medan pertarungan ide, mengubah kitab menjadi sumber kekuasaan, dan mengubah kesalehan menjadi kemungkinan lahirnya kekerasan. Buku yang sedang kita ulas ini—The Name of the Rose: Kejahatan Bisa Muncul dari Kesalehan—berusaha memasuki mesin pemikiran itu dari berbagai pintu. Judulnya provokatif, tetapi justru karena itulah ia menarik: bagaimana mungkin kejahatan lahir dari kesalehan?

Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan sekadar pertanyaan moral. Ia adalah pertanyaan epistemologis dan politik. Sejak awal pembaca diajak menyadari bahwa masalah utama dalam dunia Eco bukan siapa pembunuhnya, melainkan siapa yang berhak menentukan kebenaran. Di sinilah letak daya tarik pembacaan yang ditawarkan buku ini. Kejahatan tidak hadir pertama-tama sebagai tindakan kriminal, melainkan sebagai konsekuensi dari klaim pengetahuan yang tidak bisa digugat. Ketika kebenaran dianggap selesai dan mutlak berada di tangan satu otoritas, pencarian pengetahuan berubah menjadi ancaman. Dalam konteks itu, perpustakaan bukan lagi gudang buku, melainkan benteng kekuasaan.

Tulisan St. Sunardi yang membuka buku ini, “Tujuh Hari Terakhir di Labirin”, menunjukkan dengan baik bahwa labirin dalam karya Eco bukan sekadar ruang fisik tempat rahasia disimpan. Labirin adalah metafora dunia manusia yang selalu lebih rumit daripada sistem apa pun yang berusaha menjelaskannya. Manusia berjalan di dalam jaringan tanda-tanda yang tidak pernah sepenuhnya transparan. Setiap penafsiran membuka kemungkinan penafsiran lain. Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Karena itu, tokoh William of Baskerville tidak tampil sebagai pahlawan yang menemukan kebenaran final, melainkan sebagai sosok yang menyadari keterbatasan setiap pengetahuan manusia. Dalam arti tertentu, William lebih dekat kepada tradisi skeptisisme filosofis daripada kepada figur detektif klasik yang selalu berhasil menyusun seluruh teka-teki secara sempurna.

Di titik ini Eco memperlihatkan hutangnya kepada tradisi intelektual yang panjang. Nama William sendiri sering dianggap sebagai penghormatan kepada William of Ockham, tokoh nominalisme yang menolak keberadaan universal sebagai realitas mandiri. Bagi Ockham, yang ada hanyalah individu-individu konkret; kategori-kategori umum hanyalah alat bahasa (Ockham: 1990). Pandangan ini memiliki konsekuensi besar. Jika tidak ada akses langsung kepada kebenaran universal yang sempurna, maka manusia harus hidup dalam dunia tanda, dugaan, dan interpretasi. Di sinilah akar semiotika Eco. Dunia menjadi teks yang harus dibaca, tetapi tidak pernah selesai dibaca.

Perspektif demikian membuat novel Eco berbeda dari novel detektif biasa. Pembunuhan memang terjadi. Misteri memang harus dipecahkan. Namun yang sesungguhnya diselidiki adalah hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Dalam banyak bagian, Eco tampak mengembangkan intuisi yang kelak dipopulerkan oleh Michel Foucault bahwa pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu terkait dengan mekanisme pengaturan, klasifikasi, dan pengendalian (Foucault: 1972). Perpustakaan dalam The Name of the Rose berfungsi hampir seperti arsip dalam analisis Foucault: sebuah ruang yang menentukan apa yang boleh diketahui, siapa yang boleh mengetahui, dan sejauh mana pengetahuan itu dapat beredar.

Namun Eco tidak berhenti pada kritik kekuasaan. Ia juga mengajukan kritik terhadap kecenderungan religius yang kehilangan kemampuan tertawa. Salah satu tema paling penting dalam novel ini adalah pertarungan mengenai makna humor. Buku Aristoteles tentang komedi yang hilang menjadi pusat seluruh konflik. Mengapa sebuah buku tentang tawa dianggap begitu berbahaya? Karena tawa memiliki kemampuan merelatifkan otoritas. Tawa mengingatkan manusia bahwa tidak ada institusi yang sepenuhnya sakral dalam pengertian politik. Tawa membongkar ketakutan yang sering menjadi fondasi kekuasaan.

Dalam konteks ini, Eco seolah menghidupkan kembali semangat Erasmus of Rotterdam dalam The Praise of Folly (1511). Erasmus menunjukkan bahwa kritik paling tajam terhadap kekuasaan religius sering datang bukan dari kemarahan, melainkan dari ironi. Humor menjadi bentuk kebijaksanaan karena ia mencegah manusia jatuh ke dalam fanatisme. Maka ketika tokoh Jorge berusaha menghapus kemungkinan tertawa, yang sesungguhnya ia pertahankan bukan iman, melainkan rezim kepastian.

Di sinilah relevansi judul buku ini menjadi jelas. “Kejahatan bisa muncul dari kesalehan” bukan berarti kesalehan identik dengan kejahatan. Yang hendak diperlihatkan adalah paradoks ketika kesalehan kehilangan kerendahan hati intelektual. Kesalehan yang tidak lagi membuka ruang bagi pertanyaan mudah berubah menjadi ideologi. Ia tidak lagi mencari Tuhan, melainkan mempertahankan dirinya sendiri. Pada titik tertentu, yang dibela bukan kebenaran, tetapi otoritas yang mengaku mewakili kebenaran.

Gagasan semacam ini memiliki akar yang panjang dalam sejarah pemikiran Barat. Saint Augustine pernah mengingatkan bahwa kesombongan rohani merupakan bentuk dosa yang paling sulit dikenali karena sering menyamar sebagai kebajikan (Augustine: 1998). Berabad-abad kemudian, Søren Kierkegaard mengkritik agama yang terlalu nyaman dengan institusi sehingga kehilangan kegelisahan eksistensialnya (Kierkegaard: 1846/1992). Eco bergerak dalam garis tradisi yang sama. Ia tidak menyerang agama sebagai pengalaman spiritual. Ia justru mengingatkan bahaya ketika agama berubah menjadi sistem tertutup yang menolak dialog dengan kenyataan.

Yang menarik, buku ini tidak mengajak pembaca mengambil posisi antiagama. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pencarian kebenaran justru membutuhkan keberanian religius yang lebih dalam. Kesediaan untuk mengakui keterbatasan pengetahuan manusia bukan tanda kelemahan iman, melainkan bentuk kedewasaan spiritual. Dalam pengertian ini, William dan Jorge bukan sekadar dua tokoh fiksi. Mereka mewakili dua cara berada di dunia: yang pertama memandang kebenaran sebagai perjalanan tanpa akhir, yang kedua menganggap kebenaran sebagai kepemilikan yang harus dijaga dengan segala cara.

Karena itu, membaca Eco hari ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam zaman ketika banjir informasi sering menghasilkan kepastian palsu. Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi penjaga kebenarannya sendiri. Algoritma menciptakan labirin-labirin baru yang jauh lebih rumit daripada perpustakaan abad pertengahan. Ironisnya, semakin banyak informasi beredar, semakin kuat pula godaan untuk menyederhanakan dunia menjadi hitam dan putih. Dalam situasi demikian, pelajaran paling penting dari The Name of the Rose mungkin bukan tentang siapa pembunuhnya, melainkan tentang bagaimana manusia harus hidup di tengah ketidakpastian.

Eco mengingatkan bahwa pengetahuan sejati tidak lahir dari klaim telah menemukan seluruh jawaban. Ia lahir dari kesediaan untuk terus bertanya. Labirin tidak harus dihancurkan. Yang diperlukan adalah keberanian untuk berjalan di dalamnya.

Perpustakaan yang Terbakar, Pengetahuan yang Ditakuti: Profil Lengkap Novel The Name of the Rose (Il nome della rosa) karya Umberto Eco

The Name of the Rose (Italia: Il nome della rosa) merupakan novel pertama karya Umberto Eco yang terbit pertama kali di Italia pada tahun 1980 oleh penerbit Bompiani. Novel ini segera memperoleh perhatian luas karena berhasil memadukan novel detektif, filsafat, teologi, sejarah Gereja Abad Pertengahan, semiotika, dan metafiksi dalam satu karya yang kompleks namun tetap populer. Sejak terbit, novel ini memenangkan Premio Strega 1981 dan kemudian menjadi salah satu novel Italia paling sukses pada abad ke-20 dengan penjualan puluhan juta eksemplar serta diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia (Eco, 1980). Kisahnya berlatar sebuah biara Benediktin di Italia Utara pada tahun 1327 dan berpusat pada penyelidikan serangkaian kematian misterius yang dilakukan oleh biarawan Fransiskan William of Baskerville bersama novis muda Adso dari Melk (Eco, 1980).

Edisi asli novel ini terbit dengan judul Il nome della rosa pada tahun 1980 dalam bahasa Italia. Edisi pertama diterbitkan dalam format hardcover oleh Bompiani di Milan dan segera menjadi fenomena sastra di Italia. Keberhasilan edisi Italia mendorong penerbitan ulang dalam berbagai cetakan dan edisi kritis berikutnya. Dalam sejarah bibliografinya, edisi pertama tahun 1980 sering dianggap sebagai salah satu terbitan sastra Italia modern yang paling berpengaruh karena menandai peralihan Eco dari akademisi dan ahli semiotika menjadi novelis internasional (Eco, 1980).

Keberhasilan internasional novel ini terutama ditunjang oleh terjemahan bahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 1983 dengan judul The Name of the Rose. Terjemahan tersebut dikerjakan oleh William Weaver dan diterbitkan oleh Secker & Warburg di Inggris serta kemudian oleh Harcourt Brace Jovanovich di Amerika Serikat (Eco, 1983). Terjemahan Weaver memperoleh pujian luas karena berhasil mempertahankan kompleksitas intelektual, permainan bahasa Latin, dan nuansa abad pertengahan yang menjadi ciri khas karya Eco. Banyak kritikus bahkan menilai keberhasilan global novel tersebut tidak dapat dilepaskan dari kualitas penerjemahan Weaver yang sangat cermat (Di Camillo, 2020).

Di dunia berbahasa Jerman, novel ini diterbitkan dengan judul Der Name der Rose. Terjemahannya dikerjakan oleh Burkhart Kroeber dan diterbitkan oleh penerbit Jerman besar pada awal dekade 1980-an. Edisi Jerman memperoleh sambutan yang sangat positif dan menjadi salah satu karya sastra asing terlaris di negara-negara berbahasa Jerman. Keberhasilan tersebut memperkuat posisi Eco sebagai salah satu novelis Eropa terpenting pada akhir abad ke-20 (Eco, 1982).

Dalam bahasa Indonesia, novel ini diterjemahkan dengan judul The Name of the Rose dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Edisi Indonesia menggunakan terjemahan oleh Nin Bakdi Soemanto dengan ISBN 978-602-291-291-0 dan memuat 692 halaman. Terjemahan ini memperkenalkan pembaca Indonesia pada dunia semiotika, filsafat abad pertengahan, dan misteri intelektual khas Eco yang sebelumnya lebih dikenal di lingkungan akademik (Eco, 2017). Selain bahasa Inggris, Jerman, dan Indonesia, novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis (Le Nom de la Rose), Spanyol (El Nombre de la Rosa), Portugis (O Nome da Rosa), Belanda (De Naam van de Roos), Rusia, Jepang, Korea, Arab, Mandarin, dan puluhan bahasa lainnya, menjadikannya salah satu novel Italia paling banyak diterjemahkan pada era modern (Di Camillo, 2020).

Dari segi struktur, novel ini disusun dengan sangat unik. Eco menampilkan kerangka naratif berupa manuskrip yang konon ditemukan kembali dan diterjemahkan oleh narator modern. Setelah bagian pengantar yang dikenal sebagai Naturally, a Manuscript, cerita utama dibagi ke dalam tujuh hari yang mengikuti jam-jam kanonik kehidupan monastik abad pertengahan, seperti Matins, Lauds, Prime, Terce, Sext, Nones, Vespers, dan Compline (Eco, 1980). Hari Pertama terdiri atas Prime, Terce, Sext, Toward Nones, After Nones, Vespers, dan Compline. Hari Kedua memuat Matins, Prime, Terce, Sext, Nones, After Vespers, Compline, dan Night. Hari Ketiga hingga Hari Ketujuh mengikuti pola serupa dengan pembagian waktu liturgis yang semakin memperkuat atmosfer kehidupan biara abad ke-14 (Eco, 1980).

Isi novel menggabungkan lapisan cerita detektif dengan refleksi filosofis yang mendalam. Pada tingkat permukaan, kisahnya merupakan penyelidikan terhadap kematian sejumlah biarawan yang tampaknya berkaitan dengan kitab Wahyu dalam Alkitab. William of Baskerville menggunakan logika, observasi empiris, dan metode deduksi untuk memecahkan misteri tersebut. Namun pada tingkat yang lebih dalam, novel ini membahas konflik antara iman dan rasionalitas, otoritas dan kebebasan berpikir, teks dan interpretasi, serta hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan (Eco, 1980). Perpustakaan labirin yang menjadi pusat cerita bukan sekadar lokasi fisik, melainkan simbol dari kompleksitas pengetahuan manusia dan keterbatasan kemampuan manusia dalam mencapai kebenaran mutlak (Eco, 1980).

Tokoh William of Baskerville sering dipandang sebagai gabungan figur Sherlock Holmes dan filsuf abad pertengahan William of Ockham. Melalui karakter ini, Eco memperlihatkan pentingnya penalaran kritis dalam menghadapi dogma dan takhayul. Sebaliknya, tokoh Jorge dari Burgos mewakili pandangan konservatif yang melihat tawa, humor, dan kebebasan intelektual sebagai ancaman terhadap stabilitas iman. Konflik antara keduanya mencapai puncaknya ketika terungkap bahwa naskah yang diperebutkan adalah buku kedua Poetics karya Aristotle yang membahas komedi dan tawa, sebuah karya yang diyakini hilang dalam sejarah intelektual Barat (Eco, 1980).

Secara tematik, The Name of the Rose merupakan eksplorasi mendalam mengenai proses penafsiran. Eco menunjukkan bahwa tanda, simbol, teks, dan bahasa tidak pernah memiliki satu makna tunggal. Pembaca diajak mengikuti proses interpretasi sebagaimana William menafsirkan petunjuk-petunjuk misterius di biara. Oleh karena itu, novel ini tidak hanya berfungsi sebagai cerita kriminal historis, tetapi juga sebagai refleksi epistemologis mengenai bagaimana manusia memahami dunia melalui sistem tanda dan bahasa (Eco, 1980). Pendekatan ini mencerminkan latar belakang akademik Eco sebagai ahli semiotika yang sebelumnya banyak menulis tentang teori tanda dan komunikasi (Eco, 1984).

Warisan novel ini sangat besar dalam dunia sastra modern. Selain melahirkan banyak kajian akademik dalam bidang sastra, sejarah, teologi, filsafat, dan semiotika, novel ini juga diadaptasi menjadi film terkenal tahun 1986 yang disutradarai Jean-Jacques Annaud dan dibintangi Sean Connery serta Christian Slater. Adaptasi tersebut memperluas jangkauan pembaca dan memperkuat posisi The Name of the Rose sebagai karya klasik sastra dunia kontemporer (McManus, 2024).

Barangkali tidak ada bangunan yang lebih sering dipuja sekaligus dicurigai dalam sejarah peradaban selain perpustakaan. Ia dibangun untuk menyimpan pengetahuan, tetapi berkali-kali pula dihancurkan justru karena pengetahuan yang disimpannya. Dari Alexandria hingga Baghdad, dari indeks buku-buku terlarang Gereja hingga pembakaran buku oleh rezim totaliter abad kedua puluh, sejarah menunjukkan satu pola yang berulang: manusia sering memuji pengetahuan, tetapi tidak selalu mencintai kebebasan yang lahir darinya.

Dalam dunia The Name of the Rose, paradoks itu menjelma menjadi sebuah perpustakaan raksasa yang berdiri di pusat biara. Bangunan itu bukan sekadar latar cerita. Ia adalah tokoh utama yang diam. Semua jalan akhirnya menuju ke sana. Semua kematian berhubungan dengannya. Semua ketakutan bersumber darinya. Jika novel detektif biasa menjadikan pembunuh sebagai pusat misteri, Eco justru menjadikan perpustakaan sebagai pusat rahasia.

Pilihan ini tidak kebetulan. Umberto Eco adalah seorang semiolog sebelum menjadi novelis. Ia memahami bahwa bangunan tidak pernah sekadar bangunan. Setiap ruang mengandung struktur makna. Perpustakaan dalam novel itu adalah metafora peradaban Barat sendiri: sebuah gudang pengetahuan yang terus bertambah, tetapi sekaligus sebuah labirin yang semakin sulit dipahami. Semakin banyak manusia mengetahui, semakin besar pula kesadarannya tentang apa yang belum diketahuinya.

Karena itu perpustakaan Eco bukan ruang yang terang sebagaimana citra modern tentang pusat ilmu pengetahuan. Ia justru gelap, berliku, penuh kode, dan dirancang agar tidak mudah diakses. Pengetahuan di sana bukan sesuatu yang dibagikan, melainkan sesuatu yang dijaga. Di sinilah Eco menggeser cara kita memandang hubungan antara ilmu dan kekuasaan. Yang dipersoalkan bukan lagi siapa yang memiliki senjata, melainkan siapa yang mengendalikan akses terhadap pengetahuan.

Pertanyaan ini sesungguhnya telah menghantui filsafat politik sejak lama. Dalam Republic, Plato membayangkan sebuah masyarakat yang dipimpin oleh para filsuf karena merekalah yang dianggap memiliki akses kepada kebenaran. Pengetahuan menjadi dasar legitimasi kekuasaan. Akan tetapi sejarah kemudian memperlihatkan bahwa hubungan itu tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Pengetahuan yang dimonopoli sering berubah menjadi instrumen dominasi.

Di titik ini Eco tampak lebih dekat kepada tradisi modern yang curiga terhadap setiap bentuk monopoli kebenaran. Perpustakaan biara tidak berbeda jauh dari institusi-institusi yang dikaji oleh Michel Foucault. Dalam banyak karya Foucault, pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan mekanisme pengawasan, klasifikasi, dan pengendalian (Foucault: 1972). Arsip, rumah sakit, penjara, sekolah, bahkan bahasa, menjadi perangkat yang menentukan apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap sesat. Perpustakaan dalam novel Eco menjalankan fungsi yang sama. Ia menyimpan pengetahuan sekaligus mengatur peredarannya.

Maka tidak mengherankan jika konflik utama novel ini pada akhirnya bukan konflik moral antara baik dan jahat. Konflik yang lebih mendasar adalah konflik antara keterbukaan dan penutupan pengetahuan. William of Baskerville mewakili keyakinan bahwa pengetahuan harus dicari melalui dialog, pengamatan, dan argumentasi. Sebaliknya, Jorge mewakili keyakinan bahwa ada pengetahuan tertentu yang terlalu berbahaya untuk diketahui.

Argumen Jorge tampaknya masuk akal. Bukankah tidak semua pengetahuan membawa kebaikan? Bukankah manusia dapat menyalahgunakan ilmu? Bukankah sejarah modern menunjukkan bagaimana sains dapat menghasilkan perang, kolonialisme, dan senjata pemusnah massal?

Namun Eco tidak sedang menolak kekhawatiran itu. Ia justru mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: siapa yang berhak menentukan pengetahuan mana yang boleh diketahui dan mana yang harus disembunyikan? Ketika satu kelompok mengklaim hak eksklusif untuk menjawab pertanyaan tersebut, masalah baru muncul. Penjagaan terhadap kebenaran perlahan berubah menjadi penyensoran. Perlindungan terhadap iman berubah menjadi ketakutan terhadap pemikiran.

Di sinilah simbol buku Aristoteles tentang komedi memperoleh makna yang jauh melampaui isi fisiknya. Yang ditakuti Jorge sebenarnya bukan buku itu sendiri. Yang ditakuti adalah kemungkinan bahwa pembaca akan belajar tertawa terhadap otoritas yang selama ini dianggap tidak dapat disentuh. Sebuah buku menjadi ancaman bukan karena ia mengandung kesalahan, tetapi karena ia membuka kemungkinan penafsiran baru.

Peristiwa ini mengingatkan pada sejarah panjang hubungan agama dan pengetahuan di Eropa. Konflik yang melibatkan Galileo Galilei sering dipahami sebagai pertentangan antara iman dan sains. Padahal persoalannya lebih rumit. Yang dipertaruhkan bukan sekadar fakta astronomi, melainkan otoritas untuk menentukan bagaimana kenyataan harus dipahami. Dalam arti tertentu, perpustakaan Eco adalah miniatur dari pergulatan besar itu.

Menariknya, Eco tidak menggambarkan Jorge sebagai tokoh jahat dalam pengertian sederhana. Ia bukan monster. Ia bukan penggemar kekerasan. Ia justru seorang asket yang sangat saleh. Di sinilah novel ini memperoleh kedalaman moralnya. Kejahatan tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang ia lahir dari keyakinan yang terlalu kuat bahwa tujuan suci harus dilindungi dengan segala cara.

Hannah Arendt pernah menggunakan istilah "banalitas kejahatan" untuk menjelaskan bagaimana tindakan mengerikan dapat dilakukan oleh orang-orang yang merasa sedang menjalankan kewajiban moral (Arendt: 1963). Eco tampaknya bergerak pada wilayah yang berdekatan. Jorge tidak membunuh demi keuntungan pribadi. Ia membunuh demi mempertahankan sebuah tatanan makna yang menurutnya suci. Justru karena itulah tindakannya menjadi mengerikan. Ketika seseorang yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang membela kebenaran mutlak, ruang bagi koreksi moral mulai menghilang.

Pembacaan seperti ini membuat judul buku Kejahatan Bisa Muncul dari Kesalehan terasa semakin tajam. Kesalehan tidak dipersoalkan sebagai nilai. Yang dipersoalkan adalah transformasi kesalehan menjadi ideologi tertutup. Kesalehan sejati lahir dari kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan Yang Transenden. Sebaliknya, ideologi lahir ketika manusia merasa telah menguasai seluruh kebenaran dan bertindak atas namanya.

Karena itu kebakaran perpustakaan pada bagian akhir novel memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar klimaks cerita detektif. Yang terbakar bukan hanya bangunan dan buku-buku. Yang terbakar adalah ilusi bahwa pengetahuan dapat dikurung selamanya. Api menghancurkan upaya manusia untuk memonopoli kebenaran. Ironisnya, api itu juga menghancurkan sebagian besar warisan intelektual yang hendak dilindungi.

Di hadapan reruntuhan itu William menyadari sesuatu yang sangat penting. Tidak semua misteri dapat dipecahkan. Tidak semua makna dapat diselamatkan. Peradaban selalu berdiri di atas kehilangan. Banyak buku hilang. Banyak gagasan musnah. Banyak jejak sejarah lenyap. Namun justru karena itulah pencarian pengetahuan harus terus dilakukan.

Di sini Eco meninggalkan wilayah novel detektif dan memasuki wilayah filsafat sejarah. Peradaban manusia bukan kisah kemenangan akal budi yang berjalan lurus menuju kemajuan. Ia lebih menyerupai perjalanan di dalam labirin yang berkali-kali terbakar lalu dibangun kembali. Setiap generasi mewarisi serpihan-serpihan makna dari generasi sebelumnya. Tidak ada yang memiliki keseluruhan peta.

Dan mungkin itulah pelajaran terdalam dari perpustakaan yang terbakar itu: pengetahuan tidak pernah benar-benar aman di dalam tembok, lemari, atau institusi. Ia hanya hidup selama ada manusia yang bersedia mencarinya, mempertanyakannya, dan mewariskannya kembali kepada generasi berikutnya.

Ketika Tawa Menjadi Bid'ah: Aristoteles, Jorge, dan Ketakutan terhadap Kebebasan

Di jantung The Name of the Rose, sesungguhnya tidak terdapat pembunuhan. Pembunuhan hanya gejala. Yang sesungguhnya menjadi pusat cerita adalah ketakutan. Ketakutan terhadap pengetahuan, ketakutan terhadap penafsiran, dan pada akhirnya ketakutan terhadap tawa.

Pilihan Eco menjadikan sebuah buku tentang komedi sebagai inti misteri merupakan keputusan yang sangat cerdas. Di tangan pengarang lain, mungkin pusat konflik akan berupa kitab sesat, dokumen politik rahasia, atau naskah yang mengandung ajaran bid'ah. Namun Eco justru memilih sesuatu yang tampak ringan: tawa. Di sinilah kedalaman intelektual novel itu mulai terlihat. Sebab yang dipersoalkan bukan tawa sebagai ekspresi psikologis, melainkan tawa sebagai peristiwa epistemologis.

Dalam adegan-adegan akhir novel, terungkap bahwa Jorge dari Burgos berusaha menyembunyikan buku kedua Poetics karya Aristoteles karena ia meyakini bahwa legitimasi filosofis terhadap komedi akan menghancurkan fondasi ketakutan yang menopang tatanan religius yang selama ini ia bela (Eco: 1980). Bagi Jorge, manusia membutuhkan rasa takut untuk tetap patuh. Jika manusia belajar menertawakan apa yang selama ini dianggap sakral, maka kewibawaan akan runtuh. Karena itu, yang ia lawan bukan Aristoteles sebagai individu, melainkan kemungkinan lahirnya manusia yang tidak lagi tunduk karena takut.

Dalam salah satu percakapan paling penting dalam novel, William mempertanyakan mengapa Jorge begitu takut terhadap sebuah buku tentang komedi, sementara banyak teks lain juga membahas humor. Jawaban Jorge mengandung inti seluruh tragedi itu: yang berbahaya bukan komedi biasa, melainkan komedi yang memperoleh legitimasi intelektual dari Aristoteles. Sebab jika Aristoteles menerima tawa sebagai bagian dari refleksi filosofis, maka dunia kaum terpelajar akan terbuka bagi kemungkinan mempertanyakan otoritas yang selama ini dianggap tidak tersentuh (Eco: 1980). Interpretasi ini juga ditegaskan oleh banyak kajian akademik mengenai novel tersebut yang melihat pertarungan William dan Jorge sebagai pertarungan antara keterbukaan intelektual dan dogmatisme. (LitCharts)

Di sinilah Eco menunjukkan kecemerlangannya sebagai semiolog. Ia memahami bahwa kekuasaan bekerja bukan hanya melalui institusi, tetapi juga melalui simbol. Dalam banyak masyarakat, sesuatu tidak berkuasa karena benar, melainkan karena tidak boleh ditertawakan. Aura kesucian sering kali dipelihara melalui larangan mempertanyakan. Ketika larangan itu hilang, legitimasi mulai retak.

Karena itu Jorge sesungguhnya sedang membela sebuah teori politik tentang ketakutan. Ia percaya bahwa manusia hanya dapat diarahkan melalui rasa takut terhadap kesalahan, dosa, hukuman, dan penyimpangan. Dalam logika semacam ini, tawa menjadi ancaman karena tawa membebaskan manusia dari rasa takut. Ketika seseorang tertawa, ia mengambil jarak dari objek yang ditakutinya. Ia tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kuasa objek tersebut.

Pandangan Jorge ini memiliki akar panjang dalam sejarah pemikiran religius. Pada banyak periode Abad Pertengahan memang terdapat kecurigaan terhadap komedi karena dianggap mengganggu keseriusan hidup rohani. Namun Eco secara sengaja memperbesar ketegangan itu hingga menjadi konflik filosofis. Jorge bukan hanya mewakili seorang rahib konservatif; ia mewakili cara berpikir yang menganggap kebenaran harus dilindungi dari pertanyaan.

Sebaliknya William dari Baskerville tampil sebagai representasi tradisi intelektual yang berbeda. Ia adalah pewaris semangat Aristoteles, Roger Bacon, dan William of Ockham. Dalam tradisi ini, kebenaran tidak dijaga dengan menutup pertanyaan, tetapi dengan membiarkan pertanyaan terus berlangsung. Karena itu William tidak pernah berbicara atas nama kepastian mutlak. Ia selalu bergerak melalui dugaan, observasi, dan koreksi. Bahkan setelah misteri terpecahkan, ia tetap menyadari bahwa banyak kesimpulannya bersifat tentatif (Eco: 1980).

Posisi William sangat dekat dengan apa yang kemudian dalam filsafat modern disebut fallibilism. Charles Sanders Peirce berpendapat bahwa setiap pengetahuan manusia selalu mungkin salah dan karena itu harus terbuka terhadap koreksi (Peirce: 1877). Gagasan serupa dikembangkan lebih jauh oleh Karl Popper yang menjadikan falsifikasi sebagai dasar perkembangan ilmu pengetahuan (Popper: 1959). Dalam perspektif ini, ketakutan terhadap kritik justru menunjukkan kelemahan suatu sistem pengetahuan.

Menariknya, Eco tidak mengembangkan tema tawa secara dangkal. Ia tidak sedang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus dijadikan bahan lelucon. Yang ia pertahankan adalah hak untuk mempertanyakan. Tawa penting karena ia membuka ruang keraguan. Dan keraguan penting karena ia menjaga manusia dari fanatisme.

Gagasan tersebut memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Mikhail Bakhtin mengenai tradisi karnaval dalam kebudayaan Eropa. Menurut Bakhtin, tawa memiliki fungsi sosial yang sangat penting karena memungkinkan masyarakat membalik sementara hierarki yang mapan dan melihat dunia dari perspektif berbeda (Bakhtin: 1968). Dalam ruang karnaval, raja dapat ditertawakan, imam dapat diparodikan, dan simbol-simbol kekuasaan kehilangan kekebalannya. Bukan untuk menghancurkan masyarakat, tetapi untuk mencegah kekuasaan berubah menjadi absolut.

Perspektif Bakhtin membantu menjelaskan mengapa Jorge begitu takut terhadap buku Aristoteles. Ia memahami secara intuitif apa yang kemudian dijelaskan secara teoritis oleh Bakhtin: bahwa tawa memiliki daya subversif. Tawa tidak selalu menggulingkan kekuasaan, tetapi ia menghancurkan klaim bahwa kekuasaan tidak boleh dipertanyakan.

Dalam konteks inilah kalimat terkenal Jorge memperoleh makna yang jauh lebih luas daripada sekadar konflik teologis. Ia takut pada dunia ketika "retorika keyakinan digantikan oleh retorika olok-olok" (Eco: 1980). Bagi Jorge, itu adalah bencana. Bagi William, justru di situlah kemungkinan kebebasan intelektual mulai terbuka.

Namun Eco tidak menyelesaikan perdebatan ini secara sederhana. Pada akhir novel, perpustakaan terbakar. Buku Aristoteles musnah. Pengetahuan yang diperebutkan tidak berhasil diselamatkan. Di sini Eco tampaknya ingin mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu berpihak pada akal budi. Banyak gagasan besar hilang sebelum sempat diwariskan. Banyak kemungkinan intelektual musnah karena ketakutan manusia terhadap kebebasan.

Akan tetapi justru dalam kehilangan itulah paradoks peradaban muncul. Buku boleh terbakar, tetapi pertanyaan tidak ikut terbakar. Naskah dapat hilang, tetapi pencarian makna tetap berlangsung. Jorge berhasil menghancurkan teks, tetapi gagal mematikan keingintahuan manusia.

Mungkin karena itu The Name of the Rose tidak berakhir sebagai kemenangan William maupun kekalahan Jorge. Novel ini berakhir sebagai pengakuan bahwa pencarian kebenaran selalu berlangsung di antara dua godaan besar: godaan kepastian dan godaan nihilisme. William menolak keduanya. Ia memilih jalan yang lebih sulit: hidup bersama pertanyaan.

Dan mungkin itulah sebabnya Eco menempatkan tawa di pusat kisahnya. Sebab hanya manusia yang mampu tertawa sekaligus berpikir. Dan hanya manusia yang berpikir yang mampu menyadari bahwa setiap kepastian, betapapun agungnya, selalu menyimpan kemungkinan untuk dipertanyakan kembali.

Bid'ah, Inkuisisi, dan Politik Kebenaran

Salah satu ironi terbesar dalam sejarah manusia adalah kenyataan bahwa pencarian kebenaran sering melahirkan lembaga yang justru takut kepada kebenaran. Pada awalnya agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan lahir dari hasrat memahami kenyataan. Namun ketika suatu tafsir berhasil memperoleh kekuasaan, fokusnya perlahan bergeser. Yang semula mencari kebenaran mulai sibuk menjaga otoritas. Yang semula mengajukan pertanyaan mulai mengawasi pertanyaan.

Tema inilah yang muncul semakin kuat dalam The Name of the Rose. Jika pada bagian sebelumnya pusat perhatian tertuju pada perpustakaan dan buku Aristoteles yang hilang, maka pada bagian ini Eco membawa pembaca kepada persoalan yang lebih luas: bagaimana suatu sistem kebenaran memperlakukan perbedaan.

Kehadiran Bernardo Gui dalam novel menjadi sangat penting dalam konteks ini. Berbeda dengan William of Baskerville yang memulai penyelidikan melalui observasi dan penalaran, Bernardo datang dengan keyakinan bahwa penyebab kejahatan telah diketahui sejak awal. Baginya, bid'ah adalah jawaban atas hampir semua persoalan. Karena itu tugas penyelidikan bukan menemukan kebenaran, melainkan membuktikan kebenaran yang telah diasumsikan sebelumnya (Eco: 1980).

Di sinilah Eco memperlihatkan perbedaan mendasar antara pencarian pengetahuan dan ideologi. Pengetahuan bergerak dari fakta menuju kesimpulan. Ideologi bergerak dari kesimpulan menuju fakta. Dalam pencarian pengetahuan, fakta memiliki hak untuk menggugat teori. Dalam ideologi, teori menentukan fakta mana yang boleh dianggap nyata.

Bernardo Gui bukan sekadar tokoh sejarah yang dipinjam Eco dari catatan abad pertengahan. Ia adalah simbol dari cara berpikir yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ketika membaca tokoh ini, sulit untuk tidak mengingat berbagai peristiwa dalam sejarah modern ketika negara, partai, agama, atau bahkan komunitas akademik tertentu menetapkan terlebih dahulu siapa yang salah sebelum proses pemeriksaan dimulai.

Dalam konteks itu, bid'ah menjadi konsep yang menarik. Secara etimologis, kata heresy berasal dari bahasa Yunani hairesis, yang pada mulanya berarti pilihan atau mazhab pemikiran. Namun dalam perkembangan sejarah Gereja, istilah tersebut berubah menjadi label bagi pandangan yang dianggap menyimpang dari ortodoksi (Pelikan: 1971). Perubahan makna ini menunjukkan bahwa persoalan bid'ah tidak pernah semata-mata teologis. Ia juga menyangkut siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan batas-batas kebenaran.

Eco memahami dengan baik dimensi politik dari konsep tersebut. Karena itu, para tertuduh dalam novel sering kali tidak diadili berdasarkan apa yang benar-benar mereka lakukan, melainkan berdasarkan posisi mereka dalam jaringan kekuasaan dan kecurigaan. Kebenaran menjadi kurang penting dibanding kebutuhan mempertahankan tatanan.

Fenomena ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan apa yang disebut Michel Foucault sebagai hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Menurut Foucault, setiap rezim pengetahuan menciptakan mekanisme yang membedakan antara yang benar dan yang salah, yang normal dan yang menyimpang, yang dapat diterima dan yang harus disingkirkan (Foucault: 1977). Dalam kerangka ini, bid'ah bukan sekadar kesalahan intelektual. Ia adalah kategori sosial yang diproduksi oleh suatu sistem kekuasaan.

Namun Eco tidak berhenti pada analisis struktural. Ia juga memperlihatkan dimensi psikologis dari perburuan bid'ah. Yang menarik, para pemburu bid'ah hampir selalu meyakini bahwa mereka sedang melakukan kebaikan. Bernardo tidak melihat dirinya sebagai pelaku ketidakadilan. Ia menganggap dirinya pelindung iman. Di sinilah tragedi mulai muncul.

Hannah Arendt, ketika menganalisis persidangan Adolf Eichmann, mengajukan gagasan yang kemudian terkenal sebagai the banality of evil—banalitas kejahatan (Arendt: 1963). Yang mengejutkan Arendt bukan keberadaan kejahatan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa pelakunya sering bukan monster. Mereka adalah orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara kritis dan menyerahkan penilaian moral kepada sistem yang lebih besar.

Bernardo Gui bergerak dalam pola yang serupa. Ia tidak digambarkan sebagai pribadi yang menikmati penderitaan orang lain. Yang lebih mengerikan adalah bahwa ia begitu yakin terhadap kebenaran prosedurnya sehingga tidak lagi mampu mempertanyakan konsekuensi moral dari tindakannya. Dalam dunia seperti itu, belas kasih dianggap kelemahan, sementara keraguan dipandang sebagai ancaman.

William berdiri pada posisi yang berlawanan. Ia menyadari bahwa kesalahan terbesar manusia bukan terletak pada ketidaktahuan, melainkan pada keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin salah. Karena itu William jauh lebih tertarik memahami bagaimana suatu kesimpulan diperoleh daripada sekadar mempertahankan kesimpulan tersebut. Sikap ini mencerminkan tradisi intelektual yang berakar pada Aristoteles, berkembang dalam nominalisme William of Ockham, dan kemudian menjadi fondasi metode ilmiah modern (Eco: 1980; Ockham: 1990).

Yang membuat novel ini tetap relevan hingga hari ini adalah kenyataan bahwa pola pikir Bernardo tidak pernah benar-benar hilang. Nama dan institusinya mungkin berubah, tetapi logikanya tetap sama. Setiap zaman memiliki mekanisme sendiri untuk memproduksi bid'ah. Di abad pertengahan, labelnya mungkin "sesat". Pada masa lain, ia bisa berupa "subversif", "anti-negara", "tidak patriotik", "tidak ilmiah", atau istilah lain yang berfungsi menutup diskusi sebelum diskusi dimulai.

Tentu tidak semua pandangan benar. Tidak semua gagasan layak dipertahankan. Namun Eco mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat membedakan antara membantah suatu gagasan dan membungkamnya. Membantah memerlukan argumen. Membungkam hanya memerlukan kekuasaan.

Dalam hal ini, The Name of the Rose sebenarnya bukan novel tentang agama semata. Ia adalah novel tentang kondisi manusia. Tentang kecenderungan kita untuk mencari kepastian. Tentang godaan untuk menyederhanakan kenyataan yang rumit. Tentang keinginan menjadikan dunia lebih tertib dengan menghilangkan perbedaan. Padahal kenyataan tidak pernah sesederhana itu.

Semakin William menyelidiki kasus pembunuhan di biara, semakin ia menemukan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut tidak tunduk pada satu penjelasan tunggal. Ada motif pribadi, ada konflik intelektual, ada ketakutan institusional, ada ambisi kekuasaan. Dunia tidak tersusun seperti silogisme yang rapi. Ia lebih menyerupai labirin yang penuh jalan bercabang.

Di sinilah salah satu pelajaran terdalam Eco berada. Fanatisme lahir ketika manusia menolak kompleksitas kenyataan. Ketika segala sesuatu dipaksa masuk ke dalam satu kategori besar—ortodoks atau bid'ah, benar atau salah, kawan atau lawan. Sebaliknya, kebijaksanaan lahir dari kesediaan menerima bahwa kenyataan sering lebih rumit daripada teori yang kita miliki.

Karena itu, perlawanan William terhadap Bernardo sesungguhnya bukan perlawanan antara iman dan rasio. Keduanya sama-sama religius. Yang dipertarungkan adalah dua cara memahami kebenaran. Yang satu melihat kebenaran sebagai kepemilikan yang harus dijaga. Yang lain melihat kebenaran sebagai horizon yang harus terus didekati.

Dan mungkin di situlah letak relevansi terbesar The Name of the Rose bagi zaman kita. Bukan pada misteri pembunuhannya, melainkan pada pertanyaan yang terus bergema setelah novel berakhir: apakah kita sungguh mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran bagi keyakinan yang sudah kita miliki?

Kemiskinan, Kekuasaan, dan Perebutan Tuhan

Jika pembaca hanya mengikuti alur pembunuhan dalam The Name of the Rose, mudah muncul kesan bahwa novel ini adalah kisah kriminal berlatar biara abad pertengahan. Namun semakin jauh memasuki dunia yang dibangun Umberto Eco, semakin tampak bahwa pembunuhan hanyalah permukaan. Di bawahnya berlangsung pertarungan intelektual, teologis, dan politik yang jauh lebih besar. Salah satu yang terpenting adalah perdebatan mengenai kemiskinan Kristus—persoalan yang mungkin terdengar teknis bagi pembaca modern, tetapi pada abad keempat belas merupakan isu yang dapat menentukan nasib kerajaan, paus, dan keselamatan jiwa manusia (Eco: 1980).

Pada pandangan pertama, sulit memahami mengapa persoalan apakah Kristus dan para rasul memiliki harta atau tidak dapat menimbulkan konflik begitu besar. Namun justru di situlah kecerdikan Eco. Ia menunjukkan bahwa perdebatan teologis tidak pernah hanya menyangkut langit. Di balik setiap tafsir tentang Tuhan sering tersembunyi pertanyaan tentang kekuasaan di bumi.

Latar historis novel ditempatkan pada masa ketika Gereja Latin sedang mengalami ketegangan serius terkait doktrin kemiskinan apostolik. Kelompok Fransiskan Spiritual berpendapat bahwa Kristus dan para rasul hidup tanpa kepemilikan apa pun, sehingga Gereja seharusnya meneladani kemiskinan tersebut. Sebaliknya, kepausan Avignon semakin terlibat dalam struktur politik dan ekonomi Eropa, sehingga pandangan itu dianggap berbahaya karena berpotensi menggugat legitimasi kekayaan institusi gerejawi (Eco: 1980; Lambert: 1998).

Karena itu perdebatan mengenai kemiskinan bukan sekadar perdebatan moral. Ia adalah perdebatan mengenai dasar legitimasi kekuasaan religius.

William of Baskerville datang ke biara bukan hanya untuk menyelidiki pembunuhan. Ia juga menjadi bagian dari delegasi yang akan menghadiri pertemuan antara wakil Fransiskan dan utusan kepausan. Banyak pembaca modern menganggap bagian ini sekadar latar sejarah. Padahal sesungguhnya di sinilah salah satu pusat gravitasi intelektual novel berada.

Eco memperlihatkan bahwa konflik agama sering kali tidak berakar pada perbedaan iman, melainkan pada perbedaan penafsiran terhadap konsekuensi sosial dari iman itu sendiri. Semua pihak mengaku mengikuti Kristus. Semua pihak membaca Kitab Suci. Semua pihak berbicara atas nama kebenaran. Namun dari sumber yang sama lahir kesimpulan yang berbeda.

Situasi ini mengingatkan pada pengamatan Hans-Georg Gadamer bahwa pemahaman manusia selalu berlangsung melalui horizon interpretasi tertentu. Tidak ada pembacaan yang benar-benar bebas dari konteks sejarah dan kepentingan (Gadamer: 1960). Apa yang disebut sebagai "ajaran murni" dalam praktiknya selalu hadir melalui penafsiran manusia yang terbatas.

Eco memanfaatkan kenyataan itu dengan sangat baik. Dalam novel ini tidak ada kelompok yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. Bahkan mereka yang berbicara tentang kemiskinan pun kadang terjebak dalam ambisi politik. Sebaliknya, mereka yang membela institusi tidak selalu digerakkan oleh niat buruk. Dunia Eco tidak mengenal pembagian sederhana antara malaikat dan iblis. Yang ada adalah manusia dengan keyakinan, ketakutan, dan kepentingannya masing-masing.

Karena itulah novel ini terasa sangat historis sekaligus sangat kontemporer.

Perdebatan mengenai kemiskinan Kristus sesungguhnya menyentuh persoalan yang terus muncul dalam sejarah agama-agama besar: sejauh mana institusi dapat mempertahankan kemurnian visi spiritual ketika ia menjadi bagian dari struktur kekuasaan?

Pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi Gereja abad pertengahan. Ia muncul dalam hampir semua tradisi religius. Setiap gerakan spiritual biasanya lahir dari kritik terhadap kemapanan. Namun ketika gerakan itu berkembang menjadi institusi, ia menghadapi godaan yang sama: kebutuhan akan stabilitas, organisasi, sumber daya, dan otoritas. Lambat laun muncul jarak antara ideal awal dan kenyataan historis.

Sosiolog agama Max Weber menyebut proses ini sebagai rutinisasi karisma (routinization of charisma), yakni transformasi pengalaman spiritual yang hidup menjadi struktur kelembagaan yang lebih permanen (Weber: 1922/1978). Proses ini hampir tidak terhindarkan. Tanpa institusi, suatu gerakan sulit bertahan. Namun melalui institusi pula muncul risiko birokratisasi dan formalisasi.

Ketegangan itulah yang menjadi latar intelektual The Name of the Rose. Kaum Fransiskan Spiritual memandang kemiskinan sebagai inti Injil. Bagi mereka, gereja yang terlalu dekat dengan kekayaan berisiko kehilangan kesaksian moralnya. Sebaliknya, pihak kepausan melihat posisi tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas gerejawi dan tatanan sosial yang lebih luas. Konflik itu pada akhirnya bukan hanya mengenai harta benda, tetapi mengenai definisi Gereja itu sendiri.

Eco tidak memaksa pembaca memilih salah satu kubu. Sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana setiap posisi dapat berubah menjadi dogma ketika kehilangan kemampuan mengkritik dirinya sendiri.

Di sinilah William kembali menjadi tokoh sentral. Ia tidak menolak pentingnya institusi, tetapi juga tidak mempercayai klaim-klaim absolut institusi. Ia memahami bahwa manusia membutuhkan organisasi untuk hidup bersama. Namun ia juga memahami bahwa tidak ada organisasi yang identik dengan kebenaran itu sendiri.

Sikap ini mencerminkan warisan intelektual William of Ockham yang sangat memengaruhi tokoh William dalam novel. Ockham berulang kali menolak kecenderungan mengidentikkan otoritas institusional dengan kebenaran mutlak. Baginya, kekuasaan manusia selalu terbatas dan karena itu harus terbuka terhadap kritik (McGrade: 1974).

Pandangan tersebut membuat William tampil unik di tengah dunia yang dipenuhi klaim kepastian. Ia tidak menjadi relativis. Ia tetap percaya pada kebenaran. Namun ia menolak menganggap bahwa manusia atau institusi tertentu telah memilikinya secara sempurna.

Barangkali di sinilah letak kedalaman filosofis novel Eco. Masalah terbesar bukanlah bahwa manusia berbeda pendapat. Perbedaan adalah konsekuensi alami dari keterbatasan manusia. Masalah muncul ketika perbedaan ditafsirkan sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Saat itulah diskusi berubah menjadi pengadilan. Argumentasi berubah menjadi anatema. Dan pencarian kebenaran berubah menjadi perebutan kekuasaan.

Dalam dunia biara yang digambarkan Eco, pembunuhan terjadi di tengah perdebatan mengenai kitab, kemiskinan, dan doktrin. Hal ini bukan kebetulan artistik. Eco ingin menunjukkan bahwa gagasan memiliki konsekuensi. Ide-ide tidak hidup di ruang hampa. Ia dapat membentuk institusi, menggerakkan massa, mengubah sejarah, bahkan menentukan hidup dan mati manusia.

Karena itu, membaca The Name of the Rose berarti membaca kembali salah satu pertanyaan paling tua dalam sejarah peradaban: apakah agama akan menjadi jalan menuju kerendahan hati, atau justru berubah menjadi instrumen legitimasi kekuasaan?

Eco tidak memberikan jawaban final. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap kali manusia berbicara atas nama Tuhan, pertanyaan pertama yang harus diajukan bukanlah apakah ia benar, melainkan apakah ia masih cukup rendah hati untuk mengakui kemungkinan dirinya salah.

William of Baskerville dan Lahirnya Akal Modern — Dari Aristoteles, Roger Bacon, hingga Sherlock Holmes

Di antara lorong-lorong gelap biara, manuskrip yang hilang, dan mayat para rahib yang ditemukan satu demi satu, Umberto Eco sebenarnya sedang mempertemukan dua zaman. Yang satu adalah dunia abad pertengahan yang masih dipenuhi simbol, mukjizat, dan otoritas religius. Yang lain adalah dunia modern yang percaya pada observasi, logika, dan penyelidikan empiris. Titik pertemuan kedua dunia itu bernama William of Baskerville.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa William adalah tokoh paling penting dalam keseluruhan novel. Bahkan misteri pembunuhan pada akhirnya hanya menjadi sarana untuk memperlihatkan cara berpikirnya. Jika Jorge melambangkan otoritas tradisional yang mencari kepastian, William melambangkan lahirnya kesadaran intelektual baru yang menerima kemungkinan kesalahan sebagai bagian dari pencarian kebenaran (Eco: 1980).

Nama "Baskerville" tentu bukan kebetulan. Eco secara sadar memberi penghormatan kepada Sherlock Holmes melalui novel The Hound of the Baskervilles. Adso sendiri mengingatkan pembaca pada Watson. Namun hubungan itu lebih dalam daripada sekadar permainan sastra. William adalah Sherlock Holmes yang hidup dalam dunia abad pertengahan. Atau mungkin lebih tepat: Sherlock Holmes adalah William yang lahir kembali dalam dunia modern.

Eco pernah menjelaskan bahwa dirinya tertarik pada figur penyelidik yang tidak mencari pelaku semata, melainkan mencari pola di balik peristiwa-peristiwa yang tampak acak. Karena itu William selalu bergerak melalui tanda-tanda. Ia membaca jejak kaki, posisi benda, perilaku manusia, susunan perpustakaan, bahkan kesalahan-kesalahan kecil yang dianggap tidak penting oleh orang lain (Eco: 1980).

Cara berpikir ini berakar pada tradisi semiotika yang menjadi bidang keahlian Eco sendiri. Dunia bagi William adalah jaringan tanda. Tidak ada fakta yang berbicara sendiri. Fakta harus ditafsirkan. Tetapi penafsiran juga tidak boleh dilepaskan dari bukti.

Di sinilah William menjadi menarik. Ia tidak jatuh ke dalam dogmatisme, tetapi juga tidak terjebak dalam relativisme. Ia selalu berada di antara keduanya.

Dalam salah satu refleksi paling penting novel, William mengakui bahwa banyak kesimpulan yang ia capai sesungguhnya lahir dari rangkaian dugaan yang belum tentu benar seluruhnya (Eco: 1980). Pengakuan ini sangat penting. Seorang penyelidik besar justru ditandai oleh kesadarannya akan keterbatasan dirinya sendiri.

Di sini Eco sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada teknik detektif. Ia sedang menggambarkan lahirnya mentalitas ilmiah.

Tradisi intelektual yang diwakili William dapat ditelusuri kepada beberapa tokoh besar Abad Pertengahan. Yang pertama adalah Roger Bacon. Bacon menolak ketergantungan berlebihan pada otoritas dan menekankan pentingnya pengalaman empiris dalam memperoleh pengetahuan (Bacon: 1267/1928). Dalam pandangannya, manusia harus menguji kenyataan, bukan sekadar mengutip teks.

Warisan Bacon tampak jelas dalam cara William bekerja. Ia tidak menerima rumor begitu saja. Ia tidak puas dengan penjelasan yang hanya terdengar masuk akal. Ia selalu mencari bukti tambahan. Sikap ini sangat berbeda dari mayoritas tokoh lain dalam novel yang lebih suka memulai dari keyakinan lalu mencari pembenarannya.

Tokoh kedua yang sangat memengaruhi William adalah William of Ockham. Dari Ockham, Eco mengambil semangat nominalisme dan skeptisisme metodologis. Prinsip terkenal yang kemudian dikenal sebagai Ockham's Razor mengajarkan bahwa penjelasan yang tidak perlu rumit lebih layak dipilih dibanding penjelasan yang menambah asumsi tanpa alasan memadai (Ockham: 1990).

Prinsip tersebut tampak berulang kali dalam penyelidikan William. Ketika para rahib tergoda menjelaskan kematian melalui campur tangan iblis atau nubuat apokaliptik, William justru mencari penyebab yang lebih sederhana dan dapat diuji. Bukan karena ia menolak keberadaan Tuhan, melainkan karena ia percaya bahwa manusia tidak boleh menggunakan Tuhan untuk menutupi ketidaktahuannya.

Sikap ini menandai pergeseran besar dalam sejarah intelektual Barat. Selama berabad-abad, pengetahuan terutama dibangun melalui deduksi dari otoritas yang diakui. Namun sejak akhir Abad Pertengahan mulai muncul kecenderungan baru: menguji kenyataan secara langsung. Perubahan ini kelak melahirkan revolusi ilmiah yang diasosiasikan dengan tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Galileo Galilei, dan Isaac Newton.

Eco menempatkan William tepat di ambang perubahan tersebut. Ia masih seorang rahib. Ia masih hidup dalam dunia teologi. Namun cara berpikirnya sudah mengarah pada modernitas.

Menariknya, Eco tidak menggambarkan kemenangan akal secara romantis. William bukan pahlawan rasionalis yang selalu benar. Sebaliknya, ia beberapa kali salah menafsirkan petunjuk. Ia menyusun hipotesis yang ternyata tidak sepenuhnya tepat. Bahkan pada akhir cerita, ia menyadari bahwa keberhasilannya mengungkap misteri mengandung unsur kebetulan yang tidak kecil (Eco: 1980).

Kesadaran akan kemungkinan salah inilah yang justru menjadi kekuatan terbesar William. Dalam filsafat ilmu modern, Karl Popper menyebut sikap semacam ini sebagai ciri utama masyarakat terbuka. Pengetahuan berkembang bukan karena manusia memiliki kepastian absolut, tetapi karena manusia bersedia mengoreksi kesalahannya sendiri (Popper: 1959). Ilmu pengetahuan tidak bertumbuh melalui dogma, melainkan melalui kritik.

William tampaknya memahami prinsip tersebut jauh sebelum istilah itu lahir. Karena itu pertarungannya dengan Jorge bukan sekadar pertarungan dua individu. Yang berhadapan adalah dua model peradaban. Di satu sisi terdapat keyakinan bahwa kebenaran harus dijaga dengan membatasi pertanyaan. Di sisi lain terdapat keyakinan bahwa kebenaran justru semakin kuat ketika diuji oleh pertanyaan.

Pertarungan itu belum selesai hingga hari ini. Dalam dunia digital yang dibanjiri informasi, manusia sering tergoda mencari otoritas yang memberikan jawaban sederhana atas persoalan yang rumit. Konspirasi lebih menarik daripada penelitian. Kepastian lebih nyaman daripada keraguan. Identitas kelompok sering lebih menentukan daripada kekuatan argumen.

Dalam situasi seperti itu, William terasa sangat kontemporer. Ia mengajarkan bahwa berpikir bukan berarti menolak keyakinan. Berpikir berarti berani membiarkan keyakinan diuji. Ia menunjukkan bahwa kerendahan hati intelektual bukan kelemahan, melainkan syarat bagi pencarian pengetahuan yang jujur.

Dan mungkin itulah sebabnya Eco menjadikan William sebagai tokoh yang paling manusiawi dalam novel ini. Ia bukan santo. Ia bukan nabi. Ia bukan pemilik kebenaran. Ia hanya seorang pencari. Tetapi sejarah sering bergerak maju justru karena keberadaan para pencari seperti itu. Di tengah dunia yang penuh suara-suara yang mengaku paling benar, William mengingatkan bahwa tugas intelektual bukan memenangkan semua perdebatan. Tugasnya adalah menjaga agar pertanyaan tetap hidup.

Labirin, Tanda, dan Tafsir — Semiotika Umberto Eco dari Aristoteles hingga Postmodernisme

Pusat sesungguhnya dari The Name of the Rose bukanlah biara, bukan pula perpustakaan. Yang menjadi pusat novel ini adalah persoalan penafsiran. Seluruh tokohnya hidup di dalam dunia yang dipenuhi tanda-tanda. Mereka membaca kitab, mimpi, simbol, nubuat, jejak kaki, lukisan, arsitektur, bahkan kematian. Tidak ada yang hadir sebagai fakta telanjang. Semuanya menuntut tafsir.

Di sinilah kita sampai pada jantung pemikiran Umberto Eco. Sebelum dikenal luas sebagai novelis, Eco merupakan salah satu semiolog terpenting abad kedua puluh. Karya-karya akademiknya seperti A Theory of Semiotics dan The Limits of Interpretation menunjukkan minat yang sangat besar pada cara manusia menghasilkan makna dari tanda-tanda (Eco: 1976; Eco: 1990). Karena itu, The Name of the Rose sesungguhnya dapat dibaca sebagai novel semiotika yang menyamar sebagai cerita detektif.

Sejak halaman-halaman awal, William of Baskerville memperlihatkan kemampuan membaca dunia sebagai sistem tanda. Ketika menemukan jejak kuda yang hilang, misalnya, ia tidak sekadar melihat bekas tapak di tanah. Ia menghubungkan berbagai petunjuk kecil menjadi sebuah hipotesis tentang kenyataan yang tidak hadir secara langsung (Eco: 1980). Metode ini menjadi pola bagi seluruh penyelidikannya.

Namun Eco tidak berhenti pada keberhasilan membaca tanda. Ia justru lebih tertarik pada kemungkinan salah membaca tanda. Inilah yang membedakan The Name of the Rose dari banyak novel detektif klasik. Dalam karya Arthur Conan Doyle, misalnya, tanda-tanda pada akhirnya membentuk pola yang koheren dan mengarah pada satu kebenaran yang jelas. Pada Eco, hubungan antara tanda dan makna jauh lebih rapuh. Banyak petunjuk ternyata menyesatkan. Banyak kesimpulan harus direvisi. Banyak hubungan sebab-akibat yang tampak meyakinkan ternyata keliru.

Karena itu William berkali-kali menegaskan bahwa manusia tidak pernah berhadapan langsung dengan kenyataan itu sendiri. Manusia berhadapan dengan tanda-tanda tentang kenyataan (Eco: 1980).

Gagasan ini memiliki akar panjang dalam sejarah filsafat Barat. Dalam tradisi Aristoteles, bahasa dipahami sebagai representasi realitas. Kata menunjuk benda, dan benda menunjuk hakikat tertentu (Aristotle: 1984). Namun sejak Abad Pertengahan hingga modernitas, hubungan sederhana tersebut mulai dipersoalkan.

William of Ockham, misalnya, meragukan keberadaan universal sebagai realitas objektif yang berdiri sendiri. Yang benar-benar ada adalah individu-individu konkret, sementara konsep-konsep umum hanyalah instrumen pikiran manusia untuk memahami dunia (Ockham: 1990). Akibatnya, hubungan antara bahasa dan realitas menjadi lebih kompleks daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Eco memanfaatkan warisan intelektual itu secara kreatif. Perpustakaan dalam novel bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah simbol dunia itu sendiri. Labirin yang memenuhi perpustakaan menggambarkan kenyataan yang tidak pernah sepenuhnya transparan. Setiap lorong membuka lorong lain. Setiap teks merujuk kepada teks lain. Setiap makna menghasilkan kemungkinan makna berikutnya.

Karena itu, salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan para penghuni biara adalah mengira bahwa mereka telah menemukan peta lengkap dari labirin tersebut.

Jorge percaya bahwa seluruh makna telah tersedia dan tugas manusia hanyalah menjaganya. William justru menyadari bahwa tidak ada penafsir yang mampu menguasai keseluruhan makna. Dunia selalu lebih luas daripada sistem penjelasan yang dibangun manusia.

Di sinilah Eco bertemu dengan tradisi hermeneutika modern. Hans-Georg Gadamer berpendapat bahwa pemahaman bukanlah tindakan menemukan makna objektif yang tersembunyi di dalam teks. Pemahaman merupakan dialog antara teks dan pembaca yang selalu berlangsung dalam konteks sejarah tertentu (Gadamer: 1960). Tidak ada pembaca yang datang tanpa prasangka. Tidak ada tafsir yang sepenuhnya final.

Pandangan serupa muncul dalam novel ini melalui pengalaman Adso. Sebagai narator, Adso terus-menerus mencoba memahami peristiwa yang dialaminya puluhan tahun sebelumnya. Namun ia menyadari bahwa ingatan tidak pernah sempurna. Bahkan ketika ia menulis kembali kisah tersebut, ia tidak yakin apakah semua detail yang diingatnya benar-benar akurat (Eco: 1980).

Pilihan naratif ini sangat penting. Eco sengaja membuat pembaca menyadari bahwa seluruh cerita yang sedang dibaca sebenarnya merupakan hasil interpretasi seorang tua terhadap pengalaman masa mudanya. Dengan kata lain, bahkan novel itu sendiri adalah sebuah tafsir.

Pada titik ini, The Name of the Rose bergerak mendekati persoalan yang kelak menjadi tema besar pemikiran postmodern. Jean-François Lyotard berbicara mengenai berkurangnya kepercayaan terhadap grand narratives atau narasi-narasi besar yang mengklaim mampu menjelaskan seluruh kenyataan (Lyotard: 1979). Sementara Jacques Derrida menunjukkan bahwa makna tidak pernah hadir secara final karena selalu bergantung pada jaringan perbedaan yang tak berujung (Derrida: 1967).

Meski Eco sering dikaitkan dengan postmodernisme, posisinya sebenarnya lebih kompleks. Ia tidak menerima relativisme total. Ia tidak berpendapat bahwa semua tafsir sama benarnya. Dalam banyak karya akademiknya, Eco justru mengkritik kecenderungan menafsirkan teks secara liar tanpa batas metodologis (Eco: 1990).

Sikap ini tampak jelas pada William. Ia menerima bahwa makna tidak selalu pasti. Namun ia tetap percaya bahwa sebagian tafsir lebih masuk akal dibanding tafsir lainnya. Penafsiran harus didukung bukti. Dugaan harus diuji. Hipotesis harus dikoreksi.

Dengan kata lain, Eco berusaha berjalan di antara dua ekstrem. Di satu sisi terdapat dogmatisme Jorge yang meyakini bahwa hanya ada satu makna yang sah. Di sisi lain terdapat relativisme yang menganggap semua tafsir setara. William memilih jalan tengah yang lebih sulit: mengakui keterbatasan manusia tanpa menyerah pada kekacauan makna.

Barangkali karena itu simbol labirin menjadi sangat penting. Labirin bukan kekacauan mutlak. Ia memiliki struktur. Namun struktur itu tidak langsung terlihat. Manusia harus berjalan, tersesat, menemukan jalan buntu, kembali, dan mencoba lagi. Begitulah cara pengetahuan berkembang.

Dalam salah satu refleksi paling menggetarkan di akhir novel, William menyatakan bahwa ia mengejar suatu tatanan dalam rangkaian peristiwa yang ternyata mungkin tidak pernah ada sebagaimana yang ia bayangkan (Eco: 1980). Kalimat ini sering dibaca sebagai pengakuan kegagalan.

Padahal sesungguhnya ia adalah pengakuan kedewasaan intelektual. Orang fanatik percaya bahwa dunia selalu sesuai dengan teorinya. Orang bijak memahami bahwa teorinya mungkin tidak pernah sepenuhnya sesuai dengan dunia.

Mungkin itulah pesan terdalam yang ingin disampaikan Eco melalui labirin perpustakaan yang akhirnya terbakar. Manusia tidak pernah memiliki peta sempurna tentang kenyataan. Yang dimilikinya hanyalah tanda-tanda, fragmen-fragmen, dan upaya terus-menerus untuk menyusun makna dari semuanya. Sebagian berhasil. Sebagian gagal. Sebagian hilang bersama api sejarah.

Tetapi pencarian itu sendiri tetap layak dilakukan. Karena manusia bukan makhluk yang hidup dari kepastian semata. Ia hidup dari kemampuannya menafsirkan dunia, mempertanyakan tafsirnya sendiri, lalu memulai pencarian kembali.

Nama Mawar dan Kerapuhan Makna — Mengapa Eco Mengakhiri Novel dengan Kalimat yang Membingungkan?).

Setelah ratusan halaman pembunuhan, penyelidikan, perdebatan teologis, konflik politik, dan pencarian intelektual yang melelahkan, Umberto Eco mengakhiri The Name of the Rose dengan sebuah kalimat Latin yang ganjil:

"Stat rosa pristina nomine, nomina nuda tenemus."  Secara bebas dapat diterjemahkan: "Mawar purba tinggal namanya, dan kita hanya memegang nama-nama yang telanjang." (Eco: 1980).

Kalimat itu termasuk salah satu penutup novel paling terkenal dalam sastra modern. Sekaligus salah satu yang paling membingungkan. Setelah semua misteri terpecahkan, perpustakaan terbakar, para tokoh utama berpisah, dan sejarah bergerak menuju senjanya, mengapa Eco justru mengakhiri kisah dengan pernyataan tentang nama?

Pertanyaan ini membawa kita ke lapisan terdalam novel. Sejak awal, The Name of the Rose memang bukan sekadar novel tentang pembunuhan. Ia adalah novel tentang hubungan antara bahasa dan kenyataan. Tentang kemampuan manusia memberi nama kepada dunia dan sekaligus kegagalannya untuk sepenuhnya menangkap dunia melalui nama-nama tersebut. Mawar dalam kalimat terakhir itu bukan sekadar bunga. Ia adalah simbol.

Simbol tentang sesuatu yang pernah ada tetapi kini telah hilang. Simbol tentang keindahan yang lenyap. Simbol tentang kebenaran yang tidak pernah dapat dimiliki secara utuh. Yang tersisa hanyalah jejak, kenangan, tanda, dan nama.

Di sinilah Eco kembali menghidupkan salah satu perdebatan terbesar dalam filsafat Abad Pertengahan: persoalan universal. Pertanyaan yang diperdebatkan para skolastik selama berabad-abad tampak sederhana: ketika kita mengatakan "mawar", apakah yang kita maksud sungguh-sungguh ada? Apakah "mawar" sebagai konsep memiliki realitas objektif, ataukah yang ada hanyalah mawar-mawar individual yang berbeda satu sama lain?

Bagi kaum realis seperti Thomas Aquinas, konsep universal memiliki dasar dalam realitas. Sementara bagi kaum nominalis seperti William of Ockham, yang sungguh-sungguh ada hanyalah individu-individu konkret; kategori umum hanyalah nama yang diberikan manusia untuk memudahkan pemahaman (Ockham: 1990).

Eco, yang sepanjang novel memperlihatkan simpati intelektual kepada tradisi nominalisme, tampaknya membawa perdebatan itu hingga halaman terakhir. Perpustakaan terbakar. Buku Aristoteles hilang. Rahasia-rahasia musnah. Biara runtuh. Para tokohnya mati.Yang tersisa hanyalah cerita Adso. Yang tersisa hanyalah kata-kata. Yang tersisa hanyalah nama. Dalam pengertian tertentu, seluruh novel ini adalah meditasi tentang kehilangan.

Adso menulis kisahnya ketika sudah tua. Ia tidak lagi memiliki biara yang pernah ia tinggali. Ia tidak lagi memiliki William yang pernah membimbingnya. Bahkan perempuan yang pernah ia cintai sebentar tidak pernah ia temui kembali. Sebagian besar dunia yang membentuk hidupnya telah hilang ditelan sejarah (Eco: 1980). Namun hilangnya kenyataan tidak serta-merta menghapus makna. Inilah paradoks yang menarik perhatian Eco.

Manusia adalah makhluk yang hidup di antara keberadaan dan ketiadaan. Sesuatu berlalu, tetapi kenangannya bertahan. Peristiwa berakhir, tetapi ceritanya tetap hidup. Orang mati, tetapi namanya terus disebut. Karena itu bahasa memiliki posisi yang ambigu.

Di satu sisi, bahasa tidak pernah mampu menghadirkan kembali kenyataan secara sempurna. Kata "mawar" bukanlah mawar. Kata "cinta" bukanlah cinta. Kata "Tuhan" bukanlah Tuhan.

Namun di sisi lain, tanpa bahasa manusia bahkan tidak dapat mengingat apa yang telah hilang. Persoalan ini memiliki resonansi yang sangat kuat dengan tradisi filsafat bahasa abad kedua puluh.

Ludwig Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa kita adalah batas dunia kita (Wittgenstein: 1922). Kita memahami kenyataan melalui bahasa, tetapi bahasa sekaligus membatasi apa yang dapat kita pahami.

Sementara itu, Jacques Derrida menunjukkan bahwa makna tidak pernah hadir secara penuh dalam satu tanda. Setiap kata selalu menunjuk kepada kata lain dalam rantai penandaan yang tidak pernah selesai (Derrida: 1967).

Eco mengenal tradisi intelektual tersebut dengan sangat baik. Namun berbeda dari Derrida yang sering dibaca secara dekonstruktif, Eco tetap mempertahankan keyakinan bahwa pencarian makna tidak sia-sia. Makna memang tidak pernah final, tetapi bukan berarti mustahil. Karena itu kalimat penutup novel ini tidak boleh dibaca sebagai pernyataan nihilistik.

Sebagian pembaca menafsirkan akhir novel sebagai pengakuan bahwa semua makna pada akhirnya runtuh. Pembacaan semacam itu terlalu sederhana. Yang sesungguhnya ingin dikatakan Eco adalah bahwa manusia selalu berhadapan dengan kenyataan yang lebih besar daripada kemampuan bahasanya. Kita tidak pernah memiliki kebenaran secara utuh. Kita hanya mendekatinya melalui simbol, konsep, dan cerita.

Pandangan ini memiliki kedekatan tertentu dengan tradisi teologi negatif (via negativa) yang berkembang sejak Pseudo-Dionysius the Areopagite. Dalam tradisi tersebut, Tuhan dianggap melampaui seluruh kategori bahasa manusia. Karena itu setiap pernyataan tentang Tuhan pada akhirnya bersifat terbatas dan tidak memadai (Pseudo-Dionysius: abad ke-6/1987).

Meski Eco bukan seorang teolog dalam pengertian tradisional, ada gema pemikiran semacam itu dalam novelnya. Dunia terlalu kaya untuk dipenjara oleh satu sistem makna. Kebenaran terlalu luas untuk direduksi menjadi satu doktrin. Sejarah terlalu kompleks untuk diringkas menjadi satu narasi tunggal.

Maka ketika perpustakaan terbakar, yang hancur bukan hanya buku. Yang hancur adalah ilusi bahwa manusia dapat menyimpan seluruh makna dunia dalam satu bangunan, satu sistem, atau satu otoritas.

Namun dari reruntuhan itu tetap tersisa sesuatu. Sebuah cerita. Sebuah nama.Sebuah jejak. Dan mungkin memang hanya itu yang selalu dimiliki manusia. Bukan kepastian mutlak. Bukan pengetahuan sempurna. Bukan sistem yang lengkap. Melainkan fragmen-fragmen makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu The Name of the Rose pada akhirnya bukan novel tentang kemenangan pengetahuan. Ia juga bukan novel tentang kegagalan pengetahuan. Ia adalah novel tentang kerendahan hati intelektual. Tentang keberanian untuk mencari tanpa pernah sepenuhnya memiliki. Tentang kesediaan menerima bahwa sebagian besar yang kita cintai akan hilang. Dan tentang keyakinan bahwa meskipun demikian, pencarian makna tetap layak diteruskan.

Sebab ketika segala sesuatu telah musnah, sering kali yang terakhir bertahan bukan benda, bukan kekuasaan, bukan institusi. Melainkan cerita yang terus diceritakan. Dan nama yang terus diingat.

Kritik Umberto Eco terhadap Fundamentalisme, Otoritarianisme, dan Godaan Menjadi Penjaga Tuhan

Judul yang diberikan pada edisi Indonesia ini—Kejahatan Bisa Muncul dari Kesalehan—sekilas terdengar provokatif. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin terdengar tidak nyaman. Sebab dalam pengalaman umum, kesalehan biasanya dipahami sebagai lawan dari kejahatan. Kesalehan adalah kebajikan, sementara kejahatan adalah penyimpangan. Namun justru karena ketidaknyamanan itulah judul ini menarik. Ia memaksa pembaca memasuki salah satu wilayah paling rumit dalam sejarah moral manusia: kemungkinan bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan kebaikan.

Umberto Eco tidak pernah mengatakan bahwa agama melahirkan kejahatan. Pembacaan seperti itu terlalu dangkal dan bertentangan dengan kompleksitas novelnya. Yang dipersoalkan Eco jauh lebih subtil. Ia mempertanyakan apa yang terjadi ketika kesalehan berubah menjadi kepastian absolut, ketika keyakinan kehilangan kerendahan hati, dan ketika manusia mulai menganggap dirinya penjaga tunggal kebenaran (Eco: 1980).

Tema ini sesungguhnya sudah hadir sejak awal novel, tetapi mencapai puncaknya pada sosok Jorge dari Burgos.

Jorge bukan tokoh yang korup. Ia bukan pemburu kekayaan. Ia bukan penggemar kekuasaan dalam pengertian vulgar. Bahkan dalam banyak hal ia tampak sebagai figur asketik yang mengabdikan hidupnya kepada agama. Justru karena itulah ia menjadi tokoh yang mengerikan.

Kejahatan dalam diri Jorge lahir bukan dari ketiadaan iman, melainkan dari keyakinan bahwa ia memahami iman secara sempurna. Ia membunuh demi melindungi kebenaran. Ia menipu demi menjaga kesucian. Ia menyembunyikan pengetahuan demi mempertahankan ortodoksi. Dan ia melakukan semuanya dengan keyakinan bahwa tindakannya benar.

Di sinilah Eco menyentuh salah satu paradoks terdalam kehidupan manusia. Tidak sedikit tragedi besar dalam sejarah lahir bukan dari kebencian terhadap nilai-nilai luhur, melainkan dari klaim untuk membelanya. Perang agama. Perburuan bid'ah. Inkuisisi. Penganiayaan atas nama kemurnian iman. Pembersihan ideologis atas nama revolusi. Bahkan berbagai bentuk totalitarianisme modern. Semuanya sering dimulai dari keyakinan bahwa tujuan yang diperjuangkan begitu mulia sehingga segala cara menjadi sah.

Dalam konteks ini, Eco sesungguhnya sedang mengajukan kritik yang sejalan dengan refleksi filosofis Hannah Arendt. Ketika membahas totalitarianisme dan kejahatan modern, Arendt menunjukkan bahwa bahaya terbesar sering muncul ketika manusia berhenti berpikir secara kritis dan menggantinya dengan kepatuhan mutlak terhadap sistem ide tertentu (Arendt: 1951; Arendt: 1963).

Jorge adalah contoh sempurna dari gejala tersebut. Ia tidak lagi menguji keyakinannya. Ia tidak lagi membuka ruang dialog. Ia tidak lagi bertanya apakah tindakannya sesuai dengan tujuan moral yang ingin dicapai. Yang tersisa hanyalah kepastian. Dan kepastian yang tidak mau dikoreksi hampir selalu berbahaya.

Di titik ini, The Name of the Rose melampaui konteks abad keempat belas. Novel ini berbicara kepada semua zaman. Karena sesungguhnya persoalan utama bukan agama, melainkan watak manusia ketika berhadapan dengan keyakinannya sendiri.

Setiap tradisi pemikiran mengenal godaan yang sama. Agama dapat menjadi fundamentalis.Nasionalisme dapat menjadi chauvinistik. Liberalisme dapat menjadi dogmatis. Marxisme dapat menjadi totaliter. Bahkan sains pun dapat berubah menjadi saintisme ketika menganggap dirinya satu-satunya sumber makna yang sah. Dengan kata lain, masalahnya bukan isi keyakinan semata. Masalahnya adalah sikap terhadap keyakinan tersebut.

Di sinilah William of Baskerville kembali menjadi lawan intelektual Jorge yang paling penting. William tidak kurang religius dibanding Jorge. Ia tetap seorang rahib. Ia tetap seorang Kristen. Ia tetap percaya pada Tuhan. Namun ada satu perbedaan mendasar. William tidak pernah mengidentikkan pemahamannya tentang kebenaran dengan kebenaran itu sendiri.

Perbedaan kecil ini memiliki konsekuensi yang sangat besar. Ketika seseorang menyadari bahwa pemahamannya terbatas, ia akan lebih terbuka terhadap dialog. Ia lebih siap mendengar. Ia lebih berhati-hati menjatuhkan vonis. Ia lebih mudah mengakui kesalahan. Sebaliknya, ketika seseorang menganggap dirinya telah memiliki seluruh kebenaran, dialog berubah menjadi ancaman.

Dalam tradisi intelektual Islam, persoalan serupa pernah direnungkan oleh Abu Hamid al-Ghazali. Setelah mengalami krisis intelektual yang panjang, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa kesombongan epistemologis merupakan salah satu penyakit paling berbahaya dalam pencarian kebenaran (Al-Ghazali: 1107/2000). Pengetahuan sejati justru lahir dari kesadaran akan keterbatasan manusia.

Pandangan yang hampir serupa dapat ditemukan dalam tradisi Kristen melalui Saint Augustine. Augustine berulang kali menegaskan bahwa kesombongan adalah akar dari banyak penyimpangan rohani karena membuat manusia menempatkan dirinya di posisi yang seharusnya hanya milik Tuhan (Augustine: 1998).

Menariknya, Eco tidak menyampaikan kritik ini melalui khotbah moral. Ia menyampaikannya melalui tragedi: Perpustakaan terbakar. Buku-buku musnah. Nyawa melayang. Dan semua itu terjadi karena seseorang terlalu yakin bahwa dirinya sedang membela kebenaran.

Tragedi tersebut mengandung pelajaran yang sangat penting. Bahaya terbesar bagi agama bukanlah keraguan. Bahaya terbesar justru muncul ketika manusia berhenti meragukan dirinya sendiri.

Dalam banyak tradisi keagamaan, keraguan sering dipandang sebagai lawan iman. Namun Eco mengajak pembaca melihat persoalan secara berbeda. Keraguan tertentu justru dapat menjadi bentuk kerendahan hati. Ia mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal berada dalam genggamannya. Di sini Eco tampak lebih dekat kepada tradisi mistik dibanding fundamentalisme.

Para mistikus besar, baik dalam Kristen, Islam, maupun tradisi lain, hampir selalu menegaskan bahwa Yang Ilahi melampaui seluruh konsep manusia. Karena itu semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin besar pula kesadarannya akan keterbatasan dirinya sendiri.

Sebaliknya, fanatisme sering lahir ketika manusia terlalu percaya pada konsep-konsepnya tentang Tuhan. Perbedaan ini sangat halus, tetapi menentukan. Yang satu melahirkan kerendahan hati. Yang lain melahirkan penghakiman. Yang satu melahirkan pencarian. Yang lain melahirkan penguasaan.

Karena itu The Name of the Rose sesungguhnya dapat dibaca sebagai kritik terhadap semua bentuk fundamentalisme, baik religius maupun sekuler. Fundamentalisme bukan pertama-tama soal doktrin tertentu. Fundamentalisme adalah sikap mental yang menolak kemungkinan koreksi.

Dan di sinilah relevansi novel Eco terasa sangat kuat bagi abad ke-21. Kita hidup pada zaman yang penuh paradoks. Informasi tersedia dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun pada saat yang sama, ruang gema (echo chambers) membuat banyak orang hanya mendengar pandangan yang menguatkan keyakinannya sendiri. Algoritma digital sering mempersempit horizon berpikir alih-alih memperluasnya.

Akibatnya, godaan menjadi "Jorge" tidak pernah benar-benar hilang. Keinginan untuk menjadi penjaga kebenaran. Keinginan untuk menentukan siapa yang boleh berbicara. Keinginan untuk menutup pertanyaan demi menjaga kepastian. Semua itu tetap hadir, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Karena itu pelajaran paling berharga dari novel ini mungkin bukan tentang siapa pembunuhnya. Pelajaran terpentingnya adalah bahwa manusia harus berhati-hati setiap kali merasa dirinya sedang membela sesuatu yang sangat suci.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak kejahatan besar tidak dilakukan oleh mereka yang membenci kebaikan.

Sebaliknya. Sering kali kejahatan dilakukan oleh mereka yang terlalu yakin bahwa hanya merekalah yang memahami kebaikan itu.

Adso, Cinta, dan Kemanusiaan yang Terlupakan

Di tengah perdebatan tentang bid'ah, kemiskinan apostolik, semiotika, perpustakaan, Aristoteles, dan pembunuhan berantai, Umberto Eco tiba-tiba menyisipkan sebuah kisah yang tampaknya asing dari keseluruhan bangunan novel: seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis miskin yang bahkan tidak pernah disebut namanya.

Sepintas, episode itu terlihat sebagai selingan. Sebuah jeda emosional di antara ketegangan intelektual yang memenuhi novel. Namun semakin lama direnungkan, semakin jelas bahwa kisah Adso dan gadis tanpa nama itu justru menyimpan salah satu kunci terpenting untuk memahami keseluruhan The Name of the Rose.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar Eco bukan hanya tentang bagaimana manusia mengetahui dunia. Pertanyaannya juga tentang bagaimana manusia mengalami dunia.

Di dalam perpustakaan, para rahib memperdebatkan hakikat kebenaran. Di ruang sidang, para teolog memperdebatkan ortodoksi. Di ruang pertemuan, para utusan paus memperdebatkan kemiskinan Kristus. Namun di luar semua itu terdapat kenyataan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: manusia mencintai, menderita, lapar, takut, dan merindukan sesamanya.

Kehadiran gadis desa dalam novel menjadi pengingat akan dimensi kehidupan yang tidak dapat direduksi menjadi konsep-konsep intelektual.

Adso pertama kali bertemu gadis itu dalam situasi yang hampir tidak romantis. Gadis tersebut datang ke biara sebagai bagian dari kelompok masyarakat miskin yang hidup di sekitar kompleks monastik. Kemiskinan memaksanya menukar tubuhnya demi makanan dan kelangsungan hidup (Eco: 1980).

Eco dengan sengaja tidak memberikan nama kepada tokoh perempuan ini. Pilihan itu penting. Dalam novel yang dipenuhi nama-nama besar—Aristoteles, Aquinas, Ockham, Bernard Gui, Michael dari Cesena—satu-satunya tokoh yang menjadi objek cinta justru tidak memiliki nama.

Secara simbolik, keputusan ini mengandung ironi yang dalam. Sepanjang novel para tokohnya sibuk memperdebatkan konsep-konsep universal. Mereka mengklasifikasikan bid'ah, menyusun doktrin, mengelompokkan pengetahuan, dan mendefinisikan kebenaran. Namun ketika berhadapan dengan pengalaman manusia yang paling personal, bahasa mendadak menjadi tidak memadai.

Adso tidak pernah benar-benar memahami siapa gadis itu. Ia tidak mengetahui asal-usulnya. Ia tidak mengetahui masa lalunya. Ia tidak mengetahui nasib akhirnya. Yang ia miliki hanyalah pengalaman perjumpaan. Dan pengalaman itulah yang membekas sepanjang hidupnya (Eco: 1980).

Di sini Eco tampaknya sedang mengajukan kritik halus terhadap kecenderungan intelektualisme yang berlebihan. Selama berabad-abad filsafat Barat sering memberi tempat istimewa kepada rasio. Sejak Plato, kemampuan berpikir dipandang sebagai ciri tertinggi manusia. Tradisi ini mencapai puncak tertentu dalam skolastisisme abad pertengahan yang begitu menekankan sistematisasi konsep dan argumentasi rasional.

Eco tentu menghormati tradisi tersebut. Tidak mungkin seorang ahli semiotika dan sejarawan intelektual seperti dirinya menolak warisan rasionalisme begitu saja. Namun melalui Adso, ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup dari konsep semata. Ada wilayah pengalaman yang tidak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori. Cinta adalah salah satunya.

Dalam banyak bagian novel, Adso tampak kebingungan menghadapi apa yang sedang dialaminya. Pendidikan monastiknya menyediakan banyak istilah untuk membicarakan dosa, kesucian, godaan, dan nafsu. Namun pengalaman yang ia rasakan melampaui kategori-kategori tersebut. Ia menemukan dirinya berada di wilayah yang tidak sepenuhnya dapat diterangkan oleh bahasa teologis yang selama ini ia pelajari (Eco: 1980). Kebingungan ini memiliki kedalaman filosofis yang menarik. 

Dalam tradisi Augustinian, cinta sering dipahami sebagai energi dasar yang mengarahkan manusia kepada objek-objek hasratnya (Augustine: 1998). Pertanyaannya bukan apakah manusia mencintai, melainkan apa yang dicintainya. Sementara dalam tradisi Thomas Aquinas, cinta dipahami sebagai gerak menuju kebaikan yang dipersepsikan oleh subjek (Aquinas: 1947).

Namun pengalaman Adso menunjukkan bahwa cinta sering datang sebelum penjelasan filosofis tentang cinta itu sendiri. Manusia mengalami terlebih dahulu, lalu menafsirkan. Bukan sebaliknya.

Dalam hal ini Eco tampak lebih dekat kepada tradisi fenomenologi modern. Blaise Pascal pernah menulis kalimat terkenal bahwa hati mempunyai alasan-alasannya sendiri yang tidak dikenal oleh rasio (Le cœur a ses raisons que la raison ne connaît point) (Pascal: 1670/1995).

Kalimat tersebut bukan serangan terhadap akal budi. Ia merupakan pengingat bahwa pengalaman manusia lebih luas daripada apa yang dapat dijangkau oleh logika formal.

Tema serupa berkembang dalam filsafat eksistensial. Søren Kierkegaard berulang kali menekankan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipahami sepenuhnya dari sudut pandang objektif. Ada dimensi subjektivitas yang justru menentukan makna keberadaan manusia (Kierkegaard: 1846/1992).

Adso mengalami hal itu secara langsung. Seluruh pendidikan intelektualnya tidak mampu mempersiapkannya menghadapi pengalaman cinta. Dan justru karena itu pengalaman tersebut menjadi penting.

Menariknya, Eco tidak mengubah kisah ini menjadi roman sentimental. Tidak ada akhir bahagia. Tidak ada penyatuan. Tidak ada kepastian.. Gadis itu menghilang dari kehidupan Adso sebagaimana ia muncul: tiba-tiba. Bertahun-tahun kemudian, ketika Adso mengenang seluruh peristiwa di biara, ia masih tidak mengetahui apa yang terjadi kepada perempuan tersebut (Eco: 1980).

Kehilangan ini memiliki fungsi simbolik yang kuat. Sepanjang novel, manusia berusaha mempertahankan berbagai hal dari kehancuran: buku, doktrin, pengetahuan, institusi, bahkan kebenaran. Namun pada akhirnya banyak hal tetap hilang: Perpustakaan terbakar. Manuskrip musnah. Guru meninggal. Dan cinta pertama berlalu.

Dalam dunia Eco, kehilangan bukan pengecualian. Ia adalah bagian dari kondisi manusia. Di sinilah kisah Adso memperoleh makna yang lebih luas. Ia menunjukkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang mencari kebenaran. Ia juga makhluk yang berduka atas kehilangan. Bukan hanya makhluk yang berpikir. Tetapi juga makhluk yang mencintai. Dan mungkin justru karena manusia mencintai, ia terus berusaha memahami dunia.

Jika William mewakili akal budi, maka Adso mewakili pengalaman manusiawi yang lebih utuh. Ia belajar tentang logika dari gurunya. Tetapi ia belajar tentang kehidupan dari kehilangan.

Karena itu hubungan William dan Adso tidak sekadar hubungan guru dan murid. Mereka melambangkan dua dimensi yang harus tetap bersama dalam setiap pencarian pengetahuan.

Akal tanpa kemanusiaan mudah berubah menjadi dogma dingin. Perasaan tanpa refleksi mudah berubah menjadi sentimentalitas yang buta. Kebijaksanaan lahir ketika keduanya bertemu. Mungkin itulah sebabnya Eco menempatkan kisah cinta ini di tengah labirin teologi dan pembunuhan.

Ia ingin mengingatkan bahwa sebelum menjadi teolog, filsuf, hakim, atau penjaga perpustakaan, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang rapuh. Makhluk yang dapat jatuh cinta.Makhluk yang dapat kehilangan. Makhluk yang tidak pernah sepenuhnya memahami dirinya sendiri. Dan justru karena kerapuhan itulah kemanusiaannya menjadi nyata.

Api, Abu, dan Sejarah — Mengapa Perpustakaan Harus Terbakar?

Tidak ada adegan yang lebih menyedihkan dalam The Name of the Rose selain kebakaran perpustakaan pada bagian akhir novel. Bertahun-tahun kemudian, pembaca masih dapat mengingat bagaimana api menjalar dari ruang ke ruang, melahap rak-rak manuskrip, menelan lembar demi lembar pengetahuan yang dikumpulkan selama berabad-abad. Di tengah kobaran itu, William dan Adso berusaha menyelamatkan apa yang masih mungkin diselamatkan. Namun mereka segera menyadari kenyataan yang pahit: sebagian besar akan hilang selamanya (Eco: 1980).

Banyak pembaca memahami adegan ini sebagai klimaks dramatik sebuah novel detektif. Pembacaan itu tidak salah, tetapi terlalu sempit. Perpustakaan yang terbakar bukan sekadar latar yang hancur. Ia adalah simbol dari salah satu tema terbesar yang mengalir sepanjang karya Eco: kerapuhan peradaban manusia.

Sejak awal novel, perpustakaan tampil hampir seperti alam semesta kecil. Ia menyimpan suara-suara masa lalu, perdebatan-perdebatan yang telah lama selesai, dan kebijaksanaan yang diwariskan lintas generasi. Di sana tersimpan teks-teks Yunani, Latin, Arab, dan Kristen. Perpustakaan menjadi gambaran tentang keyakinan manusia bahwa pengetahuan dapat dilestarikan melampaui usia individu. Bahwa manusia memang fana, tetapi ingatan kolektif dapat bertahan.

Namun Eco tidak pernah menjadi pengarang yang percaya pada optimisme sejarah secara naif. Karena itu perpustakaan harus terbakar. Bukan karena ia membenci pengetahuan, melainkan karena ia memahami sejarah.

Jika kita menengok perjalanan panjang peradaban, kenyataan yang ditemukan sesungguhnya lebih dekat kepada kehilangan daripada kepada pelestarian. Sebagian besar karya sastra Yunani kuno telah hilang. Dari ratusan tragedi yang ditulis para dramawan Athena, hanya sebagian kecil yang sampai kepada kita. Banyak dialog Aristoteles musnah. Sebagian besar perpustakaan Alexandria lenyap tanpa pernah diketahui isi lengkapnya. Ribuan manuskrip abad pertengahan hilang akibat perang, kebakaran, kelembapan, dan kelalaian manusia (Canfora: 1989).

Dengan kata lain, apa yang kita sebut sebagai warisan intelektual dunia sesungguhnya hanyalah pecahan kecil dari apa yang pernah ada.

Eco sangat menyadari kenyataan itu.

Sebagai sejarawan budaya dan ahli naskah abad pertengahan, ia mengetahui bahwa sejarah pengetahuan bukan hanya sejarah penemuan. Ia juga sejarah kehilangan. Kita sering berbicara tentang buku-buku yang mengubah dunia. Jauh lebih jarang kita berbicara tentang buku-buku yang hilang sebelum sempat dibaca generasi berikutnya.

Karena itu kebakaran perpustakaan dalam The Name of the Rose memiliki makna yang hampir tragis dalam pengertian klasik. Ia memperlihatkan bahwa tidak ada institusi manusia yang kebal terhadap waktu. Tidak ada sistem pengetahuan yang sepenuhnya aman. Tidak ada peradaban yang dijamin abadi.

Dalam hal ini Eco tampak memiliki kedekatan tertentu dengan kesadaran historis yang ditemukan pada Edward Gibbon ketika menulis The History of the Decline and Fall of the Roman Empire. Bagi Gibbon, bahkan kekaisaran terbesar sekalipun tidak luput dari kemunduran dan kehancuran (Gibbon: 1776–1789). Yang berbeda hanyalah bentuk dan waktunya.

Namun Eco melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya berbicara tentang runtuhnya institusi. Ia berbicara tentang rapuhnya makna. Perpustakaan terbakar pada saat manusia justru sedang berusaha menemukan kebenaran yang tersembunyi di dalamnya. Paradoks ini penting. Sebab ia menunjukkan bahwa pencarian pengetahuan tidak pernah berlangsung dalam kondisi ideal. Manusia selalu bekerja di bawah ancaman kehilangan.

Setiap generasi menerima warisan yang tidak lengkap. Setiap penafsir bekerja dengan dokumen yang sebagian telah rusak. Setiap sejarawan harus menyusun masa lalu dari fragmen-fragmen yang tersisa. Dalam pengertian ini, sejarah menyerupai pekerjaan arkeologi. Kita tidak pernah menemukan bangunan utuh. Kita menemukan reruntuhan. Dari reruntuhan itulah manusia berusaha membangun narasi.

Kesadaran semacam ini sangat terasa dalam tokoh Adso yang menulis kisahnya pada masa tua. Ketika mengenang peristiwa-peristiwa yang terjadi di biara, ia tidak lagi memiliki akses kepada sebagian besar bukti. Ia hanya memiliki ingatan, catatan yang tersisa, dan serpihan pengalaman yang berhasil bertahan dari arus waktu (Eco: 1980).

Di sini Eco menunjukkan sesuatu yang sangat penting mengenai hubungan antara sejarah dan memori. Sejarah bukan gudang fakta yang utuh. Sejarah adalah upaya terus-menerus menyelamatkan makna dari kehancuran.

Pandangan ini memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Walter Benjamin. Dalam Theses on the Philosophy of History, Benjamin menolak gagasan bahwa sejarah adalah kisah kemajuan yang berjalan lurus. Sebaliknya, sejarah dipenuhi puing-puing, korban, dan kehilangan yang sering disembunyikan oleh narasi kemenangan (Benjamin: 1940/1968).

Sulit membaca perpustakaan yang terbakar tanpa mengingat gambaran Benjamin tentang malaikat sejarah yang melihat masa lalu sebagai tumpukan reruntuhan yang terus membesar. Namun Eco bukan seorang pesimis. Meskipun perpustakaan musnah, novel tidak berakhir dalam keputusasaan total. Mengapa? Karena sesuatu tetap berhasil diselamatkan. Bukan bangunannya. Bukan koleksi lengkapnya. Bukan sistem klasifikasinya. Melainkan fragmen.

Adso dan William menyelamatkan beberapa lembar manuskrip. Sebagian kecil serpihan pengetahuan berhasil keluar dari api. Jumlahnya tidak banyak. Bahkan nyaris tidak berarti dibanding keseluruhan yang hilang. Tetapi justru di situlah harapan berada. Peradaban manusia selalu dibangun dari fragmen-fragmen semacam itu. Kita mengenal Socrates melalui catatan murid-muridnya. Kita mengenal sebagian filsafat pra-Sokratik melalui kutipan-kutipan yang tersebar. Kita memahami banyak peristiwa kuno melalui dokumen yang selamat secara kebetulan.

Apa yang diwariskan sejarah kepada manusia tidak pernah lengkap. Namun ketidaklengkapan itu tidak membuat pencarian menjadi sia-sia. Sebaliknya, ia menjadi alasan mengapa pencarian harus terus dilakukan.

Maka api dalam The Name of the Rose mengandung dua makna sekaligus. Ia adalah simbol kehancuran. Tetapi ia juga simbol pemurnian ilusi. Yang terbakar bukan hanya buku-buku. Yang terbakar adalah keyakinan bahwa manusia dapat menguasai seluruh pengetahuan. Yang terbakar adalah mimpi tentang sistem sempurna yang mampu menyimpan seluruh makna dunia.

Dari abu perpustakaan itu lahir kesadaran yang lebih rendah hati. Kesadaran bahwa manusia selalu datang terlambat terhadap sebagian besar kenyataan. Kesadaran bahwa tidak semua hal dapat diselamatkan. Kesadaran bahwa kebenaran sering hadir dalam bentuk fragmen-fragmen yang harus dirangkai kembali dengan sabar.

Dan mungkin itulah pelajaran paling berharga yang ditinggalkan Eco. Peradaban tidak bertahan karena berhasil menghindari kehilangan. Peradaban bertahan karena selalu ada manusia yang bersedia memungut kembali serpihan-serpihan yang tersisa dan memulai pencarian dari awal. Dari abu. Dari reruntuhan. Dari halaman-halaman yang nyaris musnah.

Umberto Eco, Modernitas, dan Krisis Kebenaran

Ada alasan mengapa The Name of the Rose terus dibaca lebih dari empat dekade setelah pertama kali diterbitkan pada 1980. Secara kronologis ia adalah novel tentang abad keempat belas. Secara tematik ia berbicara tentang Abad Pertengahan. Namun secara intelektual, novel ini justru terasa semakin relevan pada abad kedua puluh satu. Banyak persoalan yang dibayangkan Eco melalui sebuah biara terpencil di Italia kini hadir dalam bentuk yang jauh lebih luas melalui internet, media sosial, industri informasi, dan politik identitas. Karena itu membaca The Name of the Rose hari ini sering terasa seperti membaca sebuah ramalan yang disampaikan melalui bahasa sejarah (Eco: 1980).

Yang menarik, Eco tidak pernah menulis novel ini sebagai nostalgia terhadap masa lalu. Sebaliknya, ia menggunakan masa lalu untuk memahami masa kini. Biara dalam novel itu bukan sekadar biara. Ia adalah model miniatur masyarakat. Perpustakaan bukan sekadar bangunan. Ia adalah metafora bagi seluruh sistem produksi pengetahuan. Dan konflik antara William serta Jorge bukan hanya pertentangan dua rahib, melainkan dua cara memahami hubungan manusia dengan kebenaran.

Di sinilah letak kecemerlangan Eco sebagai sejarawan budaya. Ia memahami bahwa bentuk-bentuk sosial berubah, tetapi struktur persoalan manusia sering tetap sama.

Pada abad keempat belas, akses terhadap pengetahuan dikendalikan oleh perpustakaan, skriptorium, dan lembaga-lembaga religius. Pada abad kedua puluh satu, akses itu dikendalikan oleh mesin pencari, algoritma, platform digital, dan jaringan media global. Institusinya berbeda. Teknologinya berbeda. Namun pertanyaannya tetap sama: siapa yang menentukan apa yang dianggap benar?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu tema utama pemikiran modern.

Sejak masa Pencerahan, banyak pemikir percaya bahwa penyebaran pengetahuan akan secara otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih rasional. Semakin banyak informasi tersedia, semakin sulit kebodohan bertahan. Semakin luas pendidikan berkembang, semakin kuat pula kemampuan manusia membedakan fakta dari ilusi.

Namun pengalaman abad kedua puluh dan awal abad kedua puluh satu memperlihatkan bahwa kenyataan tidak sesederhana itu. Pengetahuan memang bertambah. Tetapi informasi juga dapat dimanipulasi. Literasi meningkat. Tetapi propaganda berkembang dengan teknik yang semakin canggih. Akses terhadap sumber pengetahuan menjadi lebih terbuka. Namun kemampuan membedakan informasi yang valid dan yang palsu justru sering semakin sulit.

Dalam konteks inilah The Name of the Rose memperoleh relevansi baru. Jika Jorge menyembunyikan buku Aristoteles karena takut terhadap konsekuensi intelektualnya, dunia modern menghadapi masalah yang hampir berlawanan. Bukan terlalu sedikit informasi, melainkan terlalu banyak informasi. Persoalannya bukan lagi sensor semata, tetapi banjir data yang membuat manusia kehilangan kemampuan menilai.

Eco sendiri sangat menyadari persoalan tersebut. Dalam berbagai esai dan wawancara pada masa-masa akhir hidupnya, ia berulang kali memperingatkan bahaya masyarakat yang kehilangan kemampuan melakukan verifikasi kritis terhadap informasi (Eco: 2015).

Apa yang disebut sebagai krisis kebenaran hari ini sebenarnya sudah hadir secara implisit dalam The Name of the Rose. William of Baskerville terus berusaha membedakan antara tanda dan makna, antara dugaan dan bukti, antara interpretasi yang masuk akal dan interpretasi yang berlebihan. Tugas itu tidak mudah karena dunia yang ia hadapi penuh dengan simbol, rumor, ketakutan, dan spekulasi.

Bukankah situasi itu terdengar sangat modern? Dalam banyak masyarakat kontemporer, teori konspirasi sering berkembang lebih cepat daripada penelitian ilmiah. Opini lebih mudah diterima daripada data. Narasi yang memuaskan identitas kelompok sering lebih menarik daripada kenyataan yang kompleks.

Fenomena tersebut mengingatkan pada analisis Karl Popper mengenai musuh-musuh masyarakat terbuka. Menurut Popper, ancaman terbesar terhadap kebebasan bukan hanya kekuasaan represif, tetapi juga kecenderungan manusia mencari kepastian mutlak dalam dunia yang sebenarnya penuh ketidakpastian (Popper: 1945).

William memahami hal itu. Karena itu ia tidak pernah menawarkan kepastian yang berlebihan. Ia lebih memilih hipotesis yang dapat diperiksa daripada keyakinan yang tidak dapat diuji. Ia lebih mempercayai penyelidikan daripada dogma. Ia lebih menghargai pertanyaan daripada slogan.

Di sinilah Eco memperlihatkan bahwa modernitas yang sehat bukanlah modernitas yang menghapus keraguan. Justru sebaliknya. Modernitas yang sehat adalah modernitas yang mengelola keraguan secara produktif.

Pandangan tersebut dekat dengan tradisi intelektual yang berkembang dari Socrates hingga Jürgen Habermas. Dalam tradisi ini, rasionalitas tidak dipahami sebagai kepemilikan kebenaran mutlak, melainkan sebagai kesediaan untuk membawa keyakinan ke dalam ruang dialog dan kritik (Habermas: 1981).

Namun Eco juga menyadari keterbatasan rasionalitas. Berbeda dengan optimisme Pencerahan yang kadang berlebihan, ia memahami bahwa manusia bukan makhluk yang hanya digerakkan oleh argumen. Ketakutan, hasrat, identitas, memori, dan imajinasi sering memiliki pengaruh yang sama besar terhadap keputusan manusia.

Karena itu Jorge tidak dapat dikalahkan hanya dengan logika. Ia dikalahkan oleh kontradiksi yang tumbuh dari sistem yang dibangunnya sendiri. Ini pelajaran yang sangat penting. Tidak semua konflik manusia dapat diselesaikan melalui data. Tidak semua fanatisme dapat dihancurkan melalui argumentasi. Kadang persoalannya lebih dalam daripada sekadar kekeliruan intelektual. Ia menyentuh kebutuhan psikologis manusia akan kepastian, keteraturan, dan rasa aman.

Karena itu The Name of the Rose tidak boleh dibaca sebagai novel yang merayakan rasionalisme secara sederhana. Novel ini lebih dekat kepada pembelaan terhadap kerendahan hati intelektual. William tidak menang karena mengetahui segalanya. Ia menang karena bersedia mengakui apa yang tidak diketahuinya. Sebaliknya, Jorge kalah bukan karena kurang cerdas. Ia kalah karena terlalu yakin bahwa dirinya tidak mungkin salah.

Di sinilah letak relevansi terdalam novel ini bagi dunia kontemporer. Kita hidup dalam zaman yang sering menganggap keyakinan sebagai identitas. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah suatu pendapat benar. Yang lebih penting adalah apakah pendapat itu sesuai dengan kelompoknya.

Akibatnya, ruang publik berubah menjadi arena afirmasi identitas, bukan arena pencarian kebenaran. Eco melihat bahaya semacam itu jauh sebelum media sosial lahir. Melalui sebuah biara abad pertengahan, ia menunjukkan bahwa peradaban akan menghadapi krisis setiap kali manusia lebih mencintai kepastian daripada kebenaran. Karena kebenaran selalu menuntut kerja. Ia memerlukan kesabaran. Ia membutuhkan koreksi. Ia mengharuskan manusia menerima kemungkinan salah. Sedangkan kepastian menawarkan jalan yang jauh lebih mudah. Ia memberi rasa aman. Ia membebaskan manusia dari keraguan. Dan justru karena itulah ia sering berbahaya.

Maka jika ada satu pelajaran yang membuat The Name of the Rose terasa seperti novel abad kedua puluh satu yang ditulis sebelum waktunya, pelajaran itu adalah ini: ancaman terbesar terhadap pengetahuan bukanlah ketidaktahuan, melainkan keyakinan bahwa pencarian telah selesai.

Eco mengingatkan bahwa selama manusia masih berpikir, tidak ada pencarian yang benar-benar selesai. Selalu ada lorong baru di dalam labirin. Selalu ada buku yang belum dibaca. Selalu ada pertanyaan yang belum diajukan. Dan mungkin, justru di situlah harapan peradaban tetap hidup.

Penutup: Mawar yang Tersisa 

Setelah halaman terakhir ditutup, setelah api memakan perpustakaan, setelah Jorge mati bersama obsesi yang dibangunnya, setelah William dan Adso berpisah, pembaca perlahan menyadari bahwa misteri sesungguhnya dalam The Name of the Rose bukanlah siapa pembunuh para rahib itu. Misteri yang lebih besar adalah mengapa manusia terus mencari makna dalam dunia yang tidak pernah sepenuhnya dapat dipahaminya.

Pertanyaan itu menggantung sejak awal hingga akhir novel. Dan mungkin itulah alasan mengapa karya ini terus hidup melampaui zamannya.

Sebagian novel menjadi tua karena terlalu terikat pada konteks sejarah ketika ia ditulis. Sebagian lagi bertahan karena berhasil menyentuh persoalan-persoalan dasar keberadaan manusia. The Name of the Rose termasuk kategori kedua. Ia berbicara tentang abad keempat belas, tetapi sesungguhnya ia membahas masalah yang telah menemani manusia sejak lahirnya peradaban: pengetahuan, kekuasaan, iman, bahasa, cinta, kematian, dan keterbatasan.

Dalam pengertian tertentu, seluruh novel ini dapat dibaca sebagai refleksi panjang tentang kerendahan hati. William of Baskerville mengajarkan kerendahan hati intelektual. Adso mengajarkan kerendahan hati eksistensial. Perpustakaan yang terbakar mengajarkan kerendahan hati historis. Sedangkan kalimat terakhir novel mengajarkan kerendahan hati epistemologis.

Keempatnya bertemu dalam satu kesimpulan yang sederhana tetapi mendalam: manusia tidak pernah memiliki dunia sepenuhnya. Ia hanya meminjamnya untuk sementara.

Pandangan semacam ini sebenarnya memiliki akar yang sangat tua. Dalam tradisi Yunani klasik, Socrates menjadi figur yang dikenang bukan karena mengaku mengetahui segalanya, melainkan karena menyadari keterbatasan pengetahuannya sendiri (Plato: ca. 380 SM/1997). Kesadaran akan ketidaktahuan justru menjadi titik awal kebijaksanaan.

Warisan itu muncul kembali dalam tradisi Augustinian, berkembang dalam skeptisisme metodologis Ockham, memperoleh bentuk baru dalam rasionalitas modern, dan menemukan ekspresi sastra yang luar biasa dalam karya Eco.

Karena itu The Name of the Rose tidak boleh dipahami hanya sebagai novel sejarah. Ia lebih tepat dibaca sebagai novel tentang kondisi manusia. Novel ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu hidup di antara pengetahuan dan ketidaktahuan.

Di titik ini, kita dapat melihat mengapa Eco begitu terpesona oleh perpustakaan. Perpustakaan dalam novel bukan sekadar bangunan yang berisi buku. Ia adalah metafora bagi peradaban itu sendiri.

Setiap generasi mewarisi teks, simbol, gagasan, dan kenangan dari generasi sebelumnya. Tidak semuanya dipahami. Tidak semuanya diselamatkan. Sebagian hilang, sebagian berubah, sebagian ditafsirkan ulang.

Namun justru melalui proses itulah sejarah bergerak. Tidak ada tradisi yang bertahan karena membeku. Tradisi bertahan karena terus ditafsirkan kembali.

Pandangan ini memiliki kedekatan dengan hermeneutika Hans-Georg Gadamer yang melihat tradisi bukan sebagai benda mati, melainkan percakapan yang terus berlangsung antara masa lalu dan masa kini (Gadamer: 1960).

Novel Eco sendiri sebenarnya adalah bagian dari percakapan tersebut. Ia berbicara dengan Aristoteles. Ia berbicara dengan Aquinas. Ia berbicara dengan Ockham. Ia berbicara dengan Borges. Ia berbicara dengan Conan Doyle. Ia berbicara dengan seluruh sejarah intelektual Barat. Dan yang paling menarik, ia mengajak pembaca ikut masuk ke dalam percakapan itu.

Karena itu membaca The Name of the Rose bukan pengalaman yang pasif. Pembaca tidak sekadar mengikuti cerita. Pembaca diajak menafsirkan. Diajak meragukan. Diajak mencari hubungan antara teks, sejarah, dan kehidupan.

Dalam hal ini Eco memperlihatkan keyakinannya bahwa membaca adalah tindakan intelektual yang aktif. Sebuah teks tidak pernah selesai pada dirinya sendiri. Ia memperoleh kehidupan baru setiap kali bertemu pembaca baru.

Itulah sebabnya novel ini menghasilkan begitu banyak tafsir. Sebagian membacanya sebagai novel detektif. Sebagian sebagai novel sejarah. Sebagian sebagai alegori politik. Sebagian sebagai kritik terhadap fundamentalisme. Sebagian sebagai eksplorasi semiotika.

Dan yang menarik, semua pembacaan itu memiliki dasar yang sah. Kekayaan makna tersebut bukan kelemahan karya Eco. Sebaliknya, itulah salah satu ukuran kebesarannya. Karya besar tidak memberi jawaban tunggal. Ia membuka ruang pertanyaan yang terus bertahan. Di sinilah kita dapat memahami kembali makna judul The Name of the Rose.

Mengapa mawar?

Eco sendiri pernah mengakui bahwa ia memilih judul itu karena mawar merupakan simbol yang begitu kaya makna sehingga hampir tidak memiliki satu makna yang pasti lagi (Eco: 1983). Mawar dapat berarti cinta, kesucian, keindahan, kematian, nostalgia, kehilangan, atau apa pun yang dibawa pembaca ke dalam teks.

Pilihan tersebut sangat sesuai dengan keseluruhan novel. Sebab pada akhirnya, dunia yang digambarkan Eco bukan dunia yang miskin makna. Justru sebaliknya. Dunia terlalu kaya makna sehingga tidak mungkin direduksi menjadi satu tafsir final.

Dan di sinilah letak warisan intelektual paling penting yang ditinggalkan novel ini. Di tengah zaman yang terus tergoda oleh kepastian mutlak, Eco membela nilai keraguan. Di tengah budaya yang sering mengubah keyakinan menjadi identitas tertutup, Eco membela keterbukaan dialog. Di tengah kecenderungan menguasai pengetahuan, Eco mengingatkan bahwa pengetahuan selalu lebih besar daripada pemiliknya.

Barangkali karena alasan itu pula The Name of the Rose akan terus dibaca. Bukan karena misteri pembunuhannya. Bukan karena latar abad pertengahannya. Bukan bahkan karena kepiawaian naratif Eco semata. Melainkan karena novel ini berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah menjadi usang: usaha manusia memahami dunia sambil menyadari bahwa dunia tidak akan pernah sepenuhnya dapat dimiliki.

Pada akhirnya, perpustakaan boleh terbakar. Buku-buku boleh hilang. Kerajaan boleh runtuh. Lembaga boleh lenyap. Tetapi pertanyaan-pertanyaan besar yang diajukan manusia akan selalu kembali. Tentang kebenaran. Tentang kebebasan. Tentang Tuhan. Tentang cinta. Tentang makna.

Dan selama pertanyaan-pertanyaan itu masih diajukan, mawar yang tampaknya telah hilang itu sesungguhnya belum benar-benar mati.

Yang tersisa mungkin hanya namanya. Tetapi dari nama itu, pencarian baru selalu dapat dimulai.

Selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zakat dalam Kitab-kitab Fikih dan Tasawuf: Studi Komparatif-Interdisipliner

STEBI Global Mulia Bahas Masa Depan Filantropi Islam dan Sociopreneurship

Pendekatan Fenomenologis dalam Studi Agama[1]