Menyapu “Yang di Luar”: Ulasan atas Imanensi dan Transendensi, Sebuah Rekonstruksi Deleuzian atas Ontologi Imanensi dalam Tradisi Filsafat Prancis Kontemporer
Cak Yo
"L'immanence est une vie." (Imanensi adalah suatu kehidupan.)— Gilles Deleuze, L'Immanence: Une Vie... (1995)
"Das Wahre ist das Ganze." (Yang benar adalah keseluruhan itu sendiri.) — G. W. F. Hegel, Phänomenologie des Geistes (1807)
"Ich mußte also das Wissen aufheben, um zum Glauben Platz zu bekommen." (Karena itu aku harus menyingkirkan pengetahuan agar tersedia ruang bagi iman.)— Immanuel Kant, Kritik der reinen Vernunft (1787)
"Fa-inna al-ḥaqqa huwa al-ẓāhir wa huwa ʿaynu al-bāṭin." (Sebab al-Ḥaqq adalah Yang Tampak dan Dia pula Yang Tersembunyi.)— Muḥyī al-Dīn Ibn al-ʿArabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam (1946 ed.)
***
Ada buku yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru kepada pembacanya. Ada pula buku yang berusaha memetakan ulang seluruh medan tempat gagasan-gagasan itu bertarung. Buku kedua jauh lebih jarang ditemukan karena menuntut bukan hanya keluasan bacaan, melainkan juga keberanian menyusun suatu hipotesis besar mengenai sejarah pemikiran. Imanensi dan Transendensi: Sebuah Rekonstruksi Deleuzian atas Ontologi Imanensi dalam Tradisi Filsafat Prancis Kontemporer karya Martin Suryajaya termasuk dalam kategori yang kedua. Buku ini tidak sekadar menjelaskan para filsuf Prancis kontemporer, tetapi mencoba menemukan satu problem filosofis mendasar yang menghubungkan mereka semua, sekaligus menawarkan sebuah posisi teoretis yang jelas terhadap problem tersebut.
Pertama kali diterbitkan oleh AksiSepihak, Jakarta, pada Agustus 2009, buku ini terdiri atas xxxviii + 271 halaman. Pada saat buku ini ditulis, Martin Suryajaya bahkan belum menyelesaikan pendidikan strata satunya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Fakta tersebut dicatat secara khusus oleh A. Setyo Wibowo dalam kata pengantarnya, bukan sebagai anekdot biografis belaka, melainkan sebagai penanda kualitas intelektual naskah yang dianggap melampaui capaian akademik yang lazim bagi seorang mahasiswa tingkat sarjana. Apa yang segera terasa sejak halaman-halaman awal adalah keluasan penguasaan literatur filsafat Prancis modern serta kemampuan Martin membangun argumen yang sistematis dan konsisten dari awal hingga akhir (Suryajaya: 2009).
Meski judulnya menyebut filsafat Prancis kontemporer, buku ini sesungguhnya bukan sejarah filsafat dalam pengertian konvensional. Martin tidak tertarik menyusun kronologi perkembangan gagasan atau memaparkan biografi intelektual para tokoh yang dibahasnya. Ia justru berusaha menemukan satu problematik yang tersembunyi di balik berbagai aliran yang tampaknya berbeda satu sama lain. Problematik itu adalah relasi antara imanensi dan transendensi. Menurut Martin, seluruh filsafat Prancis pasca-Hegel dapat dibaca sebagai pergulatan panjang untuk membangun suatu ontologi imanensi yang konsisten. Akan tetapi, hampir semua upaya tersebut berakhir dengan kegagalan karena secara diam-diam masih mempertahankan bentuk tertentu dari transendensi di dalam dirinya sendiri (Suryajaya: 2009).
Dalam pengantar bukunya, Martin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan imanensi adalah kategori “yang-di-dalam”, sedangkan transendensi adalah kategori “yang-di-luar”. Namun persoalannya tidak sesederhana hubungan antara interior dan eksterior. Transendensi tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang benar-benar berada di luar suatu sistem. Ia dapat bekerja dari dalam sistem itu sendiri, menjadi syarat bagi keberadaan sistem tersebut, dan justru karena itu lebih sulit dikenali. Dalam bentuk semacam ini transendensi hadir melalui konsep-konsep seperti kekurangan (lack), negativitas, mediasi, absensi, jejak, atau sesuatu yang tidak pernah hadir sepenuhnya tetapi diperlukan agar sesuatu yang lain dapat hadir. Bagi Martin, selama unsur-unsur tersebut masih diperlukan, maka proyek imanensi belum pernah benar-benar selesai (Suryajaya: 2009, 4–5).
Dari titik inilah keseluruhan buku mulai bergerak. Martin memulai rekonstruksinya dari Jean Hyppolite (w. 1968), tokoh yang dianggapnya sebagai figur penting dalam penerimaan Hegel di Prancis. Pilihan ini menarik karena banyak pembaca mungkin mengira bahwa perdebatan mengenai imanensi dalam filsafat Prancis dimulai dari eksistensialisme Sartre atau bahkan pascastrukturalisme. Martin justru bergerak lebih ke belakang. Baginya, Hyppolite merupakan figur pertama yang menjadikan problem imanensi sebagai persoalan eksplisit dalam filsafat Prancis modern. Melalui pembacaannya atas Hegel, Hyppolite berusaha menunjukkan bahwa tidak ada realitas yang berdiri di luar sejarah. Tidak ada dunia tersembunyi di balik dunia yang tampak. Tidak ada sumber makna yang berada di luar proses historis itu sendiri. Segala sesuatu berada di dalam sistem dan memperoleh maknanya dari relasi internal sistem tersebut (Suryajaya: 2009).
Namun menurut Martin, kemenangan ini ternyata tidak pernah sempurna. Meskipun Hyppolite berhasil menghapus transendensi dalam bentuk klasiknya, ia masih mempertahankan negativitas sebagai motor penggerak sistem. Kesadaran berkembang melalui negasi. Sejarah bergerak melalui kontradiksi. Totalitas lahir melalui proses mediasi. Dengan demikian, sesuatu yang tidak hadir tetap dibutuhkan agar sesuatu yang hadir dapat hadir. Di sinilah Martin menemukan retakan pertama yang kemudian diwariskan kepada hampir seluruh filsafat Prancis kontemporer. Transendensi memang tidak lagi berada di luar sistem, tetapi ia muncul kembali dalam bentuk negativitas yang bekerja dari dalam sistem itu sendiri (Suryajaya: 2009).
Dari sini Martin menyusun peta filsafat Prancis kontemporer yang menjadi kontribusi paling orisinal buku ini. Menurutnya, terdapat dua jalur besar dalam perkembangan ontologi imanensi. Jalur pertama adalah apa yang dapat disebut sebagai via negativa. Jalur ini meliputi Sartre, Blanchot, Derrida, dan Lyotard. Meskipun berbeda dalam terminologi maupun orientasi filosofis, seluruh tokoh tersebut tetap memahami imanensi melalui suatu bentuk negativitas. Sebaliknya, jalur kedua adalah via positiva, yang berpuncak pada filsafat Gilles Deleuze (w. 1995). Jika jalur pertama memahami realitas melalui kekurangan dan absensi, jalur kedua berusaha membangun ontologi yang sepenuhnya bertumpu pada afirmasi dan produktivitas (Suryajaya: 2009).
Pembahasan mengenai Sartre menjadi langkah pertama dalam kritik Martin terhadap via negativa. Dalam filsafat Sartre, kesadaran dipahami melalui konsep néant atau ketiadaan. Kesadaran tidak pernah identik dengan dirinya sendiri. Ia selalu merupakan jarak terhadap dirinya, selalu melampaui apa yang telah ada. Menurut Martin, struktur semacam ini membuat ketiadaan memperoleh kedudukan ontologis yang mendasar. Eksistensi bergerak bukan karena produktivitas internalnya, melainkan karena kekurangan yang tidak pernah dapat dipenuhi. Karena itu, sekalipun Sartre menolak metafisika tradisional, ia tetap mempertahankan suatu bentuk transendensi dalam jantung ontologinya sendiri (Suryajaya: 2009).
Kritik serupa diarahkan kepada Maurice Blanchot (w. 2003). Dalam pembacaan Martin, pengalaman sastra yang dirumuskan Blanchot selalu bergerak menuju wilayah absensi. Menulis bukan tindakan subjek yang hadir sepenuhnya bagi dirinya sendiri, melainkan pengalaman kehilangan pusat, ketercerabutan dari identitas yang stabil, dan perjumpaan dengan sesuatu yang tak pernah hadir secara utuh. Karena itu, absensi kembali memperoleh fungsi ontologis yang menentukan. Yang tidak hadir menjadi syarat bagi pengalaman yang hadir. Dengan demikian, struktur dasar yang sama kembali ditemukan: kehadiran dijelaskan melalui ketidakhadiran (Suryajaya: 2009).
Akan tetapi medan pertarungan utama buku ini muncul ketika Martin sampai pada Jacques Derrida (w. 2004). Salah satu bab terpenting bahkan diberi judul “Derrida dan Kontaminasi Transendensi”. Martin mengakui bahwa Derrida merupakan salah satu kritikus paling radikal terhadap metafisika kehadiran. Melalui konsep différance, Derrida menunjukkan bahwa makna tidak pernah hadir secara penuh. Setiap tanda memperoleh identitasnya melalui perbedaan dengan tanda lain. Kehadiran selalu ditunda. Tidak ada asal-usul yang murni dan tidak ada pusat yang sepenuhnya stabil.
Namun justru di situlah Martin menemukan persoalan. Menurutnya, jika kehadiran selalu bergantung pada sesuatu yang tidak hadir, maka yang tidak hadir memperoleh status ontologis yang istimewa. Jejak (trace) dan différance menjadi syarat kemungkinan bagi segala kehadiran. Dengan demikian, absensi berubah menjadi fondasi. Bagi Martin, inilah bentuk paling subtil dari penyelundupan transendensi ke dalam imanensi. Dekonstruksi berhasil menghancurkan metafisika kehadiran, tetapi belum berhasil membangun ontologi yang sepenuhnya bebas dari struktur transendensi (Suryajaya: 2009, 102–122).
***
Dari Derrida ke Deleuze dan Kelahiran Ontologi Afirmasi
Sesudah menguraikan berbagai bentuk imanensi yang menurutnya masih terkontaminasi oleh transendensi, Martin Suryajaya membawa pembaca kepada inti argumentasi bukunya. Jika Sartre, Blanchot, dan Derrida menunjukkan berbagai variasi dari apa yang ia sebut sebagai ontologi negatif, maka pertanyaan berikutnya menjadi tak terhindarkan: mungkinkah imanensi dipikirkan tanpa bergantung pada negativitas sama sekali? Mungkinkah realitas dijelaskan tanpa harus merujuk kepada kekurangan, absensi, mediasi, atau jejak yang tidak pernah hadir sepenuhnya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak bagi pembahasan Martin mengenai Gilles Deleuze (w. 1995), figur yang dalam keseluruhan konstruksi buku ini tampil bukan sekadar sebagai salah satu filsuf Prancis kontemporer, melainkan sebagai titik kulminasi dari pergulatan panjang filsafat Prancis dengan problem imanensi (Suryajaya: 2009).
Di sinilah arah buku mulai berubah. Jika bab-bab sebelumnya didominasi oleh kritik, maka pembahasan mengenai Deleuze bergerak ke arah konstruktif. Martin tidak lagi sekadar menunjukkan di mana para filsuf lain gagal menghapus transendensi. Ia mulai menjelaskan bagaimana suatu ontologi imanensi yang benar-benar konsisten dapat dibangun. Dalam pembacaannya, keistimewaan Deleuze terletak pada keberaniannya memutus hubungan yang selama berabad-abad dianggap niscaya dalam filsafat Barat, yakni hubungan antara perbedaan dan negasi. Sejak tradisi dialektika hingga berbagai bentuk filsafat modern, perbedaan hampir selalu dipahami sebagai hasil dari negasi. Sesuatu berbeda karena ia bukan sesuatu yang lain. Identitas dianggap lebih dasar daripada perbedaan. Perbedaan hanya muncul sebagai efek dari relasi negatif antara identitas-identitas yang telah ada sebelumnya. Deleuze menolak seluruh asumsi tersebut (Suryajaya: 2009, 145–149).
Menurut Martin, Deleuze berangkat dari premis yang sepenuhnya berbeda. Perbedaan bukanlah akibat dari negasi. Perbedaan justru lebih fundamental daripada identitas. Identitas lahir dari proses diferensiasi yang lebih mendasar. Dengan kata lain, perbedaan tidak membutuhkan negasi agar dapat dipikirkan. Ia memiliki realitas positifnya sendiri. Di sinilah Martin melihat terjadinya pembalikan besar terhadap hampir seluruh warisan metafisika Barat. Jika filsafat sebelumnya menjelaskan dunia melalui kekurangan, Deleuze menjelaskannya melalui produktivitas. Jika sebelumnya perubahan dipahami sebagai usaha mengatasi ketiadaan, kini perubahan dipahami sebagai ekspresi dari daya kreatif yang inheren dalam realitas itu sendiri (Suryajaya: 2009, 149–151).
Argumen ini memiliki konsekuensi yang sangat luas. Dalam ontologi negatif, gerak selalu membutuhkan sesuatu yang hilang. Kesadaran bergerak karena kekurangan. Sejarah bergerak karena kontradiksi. Makna bergerak karena ketidakhadiran. Akan tetapi dalam ontologi afirmatif Deleuze, gerak tidak membutuhkan kehilangan apa pun. Realitas bergerak karena ia produktif. Keberadaan tidak lahir dari ketiadaan, melainkan dari kemampuan internalnya untuk terus menghasilkan diferensiasi baru. Oleh karena itu, menurut Martin, filsafat Deleuze merupakan upaya paling radikal untuk membebaskan imanensi dari seluruh bentuk ketergantungan terhadap transendensi (Suryajaya: 2009, 151–153).
Pada titik ini Martin memperkenalkan salah satu tema sentral dalam filsafat Deleuze, yakni afirmasi. Istilah ini tidak boleh dipahami secara psikologis sebagai sikap optimistis terhadap kehidupan. Yang dimaksud Deleuze jauh lebih mendasar. Afirmasi adalah prinsip ontologis. Ia menunjuk pada kenyataan bahwa keberadaan tidak memerlukan sesuatu yang berada di luar dirinya untuk dapat eksis. Tidak ada pusat yang hilang. Tidak ada asal-usul yang harus dipulihkan. Tidak ada kekurangan primordial yang harus diatasi. Yang ada hanyalah proses produksi yang berlangsung terus-menerus di dalam ranah imanensi itu sendiri. Karena itu, dunia tidak membutuhkan transendensi sebagai syarat keberadaannya. Dunia cukup bagi dirinya sendiri (Suryajaya: 2009, 153–154).
Dalam pembacaan Martin, titik inilah yang membedakan Deleuze secara paling tajam dari Derrida. Jika Derrida berbicara mengenai jejak, penundaan, dan ketidakhadiran, Deleuze justru berbicara mengenai produksi, penciptaan, dan diferensiasi positif. Jika Derrida menemukan bahwa kehadiran selalu terkontaminasi oleh absensi, Deleuze berusaha menunjukkan bahwa realitas dapat dipahami sepenuhnya melalui apa yang hadir dan bekerja di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, Deleuze berusaha menghapus kebutuhan akan kategori absensi sebagai syarat ontologis bagi kehadiran (Suryajaya: 2009, 154–156).
Dari sinilah Martin kemudian sampai pada konsep yang dianggapnya sebagai pusat seluruh filsafat Deleuze, yakni bidang imanensi (plane of immanence). Bidang imanensi bukanlah substansi dalam pengertian metafisika klasik, bukan pula fondasi yang berdiri di bawah seluruh realitas. Ia adalah medan tempat segala sesuatu berlangsung tanpa memerlukan prinsip eksternal apa pun. Semua proses, relasi, diferensiasi, dan transformasi terjadi di dalam bidang tersebut. Tidak ada titik pandang istimewa di luar sistem. Tidak ada pusat transenden yang menjadi sumber legitimasi. Tidak ada wilayah metafisis yang harus dirujuk untuk menjelaskan dunia. Segala sesuatu terjadi di dalam imanensi itu sendiri (Suryajaya: 2009, 156–158).
Bagi Martin, inilah momen yang paling menentukan dalam sejarah filsafat Prancis kontemporer. Untuk pertama kalinya muncul suatu usaha sistematis untuk membangun ontologi yang tidak lagi bergantung pada kategori-kategori negatif. Jika Hyppolite masih mempertahankan negativitas dialektis, jika Sartre masih membutuhkan néant, jika Blanchot masih membutuhkan absensi, dan jika Derrida masih membutuhkan trace serta différance, maka Deleuze berusaha menjelaskan realitas tanpa satu pun dari perangkat tersebut. Karena itu Martin menyebut filsafat Deleuze sebagai bentuk paling konsekuen dari ontologi imanensi yang pernah muncul dalam tradisi filsafat Prancis modern (Suryajaya: 2009, 158–160).
Akan tetapi, pembacaan Martin terhadap Deleuze tidak berhenti pada apresiasi historis. Yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah suatu pilihan filosofis. Melalui Deleuze, Martin hendak menunjukkan bahwa dunia tidak harus dipahami melalui logika kekurangan. Selama berabad-abad filsafat Barat terbiasa menjelaskan gerak melalui negasi, konflik, atau ketidakhadiran. Deleuze membuka kemungkinan lain: bahwa realitas bergerak justru karena kelimpahan. Yang produktif bukanlah kekurangan, melainkan daya. Yang kreatif bukanlah absensi, melainkan afirmasi. Yang mendasar bukanlah negasi, melainkan produksi (Suryajaya: 2009, 160–161).
Dengan demikian, pembahasan mengenai Deleuze menjadi pusat gravitasi seluruh buku. Semua kritik terhadap Sartre, Blanchot, Derrida, dan Lyotard pada akhirnya diarahkan untuk membuka ruang bagi kemunculan ontologi afirmatif ini. Apa yang sejak awal dicari Martin bukanlah sekadar kritik terhadap transendensi, melainkan kemungkinan bagi suatu filsafat yang mampu berpikir sepenuhnya dari dalam imanensi. Dalam pengertian tersebut, Deleuze tampil sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah menghantui seluruh filsafat Prancis kontemporer: bagaimana mungkin berbicara tentang dunia tanpa mengandaikan sesuatu yang berada di luar dunia itu sendiri?
Namun justru pada titik inilah persoalan baru mulai muncul. Jika segala bentuk transendensi berhasil dihapus, jika seluruh negativitas berhasil disingkirkan, dan jika realitas dipahami sebagai produktivitas murni, maka bagaimana menjelaskan pengalaman keterbatasan, konflik, kegagalan, atau bahkan penderitaan yang begitu nyata dalam kehidupan manusia? Pertanyaan ini belum dijawab secara tuntas pada tahap ini. Tetapi justru dari sinilah pembaca mulai melihat bahwa keberhasilan proyek Deleuze sekaligus membuka medan persoalan baru yang tidak kalah pentingnya.
***
Menilai Martin Suryajaya: Kekuatan, Keberanian, dan Batas-Batas Ontologi Imanensi
Sesudah mengikuti keseluruhan rekonstruksi yang disusun Martin Suryajaya, pembaca akan segera menyadari bahwa Imanensi dan Transendensi bukan sekadar sebuah survei pemikiran Prancis kontemporer. Buku ini adalah sebuah tesis filosofis yang diperjuangkan secara sadar dan konsisten. Sejak halaman-halaman awal hingga penutup, Martin tidak pernah menyembunyikan keberpihakannya. Ia memang membaca seluruh tradisi filsafat Prancis melalui lensa Deleuze. Bahkan lebih jauh lagi, ia mengukur seluruh filsafat Prancis berdasarkan kedekatan atau jaraknya terhadap apa yang dianggap sebagai proyek ontologi imanensi yang konsisten. Karena itu, buku ini tidak dapat dibaca sebagai sejarah filsafat yang netral. Ia adalah sebuah intervensi intelektual yang secara terbuka memasuki arena perdebatan yang sedang dipetakannya sendiri.
Justru di sinilah salah satu kekuatan terbesar buku ini. Banyak karya pengantar filsafat hanya berhenti pada eksposisi. Pembaca diperkenalkan kepada berbagai tokoh, berbagai konsep, dan berbagai perdebatan, tetapi tidak pernah diajak untuk melihat hubungan mendasar di antara semuanya. Martin melakukan hal yang berbeda. Ia tidak sekadar menjelaskan apa yang dipikirkan Sartre, Blanchot, Derrida, Lyotard, atau Deleuze. Ia bertanya mengapa mereka berpikir seperti itu dan problem filosofis apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi bersama. Dengan cara ini, filsafat Prancis kontemporer yang sering tampak sebagai kumpulan nama dan jargon yang terpisah-pisah berubah menjadi satu medan intelektual yang memiliki pusat gravitasi yang jelas.
Sumbangan semacam ini tidak kecil. Di Indonesia, pembacaan terhadap filsafat Prancis sering kali terpecah ke dalam kotak-kotak disipliner. Sartre dibaca dalam kajian eksistensialisme, Derrida dalam teori sastra, Foucault dalam ilmu sosial, dan Lyotard dalam studi kebudayaan. Akibatnya, hubungan ontologis yang lebih mendalam di antara mereka sering kali tidak terlihat. Martin justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa di balik perbedaan metodologi, gaya, dan tema, terdapat satu persoalan yang terus berulang: bagaimana membangun imanensi tanpa tergelincir kembali ke dalam transendensi. Dengan demikian, buku ini berhasil memperlihatkan lapisan yang lebih fundamental dari sekadar klasifikasi akademik yang lazim digunakan.
Keberanian lain yang patut dicatat adalah kesediaan Martin untuk berbicara mengenai ontologi pada saat banyak diskusi kontemporer cenderung menghindari wilayah tersebut. Sejak paruh akhir abad kedua puluh, perhatian banyak pemikir bergeser ke arah bahasa, representasi, identitas, diskursus, dan kekuasaan. Persoalan tentang hakikat keberadaan sering dianggap terlalu metafisis atau bahkan telah usang. Martin bergerak melawan kecenderungan itu. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap teori bahasa, setiap teori politik, dan setiap teori kebudayaan selalu terdapat asumsi ontologis tertentu. Dengan kata lain, pertanyaan mengenai apa yang ada dan bagaimana sesuatu ada tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya berganti nama dan berpindah medan perdebatan.
Karena itu, membaca buku ini sering menimbulkan kesan bahwa Martin sedang berusaha mengembalikan filsafat kepada salah satu tugas tertuanya: memikirkan struktur dasar realitas. Apa yang membuat sesuatu hadir? Mengapa perubahan terjadi? Apakah perbedaan bergantung pada negasi? Apakah dunia memerlukan sesuatu yang berada di luar dirinya sendiri agar dapat dipahami? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar kuno di tengah dominasi teori-teori budaya kontemporer, tetapi justru karena itulah buku ini terasa segar. Ia mengingatkan bahwa filsafat tidak hanya berbicara tentang interpretasi, melainkan juga tentang keberadaan.
Namun kekuatan yang sama sekaligus menghadirkan sejumlah persoalan. Salah satu pertanyaan yang terus muncul sepanjang pembacaan adalah apakah Martin tidak terlalu cepat mengidentikkan transendensi dengan masalah dan imanensi dengan solusi. Dalam konstruksi bukunya, hampir seluruh filsafat yang masih menyisakan bentuk tertentu dari transendensi dianggap belum berhasil menuntaskan proyeknya. Sartre gagal karena masih mempertahankan néant. Derrida gagal karena masih memerlukan trace. Lyotard gagal karena masih berbicara tentang yang tak terpresentasikan. Dengan demikian, kemunculan kembali transendensi selalu dibaca sebagai kekurangan teoretis.
Padahal mungkin saja kemunculan itu menunjukkan sesuatu yang lain. Bisa jadi transendensi tidak terus-menerus muncul karena para filsuf tersebut kurang radikal, melainkan karena mereka menemukan batas tertentu dalam proyek imanensi itu sendiri. Kemungkinan semacam ini tidak banyak dibahas oleh Martin. Sejak awal ia telah memilih posisi bahwa tujuan filsafat adalah menghapus seluruh bentuk transendensi. Karena itu, setiap kemunculan kembali transendensi hampir pasti akan ditafsirkan sebagai kegagalan. Pembacaan seperti ini sangat konsisten, tetapi sekaligus membuat ruang bagi kemungkinan-kemungkinan lain menjadi relatif sempit.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai posisi istimewa yang diberikan kepada Deleuze. Tidak diragukan bahwa Deleuze merupakan pusat gravitasi seluruh buku ini. Bahkan sejak judulnya, Martin telah menyatakan bahwa rekonstruksi yang dilakukannya adalah rekonstruksi Deleuzian. Karena itu, tidak mengherankan apabila seluruh jalur argumentasi pada akhirnya mengarah kepada Deleuze sebagai bentuk paling maju dari ontologi imanensi. Akan tetapi, akibatnya para pemikir lain sering tampak terutama sebagai langkah-langkah menuju Deleuze. Mereka dibaca berdasarkan apa yang belum berhasil mereka capai, bukan berdasarkan apa yang mungkin justru menjadi kekuatan khas mereka.
Meski demikian, kritik semacam itu tidak mengurangi arti penting buku ini. Justru sebaliknya. Sebuah karya filosofis yang baik memang tidak harus membuat semua pembacanya setuju. Yang lebih penting adalah kemampuannya memaksa pembaca untuk berpikir ulang mengenai asumsi-asumsi yang selama ini dianggap biasa. Dalam hal ini, Imanensi dan Transendensi berhasil melakukannya dengan sangat baik. Setelah membaca buku ini, sulit untuk kembali membaca filsafat Prancis kontemporer dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Pertanyaan mengenai imanensi dan transendensi akan terus muncul di belakang berbagai konsep yang tampaknya tidak berhubungan dengan keduanya.
Barangkali itulah pencapaian intelektual terbesar Martin Suryajaya. Ia berhasil menunjukkan bahwa di balik keragaman wajah filsafat Prancis modern terdapat satu drama ontologis yang terus berlangsung. Drama itu bukan tentang pergantian aliran, bukan tentang persaingan metodologi, dan bukan pula tentang mode intelektual yang datang dan pergi. Drama itu adalah pertarungan panjang antara dua cara memahami realitas: apakah dunia harus dijelaskan melalui kekurangan atau melalui produktivitas; melalui negasi atau melalui afirmasi; melalui sesuatu yang berada di luar dirinya atau melalui kekuatan yang sepenuhnya bekerja dari dalam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, terlepas dari apakah pembaca menerima atau menolak keberpihakan Martin kepada Deleuze, sulit untuk menyangkal bahwa buku ini merupakan salah satu karya filsafat Indonesia paling ambisius pada generasinya. Ditulis oleh seorang penulis yang saat itu bahkan belum menyelesaikan pendidikan sarjananya, buku ini memperlihatkan sesuatu yang semakin langka dalam dunia akademik: keberanian untuk mengajukan tesis besar dan mempertahankannya secara sistematis. Dan mungkin justru karena keberanian itulah Imanensi dan Transendensi masih layak dibaca hingga hari ini.
***
Analisis: Imanensi Deleuze dan Kembalinya Pertanyaan Metafisika
Sesudah menutup halaman terakhir Imanensi dan Transendensi, pembaca segera menyadari bahwa yang sedang dipertaruhkan Martin Suryajaya bukan semata-mata pembacaan atas filsafat Prancis kontemporer. Yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah salah satu persoalan tertua dalam sejarah filsafat: apakah realitas memiliki dasar di luar dirinya sendiri ataukah cukup dijelaskan dari dirinya sendiri? Dengan bahasa Martin, pertanyaannya adalah apakah transendensi merupakan syarat niscaya bagi keberadaan atau justru hambatan yang harus disingkirkan demi mencapai imanensi yang murni (Suryajaya: 2009).
Dilihat dari sudut sejarah filsafat yang lebih luas, problem yang dibahas Martin sesungguhnya telah hadir sejak masa Yunani kuno. Pada Plato (w. 347 SM), dunia inderawi memperoleh makna karena partisipasinya dalam dunia ide. Realitas empiris tidak memiliki kecukupan ontologis pada dirinya sendiri. Ia memerlukan sesuatu yang melampauinya. Dalam Politeia, ide tentang Kebaikan menjadi sumber intelligibilitas sekaligus keberadaan. Dengan demikian, transendensi menjadi fondasi seluruh bangunan filsafat Plato. Aristoteles (w. 322 SM) mengkritik teori ide tersebut, tetapi tidak benar-benar meninggalkan transendensi. Dalam Metaphysica, ia tetap mempertahankan konsep Penggerak Tak Bergerak (prōton kinoun akineton) sebagai prinsip tertinggi yang menjelaskan keteraturan kosmos. Dengan kata lain, bahkan ketika bentuk-bentuk transendensi berubah, kebutuhan akan sesuatu yang berada di luar dunia tetap dipertahankan.
Tradisi ini berlanjut dalam filsafat Helenistik dan Neoplatonik. Plotinus (w. 270) membangun metafisika emanasi yang menjadikan Yang Satu (to hen) sebagai sumber seluruh realitas. Semua tingkatan keberadaan memancar dari Yang Satu dan memperoleh eksistensinya dari kedekatan atau kejauhan terhadap prinsip tersebut. Dalam sistem semacam ini, transendensi bukan hanya dasar ontologis, melainkan juga orientasi spiritual. Keberadaan dipahami sebagai gerak kembali menuju sumber yang melampauinya.
Di tangan para filsuf Muslim klasik, problem tersebut memperoleh artikulasi yang lebih sistematis. Ibn Sīnā (w. 1037), misalnya, membangun seluruh ontologinya di atas pembedaan antara wājib al-wujūd dan mumkin al-wujūd. Dunia tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri karena seluruh entitas di dalamnya bersifat mungkin. Karena itu harus ada suatu keberadaan yang niscaya dan tidak bergantung kepada apa pun selain dirinya sendiri. Dalam al-Ilāhiyyāt min Kitāb al-Shifāʾ, prinsip ini menjadi fondasi bagi keseluruhan metafisika. Dalam kerangka semacam ini, transendensi bukan sekadar pilihan teoretis, melainkan kebutuhan logis yang muncul dari analisis terhadap eksistensi itu sendiri.
Hal serupa dapat ditemukan pada Abū Ḥāmid al-Ghazālī (w. 1111). Meskipun mengkritik para filsuf dalam Tahāfut al-Falāsifah, ia tidak menolak transendensi. Sebaliknya, ia justru memperkuat kedudukan Tuhan sebagai sumber mutlak seluruh realitas. Bahkan ketika hubungan sebab-akibat direduksi menjadi kebiasaan (ʿādah), keberlangsungan dunia tetap bergantung sepenuhnya kepada kehendak ilahi. Dalam sistem al-Ghazālī, tidak ada ruang bagi imanensi yang berdiri sendiri.
Menariknya, Muḥyī al-Dīn Ibn al-ʿArabī (w. 1240) memperumit oposisi sederhana antara imanensi dan transendensi. Dalam karya seperti Fuṣūṣ al-Ḥikam dan al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Tuhan dipahami sekaligus sebagai al-ẓāhir dan al-bāṭin, Yang Tampak dan Yang Tersembunyi. Karena itu, transendensi dan imanensi tidak lagi berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Tuhan transenden karena tidak dapat direduksi pada dunia, tetapi juga imanen karena seluruh manifestasi keberadaan merupakan tajallī-Nya. Perspektif ini menarik jika dibaca berdampingan dengan Martin. Sebab salah satu asumsi dasar buku Imanensi dan Transendensi adalah bahwa semakin sedikit transendensi, semakin kuat imanensi. Dalam tradisi Ibn al-ʿArabī, hubungan keduanya jauh lebih kompleks daripada sekadar relasi oposisi.
Pada Abad Pertengahan Latin, problem yang sama muncul dalam karya Thomas Aquinas (w. 1274). Dalam Summa Theologiae, Tuhan dipahami sebagai ipsum esse subsistens, keberadaan itu sendiri yang menjadi dasar seluruh eksistensi. Tidak ada entitas yang mampu menopang dirinya sendiri. Segala sesuatu bergantung pada sumber yang melampaui dirinya. Dengan demikian, metafisika Kristen klasik tetap beroperasi melalui struktur transendensi.
Baru pada masa modern proyek imanensi mulai memperoleh momentumnya. Baruch Spinoza (w. 1677), yang sangat berpengaruh terhadap Deleuze, menjadi titik balik yang penting. Dalam Ethica, Tuhan tidak lagi dipahami sebagai pribadi transenden yang berada di luar dunia. Tuhan adalah substansi tunggal yang identik dengan alam (Deus sive Natura). Semua yang ada merupakan modus dari substansi tersebut. Di sinilah Deleuze menemukan salah satu sumber utama ontologi imanensinya. Martin sendiri menyadari bahwa Deleuze tidak muncul dari ruang kosong. Banyak unsur fundamental dalam proyeknya sesungguhnya merupakan radikalisasi atas warisan Spinoza (Suryajaya: 2009).
Namun bahkan dalam tradisi Pencerahan, transendensi tidak sepenuhnya lenyap. Immanuel Kant (w. 1804) memang membatasi klaim metafisika tradisional, tetapi ia tetap mempertahankan wilayah noumenon yang tidak dapat dijangkau oleh pengalaman. G.W.F. Hegel (w. 1831) berusaha mengatasi dualisme tersebut melalui dialektika, tetapi sebagaimana ditunjukkan Martin melalui pembacaan atas Hyppolite, negativitas tetap menjadi motor utama sistem Hegelian (Suryajaya: 2009). Justru di titik inilah Martin memulai rekonstruksinya.
Dari perspektif ini, proyek Deleuze yang dibela Martin tampak sebagai salah satu usaha paling radikal dalam sejarah filsafat Barat. Jika Plato hingga Hegel masih mempertahankan berbagai bentuk transendensi, maka Deleuze berusaha membangun dunia yang sepenuhnya cukup bagi dirinya sendiri. Tidak ada pusat yang hilang. Tidak ada kekurangan primordial. Tidak ada fondasi yang berada di luar realitas. Yang ada hanyalah produksi, diferensiasi, dan afirmasi.
Namun di sinilah kritik kontemporer mulai muncul. Alain Badiou (w. 2024), yang juga dibahas Martin pada bagian akhir bukunya, menilai bahwa imanensi absolut Deleuze justru berisiko melarutkan peristiwa (event) ke dalam kontinuitas keberadaan. Slavoj Žižek berargumen bahwa penghapusan negativitas secara total membuat filsafat kehilangan kemampuan menjelaskan antagonisme dan konflik yang nyata. Sementara Ernesto Laclau (w. 2014) mempertahankan konsep kekurangan sebagai syarat bagi terbentuknya identitas politik. Menariknya, sebagian kritik tersebut justru menghidupkan kembali tema yang sejak awal ingin ditinggalkan Martin: bahwa mungkin saja negativitas bukan sekadar residu metafisika lama, melainkan bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia.
Dalam pemikiran Islam kontemporer, persoalan serupa muncul dalam karya-karya Seyyed Hossein Nasr (w. masih hidup), Muḥammad Arkoun (w. 2010), Fazlur Rahman (w. 1988), dan Mohammed Abed al-Jabri (w. 2010). Meskipun sangat berbeda satu sama lain, mereka sama-sama menunjukkan bahwa modernitas sering kali bergerak menuju bentuk-bentuk imanensi yang semakin kuat. Akan tetapi, tidak satu pun dari mereka benar-benar menghapus dimensi transenden dari kehidupan manusia. Nasr bahkan melihat krisis modernitas sebagai akibat langsung dari hilangnya kesadaran transenden. Dalam konteks ini, pembelaan Martin terhadap imanensi absolut tampak sebagai posisi yang sangat khas dan tidak sepenuhnya diterima oleh banyak pemikir Muslim modern.
Karena itu, kekuatan terbesar buku Martin mungkin justru terletak pada kemampuannya menghidupkan kembali perdebatan yang tampaknya telah selesai. Ia memaksa pembaca untuk bertanya ulang tentang dasar keberadaan, tentang status negativitas, tentang kemungkinan imanensi murni, dan tentang nasib transendensi dalam filsafat kontemporer. Kita boleh menerima atau menolak jawabannya. Kita boleh mengikuti Deleuze atau tetap bertahan bersama Derrida, bahkan kembali kepada Ibn Sīnā, al-Ghazālī, atau Ibn al-ʿArabī. Akan tetapi setelah membaca buku ini, sulit untuk menghindari pertanyaan yang terus menghantui seluruh sejarah filsafat: apakah realitas benar-benar cukup bagi dirinya sendiri, ataukah selalu ada sesuatu yang melampauinya? Pertanyaan itulah yang menjadikan Imanensi dan Transendensi tetap penting dibaca jauh melampaui konteks filsafat Prancis yang menjadi tema utamanya.
***
Mengapa Buku Ini Tetap Penting Dibaca Dua Dasawarsa Kemudian?
Dua dasawarsa setelah pertama kali terbit pada 2009, Imanensi dan Transendensi: Sebuah Rekonstruksi Deleuzian atas Ontologi Imanensi dalam Tradisi Filsafat Prancis Kontemporer tetap menjadi salah satu karya filsafat Indonesia yang layak dibaca kembali. Bukan semata-mata karena buku ini memperkenalkan pembaca Indonesia kepada nama-nama besar seperti Jean Hyppolite (w. 1968), Jean-Paul Sartre (w. 1980), Maurice Blanchot (w. 2003), Jacques Derrida (w. 2004), Jean-François Lyotard (w. 1998), Gilles Deleuze (w. 1995), dan Alain Badiou (w. 2024). Nilai penting buku ini justru terletak pada keberhasilannya mengajukan sebuah pertanyaan filosofis yang jauh lebih mendasar daripada sekadar perdebatan antarmazhab: mungkinkah realitas dipahami tanpa mengandaikan sesuatu yang berada di luar dirinya sendiri?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar abstrak. Namun sesungguhnya ia terus menghantui sejarah pemikiran manusia. Dari Plato (w. 347 SM) hingga Deleuze, dari Ibn Sīnā (w. 1037) hingga Martin Heidegger (w. 1976), dari al-Shifāʾ hingga Difference and Repetition (1968), filsafat berulang kali kembali kepada persoalan yang sama: apakah keberadaan cukup dijelaskan oleh dirinya sendiri ataukah memerlukan suatu dasar yang melampauinya? Dengan bahasa yang lebih sederhana, apakah dunia memiliki kecukupan ontologis ataukah ia selalu bergantung pada sesuatu yang lain?
Martin membaca seluruh filsafat Prancis kontemporer sebagai medan pertempuran atas pertanyaan tersebut. Dan justru karena itu bukunya tidak mudah menjadi usang. Nama-nama yang dibahas mungkin berubah, mode intelektual mungkin berganti, tetapi problem yang dihadapinya tetap hidup. Bahkan dalam banyak hal, problem itu terasa semakin relevan pada abad ke-21 ketika berbagai bentuk imanensi semakin mendominasi kehidupan intelektual modern.
Dalam ilmu pengetahuan modern, misalnya, penjelasan mengenai realitas semakin bergerak ke arah sebab-sebab internal. Dalam teori sosial, struktur sosial dijelaskan melalui relasi-relasi sosial itu sendiri. Dalam teori politik, legitimasi tidak lagi dicari dalam sumber-sumber transenden, melainkan dalam prosedur dan konsensus manusia. Bahkan dalam kebudayaan populer, dunia sering dipahami sebagai ruang yang sepenuhnya tertutup pada dirinya sendiri. Dengan demikian, pertanyaan tentang imanensi bukan lagi persoalan teknis filsafat Prancis, melainkan salah satu ciri utama kesadaran modern.
Di sinilah relevansi buku Martin menjadi jelas. Ia membantu pembaca melihat bahwa di balik berbagai teori kontemporer terdapat asumsi ontologis yang sering tidak disadari. Ketika seseorang berbicara tentang identitas, bahasa, sejarah, politik, atau kebudayaan, sebenarnya ia juga sedang mengandaikan cara tertentu dalam memahami keberadaan. Dengan kata lain, perdebatan mengenai imanensi dan transendensi bukanlah diskusi pinggiran. Ia berada di jantung hampir seluruh percakapan intelektual modern.
Namun pentingnya buku ini tidak berhenti di situ.
Dua puluh tahun sesudah penerbitannya, pembaca juga dapat melihat buku ini sebagai dokumen yang mencerminkan suatu momen tertentu dalam sejarah intelektual Indonesia. Ia lahir pada masa ketika filsafat Indonesia sedang berusaha keluar dari posisi konsumtif terhadap teori-teori Barat. Banyak karya pada masa itu masih berfungsi sebagai pengantar atau ringkasan pemikiran tokoh-tokoh besar. Martin melakukan sesuatu yang berbeda. Ia tidak sekadar menjelaskan Derrida atau Deleuze. Ia membangun sebuah tesis mengenai hubungan di antara mereka dan mempertahankan tesis tersebut secara sistematis. Dalam pengertian itu, buku ini merupakan contoh awal dari usaha berfilsafat, bukan sekadar usaha mempelajari filsafat.
Nilai semacam ini semakin tampak ketika kita mengingat bahwa naskah tersebut ditulis ketika Martin belum menyelesaikan pendidikan strata satunya. Fakta tersebut sering disebut karena memang mencolok, tetapi maknanya bukan terletak pada unsur biografis semata. Yang lebih penting adalah bahwa buku ini memperlihatkan suatu etos intelektual yang jarang ditemukan: keberanian untuk memasuki perdebatan besar dan mengambil posisi yang jelas di dalamnya. Martin tidak berlindung di balik netralitas akademik. Ia memilih pihak, mengajukan argumen, dan mempertaruhkan pembacaannya.
Akan tetapi, mungkin justru di sinilah buku ini paling menarik untuk dibaca kembali hari ini.
Jika pada 2009 banyak pembaca mungkin terkesan oleh kemenangan Deleuze yang dirayakan Martin, maka dua puluh tahun kemudian pembaca dapat melihat persoalan itu dengan jarak yang lebih tenang. Apakah imanensi absolut benar-benar mungkin? Apakah negativitas memang hanya residu metafisika lama? Apakah seluruh bentuk transendensi harus disingkirkan? Ataukah kemunculan kembali transendensi dalam Derrida, Lyotard, bahkan dalam berbagai tradisi keagamaan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya direduksi ke dalam imanensi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik jika buku ini dibaca berdampingan dengan tradisi intelektual Islam. Dalam pemikiran Ibn Sīnā, misalnya, keberadaan dunia mengarah kepada wājib al-wujūd. Dalam pemikiran al-Ghazālī (w. 1111), keteraturan dunia bergantung pada kehendak ilahi. Dalam metafisika Ibn al-ʿArabī (w. 1240), transendensi dan imanensi tidak dipertentangkan secara mutlak, melainkan dipahami sebagai dua dimensi yang saling melengkapi dari realitas yang sama. Bahkan para pemikir Muslim modern seperti Fazlur Rahman (w. 1988), Muḥammad Arkoun (w. 2010), Mohammed Abed al-Jābirī (w. 2010), dan Seyyed Hossein Nasr tetap mempertahankan pertanyaan mengenai dimensi transenden manusia, meskipun dengan cara yang sangat berbeda-beda.
Dari perspektif ini, pembacaan Martin terhadap Deleuze dapat dipandang bukan sebagai akhir perdebatan, melainkan sebagai salah satu posisi paling radikal dalam perdebatan yang jauh lebih panjang. Dan justru karena itulah buku ini tetap hidup. Buku yang mati adalah buku yang hanya menghasilkan kesepakatan. Buku yang hidup adalah buku yang terus memancing sanggahan, kritik, dan pembacaan ulang.
Pada akhirnya, arti penting Imanensi dan Transendensi tidak terletak pada apakah pembacanya menerima atau menolak kesimpulan Martin. Nilai terbesarnya terletak pada kemampuannya menghidupkan kembali keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Di tengah dunia akademik yang sering terpecah ke dalam spesialisasi yang semakin sempit, Martin mengingatkan bahwa filsafat pada mulanya lahir dari usaha memahami keseluruhan. Ia mengajak pembaca kembali bertanya tentang keberadaan, tentang dasar realitas, tentang hubungan antara yang hadir dan yang tidak hadir, tentang kemungkinan dunia yang sepenuhnya imanen, dan tentang nasib transendensi di zaman modern.
Karena itu, dua puluh tahun setelah diterbitkan, buku ini masih layak dibaca bukan hanya sebagai studi mengenai filsafat Prancis kontemporer, melainkan sebagai undangan untuk memasuki salah satu perdebatan paling tua dan paling mendasar dalam sejarah pemikiran manusia. Sebuah perdebatan yang belum selesai ketika Plato menuliskan Politeia, belum selesai ketika Ibn Sīnā menyusun al-Shifāʾ, belum selesai ketika Deleuze menulis Différence et Répétition, dan tampaknya juga belum selesai ketika Martin Suryajaya menerbitkan buku pertamanya.
Justru karena belum selesai, buku ini tetap penting. Dan mungkin akan terus penting selama manusia masih bertanya apakah dunia ini cukup bagi dirinya sendiri, ataukah selalu ada sesuatu yang berada di luar dan melampauinya.
***
Penutup: Diskursus yang Mengundang Pembacaan Ulang
Pada akhirnya, arti penting Imanensi dan Transendensi tidak terletak pada apakah pembacanya menerima atau menolak kesimpulan Martin Suryajaya. Nilai terbesarnya justru terletak pada kemampuannya menghidupkan kembali keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Di tengah dunia akademik yang semakin terfragmentasi ke dalam spesialisasi-spesialisasi sempit, Martin mengingatkan bahwa filsafat pada mulanya lahir dari hasrat untuk memahami keseluruhan kenyataan. Ia mengajak pembaca kembali bertanya tentang keberadaan, tentang dasar realitas, tentang hubungan antara yang hadir dan yang tidak hadir, tentang kemungkinan dunia yang sepenuhnya imanen, dan tentang nasib transendensi di zaman modern.
Sebagai sebuah karya filsafat, buku ini tentu tidak bebas dari keterbatasan. Pembelaannya terhadap Gilles Deleuze (w. 1995) terkadang membuat tokoh-tokoh lain tampak terutama sebagai tahapan menuju Deleuze. Kritiknya terhadap Jean-Paul Sartre (w. 1980), Maurice Blanchot (w. 2003), Jacques Derrida (w. 2004), dan Jean-François Lyotard (w. 1998) sering dibangun dari asumsi bahwa imanensi absolut merupakan tujuan yang secara filosofis harus dicapai. Padahal sejarah filsafat memperlihatkan bahwa banyak tradisi besar justru mempertahankan tegangan kreatif antara imanensi dan transendensi. Dalam tradisi Yunani, Plato (w. 347 SM) dan Plotinus (w. 270) memahami realitas melalui prinsip yang melampaui dunia. Dalam filsafat Islam, Ibn Sīnā (w. 1037), Abū Ḥāmid al-Ghazālī (w. 1111), dan Muḥyī al-Dīn Ibn al-ʿArabī (w. 1240) merumuskan berbagai bentuk relasi yang kompleks antara yang imanen dan yang transenden. Bahkan dalam filsafat modern, dari Immanuel Kant (w. 1804) hingga Martin Heidegger (w. 1976), persoalan mengenai batas-batas imanensi tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Namun justru karena itu buku ini tetap bernilai. Ia tidak menawarkan penutupan perdebatan, melainkan pembukaannya kembali. Martin memaksa pembaca untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang sering diterima begitu saja. Apakah keberadaan membutuhkan dasar di luar dirinya? Apakah negativitas merupakan syarat bagi perubahan? Apakah perbedaan dapat dipikirkan tanpa negasi? Apakah dunia cukup bagi dirinya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hanya pertanyaan filsafat Prancis kontemporer. Ia merupakan pertanyaan yang telah mengiringi perjalanan pemikiran manusia selama lebih dari dua milenium.
Di sinilah kekuatan sesungguhnya buku ini. Ia memperlihatkan bahwa filsafat tidak hidup karena jawaban-jawabannya, melainkan karena pertanyaan-pertanyaannya. Sebuah karya menjadi penting bukan karena ia mengakhiri perdebatan, tetapi karena ia membuat perdebatan itu tetap hidup. Dua dasawarsa setelah diterbitkan, Imanensi dan Transendensi masih memiliki daya semacam itu. Ia terus mengundang pembacaan ulang, sanggahan, pengembangan, dan dialog baru.
Mungkin karena alasan itulah buku ini tetap layak dibaca hari ini. Bukan semata-mata sebagai pengantar filsafat Prancis kontemporer, melainkan sebagai contoh keberanian intelektual untuk memikirkan kembali persoalan-persoalan paling mendasar dalam filsafat. Dan selama manusia masih bertanya tentang apa yang membuat dunia ada, tentang apakah realitas memiliki dasar di luar dirinya, serta tentang bagaimana memahami hubungan antara yang hadir dan yang tidak hadir, buku Martin Suryajaya ini akan tetap menemukan pembacanya.
Referensi
Agamben, Giorgio. 1999. Potentialities: Collected Essays in Philosophy. Stanford, CA: Stanford University Press.
Al-Jābirī, Mohammed Abed. 1999. Arab-Islamic Philosophy: A Contemporary Critique. Austin: University of Texas Press.
Aristotle. 1984. The Complete Works of Aristotle. Edited by Jonathan Barnes. 2 vols. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Arkoun, Mohammed. 2002. The Unthought in Contemporary Islamic Thought. London: Saqi Books.
Badiou, Alain. 2005. Being and Event. Translated by Oliver Feltham. London: Continuum.
Blanchot, Maurice. 1982. The Space of Literature. Translated by Ann Smock. Lincoln: University of Nebraska Press.
Derrida, Jacques. 1976. Of Grammatology. Translated by Gayatri Chakravorty Spivak. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Deleuze, Gilles. 1994. Difference and Repetition. Translated by Paul Patton. New York: Columbia University Press. (Orig. pub. 1968).
Deleuze, Gilles. 2001. Pure Immanence: Essays on A Life. New York: Zone Books.
Deleuze, Gilles, and Félix Guattari. 1994. What Is Philosophy? Translated by Hugh Tomlinson and Graham Burchell. New York: Columbia University Press.
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. 2000. Tahāfut al-Falāsifah. Edited by Sulaymān Dunyā. Cairo: Dār al-Maʿārif.
Hegel, G. W. F. 1977. Phenomenology of Spirit. Translated by A. V. Miller. Oxford: Oxford University Press.
Heidegger, Martin. 1962. Being and Time. Translated by John Macquarrie and Edward Robinson. New York: Harper & Row.
Hyppolite, Jean. 1974. Genesis and Structure of Hegel’s Phenomenology of Spirit. Evanston, IL: Northwestern University Press.
Ibn al-ʿArabī, Muḥyī al-Dīn. 1980. Fuṣūṣ al-Ḥikam. Edited by Abū al-ʿAlāʾ ʿAfīfī. Beirut: Dār al-Kitāb al-ʿArabī.
Ibn al-ʿArabī, Muḥyī al-Dīn. n.d. Al-Futūḥāt al-Makkiyyah. Beirut: Dār Ṣādir.
Ibn Sīnā. 2005. Al-Ilāhiyyāt min Kitāb al-Shifāʾ. Edited by Georges Anawati and Saʿīd Zāyid. Cairo: Al-Hayʾah al-Miṣriyyah al-ʿĀmmah li al-Kitāb.
Kant, Immanuel. 1998. Critique of Pure Reason. Translated by Paul Guyer and Allen W. Wood. Cambridge: Cambridge University Press.
Laclau, Ernesto. 2005. On Populist Reason. London: Verso.
Lyotard, Jean-François. 1984. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Nasr, Seyyed Hossein. 1989. Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press.
Plato. 1991. Republic. Translated by Allan Bloom. New York: Basic Books.
Plotinus. 1991. The Enneads. Translated by Stephen MacKenna. London: Penguin Books.
Rahman, Fazlur. 1979. Islam. Chicago: University of Chicago Press.
Sartre, Jean-Paul. 1956. Being and Nothingness. Translated by Hazel E. Barnes. New York: Philosophical Library.
Spinoza, Benedict de. 1996. Ethics. Edited and translated by Edwin Curley. London: Penguin Books.
Suryajaya, Martin. 2009. Imanensi dan Transendensi: Sebuah Rekonstruksi Deleuzian atas Ontologi Imanensi dalam Tradisi Filsafat Prancis Kontemporer. Jakarta: AksiSepihak.
Thomas Aquinas. 1947. Summa Theologica. Translated by Fathers of the English Dominican Province. New York: Benziger Brothers.
Žižek, Slavoj. 2004. Organs without Bodies: On Deleuze and Consequences. New York: Routledge.
*Pageland, 28-6-2026

Komentar
Posting Komentar