Menyapa Kembali Heidegger: Memahami Ada dan Waktu

 

Cak Yo

Pagi itu saya tidak langsung membuka buku di perpustakaan. Setelah mengambil buku karya Martin Heidegger dari rak yang berdebu, saya justru membawanya keluar. Saya ingin membaca di tempat yang lebih bersahabat dengan paru-paru saya. Debu perpustakaan memang memiliki romantismenya sendiri, tetapi alergi membuat saya tidak bisa terlalu lama berada di sana. Karena itu saya memilih sebuah sudut yang teduh di sekitar Cikarang, tempat pepohonan tua masih berdiri dengan rindang, jauh dari kebisingan jalan utama. Di atas sebuah meja kayu yang mulai mengilap dimakan usia, saya meletakkan  buku tebal itu: Sein und Zeit dalam bahasa Jerman; dan edisi terjemahannya, Being and Time dalam bahasa Inggris yang saya genggam di tangan.

Udara pagi terasa segar. Sesekali angin menggoyangkan dedaunan dan menjatuhkan beberapa helai daun kering ke atas meja. Saya menyeruput kopi perlahan sambil memandangi  buku tua dengan kertas menguning dan aroma khas buku klasik. Rasanya ada semacam ironi. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat karena kecerdasan buatan, komputasi awan, dan algoritma digital, saya justru duduk sendirian di bawah pohon, membuka sebuah buku yang ditulis hampir satu abad lalu dan terkenal sebagai salah satu karya paling sulit dipahami dalam sejarah pemikiran manusia. Bukan untuk bergaya, sok membaca buku berat, tapi ada rasa ingin tahu dan rasa rindu pada buku-buku yang cukup lama terabaikan.

Pemandangan itu membawa saya kembali ke pagi hari ketika membuka pintu perpustakaan di lantai dua Majelis Taklim. Sudah cukup lama saya tidak menaiki tangga menuju ruangan itu. Kesibukan mengelola kampus dan berbagai aktivitas lainnya perlahan membuat saya semakin jarang mengunjunginya. Ketika pintu dibuka, aroma khas buku-buku lama langsung menyeruak. Debu tampak menempel di beberapa rak, menutupi sebagian punggung buku yang selama ini menjadi teman perjalanan intelektual. Lantai terlihat kusam, seolah ikut mencatat lamanya ruang itu ditinggalkan.

Saya sempat berpikir untuk membersihkannya hari itu juga. Namun melihat koleksi yang memenuhi beberapa rak, saya sadar pekerjaan tersebut tidak mungkin selesai dalam satu atau dua jam. Mungkin perlu beberapa hari untuk menata ulang semuanya. Lagi pula, debu adalah musuh lama saya. Alergi membuat batuk mudah kambuh ketika terlalu lama berada di ruangan tertutup.

Di antara deretan buku-buku yang tersusun dalam rak dan beberapa tumpukan di atas lantai, tangan saya akhirnya berhenti pada satu judul yang selama bertahun-tahun lebih banyak saya kagumi daripada saya baca secara tuntas: Sein und Zeit (Ada dan Waktu) karya Martin Heidegger (1889–1976). Tidak jauh dari sana saya menemukan edisi bahasa Inggrisnya, Being and Time. Kedua buku itu saya bawa turun, seolah sedang membawa dua batu besar dari gunung pemikiran abad ke-20.

Edisi Jerman yang saya miliki merujuk pada karya asli yang pertama kali diterbitkan di Tübingen, Jerman, oleh Max Niemeyer Verlag pada tahun 1927. Adapun edisi bahasa Inggris merupakan terjemahan klasik John Macquarrie (1919–2007) dan Edward Robinson (1925–1987), pertama kali diterbitkan oleh SCM Press, London, tahun 1962, kemudian diterbitkan pula oleh Harper & Row, New York, pada tahun yang sama. Hampir semua kajian Heidegger dalam dunia berbahasa Inggris masih merujuk kepada terjemahan tersebut.

Banyak orang mengoleksi buku karena ingin membacanya. Sebagian lagi mengoleksi buku karena ingin memilikinya. Namun ada sejumlah kecil buku yang kehadirannya di rak lebih menyerupai tantangan daripada bacaan biasa. Sein und Zeit termasuk dalam kategori terakhir.

Setelah membaca kembali Sein und Zeit karya Martin Heidegger, saya merasa terdorong untuk menyusun sebuah ulasan singkat mengenai karya yang hingga kini tetap menjadi salah satu teks paling berpengaruh sekaligus paling menantang dalam filsafat abad ke-20. Niat awalnya sederhana: hanya membuat catatan ringkas untuk membantu saya merangkum kembali pokok-pokok pemikiran Heidegger yang selama ini saya baca secara terpisah-pisah. Namun, seiring proses penulisan berlangsung, saya mulai menelusuri sejumlah literatur sekunder yang memperkaya pemahaman saya mengenai latar belakang, konteks, dan penerimaan karya tersebut.

Selain membaca beberapa studi interpretatif seperti karya Hubert L. Dreyfus, Theodore Kisiel, dan Thomas Sheehan, saya juga menelaah biografi Heidegger yang ditulis oleh Hugo Ott dan Rüdiger Safranski. Di samping itu, saya membaca sejumlah artikel jurnal dan ulasan buku yang secara khusus membahas Sein und Zeit, antara lain tulisan Steven Crowell, Dermot Moran, Tarek R. Dika, serta berbagai book review oleh Stephen A. Erickson, Richard Polt, Sacha Golob, dan Emily Hughes. Semula saya membayangkan tulisan ini hanya akan terdiri dari beberapa halaman, tetapi setiap bacaan baru justru membuka pertanyaan dan perspektif tambahan yang terasa sayang untuk dilewatkan. Akibatnya, rencana membuat ulasan singkat perlahan berkembang menjadi sebuah tulisan yang jauh lebih panjang daripada yang saya perkirakan. Naskah ini akhirnya saya selesaikan pagi ini, ditemani secangkir kopi yang telah beberapa kali saya isi ulang selama proses membaca, mencatat, dan menulis berlangsung.

Martin Heidegger: Kehidupan, Karya, dan Perkembangan Pemikirannya

Untuk memahami Sein und Zeit, pembaca perlu terlebih dahulu memahami perjalanan hidup Martin Heidegger, sebab pemikirannya berkembang dalam hubungan yang erat dengan pengalaman hidup, pendidikan, pergulatan intelektual, dan konteks sejarah yang melingkupinya. Berbagai biografi akademik yang diakui dalam studi Heidegger, seperti karya Rüdiger Safranski, Hugo Ott, Julian Young, Theodore Kisiel, Thomas Sheehan, dan Richard Polt, menunjukkan bahwa filsafat Heidegger tidak lahir sebagai sistem abstrak yang terpisah dari realitas kehidupan. Sebaliknya, pemikirannya tumbuh dari pengalaman religius masa muda, pendidikan teologis, perjumpaan dengan fenomenologi Edmund Husserl, serta keterlibatannya dalam pergolakan intelektual dan politik Jerman pada paruh pertama abad ke-20 (Safranski, 1998; Ott, 1993; Young, 2021).

Martin Heidegger lahir pada 26 September 1889 di kota kecil Messkirch, Baden, Jerman Selatan. Ia berasal dari keluarga Katolik sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penjaga gereja sekaligus pengrajin tong, sementara ibunya dikenal sebagai pribadi yang religius dan disiplin. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang kuat dengan tradisi Katolik memberikan pengaruh mendalam terhadap perkembangan intelektual Heidegger muda. Sejak usia dini ia telah diperkenalkan pada kehidupan gereja, praktik keagamaan, dan pendidikan klasik yang menjadi ciri tradisi Katolik Jerman pada masa itu. Menurut Safranski, suasana religius tersebut membentuk sensibilitas Heidegger terhadap persoalan makna hidup, keterbatasan manusia, dan misteri keberadaan, tema-tema yang kelak muncul kembali dalam filsafatnya meskipun dalam bentuk yang berbeda dari teologi tradisional (Safranski, 1998).

Pada masa remaja Heidegger sempat dipersiapkan untuk menjadi imam Katolik. Ia belajar di seminari dan memperoleh pendidikan yang kuat dalam filsafat skolastik, terutama pemikiran Thomas Aquinas. Di lingkungan inilah ia pertama kali berkenalan dengan persoalan metafisika, khususnya pertanyaan tentang ens (yang ada) dan esse (keberadaan). Akan tetapi, sebagaimana dicatat Julian Young, pengalaman ini tidak membuat Heidegger menjadi pembela metafisika klasik. Justru dari pergulatannya dengan tradisi skolastik ia mulai mempertanyakan dasar-dasar metafisika Barat yang menurutnya terlalu memusatkan perhatian pada entitas dan melupakan persoalan keberadaan itu sendiri (Young, 2021). Walaupun kemudian ia meninggalkan jalur teologi, banyak sarjana menilai bahwa sejumlah tema sentral dalam filsafat Heidegger—seperti hati nurani, kecemasan, kefanaan, dan keterbukaan terhadap misteri—masih memperlihatkan jejak pengalaman religius masa mudanya (Sheehan, 2015).

Perubahan besar dalam perjalanan intelektual Heidegger terjadi sekitar tahun 1911 ketika ia mulai beralih dari teologi menuju filsafat. Peralihan ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan modern dan terutama oleh perjumpaannya dengan fenomenologi Edmund Husserl. Heidegger sangat terkesan oleh karya Husserl, khususnya Logical Investigations, yang menawarkan metode baru untuk memahami pengalaman manusia secara langsung tanpa terlebih dahulu terikat oleh asumsi metafisik atau teori ilmiah tertentu. Dari Husserl, Heidegger mempelajari fenomenologi sebagai metode yang berupaya membiarkan fenomena menampakkan dirinya sebagaimana adanya (Kisiel, 1993).

Namun hubungan intelektual antara Heidegger dan Husserl tidak berlangsung sebagai hubungan murid yang sekadar mengikuti gurunya. Heidegger segera mengembangkan kritik terhadap fenomenologi Husserl. Menurutnya, Husserl masih terlalu berpusat pada kesadaran manusia sebagai titik awal filsafat. Heidegger berpendapat bahwa sebelum menjadi subjek yang mengetahui, manusia terlebih dahulu sudah hidup, bertindak, dan berada di dunia. Karena itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah bagaimana kesadaran mengenal dunia, melainkan bagaimana manusia sudah berada dalam dunia sebelum melakukan refleksi apa pun. Pergeseran fokus inilah yang kemudian menjadi fondasi utama Sein und Zeit (Kisiel, 1993; Sheehan, 2015).

Pada awal dekade 1920-an Heidegger mulai dikenal sebagai salah satu dosen filsafat paling berbakat di Jerman. Meskipun saat itu ia belum menerbitkan banyak karya besar, kuliah-kuliahnya memiliki reputasi luar biasa. Theodore Kisiel menunjukkan bahwa periode 1919–1927 merupakan masa pembentukan hampir seluruh gagasan yang nantinya muncul dalam Sein und Zeit. Kuliah-kuliah Heidegger pada masa tersebut berfungsi sebagai laboratorium intelektual tempat konsep-konsep seperti Dasein, dunia-kehidupan, temporalitas, kecemasan, dan autentisitas pertama kali dirumuskan secara sistematis (Kisiel, 1993).

Tahun 1923 Heidegger menerima jabatan profesor di University of Marburg. Di kota inilah reputasinya berkembang pesat dan menjangkau dunia akademik internasional. Banyak mahasiswa berbakat datang untuk mengikuti kuliahnya, di antaranya Hans-Georg Gadamer, Leo Strauss, Karl Löwith, dan yang paling terkenal, Hannah Arendt. Pada periode Marburg inilah Heidegger mulai menulis karya yang kemudian mengubah sejarah filsafat abad ke-20, yaitu Sein und Zeit, yang diterbitkan pada tahun 1927.

Hubungan Heidegger dengan Hannah Arendt menjadi salah satu aspek paling menarik dalam biografi intelektualnya. Arendt datang ke Marburg sebagai mahasiswa muda yang sangat berbakat dan segera terpesona oleh kualitas kuliah Heidegger. Hubungan mereka berkembang menjadi hubungan intelektual sekaligus personal yang mendalam. Menurut Elisabeth Young-Bruehl dan Antonia Grunenberg, Heidegger memainkan peran penting dalam membentuk kepekaan filosofis Arendt, terutama dalam memahami pengalaman manusia sebagai sesuatu yang konkret dan eksistensial. Akan tetapi, Arendt kemudian mengembangkan jalannya sendiri. Jika Heidegger lebih banyak memusatkan perhatian pada eksistensi individual, kecemasan, dan kematian, Arendt mengarahkan refleksinya pada pluralitas manusia, tindakan politik, dan kehidupan bersama dalam ruang publik. Dengan demikian, hubungan mereka memperlihatkan bagaimana seorang murid dapat sekaligus menerima dan melampaui gurunya (Young-Bruehl, 1982; Grunenberg, 2003).

Penerbitan Sein und Zeit pada tahun 1927 menandai puncak periode awal pemikiran Heidegger. Buku ini lahir dari pertanyaan yang telah lama mengganggunya: mengapa filsafat Barat begitu sibuk membahas berbagai entitas yang ada, tetapi melupakan pertanyaan tentang makna Ada (Being) itu sendiri? Heidegger menjawab persoalan ini dengan menganalisis manusia sebagai Dasein, satu-satunya entitas yang mempertanyakan keberadaannya sendiri. Menurut Safranski, kekuatan besar Sein und Zeit terletak pada kemampuannya menghubungkan analisis ontologis yang sangat abstrak dengan pengalaman manusia yang paling konkret, seperti kecemasan, kebebasan, sejarah, tanggung jawab, dan kematian (Safranski, 1998).

Namun perjalanan Heidegger tidak hanya ditandai oleh keberhasilan intelektual. Salah satu bab paling kontroversial dalam hidupnya adalah keterlibatannya dengan rezim Nazi. Pada tahun 1933 ia menerima jabatan rektor di University of Freiburg dan bergabung dengan Nazi Party. Pidato rektornya menunjukkan dukungan terhadap pemerintahan baru yang dipimpin oleh Adolf Hitler (Ott, 1993). Sampai sekarang para sarjana masih memperdebatkan sejauh mana keterlibatan politik tersebut memengaruhi filsafat Heidegger. Namun hampir semua peneliti kontemporer sepakat bahwa keputusan itu merupakan kesalahan moral dan politik yang serius. Hugo Ott menunjukkan melalui penelitian arsip bahwa hubungan Heidegger dengan Nazisme lebih substansial daripada yang sering diakui para pembelanya, sedangkan Safranski menegaskan bahwa kesalahan politik tersebut tidak serta-merta menghapus pentingnya kontribusi filosofis Heidegger (Ott, 1993; Safranski, 1998).

Setelah dekade 1930-an, arah pemikiran Heidegger mengalami perubahan yang signifikan. Jika dalam Sein und Zeit fokus utamanya adalah analisis Dasein, maka dalam karya-karya berikutnya ia semakin tertarik pada sejarah Ada, bahasa, seni, teknologi, dan puisi. Pada periode ini lahir karya-karya penting seperti Introduction to Metaphysics, Letter on Humanism, The Question Concerning Technology, dan On the Way to Language. Dalam fase ini muncul pernyataan terkenalnya bahwa "bahasa adalah rumah Ada". Jika Heidegger muda bertanya bagaimana manusia memahami Ada, Heidegger yang lebih tua mulai bertanya bagaimana Ada menyingkapkan dirinya melalui bahasa, seni, sejarah, dan puisi (Polt, 2006).

Perhatian Heidegger terhadap teknologi menjadi salah satu alasan mengapa pemikirannya tetap relevan pada abad ke-21. Ia tidak menolak teknologi sebagai alat, tetapi mengkritik cara berpikir teknologis yang memandang segala sesuatu hanya sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Dalam pandangannya, bahaya terbesar teknologi modern bukanlah mesin itu sendiri, melainkan kecenderungan manusia kehilangan kemampuan untuk mengalami dunia sebagai sesuatu yang memiliki makna intrinsik. Hutan dilihat hanya sebagai kayu, sungai hanya sebagai energi, manusia hanya sebagai tenaga kerja, dan alam hanya sebagai objek eksploitasi. Kritik ini banyak dianggap sangat relevan dalam konteks digitalisasi, kecerdasan buatan, dan kapitalisme global dewasa ini (Heidegger, 1954; Polt, 2006).

Warisan intelektual Heidegger sangat luas dan sering kali paradoksal. Dari pemikirannya lahir berbagai tradisi yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Ia memengaruhi hermeneutika Gadamer, eksistensialisme Jean-Paul Sartre, fenomenologi tubuh Maurice Merleau-Ponty, dekonstruksi Jacques Derrida, dan teori interpretasi Paul Ricoeur. Bahkan hingga kini, konsep-konsep yang diperkenalkannya masih digunakan dalam psikologi eksistensial, teologi, teori sastra, studi lingkungan, dan filsafat teknologi.

Karena itu, para biografer akademik umumnya menolak gambaran sederhana tentang Heidegger. Ia tidak dapat dipahami hanya sebagai filsuf besar ataupun sebagai intelektual yang gagal secara moral. Ia adalah figur yang memadukan keduanya: seorang pemikir yang mengubah arah filsafat modern sekaligus seorang intelektual yang membuat kesalahan politik yang serius. Namun di balik seluruh kontroversi tersebut, warisan paling penting Heidegger mungkin terletak pada keberhasilannya menghidupkan kembali pertanyaan yang telah lama terlupakan dalam tradisi filsafat Barat: apa arti keberadaan manusia? Pertanyaan itulah yang menjadi jantung Sein und Zeit dan terus bergema dalam seluruh perkembangan pemikirannya hingga akhir hayatnya (Ott, 1993; Safranski, 1998; Young, 2021).

Tinjauan Umum dan Sejumlah Review terhadap Sein und Zeit

Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1927, Sein und Zeit (Being and Time) karya Martin Heidegger telah diakui sebagai salah satu karya filsafat paling berpengaruh sekaligus paling sulit dalam abad ke-20. Pengaruhnya meluas tidak hanya dalam filsafat kontinental, tetapi juga dalam hermeneutika, fenomenologi, teologi, psikologi eksistensial, studi sastra, hingga teori sosial. Banyak pengulas dan penafsir menempatkan buku ini sebagai titik balik dari filsafat kesadaran modern menuju filsafat eksistensi dan makna keberadaan manusia.

Richard Schmitt, melalui buku Martin Heidegger on Being Human: An Introduction to Sein und Zeit, dinilai oleh Stephen A. Erickson sebagai salah satu pengantar berbahasa Inggris yang paling mencerahkan mengenai Sein und Zeit. Menurut Erickson, kelebihan utama Schmitt terletak pada kemampuannya menjelaskan konsep-konsep Heidegger yang sangat rumit, seperti ontologi, bahasa, fenomenologi, dan pemahaman (understanding), secara lebih masuk akal dan dapat dipahami. Schmitt juga menunjukkan bahwa kesulitan membaca Heidegger sebagian besar muncul karena upayanya meninggalkan kosakata filsafat tradisional dan membangun bahasa filosofis yang baru untuk menjelaskan makna “Ada” (Being) (Erickson, 1972).

Dalam kajian yang lebih mutakhir, Gerhard Thonhauser menegaskan bahwa Sein und Zeit masih termasuk salah satu karya paling penting dalam filsafat abad ke-20. Menurutnya, relevansi buku ini tidak berkurang hingga saat ini karena Heidegger berhasil menawarkan cara baru memahami dunia, manusia, temporalitas, sejarah, dan makna eksistensi. Namun demikian, Thonhauser juga mengingatkan bahwa karya tersebut perlu dibaca secara kritis karena mengandung sejumlah persoalan konseptual dan kecenderungan problematis yang terus diperdebatkan dalam penelitian Heidegger kontemporer (Thonhauser, 2022).

Thomas Rentsch menyatakan bahwa tanpa memahami Sein und Zeit, sulit memahami perkembangan filsafat abad ke-20 maupun berbagai diskusi filsafat kontemporer. Menurutnya, buku ini berada pada persimpangan unik antara ontologi, fenomenologi, filsafat transendental, hermeneutika, dan analisis eksistensial. Justru karena posisinya yang kompleks itulah Sein und Zeit terus melahirkan beragam interpretasi dan perdebatan hingga sekarang (Rentsch, 2007; Rentsch, 2015).

Ulasan Thomas Wolf terhadap buku komentar yang disunting Rentsch bahkan menyebut Sein und Zeit sebagai sebuah “torso yang menakjubkan” (erstaunliche Torso), yakni karya yang tidak pernah selesai tetapi tetap menjadi monumen intelektual yang membentuk diskursus filsafat modern. Wolf menilai bahwa daya tarik utama karya Heidegger terletak pada keberhasilannya menghubungkan problem filosofis dengan pengalaman konkret manusia mengenai kehidupan sehari-hari, kecemasan, kematian, sejarah, dan kebebasan (Wolf, 2002).

Sementara itu, Emily Hughes dalam ulasannya terhadap kumpulan esai mengenai bagian ketiga yang tidak pernah selesai dari Being and Time menekankan bahwa ketidaklengkapan karya ini justru menjadi salah satu sumber produktivitas intelektualnya. Banyak sarjana terus berupaya merekonstruksi bagian yang hilang karena di sanalah Heidegger sebenarnya hendak menjelaskan hubungan antara waktu dan makna Ada secara lebih mendasar (Hughes, 2015). Senada dengan itu, Sacha Golob menegaskan bahwa status Sein und Zeit sebagai karya yang tidak selesai merupakan salah satu persoalan filosofis paling penting dalam studi Heidegger karena berkaitan dengan perubahan arah pemikirannya di kemudian hari (Golob, 2015).

Pengertian Sein und Zeit (Being and Time)

Secara harfiah, Sein und Zeit berarti “Ada dan Waktu” atau dalam bahasa Inggris Being and Time. Kata Sein tidak sekadar berarti “ada” dalam arti keberadaan suatu benda, melainkan menunjuk pada pertanyaan paling mendasar dalam filsafat: apa arti “menjadi” atau “berada”. Sementara itu, Zeit berarti waktu, yang oleh Heidegger dipahami bukan sebagai urutan jam atau kalender, melainkan sebagai struktur fundamental yang memungkinkan manusia memahami dirinya dan dunia.

Dengan demikian, Being and Time adalah upaya Heidegger untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya telah dilupakan oleh tradisi filsafat Barat sejak zaman Yunani, yaitu pertanyaan tentang makna Ada (the question of Being). Heidegger berpendapat bahwa para filsuf selama berabad-abad lebih banyak membahas berbagai entitas atau benda yang ada (beings) daripada menanyakan apa arti “Ada” itu sendiri (Heidegger, 1927).

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Heidegger memulai analisisnya bukan dari benda-benda, melainkan dari manusia sebagai makhluk yang mampu mempertanyakan keberadaannya sendiri. Manusia dalam terminologi Heidegger disebut Dasein, yang secara harfiah berarti “ada-di-sana” (being-there). Dasein adalah satu-satunya entitas yang dalam keberadaannya mempertanyakan makna keberadaannya sendiri.

Pokok-pokok Pikiran Sein und Zeit

Salah satu gagasan paling revolusioner dalam Sein und Zeit adalah penolakan Heidegger terhadap pandangan tradisional yang memisahkan subjek dan objek. Dalam filsafat modern, manusia sering dipahami sebagai subjek yang mengamati dunia sebagai objek yang terpisah. Heidegger menolak pemisahan ini dengan menunjukkan bahwa manusia sejak awal selalu berada di dalam dunia. Karena itu ia memperkenalkan konsep In-der-Welt-sein (being-in-the-world), yakni keadaan manusia yang selalu sudah terlibat dalam dunia tempat ia hidup (Thonhauser, 2022).

Bagi Heidegger, hubungan manusia dengan dunia pada dasarnya bukan hubungan teoritis, melainkan hubungan praktis. Kita mengenal dunia pertama-tama melalui aktivitas sehari-hari, bukan melalui refleksi abstrak. Thomas Wolf menjelaskan bahwa Heidegger menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terutama hidup dalam praktik, tindakan, dan keterlibatan dengan lingkungannya. Dunia bukan sekadar kumpulan objek, melainkan jaringan makna yang telah lebih dahulu kita hayati (Wolf, 2002).

Di sinilah Heidegger mengembangkan analisis mengenai keseharian (Alltäglichkeit). Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering hidup secara tidak otentik (uneigentlich) karena tenggelam dalam kebiasaan sosial dan mengikuti apa yang disebut Heidegger sebagai das Man (“orang-orang” atau “mereka”). Dalam kondisi ini individu cenderung menjalani hidup sesuai harapan umum tanpa secara sungguh-sungguh memilih dirinya sendiri.

Namun manusia dapat keluar dari ketidakotentikan tersebut melalui pengalaman tertentu, terutama pengalaman kecemasan (Angst). Berbeda dengan rasa takut yang memiliki objek tertentu, kecemasan tidak diarahkan pada sesuatu yang spesifik. Kecemasan mengungkapkan kenyataan bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki landasan yang mutlak dan harus menentukan sendiri makna hidupnya (Wolf, 2002).

Analisis Heidegger mengenai kematian menjadi salah satu bagian paling terkenal dari buku ini. Kematian dipahami bukan sekadar peristiwa biologis yang terjadi pada akhir hidup, melainkan kemungkinan paling personal yang tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun. Kesadaran akan kematian membuat manusia menyadari keterbatasannya dan mendorongnya untuk hidup secara lebih otentik. Dengan menghadapi kematian, manusia dapat mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri daripada sekadar mengikuti arus kehidupan sosial (Wolf, 2002).

Konsep sentral lainnya adalah Sorge (kepedulian atau care). Heidegger berpendapat bahwa struktur dasar keberadaan manusia adalah kepedulian. Manusia selalu terarah pada sesuatu, memikirkan masa depan, membawa masa lalunya, dan berhubungan dengan situasi sekarang. Karena itu keberadaan manusia bukanlah keadaan statis, melainkan proses dinamis yang terus bergerak dan membentuk dirinya sendiri (Wolf, 2002). Puncak analisis Heidegger terletak pada konsep temporalitas (Zeitlichkeit). Menurutnya, waktu bukanlah sesuatu yang berada di luar manusia, tetapi merupakan struktur dasar keberadaan manusia itu sendiri. Manusia selalu hidup dalam tiga dimensi waktu sekaligus: masa lalu yang membentuk dirinya, masa kini yang dijalaninya, dan masa depan yang ditujunya. Temporalitas inilah yang memungkinkan Dasein memahami dirinya dan dunia (Thonhauser, 2022).

Kelebihan dan Kontribusi Filosofis

Kekuatan utama Sein und Zeit terletak pada keberhasilannya menggeser fokus filsafat dari abstraksi metafisik menuju pengalaman konkret manusia. Heidegger tidak bertanya tentang manusia sebagai objek ilmiah, melainkan sebagai makhluk yang hidup, memilih, cemas, memahami, dan menghadapi kematian.

Karya ini juga berhasil memperbarui metode fenomenologi Husserl dengan memasukkan dimensi hermeneutik atau penafsiran. Pemahaman manusia tidak pernah bersifat netral, melainkan selalu berangkat dari situasi historis dan eksistensial tertentu (Erickson, 1972).

Pengaruhnya terlihat dalam pemikiran filsuf seperti Hans-Georg Gadamer, Jean-Paul Sartre, Maurice Merleau-Ponty, serta berbagai perkembangan teologi eksistensial dan psikologi fenomenologis. Bahkan kajian kecerdasan buatan dan ilmu kognitif modern turut memanfaatkan kritik Heidegger terhadap model rasionalitas Cartesian yang terlalu menekankan representasi mental (Wolf, 2002).

Kritik terhadap Sein und Zeit

Meskipun sangat berpengaruh, Sein und Zeit tidak luput dari kritik. Pertama, bahasa Heidegger sering dianggap terlalu rumit dan sulit dipahami. Bahkan Schmitt mengakui bahwa banyak persoalan dalam karya ini muncul karena Heidegger secara sengaja meninggalkan bahasa filsafat tradisional dan menciptakan terminologi baru (Erickson, 1972).

Kedua, proyek ini tidak pernah selesai. Bagian yang direncanakan untuk menjelaskan secara penuh hubungan antara waktu dan Ada tidak pernah diterbitkan. Akibatnya, banyak penafsir berpendapat bahwa tujuan akhir proyek ontologi fundamental Heidegger tetap menyisakan pertanyaan terbuka (Hughes, 2015; Golob, 2015).

Ketiga, sejumlah sarjana menilai bahwa penekanan Heidegger pada individualitas dan kematian kadang kurang memberikan perhatian memadai pada relasi sosial, etika, dan pengalaman hidup bersama. Kritik semacam ini banyak muncul dalam tradisi fenomenologi dan filsafat sosial pasca-Heidegger.

Secara keseluruhan, Sein und Zeit merupakan karya monumental yang mengubah arah filsafat modern. Buku ini mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana namun mendasar: apa arti keberadaan manusia? Melalui analisis tentang Dasein, dunia, kecemasan, kepedulian, kematian, dan waktu, Heidegger menunjukkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk rasional, melainkan makhluk yang selalu berada dalam proses memahami dan menafsirkan keberadaannya sendiri.

Sebagaimana dicatat oleh berbagai pengulas, mulai dari Erickson, Rentsch, Thonhauser, Hughes, hingga Wolf, kekuatan Sein und Zeit tidak terletak pada kemampuannya memberikan jawaban final, melainkan pada kemampuannya membuka kembali pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selama ini dianggap telah selesai. Karena alasan itulah karya ini tetap menjadi salah satu teks filsafat paling berpengaruh dan paling banyak diperdebatkan hingga saat ini (Erickson, 1972; Rentsch, 2007; Wolf, 2002; Thonhauser, 2022; Hughes, 2015).

Memahami Sein und Zeit dalam Kehidupan Sehari-hari: Kesadaran, Keberadaan, dan Spiritualitas

Salah satu alasan Sein und Zeit tetap relevan hingga sekarang adalah karena Heidegger tidak memulai filsafat dari teori abstrak, melainkan dari pengalaman manusia sehari-hari. Ia berangkat dari kenyataan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai pengamat netral yang berdiri di luar dunia. Sebaliknya, manusia selalu sudah terlibat dalam pekerjaan, hubungan sosial, harapan, kecemasan, dan berbagai keputusan hidup. Heidegger menyebut kondisi ini sebagai In-der-Welt-sein (being-in-the-world), yaitu "ada-di-dalam-dunia" (Heidegger, 1927).

Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seorang guru yang sedang mengajar, petani yang mengolah sawah, pedagang yang melayani pembeli, atau mahasiswa yang menulis skripsi, mereka tidak terlebih dahulu memikirkan teori tentang dunia sebelum bertindak. Mereka langsung terlibat dalam aktivitas yang bermakna. Menurut Heidegger, keterlibatan praktis ini lebih mendasar daripada pengetahuan teoritis. Dunia pertama-tama hadir sebagai ruang makna dan tindakan, bukan sebagai kumpulan objek yang diamati dari kejauhan (Heidegger, 1927; Dreyfus, 1991; Wolf, 2002).

Kesadaran sebagai Keterlibatan, Bukan Sekadar Pikiran

Dalam tradisi filsafat modern, kesadaran sering dipahami sebagai aktivitas mental yang terjadi di dalam pikiran. Heidegger menggeser pemahaman ini. Ia tidak memusatkan perhatian pada "isi kesadaran", melainkan pada cara manusia berada di dunia. Kesadaran bukan terutama aktivitas berpikir tentang sesuatu, tetapi keterbukaan terhadap dunia tempat manusia hidup.

Contoh sederhana dapat ditemukan ketika seseorang sedang mengendarai sepeda motor. Selama perjalanan berlangsung lancar, perhatian tidak tertuju pada motor sebagai objek. Motor seolah menjadi bagian dari diri dan aktivitas pengendara. Baru ketika mesin mogok, ban bocor, atau terjadi gangguan, motor muncul sebagai objek yang disadari secara eksplisit. Melalui contoh semacam ini Heidegger menunjukkan bahwa relasi manusia dengan dunia pada dasarnya bersifat praktis dan terlibat, bukan teoritis dan berjarak (Heidegger, 1927).

Karena itu, kesadaran menurut Heidegger dapat dipahami sebagai keterbukaan (Erschlossenheit) terhadap dunia. Manusia selalu berada dalam keadaan memahami, merasakan, dan menafsirkan lingkungannya sebelum melakukan refleksi rasional. Struktur keterbukaan ini dibentuk oleh suasana hati (Befindlichkeit), pemahaman (Verstehen), dan bahasa (Rede) (Heidegger, 1927).

Kesadaran melalui Suasana Hati

Salah satu kontribusi penting Heidegger adalah penjelasannya mengenai suasana hati (mood atau Befindlichkeit). Dalam pandangan sehari-hari, emosi sering dianggap sekadar keadaan psikologis subjektif. Heidegger menolak pandangan ini. Baginya, suasana hati adalah cara dunia menyingkapkan dirinya kepada manusia.

Ketika seseorang sedang berduka karena kehilangan orang yang dicintai, dunia tampak berbeda dibanding ketika ia sedang gembira. Jalan yang sama, rumah yang sama, dan pekerjaan yang sama memperoleh makna yang berbeda. Artinya, suasana hati bukan sekadar keadaan internal, tetapi cara manusia mengalami dunia (Heidegger, 1927).

Heidegger memberi perhatian khusus pada Angst (kecemasan eksistensial). Berbeda dengan ketakutan yang selalu memiliki objek tertentu, kecemasan muncul tanpa objek yang jelas. Dalam kecemasan, berbagai rutinitas dan kepastian hidup seakan kehilangan pijakan. Namun justru melalui pengalaman ini manusia menyadari kebebasannya dan kemungkinan-kemungkinan hidup yang selama ini tersembunyi (Heidegger, 1927; Wolf, 2002).

Kematian dan Kesadaran Diri

Salah satu bagian paling terkenal dalam Sein und Zeit adalah analisis tentang kematian (Sein zum Tode atau being-toward-death). Heidegger tidak membahas kematian sebagai peristiwa biologis, melainkan sebagai kesadaran bahwa hidup manusia terbatas.

Dalam keseharian, banyak orang hidup seolah-olah kematian hanya akan dialami orang lain. Namun ketika seseorang mengalami sakit berat, kehilangan anggota keluarga, atau menghadapi situasi yang mengingatkannya pada kefanaan, ia mulai melihat hidup secara berbeda. Hal-hal yang sebelumnya dianggap penting mungkin kehilangan nilainya, sedangkan hubungan yang bermakna menjadi semakin berharga.

Menurut Heidegger, kesadaran akan kematian tidak bertujuan membuat manusia pesimis. Sebaliknya, kesadaran itu dapat membangunkan manusia dari kehidupan yang sekadar mengikuti kebiasaan sosial menuju kehidupan yang lebih autentik (Eigentlichkeit). Orang yang menyadari keterbatasan hidup cenderung lebih bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya sendiri (Heidegger, 1927).

Suara Hati dan Kesadaran Moral

Dalam bagian tentang hati nurani (Gewissen), Heidegger menjelaskan bahwa manusia sering larut dalam dunia sosial yang disebutnya das Man ("orang-orang", "mereka", atau "kebanyakan orang"). Dalam kondisi ini seseorang hidup menurut apa yang umum dilakukan tanpa sungguh-sungguh mempertanyakan makna hidupnya sendiri.

Suara hati muncul sebagai panggilan yang mengingatkan manusia pada dirinya sendiri. Menariknya, panggilan ini tidak memberikan daftar aturan moral tertentu. Ia lebih menyerupai ajakan untuk mengambil tanggung jawab atas eksistensi sendiri (Heidegger, 1927).

Andreas Luckner menafsirkan bagian ini sebagai dasar pembentukan kepribadian moral yang otonom. Keaslian (authenticity) bukan berarti hidup menyendiri atau menolak masyarakat, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan hidup sendiri di tengah tekanan konformitas sosial (Luckner dalam Rentsch, 2001; Wolf, 2002).

Spiritualitas dalam Perspektif Sein und Zeit

Heidegger tidak menulis Sein und Zeit sebagai buku teologi. Bahkan ia berusaha memisahkan analisis filosofisnya dari doktrin keagamaan tertentu. Namun banyak sarjana melihat adanya dimensi spiritual yang kuat dalam karya ini.

Tarek Dika menunjukkan bahwa meskipun Heidegger mengembangkan ontologi filosofis, pemikirannya tentang keterbatasan manusia (finitude), kecemasan, dan keterbukaan terhadap misteri keberadaan memiliki hubungan yang penting dengan refleksi teologis modern (Dika, 2017).

Spiritualitas dalam kerangka Heidegger tidak pertama-tama berarti praktik ritual atau keyakinan dogmatis. Spiritualitas lebih dekat dengan kesadaran mendalam akan keberadaan. Seseorang menjadi spiritual ketika ia tidak lagi hidup secara otomatis, melainkan hadir secara penuh dalam eksistensinya.

Dalam konteks ini, spiritualitas dapat muncul ketika seseorang: menyadari keterbatasan hidupnya; menerima kenyataan bahwa ia tidak menguasai segala sesuatu; hidup dengan kesadaran akan kematian; memelihara keheningan dan refleksi diri; dan membuka diri terhadap makna yang melampaui kepentingan sehari-hari.

Heidegger sendiri pada periode sesudah Sein und Zeit semakin sering berbicara mengenai sikap Gelassenheit (membiarkan atau releasement), yakni sikap membiarkan keberadaan menyingkapkan dirinya tanpa keinginan untuk menguasai semuanya. Banyak penafsir melihat gagasan ini memiliki kedekatan dengan tradisi mistik dan spiritualitas kontemplatif, meskipun Heidegger tidak mengembangkannya dalam kerangka agama tertentu (Heidegger, 1959; Polt, 2006).

Spiritualitas Heideggerian dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang petani yang memperhatikan musim, tanah, hujan, dan pertumbuhan tanaman dengan kesabaran dapat menjadi contoh pengalaman yang dekat dengan apa yang dimaksud Heidegger. Ia tidak sepenuhnya mengendalikan alam, tetapi hidup dalam relasi terbuka dengannya.

Demikian pula seseorang yang duduk diam setelah kehilangan orang yang dicintai. Dalam keheningan itu ia menyadari keterbatasan hidup, ketidakpastian masa depan, sekaligus nilai mendalam dari hubungan manusia. Pengalaman seperti ini sering kali lebih mengubah hidup daripada teori-teori abstrak.

Bagi Heidegger, momen-momen tersebut membuka kemungkinan bagi manusia untuk keluar dari rutinitas yang dangkal dan kembali pada pertanyaan mendasar: siapakah saya, bagaimana saya hidup, dan apa makna keberadaan saya di dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi inti spiritual sekaligus filosofis dari Sein und Zeit (Heidegger, 1927).

Jika diringkas, pelajaran praktis Sein und Zeit bagi kehidupan sehari-hari adalah bahwa manusia sebaiknya tidak hidup secara otomatis mengikuti arus sosial. Kesadaran sejati muncul ketika manusia menyadari bahwa ia adalah makhluk yang terbatas, selalu berada dalam dunia yang bermakna, memiliki tanggung jawab terhadap pilihannya sendiri, dan tidak dapat menghindari kematian. Dari kesadaran inilah lahir kehidupan yang lebih autentik, reflektif, dan dalam arti tertentu lebih spiritual.

Dengan demikian, spiritualitas Heidegger bukan terutama soal hubungan manusia dengan dunia supranatural, melainkan tentang bagaimana manusia hadir secara otentik dalam keberadaannya sendiri, membuka diri terhadap misteri Ada (Being), dan menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan waktu, kebebasan, dan keterbatasannya (Heidegger, 1927; Dika, 2017; Rentsch, 2015; Thonhauser, 2022).

Buku yang Paling Sulit Dipahami?

Buku Sein und Zeit memiliki reputasi yang hampir menakutkan di kalangan filsuf. Bahkan di lingkungan akademik filsafat sendiri, tidak sedikit profesor yang mengakui bahwa mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami keseluruhan struktur pemikiran Heidegger. Sebagian bahkan berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar selesai membaca Heidegger; yang ada hanyalah pembacaan yang semakin mendalam.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah Sein und Zeit benar-benar buku paling sulit dalam sejarah?

Jawabannya tentu subjektif. Akan tetapi, hampir semua daftar akademik mengenai karya paling sulit selalu menempatkan buku ini di jajaran teratas bersama beberapa karya monumental lainnya.

Misalnya Critique of Pure Reason (1781) karya Immanuel Kant (1724–1804). Buku ini dianggap sulit karena Kant berusaha menjelaskan bagaimana pengetahuan manusia dimungkinkan. Bahasa yang digunakan sangat teknis, kalimat-kalimatnya panjang, dan argumennya berlapis-lapis. Banyak mahasiswa filsafat menyerah bahkan sebelum menyelesaikan bagian pendahuluannya.

Kemudian ada Phenomenology of Spirit (1807) karya Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831), yang sering disebut sebagai buku paling sulit yang pernah ditulis dalam bahasa Jerman. Bertrand Russell (1872–1970) bahkan pernah menyindir bahwa membaca Hegel kadang membuat pembaca tidak yakin apakah ia sedang mempelajari filsafat atau teka-teki.

Ada pula Tractatus Logico-Philosophicus (1921) karya Ludwig Wittgenstein (1889–1951). Buku ini jauh lebih tipis dibanding Sein und Zeit, tetapi kesulitannya justru terletak pada kepadatan logisnya. Hampir setiap kalimat dalam Tractatus memerlukan pembacaan berulang dan pengetahuan mendalam tentang logika matematika.

Dari tradisi ekonomi-politik, terdapat Das Kapital (1867) karya Karl Marx (1818–1883). Buku ini sulit bukan karena bahasanya semata, tetapi karena Marx menggabungkan filsafat, ekonomi, sejarah, dan teori sosial dalam satu bangunan argumentasi yang sangat kompleks.

Namun jika Kant sulit karena epistemologi, Hegel sulit karena dialektika, Wittgenstein sulit karena logika, dan Marx sulit karena ekonomi politik, maka Heidegger sulit karena alasan yang berbeda: ia berusaha mengubah cara manusia berpikir tentang realitas itu sendiri.

Yang menarik, Heidegger tidak memulai filsafatnya dari negara, ekonomi, agama, atau ilmu pengetahuan. Ia memulai dari pertanyaan yang tampak sederhana:

Apa arti "ada"?

Pertanyaan itu tampak sepele.

Kita setiap hari mengatakan bahwa rumah itu ada, kampus itu ada, pohon itu ada, dan kita sendiri ada.

Tetapi Heidegger bertanya: Apa sebenarnya makna kata "ada" yang terus kita gunakan itu?

Menurutnya, seluruh sejarah filsafat Barat sejak Plato (w. 348/347 SM) dan Aristoteles (w. 322 SM) justru telah melupakan pertanyaan tersebut. Para filsuf sibuk membahas benda-benda yang ada, tetapi lupa menanyakan makna keberadaan itu sendiri.

Di sinilah proyek besar Sein und Zeit dimulai.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Heidegger memperkenalkan konsep yang kemudian menjadi sangat terkenal: Dasein.

Istilah ini hampir mustahil diterjemahkan secara sempurna. Secara harfiah berarti "ada-di-sana" (being-there). Namun Heidegger menggunakannya untuk menunjuk manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya sendiri.

Seekor burung hidup.

Seekor kucing hidup.

Seekor pohon tumbuh.

Tetapi hanya manusia yang bertanya:

"Mengapa saya ada?"

"Apa tujuan hidup saya?"

"Mengapa saya harus mati?"

"Apakah hidup saya bermakna?"

Kemampuan mempertanyakan keberadaan itulah yang menjadikan manusia unik.

Dalam pandangan Heidegger, filsafat harus dimulai dari pengalaman konkret manusia sebagai Dasein, bukan dari teori abstrak tentang dunia.

Salah satu bagian paling revolusioner dalam buku ini adalah konsep Being-in-the-World (In-der-Welt-sein).

Heidegger menolak gagasan René Descartes (1596–1650) yang memisahkan subjek dan objek. Menurut Descartes, manusia adalah subjek yang berpikir dan mengamati dunia sebagai objek.

Menurut Heidegger, itu keliru.

Manusia tidak pernah berada di luar dunia.

Kita lahir ke dalam bahasa tertentu.

Ke dalam keluarga tertentu.

Ke dalam sejarah tertentu.

Ke dalam budaya tertentu.

Ke dalam masyarakat tertentu.

Karena itu manusia tidak pernah menjadi pengamat netral. Kita selalu sudah berada di dalam dunia sebelum mulai memikirkannya.

Gagasan ini kemudian memengaruhi hampir seluruh filsafat kontinental abad ke-20, mulai dari Jean-Paul Sartre (1905–1980), Hans-Georg Gadamer (1900–2002), Paul Ricoeur (1913–2005), hingga Jacques Derrida (1930–2004).

Bagian yang paling sering dikutip dari Sein und Zeit adalah analisis Heidegger tentang kematian.

Menurut Heidegger, sebagian besar manusia hidup dalam apa yang ia sebut das Man—kehidupan yang mengikuti arus umum.

Kita kuliah karena semua orang kuliah. Kita bekerja karena semua orang bekerja. Kita mengejar jabatan karena semua orang mengejarnya.

Kita hidup berdasarkan ekspektasi sosial tanpa pernah benar-benar bertanya apakah itu pilihan autentik kita sendiri.

Kesadaran akan kematian menghancurkan ilusi tersebut.

Mengapa? Karena kematian adalah kemungkinan yang paling personal. Tidak ada seorang pun yang dapat mati menggantikan kita.

Tidak ada sahabat, pasangan, atau anak yang dapat mengambil alih pengalaman itu.

Ketika seseorang benar-benar menyadari kenyataan tersebut, ia mulai melihat hidup secara berbeda. Ia mulai memilah mana yang esensial dan mana yang hanya kebisingan sosial.

Dalam bahasa Heidegger, kesadaran akan kematian membuka jalan menuju kehidupan yang autentik.

Penutup: Merawat Pertanyaan di Tengah Zaman yang Sibuk

Pada akhirnya, nilai terbesar Sein und Zeit mungkin tidak terletak pada jawaban-jawaban yang diberikannya, melainkan pada keberaniannya menghidupkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang sering terlupakan dalam kesibukan hidup sehari-hari. Heidegger mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang bekerja, memproduksi, mengonsumsi, atau mengejar berbagai target sosial. Manusia adalah makhluk yang mampu bertanya tentang dirinya sendiri, tentang makna hidupnya, tentang waktu yang sedang dijalaninya, dan tentang arah yang hendak ditujunya.

Di tengah dunia kontemporer yang semakin dipenuhi kecepatan, efisiensi, dan teknologi, refleksi Heidegger justru terasa semakin relevan. Kita hidup dalam zaman yang menyediakan jawaban untuk hampir segala hal dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, namun sering kali lupa memahami keberadaan kita sendiri di dalamnya.

Membaca Heidegger karena itu bukan sekadar kegiatan akademik. Ia adalah latihan intelektual sekaligus latihan eksistensial. Kita diajak untuk berhenti sejenak dari arus rutinitas, meninjau kembali pilihan-pilihan hidup, serta menyadari bahwa waktu yang kita miliki bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Kesadaran akan keterbatasan itulah yang, menurut Heidegger, justru membuka kemungkinan untuk hidup secara lebih autentik, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna.

Mungkin tidak semua pembaca akan sepakat dengan Heidegger. Sebagian mungkin mengkritik bahasanya yang rumit, sebagian lain mempertanyakan aspek-aspek tertentu dari pemikirannya. Namun satu hal sulit disangkal: ia berhasil mengingatkan kembali bahwa filsafat bukan sekadar kumpulan teori, melainkan upaya memahami apa artinya menjadi manusia.

Dan barangkali di situlah relevansi terdalam Sein und Zeit. Setelah hampir satu abad berlalu, buku ini masih mengajak kita melakukan sesuatu yang sederhana tetapi semakin langka: meluangkan waktu untuk berpikir, hadir secara penuh dalam kehidupan, dan sesekali bertanya dengan sungguh-sungguh—bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang siapa diri kita dan bagaimana kita seharusnya menjalani waktu yang dipercayakan kepada kita di dunia ini. 

Lalu mengapa buku ini masih dibaca hampir seratus tahun setelah diterbitkan? Menurut saya, jawabannya sederhana. Karena Heidegger tidak sedang menjelaskan dunia.

Ia sedang menjelaskan manusia yang hidup di dalam dunia.

Dan selama manusia masih bertanya tentang makna hidup, kebebasan, kecemasan, kematian, dan masa depan, selama itu pula Sein und Zeit akan terus relevan.

Menjelang siang, saya menutup kembali kedua buku itu. Angin masih berembus pelan di antara pepohonan rindang. Beberapa lembar daun jatuh ke atas meja kayu jati tempat buku-buku itu terbuka. Debu perpustakaan masih menunggu untuk dibersihkan. Rak-rak tua itu masih menyimpan banyak buku yang belum sempat saya sentuh kembali.

Namun pagi itu saya memperoleh pelajaran yang tidak saya temukan dalam laporan rapat, notulen, atau agenda kerja harian.

Saya diingatkan bahwa membaca karya-karya besar bukanlah upaya mencari jawaban cepat. Membaca Heidegger adalah latihan kerendahan hati intelektual. Ia mengajarkan bahwa pertanyaan yang paling penting sering kali bukan pertanyaan yang paling mudah dijawab.

Dan mungkin, sebagaimana debu perlahan menutupi buku-buku di rak perpustakaan, kesibukan hidup juga perlahan menutupi kemampuan kita untuk merenungkan keberadaan kita sendiri.

Sesekali, kita perlu membersihkannya kembali. Bukan hanya rak buku. Tetapi juga kesadaran kita sebagai manusia yang sedang menjalani waktunya di dunia. □

Bibliografi

Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958.

Braver, Lee, ed. Division III of Heidegger’s Being and Time: The Unanswered Question of Being. Cambridge, MA: MIT Press, 2015.

Crowell, Steven. “Heidegger’s Phenomenological Decade.” Man and World 28, no. 4 (1995): 435–463.

Dika, Tarek R. “Finitude, Phenomenology, and Theology in Heidegger’s Sein und Zeit.” Harvard Theological Review 110, no. 4 (2017): 475–493.

Dreyfus, Hubert L. Being-in-the-World: A Commentary on Heidegger’s Being and Time, Division I. Cambridge, MA: MIT Press, 1991.

Erickson, Stephen A. “Review of Martin Heidegger on Being Human: An Introduction to Sein und Zeit, by Richard Schmitt.” Journal of the History of Philosophy 10, no. 4 (1972): 491–493.

Gadamer, Hans-Georg. Truth and Method. 2nd rev. ed. Translated by Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall. New York: Continuum, 1989.

Golob, Sacha. “Review of Division III of Heidegger’s Being and Time: The Unanswered Question of Being, edited by Lee Braver.” Notre Dame Philosophical Reviews, 2015.

Grondin, Jean. Introduction to Metaphysics: From Parmenides to Levinas. New York: Columbia University Press, 2012.

Heidegger, Martin. Being and Time. Translated by John Macquarrie and Edward Robinson. Oxford: Blackwell, 1962.

———. Being and Time. Translated by Joan Stambaugh. Albany: State University of New York Press, 1996.

———. Being and Time. Translated by Joan Stambaugh, revised by Dennis J. Schmidt. Albany: State University of New York Press, 2010.

———. Einführung in die Metaphysik. Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1953.

———. Letter on Humanism. Translated by Frank A. Capuzzi. New Haven: Yale University Press, 2008.

———. On the Way to Language. Translated by Peter D. Hertz. New York: Harper & Row, 1971.

———. Sein und Zeit. Halle a.d. Saale: Max Niemeyer Verlag, 1927.

———. Sein und Zeit. 7th ed. Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1953.

———. Sein und Zeit. Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1979.

———. The Basic Problems of Phenomenology. Translated by Albert Hofstadter. Bloomington: Indiana University Press, 1982.

———. The Question Concerning Technology and Other Essays. Translated by William Lovitt. New York: Harper & Row, 1977.

Hughes, Emily. “Book Review: Division III of Heidegger’s Being and Time: The Unanswered Question of Being, edited by Lee Braver.” Phenomenological Reviews, 2016.

Kisiel, Theodore. The Genesis of Heidegger’s Being and Time. Berkeley: University of California Press, 1993.

Löwith, Karl. My Life in Germany Before and After 1933. Urbana: University of Illinois Press, 1994.

Moran, Dermot. “Heidegger’s Being and Time.” The American Journal of Semiotics 7, nos. 2–3 (1990): 229–258.

Nelson, Eric S. “What Is Missing? The Incompleteness and Failure of Heidegger’s Being and Time.” In Division III of Heidegger’s Being and Time: The Unanswered Question of Being, edited by Lee Braver. Cambridge, MA: MIT Press, 2015.

Ott, Hugo. Martin Heidegger: A Political Life. Translated by Allan Blunden. New York: Basic Books, 1993.

Polt, Richard. The Emergency of Being: On Heidegger’s Contributions to Philosophy. Ithaca, NY: Cornell University Press, 2006.

———. “Review of The Cambridge Companion to Heidegger.” Philosophy and Phenomenological Research 55, no. 3 (1995): 699–703.

Rentsch, Thomas, ed. Martin Heidegger: Sein und Zeit. Berlin: Akademie Verlag, 2001.

———, ed. Martin Heidegger: Sein und Zeit. 3rd ed. Berlin/Boston: De Gruyter, 2015.

Safranski, Rüdiger. Martin Heidegger: Between Good and Evil. Translated by Ewald Osers. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1998.

Schmitt, Richard. Martin Heidegger on Being Human: An Introduction to Sein und Zeit. New York: Random House, 1969.

Sheehan, Thomas. Making Sense of Heidegger: A Paradigm Shift. London: Rowman & Littlefield International, 2015.

———. Heidegger’s Being and Time: Paraphrased and Annotated. Vol. 1. Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2025.

Thonhauser, Gerhard. Heideggers “Sein und Zeit”: Einführung und Kommentar. Berlin and Heidelberg: J. B. Metzler, 2022.

Wolf, Thomas. “Vom Martialischen zum Pragmatischen: Ein kooperativer Kommentar zum Klassiker ‘Sein und Zeit’.” literaturkritik.de, no. 3 (March 2002).

Young, Julian. Heidegger: A Philosophy in Ruins. New Haven: Yale University Press, 2021.

-Pageland, 21-06-2027

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zakat dalam Kitab-kitab Fikih dan Tasawuf: Studi Komparatif-Interdisipliner

STEBI Global Mulia Bahas Masa Depan Filantropi Islam dan Sociopreneurship

Pendekatan Fenomenologis dalam Studi Agama[1]