Pasar yang Tak Pernah Tidur: Catatan tentang manusia, laba, dan ilusi kesejahteraan
Cak Yo
Pagi itu pasar belum benar-benar buka. Bau sayur yang masih basah bercampur dengan asap kopi dari warung kecil di ujung gang. Seorang sopir angkot duduk sambil menghitung receh, sementara di layar telepon genggam seorang anak muda memeriksa harga saham dan kurs dolar. Dua dunia bertemu dalam satu pagi: dunia tangan yang bekerja dan dunia angka yang bergerak sendiri. Di antara keduanya, manusia modern hidup dengan keyakinan yang nyaris religius bahwa pasar akan selalu menemukan jalannya sendiri. Kita membeli, menjual, menawar, meminjam, dan berharap. Barangkali sejak lama kita sudah percaya bahwa kesejahteraan lahir dari pertukaran. Dan keyakinan itu, jauh sebelum menjadi slogan ekonomi modern, pernah ditulis dengan tenang namun revolusioner oleh The Wealth of Nations karya Adam Smith (w. 1790).
Buku itu lahir pada 1776, tahun yang juga melahirkan Revolusi Amerika. Seakan sejarah sedang memberi tanda bahwa dunia lama mulai retak. Smith tidak menulis pamflet politik yang berteriak-teriak. Ia menulis seperti seorang pengamat sunyi yang memperhatikan pabrik peniti, pelabuhan, buruh, pedagang roti, bahkan tukang daging. Dari hal-hal kecil itu ia menyusun sebuah gagasan besar: bahwa kekayaan bangsa tidak terutama berasal dari emas atau tanah, melainkan dari kerja manusia yang diorganisasi melalui pembagian kerja dan pertukaran pasar (Smith: 1776).
Edisi yang saya baca adalah edisi Modern Library yang disunting Edwin Cannan dan diberi pengantar oleh Max Lerner. Edisi itu menjadi salah satu versi akademik paling terkenal pada abad ke-20 karena menghadirkan anotasi dan ringkasan marginal yang membantu pembaca memahami kompleksitas teks klasik tersebut. Dalam sejarah penerbitannya, The Wealth of Nations mengalami banyak edisi penting: edisi pertama London tahun 1776 dalam dua volume; edisi Glasgow oleh R.H. Campbell dan A.S. Skinner tahun 1976 yang dianggap paling otoritatif secara filologis; edisi Bantam Classics; Oxford World’s Classics; hingga Electronic Classics Series dari Pennsylvania State University tahun 2005 yang mendigitalisasi teks untuk akses publik. Internet Archive juga menyediakan berbagai versi digitalnya. Tebal buku berbeda-beda tergantung edisi: versi asli dua volume sekitar 900 halaman, edisi Modern Library sekitar 1040 halaman, sementara versi Electronic Classics mencapai lebih dari 780 halaman digital.
Smith membuka bukunya dengan sesuatu yang tampak sederhana: pembagian kerja. Kisah pabrik peniti yang terkenal itu bukan sekadar cerita industri kecil. Ia adalah alegori tentang dunia modern. Satu orang menarik kawat, yang lain memotong, yang lain menajamkan ujungnya, dan hasilnya produktivitas meningkat berkali-kali lipat (Smith: 1776). Dari sana Smith menyimpulkan bahwa kemakmuran lahir bukan dari kerja individual yang heroik, melainkan dari koordinasi sosial yang rumit. Di sini manusia modern menemukan takdirnya: menjadi bagian kecil dari mesin besar bernama ekonomi.
Namun pembagian kerja tidak cuma melahirkan efisiensi; ia juga melahirkan keterasingan. Smith memang mengagumi produktivitas, tetapi diam-diam ia tahu bahwa manusia yang mengulang pekerjaan kecil sepanjang hidupnya bisa kehilangan keluasan jiwanya. Dalam bagian lain bukunya, ia mengingatkan bahwa negara perlu menyediakan pendidikan agar buruh tidak jatuh menjadi makhluk yang tumpul secara intelektual (Smith: 1776). Di titik ini, Smith sering disalahpahami. Banyak orang mengenalnya hanya sebagai nabi pasar bebas, padahal ia juga seorang filsuf moral yang khawatir pada kerusakan batin manusia akibat industrialisasi.
Sistematika buku ini sangat luas dan disusun seperti bangunan bertingkat. Buku I membahas sebab-sebab peningkatan produktivitas tenaga kerja dan distribusi hasil kerja. Di sinilah konsep pembagian kerja, harga alami, upah, laba, dan rente dijelaskan secara rinci. Buku II membicarakan hakikat modal, akumulasi kapital, uang, dan investasi. Buku III bergerak ke sejarah perkembangan kemakmuran berbagai bangsa setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi. Smith menunjukkan bagaimana kota dan perdagangan mengubah struktur feodal Eropa.
Buku IV merupakan inti polemiknya terhadap merkantilisme dan fisiokrasi; di sini Smith menyerang gagasan bahwa negara harus menumpuk emas atau membatasi perdagangan. Buku V membahas peran negara: pajak, pendidikan, infrastruktur, pertahanan, dan utang publik. Menariknya, Smith tidak pernah membayangkan negara hilang sama sekali. Negara tetap penting sebagai penjaga keadilan dan penyedia fasilitas publik.
Isi buku ini sesungguhnya adalah upaya memahami manusia sebagai makhluk yang bertukar. Smith mengatakan bahwa manusia tidak memperoleh makan malam dari kemurahan hati tukang roti atau tukang daging, melainkan dari kepentingan mereka sendiri (Smith: 1776). Kalimat itu sering dikutip untuk membela kapitalisme. Tetapi jika dibaca lebih hati-hati, Smith tidak sedang memuja keserakahan. Ia hanya mengamati bahwa masyarakat modern dibangun di atas jaringan kepentingan yang saling membutuhkan. Pasar bekerja karena manusia saling bergantung. Bahkan egoisme, dalam sistem tertentu, bisa menghasilkan keteraturan sosial.
Di sini muncul gagasan yang kelak dikenal sebagai invisible hand—tangan tak terlihat. Meski istilah itu sebenarnya hanya muncul beberapa kali dalam karya Smith, pengaruhnya luar biasa. Ia menjadi semacam mitologi modern: bahwa pasar akan mengoreksi dirinya sendiri. Tetapi sejarah kemudian menunjukkan bahwa tangan tak terlihat sering membutuhkan tangan yang sangat terlihat: regulasi, hukum, dan intervensi negara. Krisis ekonomi 1929, Depresi Besar, hingga krisis finansial 2008 menunjukkan bahwa pasar tidak selalu rasional (Keynes: 1936).
Karena itu kritik terhadap Smith muncul dari banyak arah. Karl Marx menganggap kapitalisme yang dipuji Smith pada akhirnya akan melahirkan eksploitasi kelas pekerja karena nilai lebih diambil pemilik modal (Marx: 1867). Sementara John Maynard Keynes menilai pasar tidak otomatis menciptakan keseimbangan dan negara harus aktif mengelola permintaan agregat (Keynes: 1936). Bahkan pemikir kontemporer seperti Joseph Stiglitz menunjukkan bahwa informasi yang tidak simetris membuat pasar sering gagal bekerja secara adil (Stiglitz: 2002). Namun menariknya, hampir semua kritik itu tetap berdialog dengan Smith. Mereka menentangnya sambil berdiri di atas pondasi yang ia bangun.
Dibandingkan dengan Das Kapital karya Marx, The Wealth of Nations lebih optimistis terhadap perdagangan dan akumulasi modal. Marx melihat kapitalisme sebagai mesin kontradiksi, sedangkan Smith melihatnya sebagai energi produktif yang dapat memperluas kemakmuran. Dibandingkan dengan The General Theory of Employment, Interest and Money, Smith tampak lebih percaya pada mekanisme alami pasar. Keynes, sebaliknya, lahir dari pengalaman krisis besar yang membuat keyakinan laissez-faire runtuh. Adapun dibandingkan karya kontemporer seperti Capital in the Twenty-First Century, Smith belum terlalu memikirkan ketimpangan ekstrem yang lahir dari akumulasi kekayaan lintas generasi (Piketty: 2014).
Tetapi justru di situlah keagungan buku ini: ia membuka percakapan yang belum selesai sampai hari ini. Ketika platform digital mengubah manusia menjadi data, ketika pekerja aplikasi dibayar berdasarkan algoritma, ketika pasar finansial bergerak lebih cepat daripada kemampuan moral manusia untuk memahaminya, Smith tetap relevan. Pembagian kerja kini bukan lagi sekadar pabrik peniti, melainkan jaringan global yang membuat satu telepon genggam lahir dari kerja ribuan tangan di berbagai negara. Apa yang dulu diamati Smith di pelabuhan Glasgow kini menjelma menjadi ekonomi digital lintas benua.
Namun dari perspektif ekonomi syariah, bangunan pemikiran Adam Smith juga menerima kritik serius. Kritik itu bukan semata-mata penolakan terhadap pasar, melainkan terhadap asumsi antropologis yang mendasarinya: bahwa kepentingan pribadi dapat secara otomatis menghasilkan kebaikan kolektif. Dalam ekonomi Islam, manusia bukan hanya economic man yang mengejar laba, tetapi juga makhluk moral yang memikul amanah sosial dan spiritual. Karena itu, pasar tidak boleh dilepaskan sepenuhnya dari etika wahyu.
M. Umer Chapra, salah satu ekonom Muslim paling berpengaruh di dunia dan penerima King Faisal International Prize, melihat kapitalisme modern—yang sebagian akarnya berasal dari Smith—gagal menghadirkan kesejahteraan yang adil karena terlalu menekankan akumulasi material dan mengabaikan dimensi moral manusia. Chapra menilai sistem pasar bebas tanpa pengawasan etis cenderung menghasilkan ketimpangan, konsumerisme, dan eksploitasi finansial. Ia menawarkan konsep maqāṣid al-sharī‘ah sebagai dasar pembangunan ekonomi: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta secara seimbang (Chapra: 1992). Dalam perspektif ini, kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan sosial.
Chapra juga mengkritik sistem bunga yang tumbuh dalam kapitalisme modern. Menurutnya, mekanisme bunga memperbesar konsentrasi kekayaan pada pemilik modal dan mendorong ekonomi spekulatif yang jauh dari sektor riil. Karena itu ekonomi Islam mengganti relasi kreditur-debitur menjadi kemitraan berbagi risiko melalui mudharabah dan musyarakah. Kritik ini menjadi penting karena dalam logika Smithian, modal memiliki posisi sentral dalam produksi dan perdagangan, sementara dalam ekonomi syariah modal harus tunduk pada prinsip keadilan distributif dan larangan riba.
Monzer Kahf, ekonom syariah kelahiran Suriah yang lama menjadi rujukan Islamic Development Bank, mengajukan kritik lebih filosofis terhadap konsep manusia ekonomi ala kapitalisme. Menurut Kahf, kapitalisme membangun asumsi tentang manusia yang rasional dan egoistik (self-interest maximizing individual), sedangkan Islam membangun konsep Islamic man: manusia yang keputusan ekonominya dibimbing iman, tanggung jawab sosial, dan orientasi akhirat (Kahf: 1984). Karena itu pasar dalam Islam tidak bisa netral secara moral. Aktivitas produksi dan konsumsi harus mempertimbangkan halal-haram, keadilan harga, larangan penimbunan, dan kewajiban distribusi kekayaan melalui zakat serta wakaf.
Kritik lain diarahkan pada konsep invisible hand Adam Smith. Dalam ekonomi Islam, pasar memang diakui sebagai mekanisme penting distribusi barang dan jasa, tetapi “tangan tak terlihat” tidak dianggap cukup menjamin keadilan sosial. Islam mengakui kebebasan pasar sekaligus memberi batas moral melalui hisbah, pengawasan negara, dan larangan eksploitasi. Sejumlah sarjana Muslim menilai bahwa jika pasar dibiarkan sepenuhnya mengikuti kepentingan pribadi, maka yang lahir bukan harmoni sosial melainkan dominasi modal dan marginalisasi kelompok lemah.
Bahkan dalam praktik kontemporer, kritik ekonomi syariah terhadap kapitalisme modern juga muncul dalam diskusi publik mengenai perbankan syariah. Sebagian pihak mempertanyakan apakah sistem syariah benar-benar berbeda dari kapitalisme finansial atau hanya mengganti istilah. Perdebatan itu menunjukkan bahwa ekonomi Islam sendiri masih berjuang menemukan bentuk praksis yang otentik di tengah dominasi sistem pasar global.
Meski demikian, ekonomi syariah tidak sepenuhnya menolak Adam Smith. Beberapa gagasannya seperti pentingnya produktivitas, pembagian kerja, perdagangan, dan efisiensi pasar tetap diakui relevan. Yang ditolak adalah absolutisasi pasar dan pemisahan ekonomi dari moralitas. Dalam Islam, pasar harus menjadi instrumen kemaslahatan, bukan sekadar arena kompetisi laba. Jika Smith percaya bahwa kepentingan pribadi dapat menuntun pada kesejahteraan umum, maka ekonomi Islam menambahkan satu syarat penting: kepentingan pribadi harus ditundukkan pada etika ketuhanan dan tanggung jawab sosial. Tanpa itu, pasar mungkin menciptakan kekayaan, tetapi belum tentu menciptakan keadilan.
Di Indonesia, relevansi buku ini terasa ironis. Kita hidup di negeri yang memuja pasar sekaligus curiga padanya. Negara ingin investasi masuk, tetapi rakyat takut kehilangan tanah. Kita ingin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengeluhkan ketimpangan. Smith mungkin akan berkata bahwa pasar perlu kebebasan agar produktif, tetapi ia juga akan mengingatkan bahwa negara harus menjaga pendidikan, keadilan, dan infrastruktur publik. Dalam arti tertentu, perdebatan ekonomi Indonesia hari ini masih berjalan di lorong yang dibuka Smith dua setengah abad lalu.
Pada akhirnya, membaca The Wealth of Nations bukan hanya membaca teori ekonomi. Ia seperti membaca biografi manusia modern: manusia yang percaya bahwa hidup dapat diatur melalui angka, harga, dan pertukaran. Tetapi di balik semua itu ada pertanyaan yang tetap menggantung: apakah kemakmuran identik dengan kebahagiaan? Smith memberi kita mesin untuk memproduksi kekayaan, tetapi tidak sepenuhnya menjawab bagaimana manusia harus hidup di tengah kekayaan itu. Pasar mungkin dapat mengatur distribusi barang, tetapi ia tidak selalu mampu mengatur makna. Dan mungkin di situlah kegelisahan terbesar peradaban modern bermula.
Referensi
Smith, Adam. 1776. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. London: W. Strahan & T. Cadell.
Smith, Adam. 1904. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Edited by Edwin Cannan. London: Methuen & Co.
Smith, Adam. 1976. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Edited by R.H. Campbell and A.S. Skinner. Oxford: Clarendon Press.
Chapra, M. Umer. 1992. Islam and the Economic Challenge. Leicester: The Islamic Foundation.
Chapra, M. Umer. 2000. The Future of Economics: An Islamic Perspective. Leicester: The Islamic Foundation.
Kahf, Monzer. 1984. Islamic Economics: Notes on Definition and Methodology. Jeddah: Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank.
Kahf, Monzer. 1995. Islamic Economics and Its Methodology. Jeddah: Islamic Research and Training Institute.
Naqvi, Syed Nawab Haider. 1981. Ethics and Economics: An Islamic Synthesis. Leicester: The Islamic Foundation.
Siddiqi, Muhammad Nejatullah. 2001. Economics: An Islamic Approach. Leicester: The Islamic Foundation.
Keynes, John Maynard. 1936. The General Theory of Employment, Interest and Money. London: Macmillan.
Marx, Karl. 1867. Das Kapital. Hamburg: Otto Meissner Verlag.
Piketty, Thomas. 2014. Capital in the Twenty-First Century. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Stiglitz, Joseph E. 2002. Globalization and Its Discontents. New York: W.W. Norton & Company.
Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. New York: Alfred A. Knopf.
Polanyi, Karl. 1944. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Boston: Beacon Press.
Schumpeter, Joseph A. 1954. History of Economic Analysis. New York: Oxford University Press.
Hunt, E.K., and Mark Lautzenheiser. 2011. History of Economic Thought: A Critical Perspective. Armonk, NY: M.E. Sharpe.
Roll, Eric. 1992. A History of Economic Thought. London: Faber and Faber.
Blaug, Mark. 1997. Economic Theory in Retrospect. Cambridge: Cambridge University Press.
Heilbroner, Robert L. 1999. The Worldly Philosophers: The Lives, Times and Ideas of the Great Economic Thinkers. New York: Simon & Schuster.
-Pageland, 24-05-2026

" Smith memang mengagumi produktivitas, tetapi diam-diam ia tahu bahwa manusia yang mengulang pekerjaan kecil sepanjang hidupnya bisa kehilangan keluasan jiwanya"
BalasHapusDalam ini pak Rektor.
Secara tidak langsung saya tangkap maknanya: bagaimana caranya bisa menjadi manusia yang tidak repetitif, dan bisa menghasilkan artefak/manfaat sehingga bisa menemukan keluasan jiwa (arruhul jadid).
Tapi ada satu catatan yang saya temukan mungkin bisa menguatkan studi literatur, ya gak jauh dari pendapatnya Smith di buku pertamanya: Theory of moral sentiment, ini sepertinya jadi rujukan moral Smith yang mengantar ke Wealth of Nations.
Hatur nuhun. Hapunten🙏