Riwayat Nabi Muhammad di Mekkah dan Madinah: Ulasan terhadap Terjemahan Sîrah Rasûl Allâh Ibn Ishâq oleh Alfred Guillaume
Cak Yo
Pengantar
Sejak dilahirkannya tahun 570 M. sampai hari ini, 2024, usia kelahiran Nabi Muhammad berarti sudah 1442 tahun. Hanya saja, menurut riwayat yang dapat dipercaya, di masa Nabi Muhammad masih hidup maupun beratus-ratus tahun setelah wafatnya, tidak pernah ada perayaan Maulid Nabi. Konon, perayaan Maulid Nabi itu baru diadakan mulai abad ke-12, pada masa Dinasti Ayyubiyyah oleh panglima perang sekaligus pendiri kesultanan Ayyubiyyah, yaitu Salahuddin al-Ayyubi, yang nama lengkapnya an-Nāṣir Ṣalāḥ ad-Dīn Yūsuf ibn Ayyūb (1138-1193) yang di Barat dikenal sebagai Saladin. Ia mengadakan perayaan Maulid Nabi itu untuk membangkitkan semangat juang kaum Muslim dalam Perang Salib.
Ada riwayat lain dari al-Maqrizi dalam kitab al-Khathat, perayaan Maulid pertama kali dimulai pada era Daulah Fatimiyah, yang memerintah pada abad ke-4 H. Penguasa Syiah Ismailiyah di Mesir mengadakan berbagai perayaan Maulid, termasuk untuk Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan bin Ali, dan Husain bin Ali. Mereka mengadakan Maulid Nabi setiap tanggal 17 Rabiul Awwal. Sedangkan yang umum dilakukan mayoritas Muslim dunia termasuk di Indonesia, perayaan Maulid Nabi diadakan setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yang diyakini sebagai tanggal dilahirkannya Nabi Muhammad Saw.
Ada berbagai cara merayakan Maulid Nabi Saw. antara lain membacakan kisah Nabi Muhammad Saw. dan ceramah keagamaan terutama penekanan kepada perilaku Nabi Muhammad sebagai teladan yang paripurna (uswah hasanah). Ada banyak buku tentang kisah Nabi Muhammad. Belakangan setelah mengerti arti dari Kitab al-Barzanji saya baru tahu bahwa kitab ini berisi riwayat Nabi Muhammad sejak lahirnya. Kitab yang sejak saya kecil sering dibaca dalam berbagai acara bukan saja dalam peringatan Maulid Nabi (Muludan) dan membacanya dengan irama dan nada itu menceritakan kehidupan Nabi Muhammad Saw. mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya, dan kehidupannya setelah dewasa, serta saat beliau diangkat menjadi rasul. Kisah ini juga mencakup sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad dan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan teladan bagi umat manusia.
Dengan demikian secara tidak sadar karena waktu itu saya tidak tahu arti kitab Barzanji yang saya baca, kitab yang pertama kali saya baca tentang riwayat Nabi Muhammad adalah kitab Barzanji. Selanjutnya saya membaca riwayat Nabi Muhammad melalui buku-buku pelajaran di sekolah dan pelajaran-pelajaran dari guru saya di madrasah yang mengisahkan kehidupan Nabi dalam bentuk nazom atau disebut juga "pupujian" dan membacanya dilagukan dengan berjamaah seperti nazom berikut:
Gusti urang saréréa
Kanjeng Nabi anu mulya
Muhammad jenengannana
Arab Quraisy nya bangsana.
Ramana Sayyid Abdullah
Ibuna Siti Aminah
Dibabarkeunna di Mekah
Wengi Senén taun Gajah.
Robi'ul Awal bulanna
Tanggal ka dua belasna
...........
Setelah saya kuliah buku riwayat Nabi Muhammad yang pertama kali saya baca adalah Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Jaya, 1980). Buku ini diterjemahkan oleh Ali Audah dari bahasa Arab, Hayâtu Muhammad. Setelah membaca buku Husain Haekal ini saya mengetahui banyak buku sejarah Nabi Muhammad dalam bahasa Arab dan Inggris, walau sekedar tahu judul-judulnya saja.
Belakangan saja, setelah buku-buku dengan mudahnya dapat diakses melalui internet, bahkan dapat diunduh walau berjilid-jilid, dalam format pdf, saya baru dapat membaca, walau tidak seluruhnya saya baca, setidaknya buku-buku yang disebutkan Husain Haikal itu, dapat saya baca, seperti Sîrah Rasûl al-Lâh Ibn Ishâq, Sîrah Nabawîyah Ibn Hisyam, The Life of Muhammad oleh William Muir, dan The Life of Muhammad oleh Alfred Guillaume yang ternyata merupakan terjemahan dari Sîrah Rasûl al-Lâh Ibn Ishâq. Belakangan saya juga membaca dua volume Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina dari William Montgomerry Watt. Malah saya juga pernah membaca Life of Muhammad-nya karya Hadrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad yang diterbitkan Islam International Publications Ltd., 2014. Yang relatif baru adalah Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources dari Martin Lings dan karya penulis produktif tentang Islam termasuk tentang Nabi Muhammad, Muhammad: A Biography of the Prophet dari Karen Amstrong. Namun dari semua buku tentang Nabi Muhammad di atas, yang paling indah dan paling menyentuh, bagi saya, adalah buku And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety dari Annemarie Schimmel (The University of North Carolina Press, 1985). Buku ini merupakan versi lengkap dari Und Muhammad Ist Sein Prophet, yang awalnya diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1981.
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw., yang dirayakan hari ini, 12 Rabiul Awwal, 1446 bertepatan dengan 16 September 2024 ini, saya ingin mengulas sebuah buku sejarah (sîrah) Nabi Muhammad Saw. Sîrah Rasûl al-Lâh Ibn Ishâq dalam terjemahannya oleh Alfred Guillaume,
The Life of Muhammad (Oxford University Press, 1998).
Alfred Guillaume dan Terjemahan Sirah Nabi Muhammad karya Ibn Ishâq
Ibnu Ishaq, seorang penulis awal biografi Nabi Muhammad, mengumpulkan tradisi lisan tentang kehidupan nabi tersebut. Karyanya, yang dikenal sebagai Sirat Rasūl Allāh ("Kehidupan Utusan Tuhan"), telah hilang dan hanya bertahan dalam bentuk salinan yang disunting oleh Ibn Hisham dan dalam bentuk ekstrak dalam karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Ibn Hisham menyunting dan mengubah teks Ibn Ishaq, menghilangkan beberapa narasi yang dianggap tidak pantas atau tidak dapat dipercaya. Beberapa informasi dari Ibn Ishaq juga ditemukan dalam catatan Salama al-Harranī dan Yūnus ibn Bukayr, yang menunjukkan bahwa versi-versi berbeda dari teks tersebut ada. Terjemahan Barat yang terkenal, seperti yang dibuat oleh Alfred Guillaume pada tahun 1955, menggabungkan materi dari Ibn Hisham dan al-Tabari untuk merekonstruksi teks asli Ibn Ishaq, meskipun ada keraguan tentang keandalannya.
Alfred Guillaume dalam pengantar bukunya memperkenalkan Ibn Ishaq, seorang ahli hadis dan penulis biografi Muhammad yang lahir di Madinah sekitar tahun 85 H dan meninggal di Baghdad pada tahun 151 H. Kakeknya, Yasar, jatuh ke tangan Khalid b. al-Walid setelah ditawan di 'Aynu'l-Tamr oleh Persia dan akhirnya dibebaskan di Madinah. Ibn Ishaq, yang berasal dari keluarga yang kemudian memeluk Islam, dikenal sebagai pengumpul dan pengatur hadis sejak muda. Ia berguru kepada sejumlah ahli hadis terkemuka, termasuk al-Zuhri dan 'Asim b. 'Umar b. Qatāda.
Meskipun Ibn Ishaq memulai kariernya dengan semangat dan dedikasi tinggi, hubungannya dengan Malik b. Anas dan tuduhan sebagai Qadarī dan Syiah menimbulkan kontroversi. Akibatnya, karyanya menjadi target kritik dan dituduh kurang ortodoks. Ibn Ishaq kemudian pindah ke berbagai tempat di Timur, seperti Kūfa, al-Jazira, dan akhirnya Baghdad, di mana ia meneruskan pengumpulan bahan-bahan sejarah dan hadis hingga meninggal.
Karya utama Ibn Ishaq, berupa biografi Muhammad, tidak memiliki saingan serius pada zamannya, namun didahului oleh beberapa karya maghāzi (catatan peperangan). Salah satu penulis awal yang relevan adalah 'Urwa b. al-Zubayr, sepupu nabi dan seorang ahli sejarah awal Islam, yang meskipun mungkin tidak menulis buku, dianggap sebagai pendiri sejarah Islam. Sementara karya-karya maghāzi lainnya dihasilkan di wilayah-wilayah lain pada abad kedua, tidak ada yang memiliki dampak yang signifikan pada karya Ibn Ishaq.
Karya Ibn Ishaq dikenal karena kelengkapannya dalam menggambarkan kehidupan nabi, dan meskipun ada beberapa salinan yang beredar, teks yang diterima dan dianalisis hari ini adalah hasil dari revisi oleh penulis lain seperti al-Bakkā'ī dan Ibn Hisham. Edisi yang diterima saat ini terdiri dari berbagai bagian yang menunjukkan ceramah dan kampanye Muhammad, mencerminkan struktur dan prinsip-prinsip yang mendasari karyanya.
The Life of Muhammad memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana karya-karya awal mengenai kehidupan Muhammad berkembang dan bagaimana Ibn Ishaq berkontribusi pada sejarah literatur Islam melalui pendekatannya terhadap pengumpulan dan penyajian hadis.
Dalam sebuah review buku Alfred Guillaume ini, "Alfred Guillaume: New light on the life of Muhammad" (Journal of Semitic Studies. Monograph No. 1.) 60 pp. [Manchester]: Manchester University Press, [1960] oleh
R. B. Serjeant dijelaskan bahwa meskipun manuskrip yang dia analisis mencatat hadis dari ceramah Ibn Ishaq, reporter yang sama juga mengumpulkan lebih dari dua ratus hadis dari sumber lain. Manuskrip ini, meskipun agak cacat, dianggap sebagai naskah yang baik dan dapat dibaca, dan Guillaume berencana untuk menyunting teks tersebut. Namun, penilaian penuh terhadap materi baru ini masih sulit dilakukan karena bahasa Arab yang digunakan belum sepenuhnya diterjemahkan.
Guillaume juga menyimpulkan bahwa pengaruh monoteisme pada kehidupan Arab awal mungkin tidak sedalam yang diduga sebelumnya, dengan kata lain, pengaruh dari komunitas Yahudi dan Kristen mungkin tidak signifikan dalam membentuk kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara komunitas Yahudi di Arab dan suku-suku Arab tidak sesignifikan yang diperkirakan sebelumnya.
Laporan ini menyebutkan bahwa tidak ada catatan tertulis langsung dari Muhammad atau muridnya mengenai kehidupan Nabi. Al-Qur'an, yang dikumpulkan pada generasi berikutnya dari berbagai sumber, adalah satu-satunya kitab suci Islam. Sementara biografi awal tentang Muhammad, seperti karya Ibn Ishaq, didasarkan pada tradisi lisan dan saksi mata, biografi yang lebih terperinci dan kritis baru muncul pada abad kedelapan dan kesembilan.
Ibn Ishaq, yang lahir sekitar tahun 707 dan meninggal tahun 773, adalah salah satu penulis biografi awal Muhammad yang didasarkan pada wawancara dengan saksi mata dan catatan lisan. Dia menguji sumber-sumbernya dengan skeptisisme, dan karyanya dianggap sebagai catatan sistematis yang penting meskipun penuh dengan legenda. Biografi ini kemudian diedit dan dilestarikan oleh Abdul-Malik ibn Hisham sekitar seratus tahun kemudian.
Dokumen yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah adalah hasil dari perjanjian Muhammad dengan komunitas Madinah, termasuk komunitas Yahudi, dan menetapkan hak serta kewajiban timbal balik. Dokumen ini menyatakan bahwa semua pihak harus saling melindungi dan tidak boleh menolong orang-orang yang menentang mereka. Konstitusi ini juga menegaskan bahwa segala perselisihan harus dirujuk kepada Allah dan Muhammad.
Setelah pindah ke Madinah, Muhammad menetapkan berbagai peraturan dan menetapkan sistem doa serta pajak sedekah. Selain itu, dia juga mengatur hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim serta membangun masjid sebagai pusat kegiatan Islam. Konflik dengan komunitas Yahudi yang sebelumnya mendukungnya akhirnya meletus, dan Muhammad harus menghadapi tantangan dari dalam dan luar kota Madinah untuk menjaga stabilitas dan keamanan komunitas Muslim yang baru terbentuk.
Ketelitian Karya Ibn Ishaq dan Kekurangan Terjemah Guillaume
Tibawi dalam artikelnya mengkritik terjemahan Alfred Guillaume. Menurutnya, Guillaume membahas pendekatan Ibn Ishaq dalam menyusun karya-karyanya, terutama dalam menangani tradisi dan hadis. Ibn Ishaq dikenal dengan ketelitiannya, meskipun ada beberapa masalah dalam proses penyampaian informasi. Ia sering menggunakan frasa seperti "Allah Maha Mengetahui" untuk menandai ketidakpastian antara tradisi yang bertentangan dan untuk menunjukkan kehati-hatian dalam menghubungkan pernyataan nabi dengan konteks yang mungkin tidak sesuai.
Namun, ada beberapa masalah yang ditemukan dalam The Life of Muhammad-nya Guillaume. Sebagai contoh, kisah pertobatan 'Umar bin Khattab diperoleh dari dua versi yang berbeda. Versi pertama, yang berasal dari Madinah, menggambarkan bagaimana 'Umar terpengaruh oleh sikap saudara perempuannya dan membaca Al-Qur'an. Versi kedua, dari Mekkah, menyatakan bahwa pertobatannya terjadi setelah ia mendengar nabi membaca Al-Qur'an di Ka'bah. Kedua narasi ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an merupakan faktor utama dalam pertobatannya, namun memiliki elemen berbeda yang memengaruhi keputusan tersebut. Ibn Ishaq menyimpulkan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar tahu apa yang terjadi.
Masalah lain yang dihadapi adalah tradisi saingan yang dikumpulkan oleh murid-murid Ibn Ishaq seperti Yunus b. Bukayr dan Salama b. al-Fadl. Mereka menyampaikan informasi yang tampaknya tidak memiliki kesamaan dengan narasi yang disampaikan oleh Ibn Ishaq, menunjukkan adanya variasi dalam laporan sejarah. Hal ini menunjukkan tantangan dalam menilai keakuratan dan konsistensi dalam karya-karya sejarah dan sastra.
Secara keseluruhan, teks ini menyoroti metode dan tantangan dalam dokumentasi sejarah serta ketelitian Ibn Ishaq dalam menghadapi tradisi yang sering kali kontradiktif. Tibawi menyoroti sejumlah masalah serius dalam terjemahan Sirah Muhammad oleh Alfred Guillaume.
1. Kualitas Terjemahan: Tibawi mengkritik Guillaume karena terjemahan ini tidak hanya mengabaikan keakuratan teks asli tetapi juga mengubah makna penting. Guillaume berusaha memulihkan teks Ibn Ishaq, namun metodenya seringkali tidak konsisten, mengabaikan atau merombak teks, yang menyebabkan kebingungan dan ketidakjelasan.
2. Ketidakakuratan dan Penyesuaian: Tibawi mengidentifikasi sejumlah ketidakakuratan kecil dan besar dalam terjemahan Guillaume. Misalnya, terjemahan kata-kata seperti 'آخر ملوك حمير' dan 'سيارة من العرب' tampaknya tidak sesuai dengan konteks aslinya. Selain itu, penghilangan dan penyingkatan yang tidak perlu, seperti pada bagian 'Ayat pertama yang diturunkan tentang subjek ini', merusak makna asli.
3. Perubahan dalam Terjemahan: Guillaume sering kali mengubah dialog menjadi ucapan tidak langsung dan membuat perubahan lain yang mengubah makna aslinya. Ini termasuk penghilangan frasa penting dan perubahan istilah seperti 'jahūla', yang seharusnya diartikan sebagai 'ketidaktahuan' bukan 'orang biadab'
4. Masalah Istilah dan Konteks: Terjemahan Guillaume mengenai istilah seperti 'rasul' dan 'Allah' dipandang tidak konsisten. Penggunaan kata 'apostle' untuk 'rasul' mengabaikan asosiasi Kristen dan tidak sesuai untuk konteks Islam. Demikian pula, terjemahan 'Allah' kadang-kadang digunakan secara sembarangan, yang dapat membingungkan pembaca.
5. Kritik terhadap Metodologi: Tibawi menyoroti bahwa Guillaume menggunakan sebagian bukti dan menyaringnya secara ekstrem. Penjelasan tentang beberapa istilah seperti istilah 'za'ama' dan perbedaan antara 'haddathani' dan 'za'ama' menunjukkan kekurangan dalam pemahaman metodologis Guillaume.
Tibawi menekankan bahwa meskipun terjemahan Guillaume tampaknya berasal dari niat baik, hasil akhirnya tidak dapat diterima sebagai reproduksi yang dapat diandalkan dari teks Arab Sirah. Kritik ini ditujukan untuk memberikan peringatan kepada pembaca dan pelajar agama tentang kemungkinan masalah dalam menggunakan terjemahan tersebut sebagai referensi yang akurat.
Kesimpulan
Ibn Ishaq, seorang penulis biografi awal Nabi Muhammad, membuat kontribusi signifikan dalam sejarah literatur Islam melalui karyanya yang komprehensif tentang kehidupan Nabi. Karya utamanya, Sîrah Rasûl al-Lâh, meskipun tidak sepenuhnya orisinal dan mengalami revisi oleh penulis lain seperti al-Bakkā'ī dan Ibn Hisham, tetap merupakan sumber penting tentang sejarah Nabi Muhammad. Ibn Ishaq dikenal karena ketelitiannya dalam mengumpulkan dan menyusun hadis, meskipun ia menghadapi kritik terkait pandangan ortodoks dan variasi dalam narasi.
Alfred Guillaume, dalam terjemahannya The Life of Muhammad, berusaha memulihkan dan menyajikan karya Ibn Ishaq dalam bahasa Inggris. Namun, terjemahan ini telah dikritik oleh beberapa ahli, termasuk Tibawi, yang menyoroti berbagai masalah dalam akurasi dan konsistensi terjemahan Guillaume. Kritik tersebut mencakup perubahan makna, ketidakakuratan terjemahan, dan masalah metodologi yang mengganggu keandalan teks.
Secara keseluruhan, meskipun terjemahan Guillaume memberikan akses kepada pembaca non-Arab ke karya penting ini, penting untuk menyadari keterbatasannya dan melengkapi pemahaman dengan referensi lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang biografi Nabi Muhammad dan kontribusi Ibn Ishaq dalam sejarah Islam.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar