Bangun Tidur Menjadi Serangga: Ketertindasan dan Keterasingan dalam Novel Die Verwandlung (Metamorfosis) Franz Kafka
Cak Yo
Andai suatu ketika bangun dari tidur berubah menjadi kecoa, bagaimana? Mengalami peristiwa buruk yang tidak diprediksi dan tidak diharapkan, mungkin tidak percaya hal itu terjadi. Mencoba mencubit diri berkali-kali, dan berharap hanya sambungan dari mimpi buruk tadi, namun bagian tubuh yang dicubit berasa nyeri sungguhan. Ini bukan sekedar mimpi buruk, tapi nyata, benar terjadi. Sejenak terkesiap, tubuh gemetar dan lemas. Dan bertanya-tanya sendiri, "Was ist mit mir geschehen?" ("Apa yang terjadi dengan diriku"?).
Itulah Gregor Samsa ketika suatu pagi terbangun dari mimpi buruknya, ia mendapati dirinya berubah di tempat tidurnya menjadi seekor serangga yang menjijikan, semacam kecoa raksasa.
Franz Kafka mengawali cerita di atas dalam novelnya Die Verwandlung. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1915, kemudian tahun 1917 di Leipzig oleh penerbit Kurt Wolff Verlag. Edisi Jerman yang relatif baru diterbitkan kembali di Munchen pada 1999. Beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris sudah tersedia, antara lain, The Metamorphosis oleh Stanley Corngold (New York, London: W.W. Norton & Company, 1996); Malcolm Pasley, Franz Kafka, The Transformation and Other Stories (Penguin, 1992); dan Mark Harman, Franz Kafka, Selected Stories (Belknap Press, 2024).
Terjemahan dalam bahasa Indonesia dari edisi Jerman, Die Vernwandlung oleh Sigit Susanto diterbitkan oleh Penerbit Baca, 2018 dengan judul Metamorfosa Samsa.
Siapakah Franz Kafka?
Bagi kalangan peminat sastra dunia Kafka sepertinya tak perlu diperkenalkan. Banyak buku dan artikel tentang kehidupan, karya dan pemikiran Kafka telah ditulis. Reiner Stach menulis buku, Kafka. Die Jahre der Entscheidungen (Frankfurt: S. Fischer Verlag, 2004). Reiner Stach menulis tentang siapakah Kafka, "Ist das Kafka?" (Verlag: 2012). Demikian pula Cerstin Urban dalam bukunya, Franz Kafka: Erzählungen I. In: Königs Erläuterungen und Materialien (Hollfeld, 2005).
Dalam bahasa Inggris, Kafka juga telah banyak ditulis. Yang paling baik dilakukan oleh Max Brod, Franz Kafka: A Biography (Da Capo Press, 1995, 296 halaman. Edisi yang lebih tua dari buku ini berjudul, The Biography of Franz Kafka. Terj. oleh G. Humphreys Roberts (London: Secker & Warburg, 1947). Seperti ditulis Alfred Kazin, New York Herald Tribune, tentang buku ini, "Biografi [ini] adalah sumber utama pengetahuan kita tentang kehidupan pribadi dan karakter Kafka, dan sangat berharga bagi siapa pun yang tertarik pada pemikiran jenius Ceko itu."
Buku lainnya, Kafka: The Early Years (Princeton University Press 2016). Ada pula Franz Kafka-Biography oleh Chalee Dell. Lalu ada buku oleh Pietro Citati, Kafka (Gallimard, 1987). Biografi lainnya antara lain oleh Ronald K. Hayman, a Biography of Kafka ( London: Phoenix Press, 2001); Ernst Pawel, The Nightmare of Reason: A Life of Franz Kafka (New York: Vintage Books, 1985); dan Sander L. Gilman, Franz Kafka (London: Reaktion Books Ltd., 2005).
Studi pemikiran tentang Kafka dilakukan antara lain oleh Gilles Deleuze dan Félix Guattari, Kafka: Toward a Minor Literature (Theory and History of Literature, vol. 30), (Minneapolis: University of Minnesota, 1986); Martin Greenberg, The Terror of Art: Kafka and Modern Literature (New York, Basic Books, 1968); David Zane Mairowitz dan Robert Crumb.l, Introducing Kafka, ( New York: Totem Books, 1993); dan Allen Thiher (ed.), Franz Kafka: A Study of the Short Fiction (Twayne's Studies in Short Fiction, No. 12) (New York: Twayne Publishers, 1990). Sedangkan Stanley Corngold memberikan pengantar yang sangat baik tentang Metamorfosis Kafka dalam Introduction to The Metamorphosis (New York: Bantam Classics, 1972).
Encyclopaedia Britannica menyajikan artikel tentang Franz Kafka dengan cukup panjang yang saya muat di sini beberapa potongan saja karena panjangnya.
Franz Kafka (lahir 3 Juli 1883, Praha, Bohemia, Austria-Hongaria [sekarang di Republik Ceko]—meninggal 3 Juni 1924, Kierling, dekat Wina, Austria) adalah seorang penulis fiksi visioner berbahasa Jerman yang karya-karyanya—terutama novel Der Prozess (1925; The Trial ) dan Die Verwandlung (1915; The Metamorphosis) yang mengekspresikan kecemasan dan keterasingan yang dirasakan oleh banyak orang di Eropa dan Amerika Utara abad ke-20 .
Franz Kafka, putra Julie Löwy dan Hermann Kafka, seorang pedagang, lahir dalam keluarga Yahudi kelas menengah yang makmur. Setelah dua saudara laki-lakinya meninggal saat masih bayi, ia menjadi anak tertua dan tetap, selama sisa hidupnya, sadar akan perannya sebagai kakak laki-laki; Ottla, yang termuda dari tiga saudara perempuannya, menjadi anggota keluarga yang paling dekat dengannya. Kafka sangat mengidentifikasi dirinya dengan leluhur dari pihak ibu karena spiritualitas, keistimewaan intelektual, kesalehan, pembelajaran rabinik, watak melankolis, dan dengan fisik dan mental yang halus. Namun, ia tidak terlalu dekat dengan ibunya. Sosok ayah Kafka membayangi karyanya sekaligus eksistensinya. Sosok itu, pada kenyataannya, adalah salah satu ciptaannya yang paling mengesankan. Dalam imajinasinya, pemilik toko dan patriark yang kasar, praktis, dan mendominasi ini yang tidak menyembah apa pun kecuali kesuksesan materi dan kemajuan sosial termasuk dalam ras raksasa dan merupakan tiran yang mengagumkan, mengagumkan, tetapi menjijikkan.
Kafka menjadi akrab dengan beberapa intelektual dan sastrawan Yahudi Jerman di Praha, dan pada tahun 1902 ia bertemu Max Brod Seniman sastra kecil ini menjadi teman Kafka yang paling dekat dan perhatian , dan akhirnya, sebagai pelaksana sastra Kafka, ia muncul sebagai promotor, penyelamat, dan penafsir tulisan-tulisan Kafka dan sebagai penulis biografinya yang paling berpengaruh. Kedua pria itu berkenalan saat Kafka belajar hukum di Universitas Praha. Ia menerima gelar doktornya pada tahun 1906, dan pada tahun 1907 ia mengambil pekerjaan tetap di sebuah perusahaan asuransi. Pada tahun 1917, Kafka menderita tuberkulosis yang memaksanya untuk mengambil cuti sakit intermiten dan, akhirnya, untuk pensiun (dengan uang pensiun) pada tahun 1922, sekitar dua tahun sebelum ia meninggal. Dalam pekerjaannya ia dianggap tak kenal lelah dan ambisius; dia segera menjadi tangan kanan bosnya, dan dia dihormati dan disukai oleh semua orang yang bekerja dengannya.
Selama beberapa minggu, Kafka mengembangkan ide untuk menulis The Metamorphosis. Novel tersebut, yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman dengan judul Die Verwandlung pada tahun 1915, menjadi salah satu karya fiksi sastra paling terkenal dalam sejarah. Novel ini adalah salah satu dari sedikit novel yang ditulis oleh Kafka yang diterbitkan selama masa hidupnya, setelah The Judgment (1913) dan mendahului In the Penal Colony (1919).
Alur Cerita Metamorfosis
Penceritaan seperti fabel Kafka dalam The Metamorphosis memikat banyak pembaca sejak paragraf pertama, yang memunculkan perdebatan tanpa akhir tentang penerjemahan sastra—juga tentang alur cerita. Berikut ini faragraf pertama itu:
ALS Gregor Samsa eines Morgens aus unruhigen Träumen erwachte, fand er sich in seinem Bett zu einem ungeheueren Ungeziefer verwand Er lag auf seinem panzerartig harten Rücken und sah, wenn er den Kopf wenig hob, seinen gewölbten, braunen, von bogenförmigen Versteifung geteilten Bauch, auf dessen Höhe sich die Bettdecke, zum gänzlichen Niedergleiten bereit, kaum noch erhalten konnte. Seine vielen, im Vergleich zu seinem sonstigen Umfang kläglich dünnen Beine flimmerten ihm hilflos vor den Augen.
"Ketika pada suatu pagi terbangun dari mimpi buruk, Gregor Samsa mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa yang menjijikkan di ranjangnya. la telentang dengan batok punggungnya yang keras, dan jika sedikit mengangkat kepala, ia bisa melihat perutnya yang cokelat berbulu dan berbuku-buku melengkung kaku di atas hamparan seprai yang tampak hendak melorot seluruhnya. Kakinya yang banyak, yang tampak kurus menyedihkan diban- dingkan dengan ukuran tubuhnya, bergetar lemah di depan matanya."
Dan novel ini berlanjut dalam tiga bagian hingga akhir, sebanyak 70 halaman.
Bagian I: Setelah Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi serangga, awalnya, ia menganggap perubahan ini sementara, tetapi segera menyadari konsekuensi yang mengikutinya. Gregor, yang bekerja sebagai penjual keliling, merasa terjebak dalam pekerjaan yang melelahkan dan hubungan yang dingin. Meskipun ia menjadi pencari nafkah keluarga, ia tidak merasa dihargai dan terpaksa melunasi utang ayahnya.
Ketika Gregor tidak muncul di tempat kerja, atasannya datang ke rumahnya. Melihat Gregor dalam wujudnya yang baru, atasan itu ketakutan dan melarikan diri. Gregor berusaha berkomunikasi dengan keluarganya, tetapi suaranya hanya terdengar seperti binatang. Keluarganya pun merasa ngeri dan ayahnya mengusirnya kembali ke kamar dengan kekerasan.
Bagian II: Dalam bagian kedua, setelah Gregor tidak dapat bekerja, keluarga Samsa kehilangan sumber penghidupan mereka. Namun, mereka menemukan bahwa Gregor memiliki tabungan yang tidak diketahuinya. Situasi keluarga berubah drastis; adik Gregor, Grete, awalnya merawatnya dengan memberi makan dan mencoba memahami kebutuhannya, meski dia merasa jijik melihat perubahannya.
Seiring waktu, sifat manusia Gregor mulai memudar, dan ia lebih menerima identitas barunya sebagai serangga. Ia mulai merangkak di sekitar rumah dan berusaha melindungi potret kesukaannya. Ketika ibunya terkejut melihatnya, ia pingsan, dan ayahnya melukai Gregor dengan melemparkan apel.
Bagian III: Gregor semakin terabaikan, dan kamarnya diubah menjadi tempat penyimpanan. Keluarga mulai mencari pekerjaan dan menyewakan ruang kepada penyewa lain, yang membuat Gregor merasa lebih terisolasi. Suatu malam, saat pintu terbuka, ia merangkak keluar dan ditemukan oleh penyewa, yang marah dengan keadaan apartemen dan segera mengakhiri sewa mereka.
Grete, yang sebelumnya merawatnya, menyatakan ingin menyingkirkan "serangga" itu, dan Gregor menyadari bahwa ia tidak diinginkan lagi. Ia meninggal dengan sangat kurus sebelum matahari terbit. Setelah kematian Gregor, pemilik apartemen mengusir keluarga Gregor. Cerita diakhiri dengan perjalanan keluarga Gregor dengan trem menuju masa depan yang lebih cerah, penuh harapan baru di tempat tinggal yang baru.
Analisis dan Interprestasi Metamorfosis
Banyak analisis dan interprestasi terhadap Die Verwandlung (Metamorfosis) Kafka. Sebuah artikel yang bagus ditulis Simon Collis Ryan, "Franz Kafka's Die Verwandlung: Transformation, Metaphor, and the Perils of Assimilation", Seminar: A Journal of Germanic Studies University of Toronto Press, Volume 43, Number 1 (February 2007): 1-18.
Dalam artikel ini, dibahas karya Franz Kafka, "Die Verwandlung," yang menceritakan transformasi Gregor Samsa menjadi makhluk yang menjijikkan dan tidak manusiawi, yang mencerminkan pengusirannya dari masyarakat serta keluarganya. Narasi ini mengikuti perjalanan Gregor yang secara tak terhindarkan menuju kepunahan, yang pada akhirnya ia terima sebagai hal yang perlu. Karya ini juga menggambarkan bagaimana bahasa Gregor menjadi tidak dapat dipahami, mencerminkan pengalaman Kafka sebagai seorang Yahudi yang suaranya sering diabaikan.
Sejak publikasinya pada tahun 1912, "Die Verwandlung" menjadi sebuah refleksi mendalam terhadap proses asimilasi generasi muda Yahudi-Ceko, yang banyak dari mereka mengalami tekanan untuk berintegrasi ke dalam budaya baru setelah migrasi orang tua mereka. Artikel ini menunjukkan betapa kompleksnya pengkodean budaya yang terdapat dalam karya Kafka, di mana tubuh Gregor menjadi simbol dari drama keluarga yang lebih luas.
Pemeriksaan ulang "Die Verwandlung" dalam konteks etnisitas dan gender membuka berbagai interpretasi, termasuk analisis lebih dalam tentang identitas etnis penulis di tengah perubahan budaya. Tubuh Gregor, yang terasing, tidak hanya merepresentasikan kecemasan akan identitas budaya tetapi juga menyoroti kekuatan destruktif metafora yang berkaitan dengan ketegangan identitas.
Artikel ini menunjukkan bahwa meskipun banyak studi telah dilakukan tentang "Die Verwandlung," pemahaman tentang bagaimana karya ini mencerminkan masalah sosial seperti pelecehan rasial dan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas masih belum sepenuhnya terjawab. Konsep tentang bagaimana budaya dan pengalaman keluarga membentuk persepsi diri Gregor dapat menjelaskan mengapa tindakan kekerasan dan penghancuran diri sering kali muncul dari kondisi tersebut.
Dengan merujuk pada pemikiran Deleuze, artikel ini menyajikan "Die Verwandlung" sebagai "mesin eksperimental," yang mengundang pembacaan postmodern. Dalam berbagai analisis pasca-strukturalis, pasca-Freudian, dan feminis, tubuh Gregor yang dijuluki "ungeheueres Ungeziefer" ("serangga/hama yang mengerikan") tetap terancam menjadi abstraksi yang terputus dari akar budaya dan sejarahnya. Penolakan untuk membahas isu-isu ras dan gender dalam konteks metafora utama karya ini menciptakan kebingungan, mengingat pengakuan Deleuze dan Guattari bahwa Kafka adalah penulis yang pertama kali mengangkat pertanyaan tentang kekuatan dan perbedaan yang mengalir dalam karya sastra.
Akhirnya, "Die Verwandlung" bukan hanya sebuah narasi tentang transformasi individu, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman sosial dan identitas budaya membentuk persepsi diri dan tindakan. Karya ini terus menjadi relevan dalam diskusi mengenai identitas dan pengasingan, serta tantangan yang dihadapi oleh individu dalam masyarakat yang menuntut asimilasi.
Manfred Engel dalam Aus Kindlers Literatur Lexikon: Franz Kafka, Die Verwandlung (Fischer Taschenbuch Verlag, 1933) mengulas buku Kafka ini dengan ringkasan berikut: Cerita dimulai dengan Gregor Samsa yang terbangun sebagai serangga, menantang representasi realistis. Perspektif Gregor memberi pembaca pemahaman terbatas tentang latar belakang dan dinamika keluarganya, mengungkap distorsi kehidupan keluarga yang tampaknya harmonis.
Gregor berjuang untuk tetap terhubung dengan keluarganya, meski tertekan oleh penindasan. Setelah kematiannya, keluarganya merasa lega, melanjutkan hidup dengan rencana baru, sementara hubungan mereka dengan Gregor terbukti bergantung pada kegunaannya. Transformasi Gregor memperlihatkan bagaimana cinta dalam keluarga sering kali bersifat utilitarian atau untung rugi, dan konflik ini akhirnya mengarah pada pengasingan dan kematiannya.
Artikel dalam Encyclopaedia Britannica mengenai "The Metamorphosis" karya Kafka menyatakan bahwa pengalaman pribadi Kafka tercermin jelas dalam karya ini. Patriark yang kasar dan transformasi mengerikan tokoh utama menggambarkan tema keterasingan—dari hubungan, keintiman, dan pemenuhan—yang sering muncul dalam kehidupan dan karya-karya Kafka. "The Metamorphosis" menjadi contoh utama tema Modernis tentang keterasingan.
Simbolisme kuat dalam transformasi Gregor mencerminkan ciri khas ekspresionisme, gerakan sastra yang dominan di Jerman saat itu. Kafka, yang sangat dipengaruhi oleh gerakan ini, juga memadukan unsur realisme, terutama dalam penggambaran realistis keluarga Samsa dan penerimaan Gregor atas keadaan barunya. Inspirasi besar bagi Kafka adalah Gustave Flaubert.
Transformasi Gregor tidak dijelaskan, tetapi dalam konteks cerita, itu diterima sebagai kebenaran. Beberapa pembaca mencoba mengidentifikasi apa sebenarnya Gregor. Istilah Jerman "ungeheueren Ungeziefer" yang digunakan Kafka menggambarkan Gregor tidak memiliki terjemahan langsung, merujuk pada sesuatu yang menjijikkan, seperti serangga. Penafsiran tentang bentuk Gregor menjadi ambigu, menciptakan lapisan alegori yang kompleks. Berbagai lensa—agama, ekonomi, politik—digunakan untuk memahami makna karya ini.
Meski tema keterasingan jelas dalam "The Metamorphosis," Kafka sendiri bukanlah seorang penyendiri; ia aktif dalam kehidupan sosial dan didukung oleh rekan-rekannya. Karya ini berkembang melampaui niat awal Kafka, yang mungkin menjadi kekuatannya. Seperti banyak fiksi hebat, cerita ini terus menginspirasi pembaca dari berbagai latar belakang.
Karya Kafka telah memicu beragam penafsiran. Penulis seperti Max Brod dan penerjemah Edwin Muir melihat karya-karya Kafka sebagai alegori tentang anugerah ilahi. Sementara kaum eksistensialis menilai konteks penuh rasa bersalah dan putus asa dalam karya Kafka sebagai latar untuk menemukan eksistensi yang autentik. Ada pula yang menyoroti hubungan neurotiknya dengan ayah sebagai inti karyanya, serta kritik terhadap ketidakmanusiawian kekuasaan dan kekerasan yang tersembunyi dalam rutinitas sehari-hari.
Meskipun setiap penafsiran memiliki bukti dalam karya dan catatan harian Kafka, karya-karya ini tetap melampaui interpretasi tersebut. Sebuah kritik menyebutnya sebagai "perumpamaan terbuka," di mana makna akhirnya sulit ditentukan.
Kafka sendiri menunjukkan tanda-tanda penderitaan dan pencarian makna, keamanan, dan tujuan hidup dalam karyanya. Ia melihat tulisan sebagai bentuk "penebusan dosa" yang membantunya berdamai dengan pengalaman negatif di dunia. Kegelapan yang terlihat dalam karya-karyanya mencerminkan perjuangan pribadinya, dan melalui karakter-karakter yang tidak berdaya, ia menciptakan simbolisme yang menyoroti kecemasan dan keterasingan dunia abad ke-20.
Pada saat kematiannya, Kafka hanya dikenal di kalangan sastra kecil. Jika Brod menghormati wasiat Kafka untuk menghancurkan manuskrip yang tidak diterbitkan, karya Kafka mungkin tidak akan terkenal. Namun, Brod memilih untuk menerbitkan karya-karya tersebut, yang kemudian mendapat pengakuan global, terutama di Prancis dan negara-negara berbahasa Inggris.
Bila analisis difokuskan kepada tokoh Gregor Samsa, dalam konteks sebagai manusia, cerita ini akan dianggap sebagai sesuatu yang masuk akal dan menyadari bahwa dirinya, Gregor Samsa, adalah korban dari kemerosotannya sendiri. Namun Volker Druke (2013) dalam "Neue Plane Fur Grete Samsa" (2013, 33–43) berpandangan lain, bahwa metamorfosis yang paling penting dalam narasi ini sebenarnya adalah metamorfosis Grete. Dia adalah karakter yang menjadi fokus utama dari judul tersebut. Sementara metamorfosis Gregor berujung pada penderitaan yang menyakitkan dan akhirnya kematian, Grete justru mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai akibat dari situasi keluarga yang berubah. Setelah kematian Gregor, orang tuanya mulai menyadari transformasi Grete menjadi seorang wanita yang cantik dan bersemangat, dan mereka berniat untuk mencarikan pasangan untuknya. Dalam konteks ini, transisi Grete dari seorang gadis menjadi wanita dewasa menjadi tema subtekstual yang signifikan dalam cerita ini.
Kesimpulan
Karya "Die Verwandlung" karya Franz Kafka menggambarkan transformasi Gregor Samsa menjadi serangga, mencerminkan tema keterasingan, alienasi, dan perjuangan identitas dalam masyarakat modern. Melalui perjalanan Gregor, Kafka mengeksplorasi dinamika keluarga, harapan yang hancur, serta tekanan sosial yang dialami individu. Keterasingan yang dialami Gregor bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional, mencerminkan kecemasan yang mendalam tentang nilai diri dan penerimaan.
Sementara itu, metamorfosis Grete sebagai karakter juga menjadi aspek penting, menunjukkan perkembangan dan kebangkitan identitasnya dalam situasi yang sulit. Karya ini membuka ruang untuk berbagai interpretasi, baik dari perspektif psikologis, sosial, maupun budaya, menjadikannya relevan dalam diskusi tentang identitas dan eksistensi manusia di dunia yang terus berubah. Dengan demikian, "Die Verwandlung" tetap menjadi karya yang kuat dan berpengaruh dalam sastra, menyoroti kondisi manusia yang kompleks di tengah tekanan sosial dan budaya.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar