Di Balik Revolusi: Membaca Kehidupan Personal Imam Khomeini sebagai Fondasi Kepemimpinan
Cak Yo
Sebagai seorang akademisi, saya memiliki minat dan menaruh perhatian pada tradisi intelektual, mazhab, aliran pemikiran, serta tokoh-tokoh yang membentuk sejarah pemikiran Islam maupun pemikiran global, meskipun saya tidak mengklaim secara eksklusif menganut satu mazhab tertentu. Akar Nahdlatul Ulama, pengalaman pernah aktif di Muhammadiyah, serta simpati terhadap kedua gerakkan ini—yang berada dalam lingkup Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah—menempatkan identitas intelektual saya dalam ranah ahlus sunnah, dengan “aliran darah” Muhammadiyah–Nahdlatul Ulama, atau Muhammadi–NU.
Saya menyerap pengetahuan dari tradisi ahlu sunnah dan di luar mazhab ahlus sunnah secara selektif dan kritis, mengkaji berbagai mazhab dalam ranah kalām, fiqh, dan disiplin lainnya, serta menghargai kontribusi khasanah intelektual masing-masing. Kitab klasik maupun karya yang membahas mazhab menjadi mata air intelektual yang plural dan mendalam, setidaknya pernah saya baca, antara lain al-Milal wa al-Nihal (al-Shahrastānī, w. 485 H / 1092 M), al-Fisāl fī al-Milal wa al-Nihal (Ibn Ḥazm, w. 456 H / 1064 M), al-Farq bayn al-Firaq (al-Baghdādī, w. 429 H / 1038 M), dan Mazāhib al-Islāmiyyah (‘Abd al-Raḥmān al-Badawī, 1917–1986, terbit 1962).
Karya kritik terhadap mazhab, khususnya karya Ibn Taymiyyah (w. 728 H / 1328 M), menjadi bagian penting kajian saya. Ibn Taymiyyah menekankan pengembalian akidah dan syariat kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf al-ṣāliḥ, mengkritik Māturīdiyyah dan Ash‘ariyyah melalui Bayān Talbīs al-Jaḥmiyyah fī Ta’sīs Bid‘ihim al-Kalāmiyyah, Dar‘ Ta‘ārud al-‘Aql wa an-Naql, al-‘Aqīdah al-Ḥamawiyyah, dan al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah; serta menolak penyimpangan Syiah melalui Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyyah fī Naqd Kalām al-Shī‘ah al-Qāḍariyyah dan al-Muntaqā min Minhāj al-I‘tidāl. Karya-karyanya terhadap tasawuf ekstrem dan filsafat antara lain al-Furqān baina Awliyā’ al-Raḥmān wa Awliyā’ al-Shayṭān, ar-Radd ‘alā al-Manṭiqiyyīn, dan Bughyat al-Murtaḍ fī Radd ‘alā al-Mutafalsifah wa al-Qaramitah wa al-Baṭṭiniyyah, serta Majmū‘ al-Fatāwā terhadap Qāḍariyyah, Murjī‘ah, dan aliran lain.
Dalam ranah fiqh, saya membaca Bīdāyah al-Mujtahid wa Nihāyah al-Muqtaṣid (Ibn Rushd, w. 595 H / 1198 M, terbit pertama kali 1197–1198 M) dan al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah (al-Jazā’irī, w. 1377 H / 1957 M, terbit 1957). Saya juga meneliti tokoh modern dan pergerakan Islam kontemporer, termasuk Muḥammad ibn ‘Abd al-Wahhāb (w. 1206 H / 1792 M), Muḥammad ‘Abduh (w. 1323 H / 1905 M), Rashīd Rīda (w. 1353 H / 1935 M), Abū al-‘Alā’ Maudūdī (w. 1399 H / 1979 M), Rūḥullāh Khomeinī (w. 1409 H / 1989 M) hingga Kyai Ahmad Dahlan (w. 1923 M/1341 H), dan Hadrat al-Syekh K.H. Hasyim Asy'ari (w. 1947 M/1366 H).
Saya juga membaca karya yang membahas kehidupan personal Khomeinī untuk memahami bagaimana pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan perjalanan spiritual membentuk pemikiran, prinsip, dan tindakannya dalam Revolusi Iran, sehingga analisis saya terhadap pemikiran modern Islam bersifat kontekstual dan humanistik.
Selain itu, saya tertarik pada kajian modern yang menempatkan pemikiran Islam dalam konteks global, seperti Modern Trends in Islam (University of Chicago Press, 1947) karya H.A.R. Gibb (w. 1971), yang membahas dinamika reformasi, gerakan pemikiran modern, dan tantangan modernitas yang dihadapi masyarakat Muslim sejak abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Tujuan pembacaan ini adalah untuk memahami interaksi antara tradisi keagamaan dan modernitas politik, sosial, serta intelektual, menempatkan tokoh reformis seperti ‘Abduh, Rida, dan Maudūdī dalam konteks global, serta menyoroti pola perubahan pemikiran Islam yang relevan bagi tantangan kontemporer.
Semua kajian dilakukan dengan pendekatan akademis: kritis, analitis, dan kontekstual, tanpa kehilangan sensitivitas terhadap tradisi yang dikaji. Orientasi intelektual saya bersifat plural, kritis, dan mendalam, tetap berakar pada tradisi Ahl al-Sunnah, memungkinkan pemahaman luas terhadap kekayaan intelektual Islam tanpa klaim eksklusif pada satu mazhab atau aliran.
Hari ini, saya tertarik membaca salah satu kitab yang membahas kehidupan personal Ayatullah Ruhullah Khomeini (w. 1409 H / 1989 M), tokoh sentral dalam Revolusi Iran 1979. Kitab ini, meskipun berfokus pada aspek personal dan biografis, juga menyingkap prinsip-prinsip intelektual, spiritual, dan politik yang membentuk pandangan Khomeini terhadap Islam dan peran ulama dalam masyarakat modern. Tujuan utama saya membaca karya ini adalah untuk memahami bagaimana pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan perjalanan spiritual Khomeini membentuk pemikiran dan tindakannya, terutama dalam konteks gerakan revolusioner yang bersandar pada prinsip-prinsip syariat dan otoritas keagamaan. Pembacaan ini juga membantu saya menempatkan kontribusi Khomeini dalam spektrum pemikiran Islam kontemporer, sehingga analisis saya terhadap peran tokoh modern tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual dan humanistik.
Membaca Ayatullah Ruhullah Khomeini, kembali ke masa akhir dekade 1970-an, yang waktu itu, Iran bukan sekadar sebuah negara yang bergolak—ia adalah panggung sejarah yang sedang menunggu ledakan besar. Rezim Mohammad Reza Pahlavi yang selama bertahun-tahun berdiri kokoh dengan dukungan Barat mulai retak oleh gelombang ketidakpuasan rakyat: represi politik, ketimpangan sosial, dan rasa kehilangan identitas budaya. Dari lorong-lorong masjid, kampus, hingga jalanan Teheran, suara perlawanan tumbuh menjadi gemuruh yang tak lagi dapat dibendung. Di tengah pusaran itu, muncul satu figur yang awalnya hanya suara dari pengasingan—Ruhollah Khomeini—namun perlahan menjelma menjadi simbol harapan sekaligus perlawanan. Melalui ceramah, tulisan, dan rekaman yang diselundupkan ke dalam negeri, ia menggerakkan massa untuk menentang kekuasaan Shah, hingga akhirnya gelombang revolusi mencapai puncaknya pada 1979, menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinannya.
Kepulangan Khomeini ke Teheran pada Februari 1979 disambut jutaan orang—sebuah momen dramatis yang menandai berakhirnya satu era dan lahirnya era baru. Dalam hitungan hari, sistem lama runtuh, dan Khomeini bukan hanya menjadi pemimpin revolusi, tetapi juga arsitek utama tatanan politik baru yang menggabungkan agama dan negara dalam satu kerangka ideologis. Dari sinilah sejarah modern Iran berubah secara radikal—dan dari sinilah pula narasi tentang kehidupan, pemikiran, serta kontroversi Khomeini terus bergema hingga hari ini.
Dari peristiwa besar yang mengguncang dunia itu, perhatian kemudian beralih pada satu pertanyaan yang lebih dalam: siapa sebenarnya sosok di balik revolusi tersebut? Bagaimana kehidupan pribadi, kebiasaan, dan nilai-nilai yang membentuk figur sebesar Ruhollah Khomeini? Untuk menjawab pertanyaan inilah, buku Qabasat min Sirat al-Imam al-Khomeini: al-Hayat al-Shakhsiyyah karya Ghulam Ali Raja'i menjadi relevan dan penting. Jika revolusi Iran menghadirkan Khomeini sebagai simbol publik yang monumental, maka buku ini justru menariknya kembali ke ruang-ruang privat—ke dalam keseharian yang sunyi, rutinitas yang disiplin, dan nilai-nilai personal yang membentuk karakter kepemimpinannya.
Buku ini tidak memulai dari hiruk-pikuk politik, melainkan dari hal-hal sederhana yang sering terabaikan dalam pembacaan sejarah besar. Ia mengajak pembaca melihat Khomeini bukan sebagai ikon revolusi semata, tetapi sebagai manusia yang hidup dengan pola tertentu: bangun, beribadah, belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan keluarga dalam ritme yang teratur. Dengan pendekatan naratif yang bersifat episodik, penulis menyusun potret kehidupan yang perlahan mengungkap bahwa di balik ketegasan seorang pemimpin revolusi, terdapat fondasi pribadi yang dibangun melalui disiplin panjang dan kesederhanaan yang konsisten.
Di sinilah buku ini mengambil posisi yang unik. Ia tidak berusaha menjelaskan revolusi, tetapi menjelaskan manusia yang melahirkannya. Seolah ingin mengatakan bahwa ledakan sejarah seperti Revolusi Iran 1979 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari proses pembentukan karakter yang berlangsung lama dan sering kali tersembunyi. Dengan demikian, membaca buku ini berarti menelusuri “akar sunyi” dari sebuah peristiwa besar—akar yang tidak tampak di permukaan, tetapi justru menentukan arah dan kekuatan perubahan itu sendiri.
Buku Qabasāt min Sīrat al-Imām al-Khumaynī: al-Ḥayāt al-Shakhṣiyyah, sebuah karya biografis yang secara khusus mengupas sisi kehidupan pribadi Ruhollah Khomeini. Buku ini disusun oleh Ghulam Ali Raja'i, seorang penulis yang dikenal memiliki kedekatan dengan lingkungan intelektual dan revolusioner Iran, sehingga memberikan bobot otoritatif pada narasi yang disajikan.
Secara bibliografis, buku ini merupakan edisi terjemahan bahasa Arab yang dikerjakan oleh Lajnah al-Huda, dengan proses ta‘rib (arabization) dilakukan oleh Musa Husayn Safwan. Penerbitnya adalah Dar al-Islamiyyah li al-Tiba‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzi‘ yang berbasis di Beirut, Lebanon—sebuah penerbit yang dikenal aktif dalam menyebarkan literatur pemikiran Islam kontemporer.
Berdasarkan keterangan dalam halaman identitas buku, edisi yang digunakan adalah cetakan kedua yang terbit pada tahun 2006 M bertepatan dengan 1427 H, menunjukkan bahwa karya ini telah mengalami reproduksi dan memiliki tingkat sirkulasi tertentu di kalangan pembaca Arab.
Dari sisi struktur, buku ini tidak disusun sebagai biografi kronologis klasik yang menelusuri perjalanan hidup tokoh dari lahir hingga wafat secara linear. Sebaliknya, ia hadir dalam bentuk “qabāsāt” atau kilasan-kilasan naratif—potongan-potongan cerita pendek yang masing-masing menggambarkan aspek tertentu dari kehidupan pribadi Imam Khomeini. Pendekatan ini menjadikan buku terasa lebih reflektif dan intim, karena pembaca diajak masuk ke dalam fragmen kehidupan sehari-hari, bukan sekadar rangkaian peristiwa besar.
Fokus utama buku ini adalah “al-ḥayāt al-shakhṣiyyah” atau kehidupan personal, yang meliputi kebiasaan ibadah, pola hidup sederhana, hubungan keluarga, etika sosial, serta disiplin intelektual Khomeini. Dengan demikian, buku ini menempatkan dirinya bukan sebagai karya sejarah politik, melainkan sebagai dokumentasi moral dan spiritual seorang tokoh besar. Ia berupaya menunjukkan bahwa dimensi publik Khomeini sebagai pemimpin revolusi tidak dapat dipisahkan dari fondasi kehidupan pribadinya yang asketis, teratur, dan sarat nilai religius.
Secara keseluruhan, profil kitab ini menunjukkan bahwa karya tersebut merupakan kombinasi antara biografi, etika teladan, dan refleksi spiritual. Ia ditujukan bukan hanya untuk pembaca yang ingin memahami sejarah Iran modern, tetapi juga bagi mereka yang mencari figur keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan latar penerbitan di dunia Arab dan basis sumber dari tradisi Iran, buku ini juga menjadi jembatan penting dalam mentransmisikan pemikiran dan kepribadian Imam Khomeini ke audiens yang lebih luas di dunia Islam.
Studi tentang Ayatollah Ruhollah Khomeini
Studi komprehensif mengenai Ayatollah Ruhollah Khomeini menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang ulama Syiah, tetapi juga arsitek ideologis dan politik dari transformasi besar Iran pada abad ke-20. Lahir pada tahun 1902 di Iran, Khomeini tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat dan kemudian menjadi bagian dari jaringan ulama di kota suci Qom. Dalam perjalanan intelektualnya, ia mengembangkan kritik tajam terhadap modernisasi sekuler yang dijalankan oleh rezim Mohammad Reza Pahlavi, yang dianggapnya sebagai bentuk ketergantungan pada Barat dan pengabaian nilai-nilai Islam. Kritik ini semakin sistematis ketika ia merumuskan konsep wilāyat al-faqīh, yakni gagasan bahwa otoritas politik tertinggi harus berada di tangan ahli hukum Islam, sebagaimana dijelaskan dalam karyanya Islamic Government: Governance of the Jurist (Khomeini, Islamic Government: Governance of the Jurist, Najaf: trans. Hamid Algar, 1970). Konsep ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga politis, karena memberikan legitimasi religius terhadap pembentukan negara Islam yang dipimpin oleh ulama.
Dalam fase pengasingannya di Irak (Najaf) dan kemudian di Prancis (Neauphle-le-Château), Khomeini berhasil membangun basis dukungan luas melalui jaringan kaset ceramah, tulisan, dan komunikasi dengan para pengikutnya di Iran. Menurut Baqer Moin dalam Khomeini: The Life of the Ayatollah (London: I.B. Tauris, 1999), periode ini merupakan fase penting di mana Khomeini mentransformasikan dirinya dari seorang ulama oposisi menjadi simbol revolusi global melawan tirani. Ia menggunakan retorika yang menekankan keadilan sosial, kemerdekaan politik, dan penolakan terhadap imperialisme Barat, sehingga mampu menarik dukungan dari berbagai kelompok—mulai dari ulama tradisional hingga kaum intelektual dan kelas menengah perkotaan. Dalam konteks ini, Revolusi Iran 1979 tidak hanya merupakan gerakan religius, tetapi juga revolusi sosial-politik yang kompleks.
Namun demikian, citra Khomeini dalam berbagai literatur menunjukkan ambivalensi yang kuat. Dalam karya populer Rays of the Sun: 83 Stories from the Life of Imam Khomeini (London: Door of Light Publications, 2012), Abbas dan Shaheen Merali menggambarkan sisi personal Khomeini sebagai sosok yang sederhana, disiplin, dan memiliki karisma spiritual yang tinggi. Akan tetapi, dalam pandangan sebagian pengamat Barat, sebagaimana juga tercermin dalam narasi biografis dan testimoni, Khomeini sering dipersepsikan sebagai figur yang kaku, serius, dan kurang menunjukkan kehangatan emosional, meskipun tetap diakui memiliki daya tarik kepemimpinan yang kuat (Merali & Merali, 2012). Perspektif yang lebih kritis bahkan muncul dalam karya seperti Ayatollah Khomeini: How a Monster Rose to Power (Association of Geo-Strategic Analysis, 2012), yang menyoroti bagaimana Khomeini membangun citra moderat selama revolusi dengan menjanjikan kebebasan dan demokrasi, namun kemudian mengonsolidasikan kekuasaan secara otoriter setelah berhasil mengambil alih pemerintahan.
Pasca revolusi, Khomeini mendirikan Republik Islam Iran dengan struktur politik yang unik, di mana otoritas tertinggi berada pada posisi Supreme Leader. Sistem ini menggabungkan elemen-elemen republik—seperti pemilihan presiden dan parlemen—dengan kontrol kuat dari lembaga religius seperti Dewan Penjaga dan Pengadilan Revolusi. Ervand Abrahamian dalam Khomeinism: Essays on the Islamic Republic (Berkeley: University of California Press, 1993) menekankan bahwa ideologi Khomeini tidak dapat dipahami semata sebagai doktrin keagamaan, tetapi sebagai bentuk “populisme religius” yang memadukan retorika keadilan sosial, anti-imperialisme, dan legitimasi teologis. Hal ini menjelaskan keberhasilan Khomeini dalam memobilisasi massa sekaligus mempertahankan kekuasaan di tengah dinamika politik yang kompleks.
Lebih lanjut, dalam karya Islam and Revolution: Writings and Declarations of Imam Khomeini (Berkeley: Mizan Press, 1981), terlihat bagaimana Khomeini secara konsisten mengartikulasikan hubungan antara Islam dan politik sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ia menolak pemisahan agama dan negara, serta menegaskan bahwa hukum Islam harus menjadi dasar utama dalam seluruh aspek kehidupan sosial dan politik. Namun, dalam praktiknya, proses konsolidasi kekuasaan pascarevolusi juga diwarnai oleh tindakan represif terhadap kelompok oposisi, termasuk kaum sekuler, liberal, dan kiri, yang dianggap mengancam stabilitas negara (Hughes, 2012 ).
Dengan demikian, studi tentang Ayatollah Ruhollah Khomeini memperlihatkan kompleksitas seorang tokoh yang berada di persimpangan antara agama dan politik, antara karisma revolusioner dan otoritas struktural. Ia tidak hanya berhasil menggulingkan rezim lama, tetapi juga membangun sistem politik baru yang berakar pada interpretasi tertentu terhadap Islam Syiah. Warisannya tetap menjadi perdebatan dalam kajian akademik kontemporer, baik sebagai simbol kebangkitan politik Islam maupun sebagai contoh bagaimana ideologi religius dapat diinstitusionalisasikan dalam bentuk negara modern (Moin, 1999; Abrahamian, 1993; Khomeini, 1970; Merali & Merali, 2012; Hughes, 2012).
Karya-karya dan Peran Ayatollah Ruhollah Khomeini
Ayatollah Ruhollah Khomeini merupakan figur yang menggabungkan dimensi ulama, ideolog, dan pemimpin revolusioner dalam satu kerangka historis yang kompleks. Lahir dalam tradisi keilmuan Syiah yang kuat, Khomeini sejak awal telah mengembangkan kritik terhadap sekularisasi dan dominasi Barat yang dijalankan oleh rezim Mohammad Reza Pahlavi. Kritik tersebut tampak dalam karya awalnya Kashf al-Asrār, yang menegaskan pentingnya peran ulama dalam menjaga otoritas moral dan politik umat serta menolak legitimasi monarki sekuler (Khomeini, Kashf al-Asrār, Tehran: al-nāshir ghayr maʿrūf, 1943). Pada tahap ini, pemikirannya masih bersifat polemis-teologis, tetapi kemudian berkembang menjadi formulasi politik yang lebih sistematis melalui karya Ḥukūmat-e Islāmī (Wilāyat al-Faqīh), yang menegaskan bahwa kepemimpinan politik harus berada di tangan faqih yang adil dan berilmu (Khomeini, Ḥukūmat-e Islāmī, Najaf: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works, 1970). Gagasan ini menjadi fondasi ideologis bagi pembentukan negara Islam Iran pasca Revolusi Iran 1979.
Dimensi spiritual juga memainkan peran penting dalam pemikiran Khomeini, sebagaimana tercermin dalam karya-karya seperti Arbaʿīn Ḥadīth dan al-Jihād al-Akbar, yang menekankan pentingnya perjuangan internal (jihād al-nafs) sebagai dasar etika bagi kepemimpinan politik (Khomeini, Arbaʿīn Ḥadīth, Tehran: nuṣakh muʿāṣirah mutaʿaddidah; Khomeini, al-Jihād al-Akbar, CreateSpace Independent Publishing Platform, 2013). Dengan demikian, konsep negara dalam pemikiran Khomeini tidak hanya berorientasi pada kekuasaan struktural, tetapi juga pada pembentukan manusia yang bermoral dan religius. Hal ini kemudian diperkuat dalam karya-karya lain seperti Taḥrīr al-Wasīlah dan kompilasi pidatonya dalam Ṣaḥīfeh-ye Imām, yang memperlihatkan konsistensi gagasannya tentang integrasi antara agama dan politik dalam kehidupan publik (Khomeini, Taḥrīr al-Wasīlah, Tehran: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works; Khomeini, Ṣaḥīfeh-ye Imām, Tehran: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works, 2008).
Dalam konteks historis, keberhasilan Khomeini tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-politik Iran yang lebih luas. Menurut Said Amir Arjomand, revolusi Iran merupakan hasil interaksi antara krisis legitimasi negara, jaringan ulama, dan mobilisasi massa yang berbasis simbolisme religius (Arjomand, The Turban for the Crown, New York: Oxford University Press, 1988). Sementara itu, Hamid Dabashi melihat revolusi tersebut sebagai ekspresi “teologi ketidakpuasan,” yaitu akumulasi kritik religius terhadap ketidakadilan sosial dan dominasi politik Barat (Dabashi, The Theology of Discontent, New York: New York University Press, 1993). Dalam analisis yang lebih politis, Ervand Abrahamian menyebut “Khomeinisme” sebagai bentuk populisme religius yang menggabungkan retorika keadilan sosial, anti-imperialisme, dan legitimasi teologis dalam satu ideologi yang mampu memobilisasi berbagai lapisan masyarakat (Abrahamian, Khomeinism: Essays on the Islamic Republic, Berkeley: University of California Press, 1993). Vanessa Martin menambahkan bahwa pembentukan Republik Islam Iran merupakan proses institusionalisasi ideologi tersebut ke dalam struktur negara modern yang kompleks (Martin, Creating an Islamic State, London: I.B. Tauris, 2000).
Pada fase pengasingannya di Irak dan Prancis, Khomeini berhasil membangun jaringan komunikasi yang efektif melalui ceramah, tulisan, dan distribusi kaset, sehingga menjadikannya simbol perlawanan terhadap rezim Shah. Baqer Moin mencatat bahwa pada periode ini Khomeini mampu mentransformasikan dirinya menjadi figur revolusioner global dengan daya tarik lintas kelas sosial (Moin, Khomeini: The Life of the Ayatollah, London: I.B. Tauris, 1999). Di sisi lain, narasi biografis populer seperti Rays of the Sun: 83 Stories from the Life of Imam Khomeini menggambarkan sisi personal Khomeini sebagai sosok yang sederhana, disiplin, dan karismatik, meskipun dalam persepsi sebagian pengamat Barat ia dianggap kaku dan kurang menunjukkan kehangatan emosional (Merali & Merali, Rays of the Sun, London: Door of Light Publications, 2012). Bahkan, dalam beberapa sumber kritis disebutkan bahwa Khomeini membangun citra moderat selama revolusi dengan menjanjikan kebebasan dan demokrasi, namun kemudian mengonsolidasikan kekuasaan secara lebih otoritatif setelah kemenangan revolusi (Hughes, Ayatollah Khomeini: How a Monster Rose to Power, Association of Geo-Strategic Analysis, 2012 ).
Setelah revolusi, Khomeini mendirikan sistem politik yang unik dengan menempatkan Supreme Leader sebagai otoritas tertinggi di atas institusi-institusi negara. Struktur ini menggabungkan elemen republik dengan kontrol kuat dari lembaga religius seperti Dewan Penjaga dan Pengadilan Revolusi. Dalam praktiknya, proses konsolidasi kekuasaan ini juga melibatkan marginalisasi kelompok oposisi, termasuk kaum sekuler, liberal, dan kiri, serta pembatasan kebebasan sipil . Namun demikian, sebagaimana dicatat oleh Yahya Sadowski, fenomena ini juga mencerminkan kebangkitan Islam Politik, di mana agama berfungsi sebagai sumber legitimasi politik yang kuat dalam menghadapi modernitas dan dominasi global (Sadowski, Political Islam, Berkeley: University of California Press, 1997).
Dengan demikian, sosok Ayatollah Ruhollah Khomeini dapat dipahami sebagai figur multidimensional yang menggabungkan otoritas keagamaan, visi ideologis, dan strategi politik dalam membentuk sebuah sistem negara baru. Ia tidak hanya menggulingkan tatanan lama, tetapi juga menginstitusionalisasikan suatu bentuk pemerintahan yang berakar pada interpretasi tertentu terhadap Islam Syiah. Warisannya tetap menjadi perdebatan dalam kajian akademik kontemporer—antara dipandang sebagai simbol kebangkitan politik Islam dan sebagai contoh bagaimana ideologi religius dapat digunakan untuk membangun sekaligus mengontrol kekuasaan negara modern.
Kehidupan Personal Ayatollah Ruhollah Khomeini
Kitab Qabasat min Sirat al-Imam al-Khomeini: al-Hayat al-Shakhsiyyah karya Ghulam Ali Raja'i menghadirkan sisi yang sering luput dari perhatian publik tentang Ruhollah Khomeini—yakni kehidupan pribadinya. Selama ini, Khomeini lebih dikenal sebagai figur politik dan religius yang berperan besar dalam Revolusi Iran 1979. Namun, kitab atau buku ini justru berupaya menyingkap dimensi manusiawi yang tersembunyi di balik citra besar tersebut.
Buku yang ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan dari sumber Persia ini, berfokus pada biografi tematik, bukan kronologi politik. Penulis, yang memiliki kedekatan dengan lingkungan Khomeini, mengandalkan kisah-kisah langsung, anekdot, serta kesaksian orang-orang terdekat. Struktur buku cenderung episodik—disusun dalam potongan-potongan narasi singkat yang menggambarkan kebiasaan, sikap, dan nilai-nilai personal tokoh utama.
Kitab ini penting untuk menelusuri riwayat hidup Ruhollah Khomeini sebagai fondasi dari seluruh narasi personal yang disajikan dalam buku ini. Khomeini lahir pada tahun 1902 di kota Khomein, Iran, dalam keluarga ulama yang memiliki tradisi keilmuan dan keberanian moral. Ayahnya, Sayyid Mustafa Musavi, wafat ketika ia masih kecil akibat konflik dengan kekuasaan lokal. Kehilangan ini menjadi salah satu titik awal pembentukan karakter Khomeini—membentuk keteguhan, keberanian, dan sensitivitasnya terhadap ketidakadilan sejak usia dini.
Seiring pertumbuhannya, pendidikan Khomeini berlangsung dalam lingkungan religius yang ketat. Ia mempelajari dasar-dasar ilmu agama sejak kecil sebelum melanjutkan studi ke Arak dan kemudian Qom, yang saat itu menjadi pusat intelektual Islam di Iran. Di Qom, ia tidak hanya mendalami fikih, tetapi juga filsafat dan tasawuf. Keluasan disiplin ilmu ini menjadikannya sosok ulama yang tidak semata tekstual, tetapi juga reflektif dan filosofis. Dengan demikian, fondasi intelektualnya terbentuk melalui proses panjang yang tidak terpisah dari kedalaman spiritual.
Selanjutnya, fase sebagai pengajar menjadi titik penting dalam perkembangan dirinya. Khomeini dikenal sebagai guru yang tegas, sistematis, dan mampu mengaitkan antara teks keagamaan dengan realitas sosial. Dari sini mulai tampak bahwa pemikirannya tidak berhenti pada ranah teori, tetapi bergerak menuju kesadaran sosial dan politik. Kritiknya terhadap rezim Shah Iran pun berangkat dari basis moral dan keilmuan yang telah ia bangun sejak lama.
Konsekuensi dari sikap kritis tersebut adalah tekanan politik yang berujung pada pengasingan. Namun, fase pengasingan ini justru menjadi periode pematangan. Di Turki dan kemudian di Najaf, Irak, Khomeini tetap menjalankan rutinitas intelektualnya—mengajar, menulis, dan berdiskusi. Ia tidak kehilangan arah, justru memperluas pengaruhnya dari kejauhan. Dengan demikian, pengasingan tidak memutus perjuangannya, melainkan memperkuat legitimasi moralnya sebagai pemimpin spiritual dan intelektual.
Puncak dari perjalanan Khomeini terjadi ketika ia kembali ke Iran menjelang Revolusi 1979. Kepulangannya disambut sebagai simbol perlawanan terhadap rezim yang telah lama berkuasa. Namun, yang menarik sebagaimana digambarkan dalam buku ini, Khomeini tidak berubah secara personal. Ia tetap mempertahankan pola hidup sederhana, disiplin, dan berorientasi spiritual, meskipun kini berada di pusat kekuasaan. Hal ini menunjukkan kesinambungan antara kehidupan pribadi dan peran publiknya.
Dengan memahami riwayat hidup tersebut, pembaca kemudian dapat lebih mudah menangkap isi utama buku ini. Narasi-narasi yang disajikan bukan sekadar kisah acak, melainkan refleksi dari karakter yang telah dibentuk sejak awal kehidupan. Misalnya, disiplin waktu yang sangat ketat bukanlah kebiasaan baru, melainkan hasil dari latihan panjang sejak masa belajar. Ia membagi waktunya dengan teratur antara ibadah, belajar, mengajar, dan aktivitas sosial. Dalam buku ini, waktu diperlakukan sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.
Selain itu, kesederhanaan hidup yang ditampilkan juga memiliki akar historis. Khomeini tidak berubah menjadi sederhana setelah berkuasa, melainkan memang telah hidup demikian sejak awal. Rumahnya tetap sederhana, pakaiannya tidak mencolok, dan gaya hidupnya jauh dari kemewahan. Ini memperlihatkan konsistensi nilai yang jarang ditemukan dalam banyak figur publik.
Lebih jauh, hubungan keluarga yang hangat juga menjadi bagian penting dari narasi. Khomeini digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya tegas di ruang publik, tetapi juga penuh perhatian dalam lingkungan keluarga. Ia mampu menjaga keseimbangan antara otoritas dan kasih sayang, sesuatu yang memperkaya dimensi kemanusiaannya.
Dalam bidang intelektual, kebiasaan membaca dan menulis yang konsisten sejak muda terus berlanjut hingga masa tuanya. Bahkan dalam kondisi pengasingan maupun setelah memegang kekuasaan, aktivitas ini tidak pernah terhenti. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya bersifat karismatik, tetapi juga berbasis pada kedalaman ilmu.
Tema kesabaran dan keteguhan pun menjadi benang merah yang menghubungkan riwayat hidup dengan kehidupan sehari-harinya. Tekanan politik, pengasingan, hingga tanggung jawab besar sebagai pemimpin dihadapi dengan ketenangan dan kontrol diri yang kuat. Ini memperlihatkan bahwa kekuatan utamanya terletak pada stabilitas spiritual dan emosional.
Namun demikian, perlu diakui bahwa buku ini menyajikan narasi yang sangat simpatik. Hampir seluruh kisah diarahkan untuk menampilkan sisi positif, sehingga pembaca perlu membaca secara kritis. Ketiadaan perspektif yang berimbang membuat buku ini lebih mendekati karya hagiografi dibandingkan analisis biografi akademik.
Meski begitu, relevansi buku ini tetap kuat. Ia menawarkan perspektif bahwa kepemimpinan besar tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui proses panjang yang melibatkan disiplin pribadi, integritas moral, dan konsistensi nilai. Dalam konteks modern, ketika kehidupan publik sering terpisah dari kehidupan pribadi, buku ini justru menegaskan keterkaitan keduanya.
Pada akhirnya, buku karya Ghulam Ali Raja'i ini berhasil menghadirkan pemahaman yang lebih intim tentang Ruhollah Khomeini. Ia tidak hanya tampil sebagai simbol revolusi, tetapi sebagai manusia yang dibentuk oleh kebiasaan, nilai, dan pengalaman hidup. Dari sini, pembaca diajak untuk memahami bahwa di balik setiap perubahan besar dalam sejarah, selalu ada proses sunyi yang membentuk karakter individu secara mendalam.
Daftar Referensi
Abrahamian, E. (1993). Khomeinism: Essays on the Islamic Republic. Berkeley, CA: University of California Press.
Arjomand, S. A. (1988). The turban for the crown: The Islamic revolution in Iran. New York, NY: Oxford University Press.
Dabashi, H. (1993). The theology of discontent: The ideological foundations of the Islamic revolution in Iran. New York, NY: New York University Press.
Hughes, A. (2012). Ayatollah Khomeini: How a monster rose to power. Association of Geo-Strategic Analysis.
Khomeini, R. (1943). Kashf al-Asrār. Tehran: Publisher unknown.
Khomeini, R. (c. 1940). Arbaʿīn ḥadīth (Forty hadith). Tehran: Various contemporary editions.
Khomeini, R. (1970). Ḥukūmat-e islāmī (Wilāyat al-faqīh / Islamic government). Najaf: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works.
Khomeini, R. (1981). Islam and revolution: Writings and declarations of Imam Khomeini. Berkeley, CA: Mizan Press.
Khomeini, R. (n.d.). Taḥrīr al-wasīlah. Tehran: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works.
Khomeini, R. (1991/2013). Al-jihād al-akbar: Jihād maʿa al-nafs (The greatest jihad: Combat with the self). CreateSpace Independent Publishing Platform.
Khomeini, R. (2008). Ṣaḥīfeh-ye imām. Tehran: Institute for Compilation and Publication of Imam Khomeini’s Works.
Martin, V. (2000). Creating an Islamic state: Khomeini and the making of a new Iran. London: I.B. Tauris.
Merali, A., & Merali, S. (2012). Rays of the sun: 83 stories from the life of Imam Khomeini. London: Door of Light Publications.
Moin, B. (1999). Khomeini: The life of the Ayatollah. London: I.B. Tauris.
Raja’i, G. A. (n.d.). Qabasāt min sīrat al-imām al-Khumaynī: al-ḥayāt al-shakhṣiyyah. Noor Book.
Sadowski, Y. (1997). Political Islam: Essays from Middle East Report. Berkeley, CA: University of California Press.
Encyclopaedia Iranica. (n.d.). Khomeini I: Life. Retrieved from https://www.iranicaonline.org/articles/khomeini-i-life
Cikarang, 5-4-2026

Komentar
Posting Komentar