Memadukan Kembali Pengetahuan dan Kesucian: Kritik terhadap Sekularisme dan Desakralisasi Pengetahuan
Cak Yo
Pengantar
Dalam bukunya The Archeology of Know-ledge and the Discourse on Language (New York: Harper Colophon, 1976) dan Power and Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (Pantheon Books, New York, 1972-1977), Filsuf Perancis Michel Foucault (w. 1984) menjelaskan hubungan intrinsik kekuasaan dengan pengetahuan. Menurut-nya, hubungkan pengetahuan dengan kekuasaan, meskipun keduanya independen, pengetahuan adalah instrumen kekuasaan. Artinya, pengetahuan digunakan untuk menguasai, dalam istilah Maxim Gorxy untuk menghegemoni, khususnya belahan dunia lain (the other), yaitu dunia Timur. Seperti kritik Edward Said terhadap orientalisme, pengetahuan Barat tentang ketimuran yang digunakan buat mencengkram negeri-negeri Timur dengan kuku imperialismenya. Lalu, dalam tradisi keilmuan Barat, pengetahuan dan kekuasaan menjadi tidak terpisahkan. Para ilmuwan sendiri menjadi alat kekuasaan seperti kasus Snouck Hurgonje (w. 1936), yang dengan pengetahuannya yang mendalam tentang dunia Timur dan tentang Islam, ia menjadi penasehat urusan pribumi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Dengan relasi pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terpisahkan, di satu sisi, dan dipisahkannya pengetahuan dari agama, di sisi lain, maka pengetahuan mengalami desakralisasi, menjadi kehilangan nilai kesuciannya. Seperti halnya kekuasaan yang dipisahkan dari agama, pengetahuan mengalami hal yang sama, pengetahuan menjadi wilayah duniawi semata (profan) seperti halnya politik atau kekuasaan. Pemisahan itu disebut dengan sekularisme.
Mengutip Encyclopaedia Britannica, "Secu-larism, a worldview or political principle that separates religion from other realms of human existence, often putting greater emphasis on nonreligious aspects of human life or, more specifically, separating religion from the political realm" ("Sekularisme, pandangan dunia atau politik prinsip yang memisahkan agama dari ranah eksistensi manusia lainnya, yang sering kali lebih menekankan aspek nonreligius dari kehidupan manusia atau, lebih khusus lagi, memisahkan agama dari ranah politik").
Dari mana Barat mendapatkan dalil sekularisme? Mereka mendapatkan dalil sekularisme antara lain justru dari perkataan Yesus Kristus: “Render unto Caesar the things that are Caesar’s and to God the things that are God’s" ("Serahkan urusan Kaisar (negara) kepada Kaisar dan urusan Tuhan kepada Tuhan").
Pada abad ke-17, filsuf Inggris John Locke dalam A Letter Concerning Toleration (1689), menganjurkan pemisahan tegas antara masalah pribadi agama dan dunia politik negara. Karya John Locke ini sangat memengaruhi cara-cara sekularisme politik modern. Dan sekularisme mendapatkan kejayaannya di dunia Barat yang ditandai dengan munculnya negara-negara yang dilandasi atas paham kebangsaan (nation state) dan agama "ditendang" dari arena politik menjadi urusan pribadi semata. Dalam konteks ini, pasca abad kegelapan (The Dark Age) di dunia Barat, konflik agama dan sains termasuk sains politik berhasil dimenangkan oleh sains. Hegemoni agamawan (Gereja) ditumbangkan oleh ilmuwan modern dan sains menjadi kehilangan kesuciannya, sains mengalami desakralisasi. Kaum agamawan "disumpal mulutnya" agar tidak berbicara persoalan sains.
Kaum ilmuwan berjingkrak-jingkrak meme-nangkan pertempuran sains versus agama. Inilah zaman akal budi (The Age of Reason) di mana kebenaran ditentukan oleh rasio dan rasiolah yang menjadi panglima bukan saja dalam sains melainkan dalam seluruh aspek kehidupan dunia Barat. Otoritas kebenaran yang selama masa abad kegelapan ditentukan oleh gereja, di mana manusia hanya mengetahui dari sumber yang ada di luar diri manusia, melalui firman Tuhan, melalui tafsir kaum agamawan, pada masa modern, otoritas kebenaran bersumber dari apa yang ada dalam diri manusia (rasio) dan kebenaran rasional menjadi satu-satunya ukuran (validitas) kebenaran itu sendiri. Apa yang tidak diterima akal pikiran adalah tidak benar. Bahkan melalui tesisnya, Rene Descartes yang dikatakan sukses mem-bangunkan dunia Barat dari tidur panjangnya, "Cogito Ergo Sum", "Aku berpikir maka aku ada", keberadaan manusia ditentukan oleh akal pikirannya.
Genderang rasionalisme yang ditabuh Bapak Rasionalisne Rene Descartes menggema dari negerinya, Perancis, ke seluruh penjuru Eropa, dan meluas ke berbagai benua di luar Eropa. Gema rasionalisme itu tidak hilang hingga abad milenial ini. Aliran empirisme, paham kebenaran adalah yang faktual, yang inderawi, yang semula menjadi lawan tanding rasionalisme, di bawah komando Francis Bacon, John Locke, George Barkeley, dan mencapai puncaknya pada filsuf Skotlandia David Hume, dalam perkembangan kemudian relatif menjadi kawan seiring bagi rasionalisme, sama-sama menendang sakralitas pengetahuan. Bagi empirisme tidak ada wilayah metafisis, bahkan pada tingkat yang radikal, meminjam ungkapan Friedrich Nietzsche (w. 1900) dalam bukunya Sabda Zarathustra (Thus Spoke Zarathustra), "Tuhan sudah mati" (God is dead), termasuk matinya Tuhan dalam ilmu pengetahuan.
Munculnya buku-buku "Akhir dari Agama" ("The End of Religion") seperti karya Bruxy Cavey, Eric Bain-Salbo, dan lainnya, dan buku-buku "Akhir dari Iman" ("The End of Faith") seperti karya Sam Haris, dan banyak lainnya, dan disemarakan pula dengan munculnya buku-buku dan ungkapan-ungkapan "Sains adalah Tuhan" (Scince is God), di mana mayoritas manusia di dunia Barat modern, seperti dikatakan David F. Herrobin, "tampaknya percaya bahwa sains telah menghancurkan kebutuhan akan agama. Berulang kali orang mendengar bahwa Tuhan sekarang tidak lagi dibutuhkan karena sains telah menggantikannya".
Kritik terhadap Sekularisme dan Desakralisasi Pengetahuan
Apa yang diungkapksn David F. Herrobin sudah cukup mewakili bahwa manusia modern sekular tidak membutuhkan agama lagi. Dengan terang benderang dan tanpa ada kesan penyesalan dia mengungkapkan lebih lanjut:
"As science conquers ever-expanding territories there seems less need than ever for a God to fill the gaps in human knowledge. For the clever young intellectual God is often very, very dead. Many humanists have had to revise early over-confident views about the inevitability of man’s progress, but few have needed to alter their opinion that God is finished. All enthusiasm for belief in him will gradually wither away as the mass of knowledge in libraries and computers becomes more impressive. God is an outworn dream buried beneath the intellectual brilliance of man. His headstone reads: “He served his time, but mechanisation has rendered him redundant.”("Ketika sains menaklukkan wilayah yang terus meluas, tampaknya semakin sedikit kebutuhan akan Tuhan untuk mengisi kekosongan dalam pengetahuan manusia. Bagi intelektual muda yang cerdas, Tuhan sering kali sudah sangat, sangat mati. Banyak humanis yang harus merevisi pandangan awal yang terlalu percaya diri tentang keniscayaan kemajuan manusia, tetapi hanya sedikit yang perlu mengubah pendapat mereka bahwa Tuhan sudah selesai. Semua antusiasme untuk percaya kepada-Nya akan berangsur-angsur memudar ketika kumpulan pengetahuan di perpustakaan dan komputer menjadi lebih mengesankan. Tuhan adalah mimpi usang yang terkubur di bawah kecemerlangan intelektual manusia. Batu nisannya bertuliskan: "Dia telah menjalani waktunya, tetapi mekanisasi telah membuatnya tidak diperlukan lagi").
Kutipan panjang David F. Herrobin di atas menunjukan fenomena umum di dunia, bukan saja di Barat, tapi juga di belahan dunia lain yang dijangkiti sekularisme dan desakralisasi sains termasuk di dunia Islam yang mengundang perhatian banyak sarjana Timur (Muslim dan non-Muslim) yang prihatin dengan kondisi ini. Berbagai gaya tulisan baik yang diakui sebagai karya orisinil-ilmiah, maupun yang dicap sebagai karya-karya semata "pembelaan diri" (apologetis) atau yang dianggap sebagai pseudo-ilmiah dari mereka. Para sarjana Muslim meskipun sebagiannya dicap "islamis" atau fundamentalis, hendak membuka mata dunia Islam dari "bahaya" sekularisme" dan desakralisasi khususnya dalam ilmu pengetahuan.
Sarjana Palestina-Amerika, Edward Said (w. 2003), dengan bukunya Orientalism (Pantheon Book, 1978) boleh dikatakan sebagai yang pertama melancarkan kritik terhadap pengetahuan Barat modern. Melalui pengetahuan Barat tentang dunia Timur (Orientalisme), Barat menunggangi kepentingan imperialismenya. Karya-karya akademik barat sesungguhnya bias kekuasaan untuk menundukkan dunia Timur dan mencengkramkan kuku impe-rialismenya untuk menguasai dan mengeksploitasi dunia Timur. Hasilnya, selama berabad-abad, dengan instrumen pengetahuan tentang dunia Timur yang diproduksi oleh kesarjanaan Barat, maka dunia Timur berhasil ditundukan dan dikuasai, menjadi tidak berdaya "bagaikan mayat di tangan orang yang memandikannya".
Bersama dengan itu, sekularisme, khususnya dalam pengetahuan berhasil diekspor dunia Barat ke belahan dunia Timur. Turunan dari itu, tidak sedikit negara-negara Timur yang mengalami sekularisasi. Bahkan banyak pula, sarjana Timur (Islam) yang menjadi corong-corong Barat. Melalui karya-karyanya, mereka ikut mendukung dan mengkampanyekan sekularisme dan bahwa pengetahuan Barat modern sebagai satu-satunya kebenaran yang niscaya harus diterima. Segala hal dari Barat, baik pokok pangkal maupun turunannya sebagai yang paling cocok (compatible) dengan dunia Timur-Islam.
Sebagian sarjana Muslim yang memiliki pandangan berbeda dengan para koleganya yang "pro-Barat", yang tidak mau "bertaklid" begitu saja kepada Barat, yang tidak mau "dicocok hidungnya bak kerbau", bahkan yang semua daya intektualnya dikerahkan buat mengkritik hegemoni pengetahuan Barat yang dipandangnya sekular, yang entah mengikuti "penabuh genderang" yang menggugat kesarjanaan Barat dalam nama Orientalisme, yaitu Edward Said, menceburkan dirinya dalam kritik terhadap hegemoni wacana Barat. Yang paling menonjol, saya kira, di antara sarjana Muslim, yang mengritik sekularisme itu, adalah sarjana kelahiran Bogor namun hidup di Malaysia sampai akhir hayatnya, yaitu Sayyid Muḥammad Naqīb al-ʿAṭṭās. Sarjana kelahiran 1931 dan wafat 2002 itu, meskipun mendapatkan pendidikan tinggi di Barat, McGill University, Kanada, dan School of Oriental and African Studies University of London, ia bagaikan ikan laut yang tidak menjadi asin meski hidup di air asin, tidak "terbaratkan," meskipun mendapatkan pendidikan Barat. Tidak seperti sebagian koleganya yang sama-sama menempuh pendidikan di dunia Barat, yang menjadi corong sekularisme, ia justru mengkritik sekularisme itu. Bukunya Islam and Secularism (Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia (ABIM), 1978; dicetak ulang di Kuala Lumpur oleh International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), 1993), menegaskan bahwa pemikiran sekular Barat telah memisahkan wahyu dari akal serta agama dari sains. Sekularisme beranggapan bahwa kedua aspek tersebut saling bertentangan dan tidak dapat dipadukan, sehingga menciptakan dikotomi antara manusia dan Tuhan sebagai entitas yang terpisah dan berlawanan.
Dari perspektif ini, Al-Attas menyimpulkan bahwa dewesternisasi dan desekularisasi ilmu-ilmu kontemporer adalah suatu keharusan. Ia menggaungkan upaya dewesternisasi dan desekularisasi. Ia menunjukkan bahwa dualisme dalam pan-dangan dunia Barat telah mengakibatkan kesalahan dalam memahami realitas dan kebenaran.
Al-Attas secara tegas menolak sekularisme Barat, yang menurutnya berupaya membebaskan manusia dari agama dan metafisika, lalu menggantikannya dengan penekanan berlebihan pada aspek duniawi. Ia mengkritik sekularisme karena meng-hilangkan pesona alam, menyingkirkan agama dari politik, dan menghapus nilai-nilai keagamaan. Sebagai solusi, Al-Attas mengusulkan kembali pada ajaran para nabi dan ulama serta menekankan pentingnya dewesternisasi dan Islamisasi ilmu untuk menghilangkan unsur sekular dalam berbagai bidang keilmuan.
Dalam hal kritik terhadap sekularisme, Naquib al-Attas tidak sendiri. Bahkan sarjans Barat Olivier Roy dalam The Failure of Political Islam (Harvard University Press, 1994) mengkaji bagaimana sekularisme mempengaruhi politik dunia Islam, sementara Abdelwahab El-Affendi dalam Secularism Confronts Islam (Hurst & Company, 2009) membahas bagaimana sekularisme sering dipaksakan di negara-negara Muslim, menciptakan ketegangan dengan tradisi Islam. Taha Jabir Alwani dalam Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan (IIIT, 1989) berargumen bahwa sekularisme telah memisahkan ilmu dari nilai Islam, sehingga diperlukan Islamisasi ilmu. Ali Shariati dalam Man and Islam (Islamic Publication International, 1981) mengkritik sekularisme sebagai alat kolonialisme intelektual yang menjauhkan umat Islam dari ajaran spiritual dan revolusioner Islam.
Selain itu, Yûsûf al-Qaradawî dalam kitabnya al-Islâm wa al-'Ilmânîyah Wajhan li Wajh (Islam dan Sekularisme Berhadapan Langsung), diterbitkan Maktabah Wahbah (1997), mengkritik sekularisme sebagai ideologi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, terutama dalam hal pemisahan agama dari kehidupan sosial dan politik. Ia menegaskan bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang komprehensif, mencakup aspek spiritual, sosial, ekonomi, dan politik, sehingga tidak dapat dipisahkan dari urusan negara dan masyarakat. Kitab ini menjadi salah satu referensi penting bagi kajian kritik terhadap sekularisme dalam dunia Islam.
Alam Khundmiri dalam Secularism, Islam and Modernity: Selected Essays (Sage Publications, 2001) menyoroti bagaimana sekularisme tidak hanya memisahkan agama dari negara, tetapi juga melemahkan identitas Muslim dalam menghadapi modernitas. Abdul Wahab El-Messiri dalam Secularism in a Global Context (Dar Al-Shorouk, 2002) menunjukkan bagaimana sekularisme menjadi alat hegemonik yang meminggirkan sistem nilai non-Barat.
Ketika saya mengkaji pemikiran Ibn Sina mengenai pengetahuan yang yang diterima langsung dari Tuhan sebagai Akal Aktif (Active Intellect), saya mencari referensi lebih lanjut dan menemukan beberapa karya klasik serta kontemporer yang memperdalam pemahaman saya. Salah satunya adalah Mishkât al-Anwâr karya al-Ghazâlî (Dar al-Ma'arifah, 1989). Buku ini membahas tentang cahaya ilahi dan cara-cara manusia menerima pengetahuan dari Tuhan melalui pencahayaan spiritual. Kemudian, saya juga menemukan 'Ilm al-Ladunî, yang mengulas tentang ilmu yang diperoleh secara langsung dari Tuhan, yang dalam tradisi sufi dikenal sebagai ilmu batin atau pengetahuan yang lebih tinggi.
Selain itu, saya juga membaca Knowledge by Presence karya Taqi Hayri Yazdi (World Wisdom, 2007), yang mengkaji konsep pengetahuan dalam tradisi filosofis dan spiritual Islam, terutama bagaimana pengetahuan itu hadir langsung dalam kesadaran manusia melalui pengalaman spiritual. Buku Knowledge and the Sacred karya Seyyed Hossein Nasr (State University of New York Press, 1989) juga sangat menarik perhatian saya, karena ia mengupas tentang desakralisasi pengetahu-an akibat sekularisme dan pentingnya mengembalikan dimensi sakral dalam ilmu pengetahuan agar manusia dapat mema-hami realitas secara lebih holistik dan transendental.
Dalam pengantar Knowledge and Sacred, Nasr menjelaskan bahwa kuliah Gifford pertama kali disampaikan di University of Edinburgh pada tahun 1889, dengan perhatian besar dari para teolog, filsuf, dan ilmuwan Eropa serta Amerika. Banyak karya yang dihasilkan berhubungan dengan ide-ide modern Barat yang juga menyebar ke Timur. Ketika Nasr diundang untuk memberikan kuliah tersebut, ia merasa bertanggung jawab untuk memperkenalkan perspektif tradisional Timur, yang menghubungkan pengetahuan dengan kesucian dan spiritualitas, berlawanan dengan sekularisasi Barat yang memisahkan pengetahuan dari kesucian. Selama dua abad terakhir, analisis Barat tentang Timur cenderung mereduksi kesucian menjadi sesuatu yang profan melalui berbagai pendekatan sekuler, yang berpengaruh besar pada transformasi studi tentang Timur.
Seperti diakui Hossein Nasr, buku Knowledge and Sacred ini bertujuan untuk membalikkan proses desakralisasi pengeta-huan tersebut. Ia mencoba menghidupkan kembali kualitas suci pengetahuan dan kebangkitan kembali tradisi intelektual secara sungguh-sungguh di Barat dengan bantuan tradisi-tradisi Timur yang masih hidup, di mana pengetahuan tidak pernah dipisahkan dari kesucian. Tujuannya adalah menghubungkan, pertama-tama, dengan sebuah aspek kebenaran seperti itu yang berada dalam setiap sifat intelegensi, dan kedua, dengan kebangkitan perspektif sapiensial di Barat, di mana tanpa itu semua tak ada peradaban yang dapat bertahan hidup. Menurut Nasr jika dalam proses menghubungkan kembali pengetahuan dan kesucian kadang-kadang mengkritik aspek-aspek tertentu Barat, kita memandang bukan didasarkan pada pandangan rendah dan kebencian atau semacam "oksidentalis-me" yang secara sederhana berkebalikan peran dengan tipe orientalisme tertentu yang telah mengkaji Timur dengan harapan pentransformasian pola-pola sucinya tentang kehidupan, jika secara total tidak menghancurkan semua yang mencirikan Timur sebagaimana telah berlangsung beberapa abad yang lalu. Dalam melakukan kritik, apa yang dari titik pandang tradisional adalah salah secara murni dan sederhana, kita juga mempertahankan tradisi milenial Barat itu sendiri dan membawa sekali lagi kepada cahaya hikmah perenial, atau sophia perennis (al-hikmah al-kholidah), yang sekaligus perenia dan universal, yang tidak pernah secara eksklusif sebagai milik Timur atau Barat melainkan universal atau milik semua tradisi.
Apa yang dikatakan Nasr dengan buku Knowledge and Sacred adalah untuk mengembalikan manusia modern kepada horizon spiritualnya. Manusia modern yang tengah dilanda krisis spiritualitas telah telah mengalihkan banyak cendekiawan Muslim untuk peninjauan ulang tradisi pengetahuan Barat sekular dan berupaya mengembalikan pengetahuan pada sumber spiritualitasnya. Krisis kemanusiaan di zaman modern tidak lepas dari dosa pendidikan sekuler. Tujuan pendidikan sekuler seperti yang dirumuskan oleh John Dewey dan Kilpatrick sangatlah pragmatis, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berteknologi. Tujuan pendidikan dalam realitas manusia ini kosong dari spiritualitas karena memisahkan pengetahuan dengan kesucian. Pengetahuan ditujukan semata untuk keuntungan pragmatis sehingga enimbulkan krisis manusia atau krisis eksistensi manusia. Pengetahuan sekular telah meminggirkan aspek spiritualitas keberada-an manusia. Pengetahuan manusia modern sangat didominasi oleh paradigma Cartesian dan Newtonian yang bersifat mekanistik, deterministik, linear, materialistis, serta mengesampingkan dimensi agama dan etika dalam eksistensi kehidupan manusia.
Selain Nasr, banyak cendekiawan yang mengkritik ilmu pengetahuan sekuler modern seperti kritikan dari Thomas Arnold. Menurut Thomas Amold, ilmu pengetahuan modern itu rusak. Kepalsuan dan ketidakkonsistenan antara teori dan praktik merupakan ciri khas ilmu pengetahuan modern. Dalam bukunya, The Corrupted Sciences: Modern Challenging the Myth of Science (1992), Arnold mengungkapkan: "Ilmu pengetahuan dan teknologi modern rusak bukan karena mereka jahat dalam dirinya sendiri...tetapi karena banyak persepsi dalam, dan metode, ilmu pengetahuan yang salah dalam teori dan praktik, dan karena banyak ilmuwan menolak untuk menghadapi konsekuensi dari karya mereka atau membuat penilaian nilai tentang kemungkinan penerapannya. Sikap seperti itu membuat teknisi keluar dari mereka yang bernubuat untuk mempraktikkan ilmu pengetahuan."
Thomas Arnold menyebutkan ada delapan dosa ilmu pengetahuan modern: (1) Orientasi mekanistik dan materialistis, (2) Keasyikan mengoperasikan (mengerjakan sesuatu bagaimana') menguraikan sebab dan akibat (mengerjakan sesuatu mengapa) dan (3) spesialisasi yang berlimpah; (4) hanya mengekspresikan pengetahuan yang terlihat (pengetahuan yang diungkapkan) untuk menciptakan hanya satu jenis pengetahuan: (5) vested interest vested dan mode; (6) Pengabdian kepada perintah sesuai kebutuhan, bukan, tersembunyi atau terhapus; (7) Kemunafikan bahwa ilmu pengetahuan bebas nilai (8) Tidak antroposentris. Dislokasi, disorientasi, kelesuan spiritual dan kepribadian ganda merupakan hal yang akut pada manusia modern.
Fenomena ini digambarkan oleh Vaclav Havel, Presiden dan pemikir Cekoslowakia, dalam karyanya The Search for Meaning in Global Civilization, sebagai kepribadian ganda, manusia modern sebagai peneliti menjadi terasing sepenuhnya dari konsep dirinya. Kondisi ini, menurut Havel, adalah bahwa manusia Barat di dunia penuh dengan paradoks. Dengan sangat dramatis, Havel mengungkapkan, "Pada siang hari, kita bekerja dengan statistik; pada malam hari, kita berkonsultasi dengan astrolog dan menakut-nakuti diri kita sendiri dengan cerita-cerita seru tentang vampir."
Masyarakat manusia dewasa ini juga sedang hanyut tanpa tujuan dan tenggelam dalam lautan masalah: kejahatan, senjata api dan kekerasan termasuk pemerkosaan, pergaulan bebas dan amoralitas, narkoba, homoseksualitas, kemiskinan, perceraian, keluarga dengan orang tua tunggal, anak-anak yang mengalami trauma emosional dan psikologis akibat keluarga yang berantakan, pola asuh yang terganggu, anak-anak yang mengalami pelecehan seksual, penganiayaan pasangan, dan penganiayaan anak. Akhirnya, di masa modern, masalah utamanya adalah degradasi eksistensi manusia dan juga degradasi moral masyarakat manusia yang akarnya adalah pengetahuan dipisahkan dari spuritualitas.
Kondisi demikian telah mengundang para sarjana untuk tidak saja menyuarakan keprihatinan, namun juga berupaya memecahkan masalah. Upaya pemecahan masalah mulai dari pokok pangkalnya, dari paradigma ilmu pengetahuan. Misalnya, Fritjof Capra menyuarakan bahwa krisis manusia modern membutuhkan paradigma baru: paradigma holistik Ia mengung-kapkan hal itu dalam buku terkenalnya The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture:
“Saya mulai percaya bahwa saat ini masyarakat kita secara keseluruhan berada dalam krisis yang sama. Kita dapat membaca tentang berbagai manifestasinya setiap hari di surat kabar. Kita mengalami inflasi dan pengangguran yang tinggi; kita mengalami krisis energi, krisis dalam perawatan kesehatan, polusi dan bencana lingkungan lainnya, nilai-nilai. Sedangkan tujuan ideal pendidikan seharusnya menyatukan jiwa dan raga, tujuan pendidikan seharusnya menciptakan manusia seutuhnya. Pendidikan modern yang pragmatis telah menimbulkan krisis manusia atau krisis eksistensi manusia. Pendidikan sekuler telah meminggirkan aspek spiritualitas keberadaan manusia. Manusia pada masa kini seperti dalam aspek ilmu pengetahuan sangat didominasi oleh paradigma Cartesian dan Newtonian yang bersifat mekanistik, deterministik, linear, materialistis, serta mengesampingkan dimensi agama dan etika dalam eksistensi kehidupan manusia."
Capra mencoba menawarkan pandangan dunia baru sebagai alternatif dari pandangan dunia yang sudah ketinggalan zaman, pandangan dunia mekanis dari ilmu pengetahuan Cartesian-Newtonian, pada suatu realitas yang tidak lagi dapat dipahami berdasarkan konsep-konsep tersebut. Menurutnya, kita hidup saat ini di dunia yang saling terhubung secara global, di mana fenomena biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan semuanya saling bergantung. Untuk menggambarkan dunia ini dengan tepat, kita membutuhkan perspektif ekologis yang tidak ditawarkan oleh pandangan dunia Cartesian. Maka, yang kita butuhkan adalah “paradigma baru, visi baru tentang realitas, perubahan mendasar dalam pemikiran, persepsi, dan nilai-nilai kita. Awal dari perubahan ini, pergeseran dari konsepsi mekanis ke konsepsi holistik tentang realitas, sudah terlihat di semua bidang dan kemungkinan akan mendominasi dekade ini,”
Dalam bukunya Web of Life, Fritjof Capra (London: HarperCollins, 1996) ia juga mengatakan:
"Konsep baru dalam fisika telah membawa perubahan mendalam pada pandangan dunia kita; dari pandangan dunia mekanistik Cartesian dan Newtonian ke pandangan holistik dan ekologis. Pandangan baru tentang realitas sama sekali tidak mudah diterima oleh fisikawan di awal abad ini. Eksplorasi dunia atom dan subatomik membawa mereka bersentuhan dengan realitas yang aneh dan tak terduga. Dalam perjuangan mereka untuk memahami realitas baru ini, ilmuwan menjadi sangat sadar bahwa konsep dasar, bahasa, dan seluruh cara berpikir mereka tidak memadai untuk menggambarkan fenomena atom. Masalah mereka tidak hanya intelektual tetapi juga merupakan krisis emosional yang intens dan, bisa dikatakan, bahkan eksistensial. Mereka membutuhkan waktu lama untuk mengatasi krisis ini, tetapi pada akhirnya mereka dihargai dengan wawasan mendalam tentang sifat materi dan hubungannya dengan pikiran manusia. Perubahan dramatis dalam pemikiran yang terjadi dalam fisika pada awal abad ini telah banyak dibahas oleh fisikawan dan filsuf selama lebih dari lima puluh tahun. Mereka membawa Thomas Kuhn pada gagasan tentang "paradigma" ilmiah, yang didefinisikan sebagai konstelasi pencapaian—konsep, nilai, teknik, dan etika yang dianut oleh suatu komunitas ilmiah dan digunakan oleh komunitas tersebut untuk mendefinisikan masalah dan solusi yang sah. Perubahan paradigma menurut Kuln terjadi dalam perubahan-perubahan yang terputus-putus dan revolusioner yang disebut "pergeseran paradigma".
Bila memeriksa kembali karya-karya para ulama klasik, apa yang ditawarkan Capra dengan paradigma holistiknya sesungguh-nya bukan paradigma baru. Justru itu merupakan paradigma tradisional yang hidup dalam tradisi keilmuan Muslim pada masa puncak kejayaannya. Paradigma pengetahuan yang telah disumbangkan kepada peradaban dunia, yang belakangan ini diakui Barat sebagai utang budi kepada Muslim. Paradigma integratif pengetahuan dan kesucian yang ada dalam karya-karya para ilmuwan Muslim.
Paradigma integratif pengetahuan dan kesucian itu kita temukan ilmuwan Muslim Jabir ibn Hayyan (w. 815 M), dikenal sebagai bapak kimia, menulis Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab'in, membahas proses destilasi dan alkali. Al-Khwarizmi (w. 850 M), bapak aljabar, menulis Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala, yang menjadi dasar matematika modern, serta Zij al-Sindhind dalam bidang astronomi. Dalam Al-Razi (Rhazes) (w. 925 M) yang menghasilkan Kitab al-Hawi, ensiklopedia medis terbesar pada masanya, serta menemukan etanol sebagai antiseptik. Al-Farabi (w. 950 M) juga menulis Mī‘yār al-‘Ilm (Standar Ilmu), sebuah karya penting dalam bidang logika. Dalam kitab ini, ia membahas metode berpikir rasional, kaidah-kaidah logika Aristotelian, serta bagaimana logika dapat digunakan untuk memahami berbagai disiplin ilmu. Mī‘yār al-‘Ilm menunjukkan peran Al-Farabi dalam mengembangkan filsafat dan logika Islam, yang kemudian berpengaruh pada pemikir-pemikir setelahnya, termasuk Ibn Sina dan Ibn Rushd. Ia juga Kitab al-Musiqa al-Kabir, membahas teori gelombang suara. Abu al-Wafa' al-Buzjani (w. 998 M) menyempurna-kan trigonometri dalam Kitab al-Kamil dan menemukan fungsi tangen. Ibn Sina (Avicenna) (w. 1037 M), dikenal sebagai bapak kedokteran modern, menulis Al-Qanun fi al-Tibb, ensiklopedia medis yang menjadi standar di Eropa selama berabad-abad, serta Asy-Syifa', yang mencakup logika, fisika, dan metafisika. Ibn al-Haytham (w. 1040 M), bapak optik, menulis Kitab al-Manazir, menjelaskan teori penglihatan dan prinsip kamera obscura. Al-Biruni (w. 1048 M), dalam Tahqiq ma li al-Hind, membahas geologi, fisika, dan rotasi bumi.
Karya monumental teolog, filsuf, dan sufi Abû Hâmid al-Ghazâlî (w. 1111), Ihyâ' 'Ulûm al-Dîn (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), menawarkan paradigma integratif yang menyatukan aspek syariah, etika, dan spiritualitas dalam satu sistem yang harmonis. Paradigma ini berangkat dari kritik Al-Ghazali terhadap pemisahan antara ilmu lahiriah (fiqh) dan ilmu batiniah (tasawuf), yang menurutnya menyebabkan ketimpangan dalam pemahaman agama.
Ibn Rushd (w. 1198 M) menulis Fasl al-Maqāl fī mā bayn al-Sharī‘ah wa al-Hikmah min al-Ittisāl (Diskursus Penentuan Hubungan antara Syariah dan Filsafat). Dalam karya ini, Ibn Rushd membela filsafat sebagai alat yang sah dalam memahami kebenaran agama. Ia berargumen bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat dan syariah, karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari kebenaran. Kitab ini juga membahas metode penafsiran Al-Qur'an dan menjelaskan bahwa penggunaan akal (burhān) dalam memahami wahyu adalah bagian dari Islam. Fasl al-Maqāl menjadi salah satu teks penting dalam sejarah filsafat Islam, terutama dalam diskusi tentang hubungan antara akal dan wahyu.
Omar Khayyam (w. 1131 M) menyusun kalender yang lebih akurat dari kalender Julian dalam Zij al-Khakan dan mengembangkan teori bilangan. Nasir al-Din al-Tusi (w. 1274 M) menulis Al-Tadhkirah fi ‘Ilm al-Hay’ah, yang merevolusi astronomi dan memengaruhi model heliosentris. Obn al-Nafis (w. 1288 M) menemukan sirkulasi paru-paru dalam Sharh Tashrih al-Qanun. Ulugh Beg (w. 1449 M), ahli astronomi, menyusun Zij-i Sultani, katalog bintang yang sangat akurat. Ali al-Qushji (w. 1474 M) dalam Sharh al-Tadhkirah membahas astronomi tanpa bergantung pada Aristoteles. Taqi al-Din (w. 1585 M) membangun observatorium Istanbul dan menulis Al-Turuq al-Saniyyah fi al-Alat al-Ruhaniyyah tentang mekanika dan jam air.
Karya-karya para ilmuwan dan sarjana Muslim yang disebutkan di atas, dan banyak lainnya, menggambarkan kontribusi kesar-janaan Islam terhadap dunia yang di dunia Barat, khususnya melalui pengembangan universitas- universitas Eropa selama abad kedua belas dan ketiga belas (lihat Mehdi K. Nakisteen, History of Islamic Origins of Western Education, IBEX Publisher, 1984). Karya-karya para ilmuwan yang dilandasi oleh spirit Islam ini memberikan kontribusi besar dalam sains, yang berpengaruh hingga masa modern.
Dalam konteks ini, setidaknya dalam Islam, memadukan kembali pengetahuan dan kesucian (agama/spiritualitas) mendapatkan landasan teologis dan historisnya. Memang, seperti ditulis Hossein Nasr, visi dualitas (pemisahan pengetahuan dari kesucian) telah membutakan manusia terhadap pengetahuan primordial yang terdapat di jantung intelegensinya. Padahal justru karena visi unitif terletak di pusat wujudnya, sebagaimana juga penempatan dasar intelegensinya, pengetahuan senantia-sa memiliki akses kepada Yang Suci dan pengetahuan suci menandakan sebagai jalan tertinggi penyatuan dengan Realitas, di mana pengetahuan, wujud dan kebahagiaan disatukan. Dalam paradigma ini, "pengetahuan adalah cahaya Ilah itu sendiri yang dipantulkan ke dalam diri manusia dan, kenyataan ke dalam semua makhluk dalam berbagai cara dan mode yang berbeda."
Sayangnya, mengutip Nasr kini manusia modern telah kehilangan sense of wonder, yarg mengakibatkan lenyapnya pengertian tentang kesucian. Manusia lupa terhadap misteri yang ada dalam dirinya (inward) yang memiliki dimensi batin, padahal mánusia diberkahi dengan hadiah berharga intelegensi ini, yang memberikan padanya untuk mengetahui Realitas Tertinggi yang Transenden. "Melalui intervensi ilahiyah dalam kosmik proses sejarah, intelegensi manusia senantiasa diberkahi dengan pemberian ajaib pengetahuan lahir dan batin ini, dan kesadaran manusia senantiasa diberkahi dengan kemungkinan kontempelasi Realitas, yang merupakan kelengkapan lain dan tidak lain daripada hati manusia," sebagai pusat spiritual manusia.
Dalam perkembangan baru-baru ini, secercah harapan datang. Kembalinya kesadaran akan pentingnya spiritualitas dalam sains, penyatuan kembali ilmu pengetahuan dan agama mendapatkan momentumnya dengan munculnya karya-karya akademik bermutu tentang ini. Pergeseran relasi agama dan sains dari konflik menuju dialog dan integrasi menarik kinat dan antusiasme bukan saja para teolog tetapi bahkan para ilmuwan. Meskipun masih ada buku semacam The God Delusion (Bantam Books, 2006) yang disusun oleh seorang biolog evolusioner Richard Dawkins yang mengajukan argumen menentang agama dan keberadaan Tuhan serta mempromosikan pandangan dunia ateistik yang didasarkan pada sains, buku-buku lain tentang pentingnya hubungan agama dan sains bahkan pada tingkat integrasi keduanya, lebih menarik minat dan antusiasme serta mendapatkan posisi dominan dalam diskursus intelektual termasuk di dunia Barat belakangan ini.
Ada sejumlah karya tentang diskurus agama dan sains. Untuk disebutkan beberapa, misalnya The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief oleh Francis S. Collins (Free Press, 2006). Dalam buku ini, Collins, seorang ahli genetika terkemuka, mengisahkan perjalanannya dari ateisme menuju iman dan bagaimana ia melihat harmonisasi antara keyakinan religius dan penemuan ilmiah. Lalu ada buku Science and Religion: A New Introduction oleh Alister E. McGrath (Wiley-Blackwell, 2010). Buku ini menawarkan pengantar kompre-hensif tentang dialog antara sains dan agama, membahas berbagai topik seperti kosmologi, evolusi, dan etika, serta bagaimana keduanya dapat saling meleng-kapi. Selain itu, ada Finding Darwin's God: A Scientist's Search for Common Ground Between God and Evolution oleh Kenneth R. Miller (Harper Perennial, 1999). Di sini, Miller yang seorang ahli biologi, menjelaskan bagaimana teori evolusi tidak bertentangan dengan keyakinan religius dan menawarkan perspektif bahwa sains dan agama dapat berdampingan secara harmonis. Buku The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern Mysticism oleh Fritjof Capra (Shambhala Publications, 1975) yang mendapatkan respon sangat baik pada di kalangan immuwan mengeksplorasi kesamaan antara konsep-konsep dalam fisika modern dan mistisisme Timur, menunjukkan bagaimana keduanya mena-warkan pemahaman yang saling melengkapi tentang realitas. Dan di antara sejumlah buku di atas, yang paling menarik adalah buku When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or Partners?karya Ian G. Barbour yang diterbitkan oleh HarperOne pada tahun 2000.
Dalam buku ini, Barbour, seorang fisikawan nuklir dan teolog, mengkaji hubungan antara sains dan agama melalui empat model: konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Ia menerapkan keempat pendekatan ini pada berbagai topik seperti kosmologi, fisika kuantum, evolusi, genetika, dan neurosains. Barbour menilai bahwa dialog dan integrasi menawarkan cara yang lebih menjanjikan untuk menyatukan wawasan ilmiah dan religius dibandingkan dengan konflik atau independensi.
Dengan demikian, fenomena yang terjadi belakangan ini, kembalinya penyatuan pengetahuan dengan agama atau spitualitas. Berbagai tradisi agama memiliki akar yang kuat hubungan pengetahuan dan kesucian yang dipinggirkan sekularisme Barat. Seperti ditukis Hossein Nasr, dalam literatur Yahudi tentang hikmah, meskipun hikmah hanya milik Tuhan, ia adalah suatu karunia Ilahi untuk manusia dan dapat diakses untuk memperoleh pengetahuan ilahi.
Yahudi juga percaya bahwa Taurat itu sendiri adalah pengejewantahan hikmah. Pespektif kehidupan Kabbalistik yang menyeluruh didasarkan pada kemungkinan batin manusia untuk mencapai pengetahuan suci dan jiwa manusia terbuka bagi iluminasi dunia spiritual, yang melaluinya dapat dikuduskan dan disatukan dengan prinsipnya.
Dalam tradisi Kristen, Lagu Puji-Pujian, yakni ayat "Segeralah dia menciumku dengan ciuman mulutnya: baginya cinta adalah lebih baik dari pada anggur "dan" Aku adalah orang hitam, tetapi cantik..." secara pasti mengacu pada pengetahuan esoterik atau sapiensial. Nama Tuhan yang dibaca dalam do'a adalah kunci semua perbendaharaan hikmah. Nsamaa yang berisi di dalamnya sendiri pengetahuan suci yang realisasinya disertai oleh ekstase tertinggi.
Dalam tradisi Islam, Nabi Islam telah menobatkan ,"Yang Maha Ilahi adalah Allah dan Ia Maha Bijaksana," yang berarti merindukan sifat-sifat suci dari prinsip tersebut. Nama: Al-Qur’an “bacaan", "kitab” dan “induk kitab.", mengirimkan pesan langsung tentang pengetahuan suci.
Surat al-'Alaq, "Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." adalah ayat yang pertama turun tentang pengetahuan Tuhan yang diajarkan kepada manusia pilihan.
Kesimpulan
Krisis spiritualitas dalam ilmu pengetahuan modern berakar pada sekularisasi yang telah memisahkan pengetahuan dari kesucian dan nilai-nilai metafisik. Dalam tradisi Islam, ilmu selalu dikaitkan dengan yang sakral, karena ia bersumber dari Tuhan. Namun, paradigma ilmu pengetahu-an modern yang didominasi oleh rasio-nalisme dan empirisme telah menghilang-kan aspek transendental ini, sehingga menciptakan krisis eksistensial manusia.
Para pemikir seperti Seyyed Hossein Nasr, Thomas Arnold, Vaclav Havel, dan Fritjof Capra mengkritik paradigma ilmu pengetahuan modern yang mekanistik, materialistis, dan reduksionis. Mereka menekankan perlunya mengembalikan dimensi spiritual dalam ilmu pengetahuan agar manusia dapat memahami realitas secara lebih holistik. Konsep ini bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi bagian dari tradisi keilmuan Islam yang diwariskan oleh para ilmuwan Muslim klasik seperti Ibn Sina, al-Ghazali, al-Farabi, dan Ibn Rushd.
Para ilmuwan Muslim terdahulu mengem-bangkan ilmu dalam bingkai kesucian, di mana pengetahuan bukan hanya alat pragmatis, tetapi juga sarana untuk memahami realitas tertinggi dan mencapai kebahagiaan spiritual. Sayangnya, paradig-ma sekular telah menghilangkan "sense of wonder" manusia terhadap dimensi batin dan misteri kehidupan.
Komentar
Posting Komentar