Thanatofobia: Seni Mengelola Ketakutan Berlebihan atas Kematian dalam Pemikiran Ibn Sina


Cak Yo

Subuh baru saja tiba, angin semilir  di luar jendela menyatu dengan kesunyian kamar. Aku duduk bersandar pada dinding, menatap halaman buku Al-Khawf min al-Mawt (الخوف من الموت) yang terbuka di pangkuanku. Nafasku mengembun dalam udara dingin, tetapi pikiranku tenggelam dalam tulisan Ibn Sina  yang membahas thanatofobia—rasa takut berlebih akan kematian. Kata-kata filsuf itu membawaku pada pemahaman baru; bahwa ketakutan pada kematian hanya ilusi yang terbangun oleh kebodohan kita tentang apa yang terjadi setelahnya. Aku membaca setiap kalimatnya dengan khusyuk, merasakan bagaimana kebijaksanaannya menyelimuti pikiranku.  

Angin mendesir menciptakan irama lembut memasuki daun jendela. Lembaran-lembaran buku yang aku baca tersingkap tanpa sentuhan tangan. Aku menahan dan merapikannya kembali. Seperti merapikan gaun pengantin di malam pertama. Aku membuka halaman demi halaman, menikmati rangkaian kalimat indah Sang Filsuf, yang di dunia Barat dipanggil sebagai Avicenna. Sementara para filsuf Muslim menujulukinya al-Shaykh al-Ra'îs, pemimpinnya para shaykh. Di dalam buku yang saya baca ini, al-Khawf min al-Mawt, Ibn Sina menulis bahwa kematian hanyalah transisi, bukan akhir. Seperti seorang pengrajin yang melepaskan alatnya, demikianlah jiwa meninggalkan raga. Dalam kata-katanya, "Aku meresapi perumpamaannya, menyadari bahwa ketakutanku selama ini bukan pada kematian itu sendiri, tetapi pada ketidaktahuan."

Dalam karyanya, Ibn Sina membahas fenomena ketakutan berlebihan terhadap kematian, yang dikenal sebagai tanatofobia, melalui penjelasan yang mendalam tentang hakikat jiwa dan kematian. Menurutnya, ketakutan terhadap kematian seringkali berasal dari ketidaktahuan dan prasangka yang salah mengenai apa yang terjadi setelah tubuh mati. Banyak orang, dalam pandangan Ibn Sina, hidup dengan asumsi bahwa ketika tubuh mereka hancur, jiwa akan lenyap seperti asap yang memudar di udara. Persepsi ini memunculkan ketakutan akan ketidakpastian yang menyelimuti apa yang disebut sebagai "akhir dari keberadaan."

Ibn Sina menegaskan bahwa rasa takut terhadap kematian hanyalah ilusi bagi mereka yang tidak memahami esensi dari jiwa dan kehidupan setelah mati. Jiwa, menurutnya, bukanlah entitas fisik yang bisa lenyap bersama dengan tubuh, melainkan sesuatu yang bersifat kekal dan tidak terpengaruh oleh hancurnya materi duniawi. Ketakutan akan kematian, bagi Ibn Sina, disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memahami bahwa jiwa akan tetap ada meskipun tubuh telah rusak. Kematian, menurutnya, adalah pelepasan jiwa dari ikatan fisik, seperti seorang pengrajin yang meletakkan peralatannya setelah selesai bekerja. Dengan demikian, kematian bukanlah akhir, melainkan transisi menuju keadaan yang lebih murni.

Salah satu penyebab utama dari ketakutan ini, lanjut Ibn Sina, adalah ketidaktahuan. Orang-orang yang takut akan kematian seringkali tidak memahami apa yang terjadi setelahnya. Mereka tidak tahu bahwa jiwa mereka akan terus ada dan hanya meninggalkan jasad yang fana. Kebodohan ini, yang Ibn Sina anggap sebagai akar dari segala ketakutan, adalah apa yang mendorong manusia untuk mengejar pengetahuan. Para cendekiawan, kata Ibn Sina, dengan kesadaran akan pentingnya pengetahuan, berusaha untuk mengatasi ketakutan ini dengan mempelajari hakikat jiwa dan kehidupan setelah mati.

Ibn Sina juga menjelaskan bahwa sebagian orang menganggap kematian sebagai pengalaman yang sangat menyakitkan, melebihi semua rasa sakit yang pernah mereka alami. Ketakutan ini, menurutnya, adalah hasil dari kesalahpahaman. Rasa sakit hanya dapat dialami oleh tubuh, sedangkan setelah jiwa berpisah dari tubuh, tidak ada lagi rasa yang bisa dirasakan oleh tubuh. Jadi, kematian bukanlah proses yang menyakitkan seperti yang sering dibayangkan, melainkan pembebasan jiwa dari raga.

Selain ketakutan akan rasa sakit, banyak orang takut pada kematian karena kekhawatiran akan dosa-dosa dan hukuman di akhirat. Orang yang merasa bersalah atas perbuatan buruknya cenderung khawatir akan hukuman setelah mati. Namun, Ibn Sina menekankan bahwa ketakutan ini bukan terhadap kematian itu sendiri, melainkan terhadap akibat dari perbuatan seseorang di dunia. Ada juga ketakutan yang berhubungan dengan kehilangan harta benda, kenikmatan duniawi, dan orang-orang tercinta. Ibn Sina melihat bahwa ketakutan seperti ini bersifat duniawi dan merupakan hasil dari keterikatan seseorang pada hal-hal material.

Di balik semua itu, Ibn Sina menawarkan perspektif yang lebih mendalam: ketakutan terhadap kematian adalah hasil dari ketidaktahuan, bukan dari sifat alamiah kematian itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa jiwa adalah substansi kekal yang tidak dapat dihancurkan, sementara tubuh hanyalah wadah sementara. Menyadari bahwa jiwa akan terus ada setelah tubuh mati dapat membantu mengurangi ketakutan terhadap kematian.

Bagi Ibn Sina, kematian hanyalah sebuah transisi menuju kebahagiaan yang lebih tinggi dan abadi, di mana jiwa terbebas dari belenggu duniawi. Mereka yang memahami hakikat ini, seperti para bijak, melihat dunia dan segala kenikmatannya sebagai sesuatu yang sementara dan tidak berarti dalam jangka panjang. Oleh karena itu, para bijak tidak takut mati; mereka justru bersiap menghadapi kematian dengan penuh ketenangan, karena mereka tahu bahwa jiwa mereka akan mencapai keadaan yang lebih murni dan sempurna setelahnya.

Pada intinya, melalui refleksi filosofis Ibn Sina, ketakutan terhadap kematian dapat diatasi dengan pemahaman yang benar tentang hakikat jiwa, kehidupan, dan kematian itu sendiri. Pengetahuan, dalam pandangannya, adalah kunci untuk membebaskan diri dari ketakutan yang berlebihan dan menemukan ketenangan dalam menghadapi transisi dari dunia fana ke alam yang kekal.

Cahaya subuh perlahan menyelinap melalui celah tirai, dan aku menutup buku dengan pertanyaan, "Apakah manusia dapat melepaskan diri dari rasa takut akan kematian?" Mungkin, seperti kata Ibn Sina, inilah saatnya untuk melepaskan ketakutan dan bersiap menghadapi perjalanan jiwa yang sebenarnya. Lalu aku teringat perkataan guru Sufi yang lain, al-Shaykh al-Akbar Ibn 'Arabî, "Hidup di dunia ini mimpi belaka. Hidup yang sesungguhnya adalah setelah kematian". Pemikiran Dua Syekh (Shaykhayn) ini memang mendominasi diriku. Setidaknya dalam pemikiran. Semoga dapat bersua di alam sana. Âmîn. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zakat dalam Kitab-kitab Fikih dan Tasawuf: Studi Komparatif-Interdisipliner

STEBI Global Mulia Bahas Masa Depan Filantropi Islam dan Sociopreneurship

Ibn 'Arabî sebagai Mujtahid